Archive for the 'konflik' Category

Wasripin & Satinah

wasripin

Cover novel “Wasripin & Satinah” (Kompas: 2013), karya Kuntowijoyo

Tugas utama seorang penulis adalah merekam peristiwa sosial yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat melalui tulisan-tulisannya. Tulisan itu kemudian menjadi saksi sejarah. Menjadi pengingat kepada generasi berikutnya, bahwa kejadian itu benar-benar telah terjadi, dan orang tak boleh melupakannya.

Kuntowijoyo, menyandang predikat sebagai sejarawan dan sastrawan sekaligus.  Kombinasi itu menjadikannya piawai dalam menuliskan sejarah dengan caranya yang enak untuk dinikmati. Novelnya, “Wasripin & Satinah” (Kompas:  2013) sangat cair dalam menjelaskan bagaimana perilaku sebagian besar bangsa Indonesia yang irasional, mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia tak pernah lepas dari urusan klenik yang tak dapat diukur dengan logika.

Alkisah, muncul tokoh Wasripin, pemuda tanggung yang diasuh oleh emak angkatnya, menggelandang di kolong-kolong pinggiran Kota Jakarta, menyediakan “tenaganya” untuk dapat “memuaskan hasrat” perempuan-perempuan yang membutuhkannya. Tapi, Wasripin tak ingin mati dengan cara itu. Alhasil, ia lari dengan menumpang bus lewat Pantura. Ia ambil bus jurusan Jakarta-Cirebon, kemudian menyambung Cirebon-Semarang. Ia sendiri tak tahu, harus turun di mana. Ia hanya mengikuti apa kehendak hatinya saja. Ia akan segera bilang, “turun,” kepada kondektur bus ketika ia merasa sudah sampai. Sepotong informasi yang ia peroleh dari emak angkatnya adalah bahwa ibunya berasal dari daerah pantai utara Jawa Tengah sebelah barat. Dan ia benar-benar turun di daerah itu.

Mulailah balada Wasripin di sebuah tempat di pantai utara, mengawali hidup di sebuah surau yang dirawat oleh seorang Modin. Kedatangan Wasripin di surau itu kemudian mewarnai keseharian masyarakat pantai. Wasripin dipercaya orang-orang mendapat ilmu langsung dari Nabi Haidir, sosok lelaki berambut putih yang mengajarinya ilmu agama, dan menjadikan dirinya orang sakti. Wasripin sanggup menyembuhkan orang bisu bisa kembali bicara hanya denga dipijat tenggorokannya. Selain jadi tukang pijat – Wasripin berprofesi jadi satpam TPI – ia juga mampu berkomunikasi dengan makhluk halus. Maka orang-orang mulai berdatangan untuk berobat.

Sepak terjang Wasripin yang menggegerkan kampung nelayan itu menyeretnya dalam pusaran politik dalam negeri, melibatkan lurah, camat, bupati, tentara, polisi, hingga pimpinan partai. Mereka ternyata tak jauh beda dengan kebanyakan rakyat pada umumnya. Intrik politik tak pernah jauh dari urusan kekuasaan. Dan untuk mendapatkan kekuasaan, sangat lazim berhubungan dengan ilmu klenik.

Romantika hidup Wasripin menjadi berwarna ketika ia berjumpa dengan Satinah, seorang penyanyi keliling, yang selalu ditemani pamannya yang buta. Tokoh Satinah mengingatkan saya pada sosok Srintil dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruh” yang ditulis Ahmad Tohari. Baik Satinah maupun Srintil, keduanya ditemani lelaki buta. Dan mereka berdua mengamen di sepanjang perjalanan.

Intrik politik jugalah yang kemudian menyeret Wasripin pada kematiannya yang tragis, ditembak tentara, dan membawa Pak Modin menjadi miring otaknya akibat intimidasi tentara yang kelewatan.

Novel ini memotret secara parodi tentang bagaimana politik di Indonesia sangat kental dengan intrik-intrik kekuasaan, yang dimainkan oleh para elit partai, polisi, tentara, kejaksaan, hingga sang presiden.

Kuntowijoyo menyamarkan nama seting lokasi peristiwa. Ia hanya menyebutnya Pantura.  Nama partai ia ubah menjadi Partai Randu dan Partai Langit. Orang akan dengan mudah menghubungkannya dengan Partai Beringin dan Partai Ka’bah.  Nama presiden yang berkuasa ia beri nama Sadarto. Sudah pasti, mengarah pada mantan presien kita yang murah senyum itu.

Begitulah, tugas seorang sastrawan telah ia tunaikan. Meninggalkan sejak sejarah bangsanya dengan caranya sendiri. Dengan membaca novel ini, orang-orang yang pernah mengalami peristiwa pada masa itu akan cepat menghubungkan dengan peristiwa yang sebenarnya. Tapi, untuk generasi berikutnya, saya tak begitu yakin. Sebagian besar juga tak peduli dengan politik. Mereka justru lebih kenal  artis Korea, pelakon  India, atau pesohor Hollywood. Peristiwa politik paling up date yang mereka kenal, paling-paling perseteruan Donald Trump dan Hillary Clinton dalam perebutan kekuasaan presiden di Amerika Serikat. Dan itupun mereka peroleh dari sosial media.

Review buku oleh Hartono Rakiman.

Cerita dari Digul

digul

Cover “Cerita dari Digul” (KPG: Cetakan keenam April 2016)

Lamat-lamat benar aku dengar soal Digul. Dulu. Dulu sekali, sewaktu aku masih duduk di bangku SD. Itupun tak sungguh jelas amat. Gurukku sempat bercerita, dahulu Bung Hatta pernah dibuang ke Digul pada jaman revolusi melawan penjajah Belanda. Tak jelas benar, apakah Soekarno juga pernah dibuang ke sana. Bolehlah berkabar di sini, bagi yang tahu riwayat Soekarno di pembuangan Digul.

Selepas urusan sejarah itu, aku tak lengkap mengerti tentang Digul. Baru kemudian aku baca sedikit tentang ekspedisi zamrud katulistiwa dalam buku Meraba Indonesia, yang ditulis oleh Ahmad Yunus, dan Farid Gaban. Itupun belum timbul minat untuk mengerti tentang Digul.

Baru nyata penghayatanku tentang Digul, manakala terbaca kumpulan “Cerita dari Digul” (KPG: Cetakan keenam April 2016), yang ditulis oleh para eks-digulis, dan disunting oleh Pramoedya Ananta Toer. Ada lima tulisan yang berhasil dihimpun dan disunting oleh Bung Pram. Kelima penulis itu ialah: D.E. Manu Turoe, Oe Bo Tik, Abdoe’lXarim M.S, Wiranta, dan satu penulis Tanpa Nama.

Kelima penulis ini menggunakan Bahasa melayu, dengan gaya Bahasa tempo doeloe yang semakin menambah-nambah kesan kuat tentang peristiwa di masa lalu. Satu penulis terakhir, Tanpa Nama, terlihat berasal dari suku Jawa, dan berupaya untuk dapat menggunakan Bahasa Melayu dengan baik, meskipun di sana-sini dia mencoba menyelipkan istilah Jawa. Barangkali maksudnya agar para pembaca Jawa yang belum mengerti Bahasa Melayu mengerti maksudnya.

Secara garis beras, kelima penulis itu melukiskan tentang neraka Digul, yang membuat mereka kemudian memutuskan untuk lari dari sana, meskipun rintangan dan bahaya mengancam di depan mata: nyamuk malaria, lintah, binatang buas, sungai yang lebar dan dalam, rawa-rawa, hutan belantara, dan orang hutan yang disebut Kayakaya yang masih suka makan orang!

Sebagian besar penulis mengisahkan pelarian dari Digul dengan menambahkan roman, soal kekecewaan mereka atas perempuan yang tak lagi setia dengan penderitaan mereka di tanah pembuangan. Kisah Rustam Digulist (D.E. Manu Turoe), mengisahkan kekecewaan tokoh Rustam yang kecewa dengan pacarnya, Cindai, yang pada awalnya mau untuk dipersunting setelah Rustam kembali dari Digul, nyatanya Cindai mengatakan tidak untuk Rustam yang eks-Digulis.

Kisah “Pandu Anak Buangan (Abdoe’lXarim M.s), juga mengisahkan kekecawaan tokoh Pandu karena telah dipisahkan oleh mertuanya dari istrinya. Kemudian Bung Pandu kita memadu kasih dengan Zus Emi, yang sama-sama aktf di pergerakan. Tapi ketika Bung Pandu dijerat dengan pasal pemberontakan dan dibuang ke Digul, nyatanya Zus Emi tak mau ikut serta dan memilih pergi ke Betawi dan mengikat janji dengan orang lain.

Lain lagi perkara asmara dalam cerita “Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul” (Wiranta), yang mengisahkan pelarian Sujito dan Kemlin dari Digul menuju Nieuw-Guinea. Sujito ingin segera pergi saja dari Digul selepas mendapat surat dari istrinya, Rusmini, yang pada awalnya ikut Sujito di pembuangan, tapi kemudian pulang bersama anaknya. Sekian tahun kemudian, Rusmini memilih jalan hidup untuk menikah lagi dengan lelaki lain. Pilihan ini membuat hati Sujito hancur berkeping-keping. Maka pelarian dari Digul sebenarnya menjadi ajang bagi Sujito untuk mati saja dimakan neraka Digul.

Begitulah. Cerita dari Digul semakin menambah keyakinan, betapa manusia bisa dibuat tercerai-berai, tercerabut dari akar, hidup sengsara dan menderita karena berbagai perkara: ideologi, perang dan asmara. Mereka, para eks-Digulis, bisa jadi hidup pada waktu dan tempat yang salah. Mereka salah, karena memegang teguh ideologi komunis, di tengah-tengah kuasa penjajah yang kapitalis dan eksploitatif. Mereka salah telah memilih istri yang tidak setia. Tapi menurut saya, mereka telah benar ketika memutuskan untuk lari saja, minggat dari Digul. Karena itulah satu-satunya bukti bahwa hanya mereka sendirilah yang punya kuasa untuk menentukan kebebasan yang senyata-nyatanya.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

Amarah

Kill Your TV!” itulah sepenggal kata yang saya baca ketika membuka salah satu halaman di blog ini. Kata-kata itu mungkin tidak sepenuhnya mutlak berlaku bagi saya mengingat kebiasaan yang wajib saya lakukan sebelum tidur, nonton berita! Seketika ingatan saya tergugah saat menyaksikan salah satu topik dalam salah satu berita di TV, tentang pemblokiran jalan yang dilakukan oleh beberapa mahasiswa Makassar beberapa hari yang lalu dalam rangka memperingati tragedi berdarah tahun 1996 yang menewaskan beberapa kawan mereka. Dan seketika itu pula timbul hasrat dalam diri saya untuk mereview buku lama (tidak terlalu lama sih) yang pernah saya dapatkan di bazaar buku murah tahun lalu. Buku Amarah: Refleksi April Makassar Berdarah 1996 mencoba merefleksikan kembali peristiwa berdarah yang menewaskan 3 orang mahasiswa Universitas Muslim Indonesia (UMI) Makassar. Mereka adalah: Andi Sultan Iskandar, Tasrif Daming dan Saiful Biya. Selain mengakibatkan 3 korban tewas, juga banyak yang menderita luka-luka hingga cacat, baik dari pihak mahasiswa maupun pihak aparat. Kebetulan, blog ini tidak mensyaratkan bahwa buku yang di review harus buku baru. Melalui pesan singkat, Mas Har menjawab pertanyaan saya, “Any book, menurut anda menarik, maka menarik untuk orang lain”.

Insiden diawali dengan demonstrasi oleh mahasiswa Makassar pada tanggal 24 April 1996 yang menolak pemerintah menaikkan tarif angkot yang dirasa sangat memberatkan masyarakat pada saat itu. Instruksi kenaikan tarif angkot yang berawal dari SK Menteri Perhubungan tanggal 3 April 1996 ditindaklanjuti oleh Wali Kota Ujungpandang (sekarang Makassar) Malik B. Masry dengan mengeluarkan SK bernomor 900/1V/1996 dan tanpa disosialisasikan secara maksimal kepada masyarakat. (SK tersebut akhirnya juga disebut sebagai “SK Maut” yang mengantar kematian 3 mahasiswa UMI Makassar). Kenaikan tarif angkot yang akhirnya berdampak pada sektor lain membuat masyarakat merasa tercekik oleh harga-harga kebutuhan pokok dan kebutuhan transportasi. Fenomena tersebut kemudian respon oleh para mahasiswa dengan melakukan aksi turun ke jalan. Mereka merasa mempunyai tanggung jawab moral sebagai Agent of Change. Beberapa mahasiswa yang ikut ambil bagian dari aksi tersebut berasal dari beberapa perguruan tinggi, antara lain UMI, Universitas 45, STIMIK Dipanegara, UVRI, IAIN Alaudin, STIE YPUP.

Ratusan prajurit diterjunkan ke lapangan untuk “melawan” aksi mahasiswa. Kata-kata makian yang dilontarkan para demonstran pada aparat membuat ratusan aparat merangsak masuk ke kampus UMI dan membabi buta mengejar mahasiswa. Dengan dilengkapi persenjataan lengkap layaknya maju dalam pertempuran perang yang sebenarnya, aparat seolah-olah melakukan show of force di dalam kampus. Pengejaran yang dilakukan aparat membuat mahasiswa merasa terjepit di dalam kandang mereka sendiri. Ratusan mahasiswa berusaha menceburkan diri ke sungai yang menjadi batas wilayah kampus mereka. Sungai Pampang, itulah nama sungai yang akhirnya 3 mahasiswa yang namanya tersebut di atas ditemukan tewas mengenaskan di sana. Membacanya kita langsung menghela nafas panjang, betapa kampus hijau bernuansa islami disulap menjadi medan latihan tempur para aparat militer dengan persenjataan lengkap dan dibantu dengan Panser, sedangkan sparing partner-nya hanya sekelompok demonstran yang hanya bersenjatakan “kata”, poster dan batu sebagai tameng petahanan diri.

Seperti dalam kasus-kasus serupa yang terjadi yang pernah saya dengar atau baca, pemerintah dan petinggi militer selalu berusaha cuci tangan atas pengusutan kasus yang terjadi dan prajurit selalu menjadi pion-pion catur untuk dikorbankan dan dijadikan kambing hitam oleh atasan mereka. “Prajurit vs mahasiswa/demonstran”, murni seperti itu yang diinginkan petingi-petinggi militer karena mereka tidak pernah mau disalahkan ataupun bertanggungjawab atas apa yang terjadi ketika terjadi bentrokan yang melibatkan aparat. Lagi-lagi, masyarakat tidak pernah puas atas hasil pengusutan dan akan semakin bertanya-tanya, menggantungkan tanda tanya yang besar dalam otak mereka tentang siapa yang harus bertanggungjawab. 6 prajurit TNI dijadikan tumbal oleh atasan mereka untuk bertanggung jawab atas tragedi tersebut. Mereka dituding sebagai prajurit yang lalai ketika menjalankan tugas.

Rasmi Ridjang Sikati, si penulis buku yang juga berprofesi sebagai wartawan berusaha obyektif dan tidak mencari-cari kambing hitam atas permasalahan tersebut, berbekal pengalaman pribadi, kesaksian korban dan bukti di lapangan. Mahasiswa memang tidak bisa sepenuhnya dibenarkan dan aparat memang tidak bisa sepenuhnya disalahkan. Namun, arogan memang seolah-olah menjadi karakter yang sangat kuat yang tertanam dalam tubuh institusi militer pada masa orde baru dan anarkis memang menjadi karakter mahasiswa pada masa menjelang runtuhnya orde baru. Gaya tulisan buku yang bersifat naratif membuat kita akan semakin terbawa dalam imajinasi dan suasana peristiwa tersebut. Gambar dan foto koleksi yang dilampirkan akan semakin membuat kita semakin miris, seakan-akan membangkitkan jiwa kita semasa menjadi mahasiswa untuk kembali “bergerak”. Cerita dalam buku ini menambah satu catatan dalam daftar kekerasan yang melibatkan mahasiswa sebagai wakil rakyat dan aparat militer sebagai tameng politik pemerintahan orde baru di mana duelisme kedua belah pihak tersebut selalu memunculkan equalisasi “Otak VS Otot”.

(Resensi ditulis oleh Satrio)


Data pengunjung

  • 267,916 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads