Archive for the 'gaya hidup' Category

Happy Career

happy careerPada libur lebaran tahun 2016 ini, saya pulang kampung dan berjumpa  teman SD yang kini sudah beruban dan ada gurat ketuaan di wajahnya. Dia sendiri mengakui bahwa sekarang merasa sudah tua, mungkin karena sudah punya cucu. Saya hampir tidak mengenali wajahnya, kalau dia tidak menyapa lebih dulu. Secara berseloroh, dia berkata bahwa saya terlihat jauh lebih muda dan segar. Tapi dari sorot mata dan senyumnya, saya masih bisa menyaksikan, bahwa di usia tuanya, dia masih tampak bahagia dengan kehidupan sehari-harinya sebagai petani di desa.

Teman SD saya yang tinggal di desa itu pasti tidak pernah membaca soal tips hidup bahagia. Apalagi membaca buku tentang cara mengejar keberhasilan karir dengan lebih dulu mengejar kebahagiaan. Hidupnya sebagai petani pastilah sudah menjadi jalan hidupnya, menjadi karir sepanjang hidupnya. Tapi melalui perjumpaan singkat itu, saya melihat sendiri dia terlihat bahagia, meskipun tersaput keriput dan uban di kepalanya.

Sebagai pengasuh komunitas Rumah Baca, saya punya kesempatan yang luas untuk belajar dari buku-buku yang saya baca, dan berdiskusi dengan teman-teman komunitas, termasuk buku “bergenre mengejar bahagia”  yang ingin saya tulis di sini.

Saya menjumpai buku “Happy Career”: Cara Mengejar Keberhasilan Karier dengan Lebih Dulu Mengejar Kebahagiaan, tulisan Elvi Fianita (Gramedia: 2016), sebagai pengingat beberapa hal yang pernah saya pelajari atau pernah saya alami dalam hidup. Beberapa hal yang baru,  semakin memperkaya pemahaman dan keyakinan soal hidup bahagia dalam karir.

Buku-buku serupa yang pernah saya bahas di Rumah Baca, untuk menyebut beberapa di antaranya: Manajemen Apresiatif, Setengah Isi-Setengah Kosong, The Lost Secret Of SuccessThe Excellent Life, dan Makrifat Jawa. Sekali lagi, saya menjadi punya banyak kesempatan untuk belajar dan memperbaiki hidup setiap hari melalui kegiatan membaca.

Buku “Happy Career” ini cukup unik dalam tampilan isinya. Mengikuti kecenderungan minat baca manusia modern yang tak bisa lagi berlama-lama dengan teks yang padat, apalagi bersaing dengan gadget di tangan, maka tampilan harus ringkas, tapi tetap menarik. Buku ini tergolong tipis, dengan 93 halaman.  Isi buku dikemas layaknya orang membaca slide presentation. Terdapat banyak potongan quote, catatan ringkas, sticky notes, tips, dan kolom kecil berisi ringkasan perjalanan hidup seorang inspirator.

Buku ini secara garis besar terbagi dalam 3 bagian: catatan awal, 9 prinsip bahagia yang mendatangkan sukses, dan penutup. Kesembilan prinsip itu adalah: temukan pekerjaan yang sesuai dengan diri anda yang sesungguhnya, tetapkan target dan tujuan, menggunakan kelebihan anda sesering mungkin, temukan “panggilan hidup” dalam pekerjaan anda, membuat bekerja seperti bermain, be optimistic, mampu bangkit di saat-saat sulit, berinvestasi di lingkungan sosial, dan mens sana in corpore happy.

Pasti ada plus minusnya dengan membaca buku model ringkasan seperti ini. Kelebihannya adalah pembaca memiliki catatan pengingat tentang prinsip-prinsip yang pernah dibaca di banyak buku yang lain atau yang bersumber dari pengalaman hidup. Kekurangannya adalah, pembaca tak mendapatkan gambaran secara mendalam dengan apa yang dibacanya, kecuali seperti sedang menghafal sebuah deretan prinsip atau pedoman hidup bahagia. Ringkasan dalam buku akan  mengambil peran aktif pembaca dalam mengambil kesimpulan. Padahal, kesimpulan satu orang dengan orang yang lain  bisa berbeda, tergantung kepada tingkat kematangan emosi dan pengetahuan seseorang. Dan itu jauh lebih mengendap dan menjadi prinsip hidup yang akan dia yakini sendiri apabila membaca secara utuh sebuah buku inspiratif. Misalnya membaca biografi Habibie, Dalai Lama, Bill Gates, atau bahkan Soeharto.

Sedikit catat tentang buku ini, sebagai salah satu cara mengejar keberhasilan karir, akan lebih baik kalau pada bagian akhir setiap prinsip disediakan latihan kepada pembaca berupa check list harian. Dari sana pembaca dapat menilai sendiri apakah sudah terjadi perubahan dalam  hidup menuju bahagia atau belum.

Sebagai catatan lain, penulis buku adalah seorang psikolog, dan menyebut dirinya sebagai happiness coach. Berbagai jenis pelatihan pernah dia berikan, terkait dengan motivasi kerja, karir, kreativitas, dan perkembangan pribadi.  Dia pasti punya kompetensi untuk menulis tentang semua hal yang terkait dengan motivasi dan perubahan perilaku seseorang.

Selebihnya, saya selau mengatakan bahwa ilmu ada di mana-mana. Termasuk, salah satunya, dengan membaca buku ini. Be happy!

Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

Ustadz seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online

ustadz-seleb-bisnis-moral-fatwa-online

Cover buku “Ustadz Seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online (Komunitas Bambu: 2012)

Buku yang bermuatan analisis tajam soal perubahan perilaku suatu masyarakat, hanya menangguk sedikit pembaca. Padahal, sebagian besar pembaca Indonesia, yang mayoritas muslim, adalah “korban” dari sebuah perubahan yang bernama komodifikasi Islam itu.

Buku “Ustadz seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online” (Komunitas Bambu: 2012) merupakan terjemahan dari sebuah proyek Indonesia yang dikerjakan oleh Greg Fealy dan Sally White, dengan judul “Expressing Islam: religious life and politics in Indonesia” (Singapore: ISEAS Publishing Institute of Southeast Asian Studies, 2008).

Buku ini secara tajam merangkum berbagai aspek perubahan itu, dari berbagai perspektif: ekspresi kesalehan pribadi; ekspresi politik, sosial, dan hukum; ekspresi ekonomi. Tulisan dirangkum dari berbagai analisa oleh para pakar luar negeri dan Indonesia, seperti M.C. Ricklef, Maria Ulfah Anshor, Umar Juoro, hingga Muhammad Syafii Antonio.  Tapi sebagai sebuah analisa, buku ini tak bermaksud memberikan penghakiman secara membabi buta bahwa proses perubahan komodifikasi Islam sebagai sebuah kemunduran Islam. Alih-alih, justru memberikan ruang kepada pembaca untuk mengamati apa sebenarnya yang telah terjadi. Apakah yang dilakukan selama ini benar-benar telah sesuai tuntunan Islam, atau jangan-jangan hanya terseret dalam euphoria Islam yang salah?

Ada begitu banyak peristiwa yang berserak, yang menggambarkan betapa perubahan ke arah komodifikasi Islam itu dimulai sejak tumbuhnya perekonomian di Indonesia di bawah rejim Orde Baru.  Mulailah tumbuh kelas menengah atas, terpelajar, dan tinggal di perkotaan. Pertumbuhan kelompok OKB (orang Kaya Baru) ini mulai tampak pasca 1990-an.  Pertumbuhan itu tergambar dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari  munculnya penerbitan yang berbau Islam, seperti majalah Sabili, Hidayah, hingga harian Republika. Muncul pula agen-agen perjalanan wisata spiritual, ziarah walisongo, paket umrah ke tanah suci bersama selebriti terkenal. Pasar komoditas juga  merambah dari obat-obat herbal, bekam, rukyah, multi-level marketing, fashion muslim, perbankan syariah, dan tentu saja label halal.

Munculnya ustadz-ustadz seleb yang tampil di televisi, dengan pengetahuan Bahasa Arab dan hukum Islam yang minim, tak membuat orang mundur, bahkan berbondong-bondong mendatangi majlis taklim yang mereka dirikan. Fenoma the holly man from Indonesia, AA Gym, turut meramaikan perubahan ini. Ustadz kondang Arifin Ilham, Yusuf Mansyur, Uje, dll adalah sederet nama yang mereka kenal dan elu-elukan. Sebagian besar “para pengikut” mereka adalah sekelompok muslim perkotaan yang merasa menemukan perwakilan dari keseharian mereka sendiri, dengan cara yang mudah dan moderat. Ustadz Uje yang mantan pemakai narkoba dan bintang film, segera menemukan banyak pengikut, bahwa masa lalu yang gelap bisa menemukan pertobatan di masa kini. Ustadz Yusuf Mansur, yang masa lalunya pernah bangkrut secara ekonomi sanggup bangkit kembali dengan menemukan rahasia berderma, melalui jargon “kun fayakuun.”

Benarkah ini pertanda bahwa masyarakat Indonesia telah menjadi muslim yang sebenar-benarnya? Ahmad Syafii Ma’arif, mantan Ketua PP Muhammadiyah, dengan miris mengatakan, “Sebagian dari popularitas Islam saat ini bersifat luar daripada dalam, dan kalangan Muslim yang baru itu lebih peduli untuk kelihatan Islam daripada menjadi Islam.”

Naik turunnya tingkat keimanan sesorang, tak bisa dilihat dari besar kecilnya perhatian mereka pada sesuatu  yang berbau Islam. Pangsa pasar bank syariah di Indonesia, ternyata hanya meraup 2% dari total nasabah. Berbeda dengan Malaysia yang mencapai 20%. Jumlah pembaca majalah Hidayah untuk setiap kali terbitannya, ditunggu sekitar 2,1 juta pembaca Indonesia. Sementara harian Republika hanya dibaca 230 ribu pembaca saja. Berbeda dengan harian Kompas, yang hampir menguasai pangsa pasar pembaca harian di Indonesia.

Menarik pula untuk mendapat gambaran, apakah perubahan ini mampu menyeret seseorang lebih moderat, toleran, atau justru mendorong seseorang menjadi radikal?

Buku ini juga menganalisa dari ekspresi politik, sosial, dan hukum, sekaligus ekspresi ekonomi. Dari sisi politik, ternyata jumlah suara yang mengalir untuk partai-partai yang berbasis Islam, apabila semuanya digabungkan (PKB, PKS, PPP, Bulan Bintang) tak lebih dari 30% saja, padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam.

Pada akhirnya, dengan luas dan kompleksnya permasalahan Islam di Indonesia membuat analisa yang rapi dan komprehensif menjadi hampir mustahil dilakukan. Maka, kita akan bisa keliru menyimpulkan sesuatu apabila hanya memperhatikan satu bagian tertentu dan tak melihatnya secara menyeluruh.

Akhirnya, buku ini tetap wajib untuk dibaca oleh pembaca muslim yang tak mau menjadi “korban” dari komodifikasi Islam, atau pembaca umum yang ingin mengetahui perkembangan yang terjadi saat ini. Sebagai sebuah proses perkembangan, maka bisa saja arah perubahan itu bisa jauh berbeda dengan apa yang terjadi sekarang ini.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

Out of the truck box

iqbal

Cover buku “Out of the truck box” karya Iqbal Aji Daryono (Mojo.co: 2015)

Orang satu ini memang khas turunan Jogja. Jago mbacot. Kalau bicara lunyu, alias licin seperti air yang lama menggenangi batu sehingga berlumut dan mudah membuat orang terpeleset dibuatnya. Gaya bertuturnya mbanyol ala Basiyo, orisinal, nylekit dan tanpa tedheng aling-aling.

Kumpulan tulisan Iqbal Aji Daryono memang kemripik, dikemas dalam buku “Out of the truck box” (Mojo.Co: 2015). Sekilas tulisannya remeh, tapi punya kedalaman makna dan mampu menohok cara berfikir kita. Meruntuhkan ideologi maupun keyakinan kita selama ini. Mengajak kita berantem dengan akal sehat, rasio, maupun keyakinan yang selama ini kita pegang teguh. Tujuannya memang untuk mengusik dogma yang sudah terlanjur menghujam dalam di dalam akar iman kita. “Buku ini berbahaya. Jangan coba-coba membacanya,” demikian peringatan yang disampaikan Harun Mahbub, seorang wartawan Tempo yang memberikan endorsement, sekaligus mengingatkan kita untuk tak coba-coba menyentuh buku ini kalau tak kuat iman.

Sejatinya Iqbal hanyalah seorang sopir truk di Ostralia (dia memang menyebut begitu untuk Australia). Dia kesasar di sana karena mengikuti istri yang sedang melanjutkan studi di Murdock University, Perth, Australia. Beasiswa yang diperoleh sang istri tak mencukupi untuk menghidupi mereka bertiga: Iqbal, istri, dan anak semata wayangnya, Hayun. Terpaksalah Iqbal jadi sopir, berbekal SIM keularan Polres mBantul, Jogja.

Disela-sela menyopir itulah keluar segala keresahan yang bersumber dari dalam diri ketika melihat segala fenomena yang ada di negari barunya. Sebuah negeri yang dia rasa sebagai negeri kering, yang tak lebih dari seonggok tanah merah dan serumpun semak belukar. Tak ada pepohonan aneka warna, atau sawah yang hijau membentang seperti di tanah kelahirannya. Pun tak ada warung kopi nan egaliter, tempat dia bisa bersenda gurau denga teman-teman mbacotnya. Tak da lelucon segar khas Basiyo atau Srimulat. Hari-hari dia lalui dengan segala kegaringan. Justru dari sanalah kemudian mengalir tulisan-tulisan yang mengusik akal sehat. Bisa jadi itu adalah sebentuk pelarian untuk menjaga kewarasan.

Tulisannya secara umum terbagi dua bagian. Bagian pertama berisi Negara-Negara, yang berisi pengenalan budaya negeri baru yang bernama Ostralia, termasuk pengenalan sahabat barunya dari berbagai negara: India, Afganistan, Macedonia, Jerman, dll. Bagian kedua adalah Manusia-Manusia. Nah, bagian kedua inilah banyak bertebaran tulisan nakal yang akan mengusik akal sehat dan keyakinan kita selama ini. Jika tak kuat iman, kita akan segera goyah, dan ikut manggut-manggut dibuatnya. Tulisannya sebagian besar berlatar belakang analisa psikologi. Dia bisa dengan ringan mengupas soal pilihan agama, perdebatan ideologii syiah-sunni, taliban, soal spritualisme buah apel, makanan berdaging atau soal brengseknya kamera pengawas yang serupa “God eye” yang akan dengan mudah membuat kita masuk ke dalam jurang kemusyrikan.

Percayalah. Anda yang baru setingkat S1, nggak bakal sanggup mengunyah tulisan ini. Karena Iqbal sejatinya sudah sampai pada tataran S4 (seri HP yg dia punya, he…he…), maksudnya setingkat S3, yaitu setingkat para lulusan doctor yang sudah mampu berfikir menggugat asumsi mapan menyorong pendapat yang berseberangan.
Iqbal adalah sedikit penulis yang muncul belakangan ini, yang mengupas tulisan soal kehidupan sehari-hari sebagi tulisan non-fiksi secara ringan, dan itu tadi: kemripik!

Bandingkan dengan tulisan-tulisan saya di buku “Mabuk Dolar di Kapal Pesiar” (Rumah Baca: 2010) dan “Dilema: Kisah Dua Dunia Dari Kapal Pesiar” (Rumah Baca: 2012) yang juga berusaha mengulik persoalan manusia di atas kapal pesiar dari persepktif kemanusiaan. Kami ternyata sama-sama TKI. Bedanya kalau Iqbal bolak-balik di negara bagian Perth, Australia, sementara saya melalang buana di atas kapal pesiar. Kami sama-sama menjadi korban sebuah nasib yang harus dijalani, yaitu menjadi TKI. Bedanya, ya tentu saja cara bertuturnya lewat tulisan dan mengemasnya dalam sebuah buku.

Silahkan berfikir dua kali sebelum menyentuh buku ini. Selebihnya, terserah Anda.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

DSC_0569.JPG

Bela-belain baca bukunya Iqbal sambil nunggu stand Rumah Baca, saat belum ramai diserbu pengunjung 🙂

After Orchard

Benar apa yang dikatakan Sumardy, konsultan, pembicara dan praktisi marketing, dalam testimoni yang dituliskannya untuk buku “After Orchard,” karya Margareta Astaman (Kompas: 2010) – “Membaca buku Margareta seperti minum segelas margarita, enak dinikmati, cocok untuk santai. Walau simple ramuannya, tetapi tetap menggigit dengan sentuhan humornya.”

Saya sungguh menikmati gaya celotehannya yang khas anak muda Jakarta. Menyebut saya dengan gue saja sudah membuat saya bisa merasai betapa gaul warna bahasa yang ditawarkan dalam buku ini, belum celotehan lainnya yang diselang-seling dengan bahasa Inggris. Terus terang, dibalik ulasannya yang ceplas ceplos itu, ada tersimpan ulasan tajam atas potret antroplogis bangsa Singapura, yang bisa jadi tidak disadari oleh orang Singapura sendiri. Bagi saya, Margie, adalah sosok perempuan cantik masa kini yang cerdas dan telah berhasil menjadi sosok warga kosmopolitan. Berhasil dalam pengertian di sini adalah menjadi sosok yang tidak larut dan terseret dalam gemerlap kosmopolitan. Tapi justru lebih daripada itu, Margie berhasil keluar, mengambil jarak, dan kritis dengan keadaaan sekitarnya, tanpa harus bersikap nyinyir atau menjauhi pola kehidupan yang serba komspoloitan itu seperti barang najis yang harus dihindari. Sekedar informasi tambahan, Margie adalah lulusan SMA St Ursula Jakarta, melanjutkan kuliah di NTU, menjadi kontributor berita Reuters, dan kini bekerja sebagai Portal Executive untuk MSN di Jakarta.

Berbekal pengalamannya selama 4 tahun kuliah di NTU (Nanyang Technological University) dan hidup dengan nafas kehidupan manusia Singapura, Margie dengan cerdas mengkritisi betapa dibalik kehidupan serba maju dan moderen itu Singapura menyimpan ironi. Di mata Mergia, masyarakat Singapura telah terpenjara dengan pola hidupo yang serba teratur, taat prosedur, hingga tak ada ruang bagi toleransi, kreativitas, keramahan alamiah. Sempat Mergie mengatakan betapa mereka telah menjadi robot yang selalu mengukur manusia dari nilai, prestasi dan materi. Singapura hanya diperuntukkan bagi mereka yang berprestasi, yang dodol alias bodoh silahkan menyingkir. Itulah sebabnya angka bunuh diri lumayan tinggi di sana. Tahun 2006 tercatat ada 416 kasus, atau rata-rata ada 1 orang bunuh diri setiap harinya. Kasus David, mahasiswa Indonesia yang dikabarkan mati bunuh diri (atau dibunuh?), dapat menjadi contoh soal satu ini.

Membaca buku “After Orchard” ini tiba-tiba saja saya jadi ingat Singapura sekian tahun lalu, saat mendapat kesempatan memperdalam bahasa Inggris di sana, dibiayai oleh pemerintah Singapura selama 2 bulan. Kesan yang saya tangkap selama 2 bulan itu ternyata tak lebih dari kesan 2 hari 3 malam yang dirasai oleh Mergie. Dalam waktu 2 bulan itu, saya hanya mampu menangkap kesan Singapura sebagai bangsa hebat, bersih, tertib, rapi, tanpa cela. Di mata Margie, kesan itu menjadi hancur berbalut ironi… Margie pun tidak peduli, meskipun Menlu Singapura memberinya “surat cinta” untuk tidak menulis dan mencitrakan Singapura secara salah.

Review buku ditulis oleh Hartono – pengasuh Rumah Baca

The Wuffie Factor

Siapapun yang sedang membaca review buku ini, pasti telah menjadi salah satu orang yang tidak lagi terbebas dari dunia jejaring sosial, macam Facebook, MySpace, Twitter, Multiply, Friedster, Blogger, dll. Pola hubungan sosial saat ini tidak lagi dibatasi dengan pertemuan fisik semata. Dia sudah menembus sekat-sekat dimensi ruang, melesat dan menembus kemana-mana. Dalam hitungan detik, seseorang   bisa terkoneksi dengan puluhan bahkan ratusan teman sekaligus, baik yang  sudah kenal sebelumnya atau kenal melalui dunia maya. Kita telah memasuki era Web 2.0.

Dari fenomena Web 2.0 itu, kini muncul istilah baru yang belum semua orang tahu artinya. Jika ada orang yang bertanya, “bagimana wuffie-mu,” jangan telepon satpam. Seloroh ini menunjukan bahwa boro-boro satpam. Anda sendiri jangan-jangan belum tahu apa itu wuffie.

Istilah wuffie ditelurkan oleh Cory Doctorow, penulis blog populer Boing Boing, yang menggambarkan modal sosial dalam novel fiksi ilmiah futuristiknya “Down and Out in the Magic Kingdom.”  Dalam dunia masa depan itu, digambarkan bahwa wuffie menjadi mata uang yang satu-satunya digunakan. Mata uang dunia seperti dolar, euro, yen – hilang begitu saja. Mata uang yang baru – wuffie – merupakan residu hasil reputasi sosial kita. Kursnya bisa bertambah atau berkurang berdasarkan perilaku positif atau negatif kita. Tergantung dari sumbangsih dan niat baik atau jahat kita  yang akan dinilai oleh lingkungan sekitar atau teman-teman kita.

Melalaui Facebook atau Twitter kita bisa melihat seberapa banyak seseorang memiliki jaringan pertemanan. Semakin banyak teman, atau follower – dalam Twitter – menunjukkan wuffie kita meningkat. Tapi tunggu dulu, wuffie ini tidak bisa semata-mata diukur dari kuantitas alias jumlah teman yang berhasil kita kumpulkan. Jumlah itu bisa akan tiba-tiba runtuh dan seluruhnya meninggalkan kita. Atau sebaliknya, bisa bertambah dan meroket secara tiba-tiba dalam hitungan detik.

Di sinilah permasalahannya. Ini soal reputasi sosial, atau integritas kita. Jejaring sosial Facebook, atau Twitter telah menjadi media ampuh dalam menyebarkan informasi dan promosi. Godaan yang kemudian muncul adalah manakala kita hanya menggunakan media jejaring sosial itu sebagai alat saja. Ada pamrih dibalik itu. Lalu kita melupakan social bound yang seharusnya lebih penting untuk dilakukan. Banyak kita temui, hampir setiap hari kita mendapat tag promosi: jualan tas, baju, mainan anak-anak, kue-kue, dll. Tidakkah semua itu menyebalkan, bukan? Jujur saja, secara naluriah kita menjadi terganggu dengan bombardir promosi yang sebetulnya tidak kita perlukan.

Ada ilustrasu menarik dalam buku ini yang menceritakan seorang pebisnis anggur, Garry. Garry mewarisi bisnis anggur dari orang tuanya. Dalam perjalanan karirnya, Garry menemukan keasyikan sebagai seorang pakar anggur, menjadi nara sumber di mana-mana, membangun winelibrary.com sebagai media informasi soal anggur secara on lina. Dia tidak perlu berkoar bahwa anggur produksinya lezat, tapi orang akan melihat siapa Garry, dengan segala reputasi dan integritasnya sebagai seorang pecinta anggur sejati. Saya tidak tahu, apakah tepat kalau di sini saya mencoba menyamakan dengan sepak terjang Jaya Suprana dalam dunia kreatif MURI dan kelirumologi-nya, dan tidak pernah promosi Jamu Jago warisan usaha orang tuanya tu.

Nah, buku The Wuffie Factor, Sukses membangun brand di dunia maya, yang ditulis oleh Tara Hunt (Literati: 2010) ini akan mengupas habis perilaku itu dan menawarkan kiat-kiat hebat untuk menjadi sukses dalam menabung wuffie. Buku ini berisi 10 bagian yang secara urut berisi tentang: Bagaimana menjadi sorang kapitalis sosial; Kekuatan pemasaran komunitas; Berhenti berkoar dan ciptakan percakapan yang langgeng dengan pelanggan; Membangun wuffie dengan mendengarkan dan mengintegrasikan umpan balik; Menjadi bagian dari komunitas yang anda layani; Menabung dan mengambil tabungan wuffie anda; Jadilah terkenal: sebelas langkah menciptakan pengalaman pelanggan yang berkesan; Hadapilah ketidakpastian; Mencari tujuan mulia anda; Wuffie Irl.

Review ditulis oleh Hartono, pengasuh Rumah Baca


Data pengunjung

  • 270,429 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads