Archive for the 'business' Category

Happy Career

happy careerPada libur lebaran tahun 2016 ini, saya pulang kampung dan berjumpa  teman SD yang kini sudah beruban dan ada gurat ketuaan di wajahnya. Dia sendiri mengakui bahwa sekarang merasa sudah tua, mungkin karena sudah punya cucu. Saya hampir tidak mengenali wajahnya, kalau dia tidak menyapa lebih dulu. Secara berseloroh, dia berkata bahwa saya terlihat jauh lebih muda dan segar. Tapi dari sorot mata dan senyumnya, saya masih bisa menyaksikan, bahwa di usia tuanya, dia masih tampak bahagia dengan kehidupan sehari-harinya sebagai petani di desa.

Teman SD saya yang tinggal di desa itu pasti tidak pernah membaca soal tips hidup bahagia. Apalagi membaca buku tentang cara mengejar keberhasilan karir dengan lebih dulu mengejar kebahagiaan. Hidupnya sebagai petani pastilah sudah menjadi jalan hidupnya, menjadi karir sepanjang hidupnya. Tapi melalui perjumpaan singkat itu, saya melihat sendiri dia terlihat bahagia, meskipun tersaput keriput dan uban di kepalanya.

Sebagai pengasuh komunitas Rumah Baca, saya punya kesempatan yang luas untuk belajar dari buku-buku yang saya baca, dan berdiskusi dengan teman-teman komunitas, termasuk buku “bergenre mengejar bahagia”  yang ingin saya tulis di sini.

Saya menjumpai buku “Happy Career”: Cara Mengejar Keberhasilan Karier dengan Lebih Dulu Mengejar Kebahagiaan, tulisan Elvi Fianita (Gramedia: 2016), sebagai pengingat beberapa hal yang pernah saya pelajari atau pernah saya alami dalam hidup. Beberapa hal yang baru,  semakin memperkaya pemahaman dan keyakinan soal hidup bahagia dalam karir.

Buku-buku serupa yang pernah saya bahas di Rumah Baca, untuk menyebut beberapa di antaranya: Manajemen Apresiatif, Setengah Isi-Setengah Kosong, The Lost Secret Of SuccessThe Excellent Life, dan Makrifat Jawa. Sekali lagi, saya menjadi punya banyak kesempatan untuk belajar dan memperbaiki hidup setiap hari melalui kegiatan membaca.

Buku “Happy Career” ini cukup unik dalam tampilan isinya. Mengikuti kecenderungan minat baca manusia modern yang tak bisa lagi berlama-lama dengan teks yang padat, apalagi bersaing dengan gadget di tangan, maka tampilan harus ringkas, tapi tetap menarik. Buku ini tergolong tipis, dengan 93 halaman.  Isi buku dikemas layaknya orang membaca slide presentation. Terdapat banyak potongan quote, catatan ringkas, sticky notes, tips, dan kolom kecil berisi ringkasan perjalanan hidup seorang inspirator.

Buku ini secara garis besar terbagi dalam 3 bagian: catatan awal, 9 prinsip bahagia yang mendatangkan sukses, dan penutup. Kesembilan prinsip itu adalah: temukan pekerjaan yang sesuai dengan diri anda yang sesungguhnya, tetapkan target dan tujuan, menggunakan kelebihan anda sesering mungkin, temukan “panggilan hidup” dalam pekerjaan anda, membuat bekerja seperti bermain, be optimistic, mampu bangkit di saat-saat sulit, berinvestasi di lingkungan sosial, dan mens sana in corpore happy.

Pasti ada plus minusnya dengan membaca buku model ringkasan seperti ini. Kelebihannya adalah pembaca memiliki catatan pengingat tentang prinsip-prinsip yang pernah dibaca di banyak buku yang lain atau yang bersumber dari pengalaman hidup. Kekurangannya adalah, pembaca tak mendapatkan gambaran secara mendalam dengan apa yang dibacanya, kecuali seperti sedang menghafal sebuah deretan prinsip atau pedoman hidup bahagia. Ringkasan dalam buku akan  mengambil peran aktif pembaca dalam mengambil kesimpulan. Padahal, kesimpulan satu orang dengan orang yang lain  bisa berbeda, tergantung kepada tingkat kematangan emosi dan pengetahuan seseorang. Dan itu jauh lebih mengendap dan menjadi prinsip hidup yang akan dia yakini sendiri apabila membaca secara utuh sebuah buku inspiratif. Misalnya membaca biografi Habibie, Dalai Lama, Bill Gates, atau bahkan Soeharto.

Sedikit catat tentang buku ini, sebagai salah satu cara mengejar keberhasilan karir, akan lebih baik kalau pada bagian akhir setiap prinsip disediakan latihan kepada pembaca berupa check list harian. Dari sana pembaca dapat menilai sendiri apakah sudah terjadi perubahan dalam  hidup menuju bahagia atau belum.

Sebagai catatan lain, penulis buku adalah seorang psikolog, dan menyebut dirinya sebagai happiness coach. Berbagai jenis pelatihan pernah dia berikan, terkait dengan motivasi kerja, karir, kreativitas, dan perkembangan pribadi.  Dia pasti punya kompetensi untuk menulis tentang semua hal yang terkait dengan motivasi dan perubahan perilaku seseorang.

Selebihnya, saya selau mengatakan bahwa ilmu ada di mana-mana. Termasuk, salah satunya, dengan membaca buku ini. Be happy!

Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

Out of the truck box

iqbal

Cover buku “Out of the truck box” karya Iqbal Aji Daryono (Mojo.co: 2015)

Orang satu ini memang khas turunan Jogja. Jago mbacot. Kalau bicara lunyu, alias licin seperti air yang lama menggenangi batu sehingga berlumut dan mudah membuat orang terpeleset dibuatnya. Gaya bertuturnya mbanyol ala Basiyo, orisinal, nylekit dan tanpa tedheng aling-aling.

Kumpulan tulisan Iqbal Aji Daryono memang kemripik, dikemas dalam buku “Out of the truck box” (Mojo.Co: 2015). Sekilas tulisannya remeh, tapi punya kedalaman makna dan mampu menohok cara berfikir kita. Meruntuhkan ideologi maupun keyakinan kita selama ini. Mengajak kita berantem dengan akal sehat, rasio, maupun keyakinan yang selama ini kita pegang teguh. Tujuannya memang untuk mengusik dogma yang sudah terlanjur menghujam dalam di dalam akar iman kita. “Buku ini berbahaya. Jangan coba-coba membacanya,” demikian peringatan yang disampaikan Harun Mahbub, seorang wartawan Tempo yang memberikan endorsement, sekaligus mengingatkan kita untuk tak coba-coba menyentuh buku ini kalau tak kuat iman.

Sejatinya Iqbal hanyalah seorang sopir truk di Ostralia (dia memang menyebut begitu untuk Australia). Dia kesasar di sana karena mengikuti istri yang sedang melanjutkan studi di Murdock University, Perth, Australia. Beasiswa yang diperoleh sang istri tak mencukupi untuk menghidupi mereka bertiga: Iqbal, istri, dan anak semata wayangnya, Hayun. Terpaksalah Iqbal jadi sopir, berbekal SIM keularan Polres mBantul, Jogja.

Disela-sela menyopir itulah keluar segala keresahan yang bersumber dari dalam diri ketika melihat segala fenomena yang ada di negari barunya. Sebuah negeri yang dia rasa sebagai negeri kering, yang tak lebih dari seonggok tanah merah dan serumpun semak belukar. Tak ada pepohonan aneka warna, atau sawah yang hijau membentang seperti di tanah kelahirannya. Pun tak ada warung kopi nan egaliter, tempat dia bisa bersenda gurau denga teman-teman mbacotnya. Tak da lelucon segar khas Basiyo atau Srimulat. Hari-hari dia lalui dengan segala kegaringan. Justru dari sanalah kemudian mengalir tulisan-tulisan yang mengusik akal sehat. Bisa jadi itu adalah sebentuk pelarian untuk menjaga kewarasan.

Tulisannya secara umum terbagi dua bagian. Bagian pertama berisi Negara-Negara, yang berisi pengenalan budaya negeri baru yang bernama Ostralia, termasuk pengenalan sahabat barunya dari berbagai negara: India, Afganistan, Macedonia, Jerman, dll. Bagian kedua adalah Manusia-Manusia. Nah, bagian kedua inilah banyak bertebaran tulisan nakal yang akan mengusik akal sehat dan keyakinan kita selama ini. Jika tak kuat iman, kita akan segera goyah, dan ikut manggut-manggut dibuatnya. Tulisannya sebagian besar berlatar belakang analisa psikologi. Dia bisa dengan ringan mengupas soal pilihan agama, perdebatan ideologii syiah-sunni, taliban, soal spritualisme buah apel, makanan berdaging atau soal brengseknya kamera pengawas yang serupa “God eye” yang akan dengan mudah membuat kita masuk ke dalam jurang kemusyrikan.

Percayalah. Anda yang baru setingkat S1, nggak bakal sanggup mengunyah tulisan ini. Karena Iqbal sejatinya sudah sampai pada tataran S4 (seri HP yg dia punya, he…he…), maksudnya setingkat S3, yaitu setingkat para lulusan doctor yang sudah mampu berfikir menggugat asumsi mapan menyorong pendapat yang berseberangan.
Iqbal adalah sedikit penulis yang muncul belakangan ini, yang mengupas tulisan soal kehidupan sehari-hari sebagi tulisan non-fiksi secara ringan, dan itu tadi: kemripik!

Bandingkan dengan tulisan-tulisan saya di buku “Mabuk Dolar di Kapal Pesiar” (Rumah Baca: 2010) dan “Dilema: Kisah Dua Dunia Dari Kapal Pesiar” (Rumah Baca: 2012) yang juga berusaha mengulik persoalan manusia di atas kapal pesiar dari persepktif kemanusiaan. Kami ternyata sama-sama TKI. Bedanya kalau Iqbal bolak-balik di negara bagian Perth, Australia, sementara saya melalang buana di atas kapal pesiar. Kami sama-sama menjadi korban sebuah nasib yang harus dijalani, yaitu menjadi TKI. Bedanya, ya tentu saja cara bertuturnya lewat tulisan dan mengemasnya dalam sebuah buku.

Silahkan berfikir dua kali sebelum menyentuh buku ini. Selebihnya, terserah Anda.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

DSC_0569.JPG

Bela-belain baca bukunya Iqbal sambil nunggu stand Rumah Baca, saat belum ramai diserbu pengunjung 🙂

The Wuffie Factor

Siapapun yang sedang membaca review buku ini, pasti telah menjadi salah satu orang yang tidak lagi terbebas dari dunia jejaring sosial, macam Facebook, MySpace, Twitter, Multiply, Friedster, Blogger, dll. Pola hubungan sosial saat ini tidak lagi dibatasi dengan pertemuan fisik semata. Dia sudah menembus sekat-sekat dimensi ruang, melesat dan menembus kemana-mana. Dalam hitungan detik, seseorang   bisa terkoneksi dengan puluhan bahkan ratusan teman sekaligus, baik yang  sudah kenal sebelumnya atau kenal melalui dunia maya. Kita telah memasuki era Web 2.0.

Dari fenomena Web 2.0 itu, kini muncul istilah baru yang belum semua orang tahu artinya. Jika ada orang yang bertanya, “bagimana wuffie-mu,” jangan telepon satpam. Seloroh ini menunjukan bahwa boro-boro satpam. Anda sendiri jangan-jangan belum tahu apa itu wuffie.

Istilah wuffie ditelurkan oleh Cory Doctorow, penulis blog populer Boing Boing, yang menggambarkan modal sosial dalam novel fiksi ilmiah futuristiknya “Down and Out in the Magic Kingdom.”  Dalam dunia masa depan itu, digambarkan bahwa wuffie menjadi mata uang yang satu-satunya digunakan. Mata uang dunia seperti dolar, euro, yen – hilang begitu saja. Mata uang yang baru – wuffie – merupakan residu hasil reputasi sosial kita. Kursnya bisa bertambah atau berkurang berdasarkan perilaku positif atau negatif kita. Tergantung dari sumbangsih dan niat baik atau jahat kita  yang akan dinilai oleh lingkungan sekitar atau teman-teman kita.

Melalaui Facebook atau Twitter kita bisa melihat seberapa banyak seseorang memiliki jaringan pertemanan. Semakin banyak teman, atau follower – dalam Twitter – menunjukkan wuffie kita meningkat. Tapi tunggu dulu, wuffie ini tidak bisa semata-mata diukur dari kuantitas alias jumlah teman yang berhasil kita kumpulkan. Jumlah itu bisa akan tiba-tiba runtuh dan seluruhnya meninggalkan kita. Atau sebaliknya, bisa bertambah dan meroket secara tiba-tiba dalam hitungan detik.

Di sinilah permasalahannya. Ini soal reputasi sosial, atau integritas kita. Jejaring sosial Facebook, atau Twitter telah menjadi media ampuh dalam menyebarkan informasi dan promosi. Godaan yang kemudian muncul adalah manakala kita hanya menggunakan media jejaring sosial itu sebagai alat saja. Ada pamrih dibalik itu. Lalu kita melupakan social bound yang seharusnya lebih penting untuk dilakukan. Banyak kita temui, hampir setiap hari kita mendapat tag promosi: jualan tas, baju, mainan anak-anak, kue-kue, dll. Tidakkah semua itu menyebalkan, bukan? Jujur saja, secara naluriah kita menjadi terganggu dengan bombardir promosi yang sebetulnya tidak kita perlukan.

Ada ilustrasu menarik dalam buku ini yang menceritakan seorang pebisnis anggur, Garry. Garry mewarisi bisnis anggur dari orang tuanya. Dalam perjalanan karirnya, Garry menemukan keasyikan sebagai seorang pakar anggur, menjadi nara sumber di mana-mana, membangun winelibrary.com sebagai media informasi soal anggur secara on lina. Dia tidak perlu berkoar bahwa anggur produksinya lezat, tapi orang akan melihat siapa Garry, dengan segala reputasi dan integritasnya sebagai seorang pecinta anggur sejati. Saya tidak tahu, apakah tepat kalau di sini saya mencoba menyamakan dengan sepak terjang Jaya Suprana dalam dunia kreatif MURI dan kelirumologi-nya, dan tidak pernah promosi Jamu Jago warisan usaha orang tuanya tu.

Nah, buku The Wuffie Factor, Sukses membangun brand di dunia maya, yang ditulis oleh Tara Hunt (Literati: 2010) ini akan mengupas habis perilaku itu dan menawarkan kiat-kiat hebat untuk menjadi sukses dalam menabung wuffie. Buku ini berisi 10 bagian yang secara urut berisi tentang: Bagaimana menjadi sorang kapitalis sosial; Kekuatan pemasaran komunitas; Berhenti berkoar dan ciptakan percakapan yang langgeng dengan pelanggan; Membangun wuffie dengan mendengarkan dan mengintegrasikan umpan balik; Menjadi bagian dari komunitas yang anda layani; Menabung dan mengambil tabungan wuffie anda; Jadilah terkenal: sebelas langkah menciptakan pengalaman pelanggan yang berkesan; Hadapilah ketidakpastian; Mencari tujuan mulia anda; Wuffie Irl.

Review ditulis oleh Hartono, pengasuh Rumah Baca

Samurai Sejati

the_book_of_five_ringsGo Rin No Sho – The Book of Five Rings”

Kisah sukses ekonomi atau industrialisasi Jepang selalu dikaitkan dengan budaya bangsa itu, dimana spirit samurai menjadi salah satu kekuatannya.

Oleh karena itu akan bermanfaat sekali untuk mempelajari spirit samurai itu. Dan, salah satu sumber dan simbol etos samurai adalah Miyamoto Musashi, sang Samurai Sejati. Dialah pendekar samurai tiada tara yang menulis buku The Book of Five Rings (Go Rin No Sho). Ini adalah hasil renungan atau kontemplasinya setelah menjadi samurai tak terkalahkan.

Buku ini oleh Musashi dibagi dalam 5 Bab, yang disebut: Kitab Bumi, Kitab Bumi, Kitab Air, Kitab Api, Kitab Angin, Kitab Kehampaan.

Musashi memberikan penjelasan singkat pemilihan judul itu: BUMI, simbol pandangan dasarnya tentang seni bela diri; AIR, terkait gayanya yang dilandasi sifat mengalir dan kejernihan; API, atau peperangan, dikaitkan dengan energi dan kemampuannya berubah; ANGIN, terkait pengamatan atau kritiknya atas atas macam-macam gaya dari perguruan lain; KEHAMPAAN, ini bagian yang sangat filosofis, bahwa kehampaan justru jalan mendekati kehampaan.

Meski media buku ini adalah panduan teknik samurai, tapi intinya adalah tentang “permainan pikiran” juga. Bagi Musashi, seni bela diri adalah sebuah pendekatan (psikologi) pada Jalan (disiplin, destiny).

Ada beberapa prinsip yang menjadi benang merah kelima Bab, yaitu: Pentingnya timing, yang mesti selalu diserasikan dengan ritme lawan dan situasinya. Pengetahuan yang menyeluruh atas diri sendiri dan lawan, mirip analisis SWOT. Pentingnya permainnan “persepsi”, agar betul-betul bertindak berdasar fakta, bukan persepsi, dugaan, agar tak mudah diprovokasi, dan dikelabuhi. Berikutnya, Sang Samurai Sejati menekankan pentingnya mengendalikan “pikiran lawan“, dengan tipuan, pengecohan, gertak, provokasi dan taktik lainnya. Akhirnya ialah pentingnya praktik, praktik dan praktik, kalau mau mencapai tingkat mahir (maestro). Ukuran keberhasilan belajar bukan lulus ujian oleh guru, tetapi keberhasilan menaklukkan lawan.

Membaca buku ini tentu tidak untuk belajar samurai, karena kalau mau belajar seni bela diri apapun ya lebih praktis ikut kursus. Sekali lagi untuk menggali spirit samurai yang katanya mampu memompakan etos maju bangsa Jepang.

Pada Kitab BUMI, Musashi menganalogikan belajar samurai seperti kerja tukang kayu yang harus menguasai aneka alat (gergaji, palu, penyerut, dst), menguasai banyak teknik (memotong, menyambung, meluruskan), serta memilih kayu yang tepat untuk pilar, palang, kusen, pintu, dst. Di samping mahir secara pribadi juga mahir memimpin pasukan dalam pertempuran. Ini juga seperti tukang kayu yang harus mampu memilih tukang, mengorganisir dan disiplin mengikuti blue-print.

Pada Kitab AIR dia meggaris-bawahi pentingnya mengikuti watak air yang “jernih dan fleksibel.” Jernih menilai lawan, tak tertipu oleh persepsinya sendiri. Dan, fleksibel atau lentur. “Tanaman yang hidup fleksibel, tanaman kaku adalah tanaman mati.”

Kitab API, membahas aspek taktik duel dan strategi pertempuran. Di antaranya ada dua strategi yang menarik bagi saya. Pertama, taktik meminjam tenaga lawan. Seorang samurai tua bisa menghadapi lawan yang muda, dengan taktik gerak tipuan untuk membuat lawan bertindak sia-sia, sibuk kelelahan. Kedua, strategi “menyeberang sungai”, saat kita menjalankan rencana, kadang tak terhindarkan harus menentang arus desar. Pada titik itu tak ada pilihan kecuali kerja keras mendayung untuk sampai ke seberang.

Kitab ANGIN, dalam kitab ini Musashi banyak membandingkan do-jo (perguruan)nya dengan do-jo lain yang dia kritik sebagai mengembangkan seni akrobat, kembangan, daripada seni pedang sesungguhnya yang tujuannya semata mengalahkan lawan.

Musashi juga mengajarkan agar taktik dan serangan yang dilakukan “tidak terbaca”. Karena sering melakukan serangan “di luar pakem”,atau yang konvensional” tujuannya agar lawan tak bisa menebak, atau bisa diprovokasi. Contohnya, saat duel dengan musuh bebuyutannya Sasaki Kojiro, di perahu menuju pantai tempat duel, dia buat pedang kayu dari dayung cadanga. Datangnya pun terlambat , ini pantangan bagi disiplin samurai. Akibatnya Kojiro heran dan tersinggung emosional. Disitu dia terpecah pikirannya dan Musashi pegang kendali dan menang.

Kitab KEHAMPAAN, ini bab paling tipis. Sesuai dengan judulnya, isinya sangat filosofis. Mengingatkan kita untuk melihat “fakta sesungguhnya”, atau hakikat. Karena kita umumnya terbiasa melihat “label” daripada “realita obyektifnya”. Kalau disebut kata “laut”, seketika terbayang “luas dan biru.”

Dalam duel, dalam pengambilan keputusan, subyektivitas, persepsi dini, juga prejudice, stereotyping, bisa mengecoh diri sendiri. Apalagi kalau lawan tahu pikiran, bias dan preferensi kita, mereka bisa sengaja mengecoh kita. Maka Musashi menyarankan “kosongkan pikiran”, hadapi lawan (realita) apa adanya, bebaskan dari asumsi, praduga.

Pahami realita apa adanya. Ini sulit, tapi alangkah indahnya kalau kita bisa selalu berfikiran “jernih”, tak dikacaukan, dipusingkan dan dibikin rancu oleh persepsi dan preferensi, judgement tertentu, yang seringkali tanpa fakta obyektif.

Apalagi di era informasi ini, tiap hari kita dicekoki oleh berita tivi, koran, gosip yang lebih banyak “opini”nya dari pada faktanya. “Bersihkan pikiran dari bias dan ego, bebaskan pandangan dari mode, tekanan teman, pra-konsep, maka Anda akan melihat (fakta atau) kebenaran sejati.”

Membaca The Book of Five Rings (Go Rin No Sho) ini saya merasa bisa belajar dari Bab terakhir, yang mengajari “kehampaan” lalu back-to-basic ke Kitab Bumi. Atau mulai dari depan, dari dasar ke yang lanjut. Meskipun ini kitab kuno, tapi ternyata mengikuti urutan sistematis sebagaimana kita menyusun modul. Dengan urutan OPAKK – orientasi, pengembangan materi, aplikasi, konfirmasi, dan konsolidasi.

(Risfan Munir, Jogja-Jakarta, April 2009)

Data Buku:

Miyamoto Musashi, The Book of Five Rings, terjemahan English oleh William Scott Wilson, edisi Indonesia diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.

Peresensi: Risfan Munir, peminat spirit samurai untuk meningkatkan etos kerja. Bekerja sebagai konsultan manajemen dan perencanaan kota/daerah. Penulis buku “Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif“. Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB). Blog http://ecoplano.blogspot.com dan email: risfano@gmail.com.

The Black Swan

black-swanAda pertanyaan sederhana sebelum orang membaca habis buku karya Nassim Nicholas Taleb, The Black Swan (Gramedia: 2009): percayakah anda bahwa di dunia ini ada angsa berwarna hitam? Dapat dipastikan bahwa jawaban yang akan diberikan adalah seragam: tidak percaya! Dari dulu, yang namanya angsa itu berwarna putih, mana ada angsa berwarna hitam? Tapi ketika orang menemukan kenyataan bahwa ada angsa berwarna hitam di Australia, ada kejutan, dan kepercayaan itu runtuh.

Buku ini berbau filosofis, banyak ditemukan istilah dan lintasan pemikir-pemikir besar dunia. Agak kepayahan juga mengunyahnya, apalagi buku ini juga dimasukkan dalam genre bisnis-ekonomi. Tapi penulis buku ini telah berusaha sekerasnya untuk tetap membuat buku ini menjadi bacaan ringan.

Black Swan adalah peristiwa langka yang mustahil dapat terjadi, dan kebanyakan orang alpa dengan kemungkinan ini, hingga peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Ada tiga karakteristik utama dari Black Swan ini: tidak dapat diramalkan, memiliki dampak yang luar biasa, dan sesudah terjadi orang baru sibuk menyusun teori bahwa kejadian itu sebenarnya bisa diramalkan. Contoh terkini dari Black Swan adalah runtuhnya menara kembar WTC yang dihajar teroris. Siapa sangka bahwa gedung megah yang ada di tengah kota peradaban modern dunia roboh oleh pesawat domestik yang dibajak teroris? Mengapa sebelumnya orang tidak ada yang mempunyai pemikiran antisipatif untuk memuat sistem penguncian ruang kokpit, yang dimasuki oleh teroris? Contoh lainnya adalah keruntuhan sistem financial di Amerika akhir-akhir ini. Amerika kurang apa dengan pakar ekonomi, hingga tak ada satupun yang mampu memberi early warning akan hal itu. Menurut Taleb, adalah karena manusia telah dirancang untuk mempelajari hal-hal yang spesifik ketika seharusnya mereka lebih fokus ke hal-hal umum. Kita berkonsentrasi pada hal-hal yang telah kita ketahui dan berulang-ulang gagal memperhitungkan yang tidak kita ketahui.

Buku ini membeberkan kebodohan kita itu, sekaligus menawarkan teknik-tekniknya untuk mampu mengantisipasinya. Buku ini berangkat dengan keyakinan pada diri sendiri untuk selalu skeptik: jangan mudah percaya dengan apa yang ada di sekitar kita. Kalau perlu jadilah seorang empirisme negatif.

Melintas jauh dari pemikir Amerika kelahiran Lebanon ini, saya teringat dengan ilmu dari tanah Jawa yang bernama ilmu Titen. Ilmu ini mengandalkan kepekaan akan tanda-tanda yang mengawali suatu kejadian besar yang akan terjadi. Tidak semua orang mampu meramalkan datangnya persistiwa besar itu, karena menganggap apa yang terjadi dalam drama hidup keseharian adalah peristiwa biasa yang akan berlalu begitu saja. Contoh empiris ilmu titen adalah misalnya, ketika dulu sedang musim ada es jus, beberapa tahun kemudian muncul penembakan misterius yang membabat habis bromocorah yang meresahkan masyarakat. Kata jus, diidentikan dengan suara tembakan senjata. Atau contoh lain, ketika maraknya makanan jagung baker dan lagu “anoman obong”, beberapa tahun kemudian munculnya tragedi 1998, yang diwarnai dengan pembakaran gedung-gedung dan kerusuhan masal pasca kejatuhan regim Soeharto. Persoalnnya, ilmu titen ala jawa ini berbau mistik dan sulit dijelaskan secara ilmiah. Ilmu titen juga cenderung memotret kejadian lampau guna mencoba mencari keajegan yang muncul daripadanya sebagai tanda akan datangnya kejadian berikutnya yang bisa diramalkan. Sementara menurut Black Swan, kegiatan menoleh ke belakang (retrospective) dan keberulangan (repercursive) itu harus dikaji apakah sudah tepat aturannya (metarules-nya). Dalam Black Swan unsur keacakan (randomness) dan ketidakpastian sangat tinggi. Justru di sinilah seninya. Bagaimana kita menyikapi keacakan ini sebagai bagian sikap terbuka dan waspada akan berbagai kemungkinan.

Apa relevansinya dengan hidup kita sehari-hari? Singkatnya, buku ini mengajarkan kepekaan, mempertajam daya kritis, tidak mudah percaya pada sesuatu yang tergambar secara umum, see the other way around! Lalu kita akan dengan enteng menjalani hidup ini yang selalu penuh kejutan, karena hidup memang telah didesain oleh Tuhan secara kreatif seperti itu.

Review oleh Hartono – Pengasuh Rumah Baca


Data pengunjung

  • 270,429 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads