Archive for the 'rokok' Category

Out of the truck box

iqbal

Cover buku “Out of the truck box” karya Iqbal Aji Daryono (Mojo.co: 2015)

Orang satu ini memang khas turunan Jogja. Jago mbacot. Kalau bicara lunyu, alias licin seperti air yang lama menggenangi batu sehingga berlumut dan mudah membuat orang terpeleset dibuatnya. Gaya bertuturnya mbanyol ala Basiyo, orisinal, nylekit dan tanpa tedheng aling-aling.

Kumpulan tulisan Iqbal Aji Daryono memang kemripik, dikemas dalam buku “Out of the truck box” (Mojo.Co: 2015). Sekilas tulisannya remeh, tapi punya kedalaman makna dan mampu menohok cara berfikir kita. Meruntuhkan ideologi maupun keyakinan kita selama ini. Mengajak kita berantem dengan akal sehat, rasio, maupun keyakinan yang selama ini kita pegang teguh. Tujuannya memang untuk mengusik dogma yang sudah terlanjur menghujam dalam di dalam akar iman kita. “Buku ini berbahaya. Jangan coba-coba membacanya,” demikian peringatan yang disampaikan Harun Mahbub, seorang wartawan Tempo yang memberikan endorsement, sekaligus mengingatkan kita untuk tak coba-coba menyentuh buku ini kalau tak kuat iman.

Sejatinya Iqbal hanyalah seorang sopir truk di Ostralia (dia memang menyebut begitu untuk Australia). Dia kesasar di sana karena mengikuti istri yang sedang melanjutkan studi di Murdock University, Perth, Australia. Beasiswa yang diperoleh sang istri tak mencukupi untuk menghidupi mereka bertiga: Iqbal, istri, dan anak semata wayangnya, Hayun. Terpaksalah Iqbal jadi sopir, berbekal SIM keularan Polres mBantul, Jogja.

Disela-sela menyopir itulah keluar segala keresahan yang bersumber dari dalam diri ketika melihat segala fenomena yang ada di negari barunya. Sebuah negeri yang dia rasa sebagai negeri kering, yang tak lebih dari seonggok tanah merah dan serumpun semak belukar. Tak ada pepohonan aneka warna, atau sawah yang hijau membentang seperti di tanah kelahirannya. Pun tak ada warung kopi nan egaliter, tempat dia bisa bersenda gurau denga teman-teman mbacotnya. Tak da lelucon segar khas Basiyo atau Srimulat. Hari-hari dia lalui dengan segala kegaringan. Justru dari sanalah kemudian mengalir tulisan-tulisan yang mengusik akal sehat. Bisa jadi itu adalah sebentuk pelarian untuk menjaga kewarasan.

Tulisannya secara umum terbagi dua bagian. Bagian pertama berisi Negara-Negara, yang berisi pengenalan budaya negeri baru yang bernama Ostralia, termasuk pengenalan sahabat barunya dari berbagai negara: India, Afganistan, Macedonia, Jerman, dll. Bagian kedua adalah Manusia-Manusia. Nah, bagian kedua inilah banyak bertebaran tulisan nakal yang akan mengusik akal sehat dan keyakinan kita selama ini. Jika tak kuat iman, kita akan segera goyah, dan ikut manggut-manggut dibuatnya. Tulisannya sebagian besar berlatar belakang analisa psikologi. Dia bisa dengan ringan mengupas soal pilihan agama, perdebatan ideologii syiah-sunni, taliban, soal spritualisme buah apel, makanan berdaging atau soal brengseknya kamera pengawas yang serupa “God eye” yang akan dengan mudah membuat kita masuk ke dalam jurang kemusyrikan.

Percayalah. Anda yang baru setingkat S1, nggak bakal sanggup mengunyah tulisan ini. Karena Iqbal sejatinya sudah sampai pada tataran S4 (seri HP yg dia punya, he…he…), maksudnya setingkat S3, yaitu setingkat para lulusan doctor yang sudah mampu berfikir menggugat asumsi mapan menyorong pendapat yang berseberangan.
Iqbal adalah sedikit penulis yang muncul belakangan ini, yang mengupas tulisan soal kehidupan sehari-hari sebagi tulisan non-fiksi secara ringan, dan itu tadi: kemripik!

Bandingkan dengan tulisan-tulisan saya di buku “Mabuk Dolar di Kapal Pesiar” (Rumah Baca: 2010) dan “Dilema: Kisah Dua Dunia Dari Kapal Pesiar” (Rumah Baca: 2012) yang juga berusaha mengulik persoalan manusia di atas kapal pesiar dari persepktif kemanusiaan. Kami ternyata sama-sama TKI. Bedanya kalau Iqbal bolak-balik di negara bagian Perth, Australia, sementara saya melalang buana di atas kapal pesiar. Kami sama-sama menjadi korban sebuah nasib yang harus dijalani, yaitu menjadi TKI. Bedanya, ya tentu saja cara bertuturnya lewat tulisan dan mengemasnya dalam sebuah buku.

Silahkan berfikir dua kali sebelum menyentuh buku ini. Selebihnya, terserah Anda.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

DSC_0569.JPG

Bela-belain baca bukunya Iqbal sambil nunggu stand Rumah Baca, saat belum ramai diserbu pengunjung 🙂

Advertisements

Rara Mendut

Rara_MendutSetelah sekian waktu membaca novel-novel luar negeri dengan suasana yang relatif moderen, saatnya kembali ke tanah air, sekalian kilas balik sejarah nusantara. Jadinya terpikat dengan novel Rara Mendut  karya YB Mangun Wijaya, atau lebih akrab dipanggil Romo Mangun (alm).

Ini adalah novel trilogi: Rara  Mendut – Genduk Duku – Lusi Lindri, yang dijadikan satu. Alhasil, novel ini menjadi lumayan tebal, 802 halaman! Tapi dengan kualitas kertas yang prima, novel tabal terbitan Gramedia itu jadi terasa ringan.

Kesan pertama yang tertangkap dari novel ini adalah hawa pemberontakan, atau lebih tepatnya kemandirian dan ketegaran, sosok perempuan atas dominasi kaum laki-laki yang berkuasa. Ketiga tokoh perempuan yang diangkat Romo Mangun seolah memiliki karakter khas yang sama: gadis pantai, berjiwa harimau, cantik, trengginas, cekatan. Mereka seolah dilahirkan untuk menjadi saksi dan sekaligus korban dari dominasi laki-laki ningrat yang segera meningkat syahwatnya ketika melihat perempuan cantik dan sulit ditaklukkan. Dan benar, mereka memang tidak bisa ditaklukkan, meskipun maut adalah  imbalannya. Cinta sejati mereka jauh lebih mulia daripada silau oleh iming-iming derajad bangsawan yang ternyata tak lebih dari hewan yang haus syahwat. Rara Mendut menemukan cinta sejati dengan Pranacitra, Genduk Duku dengan Slamet, lalu Lusi Lindri dengan Hans. Mereka lebih memilih mati atau menjadi pemberontak, daripada menyerahkan cinta dan tubuh lepada laki-laki keparat seperti Tumenggung Wiraguna dan Aria Mataram, yang kelak bergelar Amangkurat I.

Romo Mangun mengupas habis sisi kelam kebesaran kerajaan Mataram dari balik tembok keraton, sekaligus ketegaran perempuan yang bernama Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri itu. Hal yang menurut saya unik dari novel ini adalah kehebatan Romo Mangun untuk membangun cerita yang diambil dari Babad Tanah Jawi ini dalam bungkus kisah asmara, karonsih, bagai cerita Kamajaya dan Kamaratih dalam jagad pewayangan, dengan bahasa yang halus dan indah. Padahal senyatanya, Romo Mangun tak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta dan menikah – dalam ajaran Katholik Romo memang hidup selibat alias tidak boleh menikah. Penggambaran adegan percintaan sungguh hebat dan mendebarkan dengan di sana sini menyitir berbagai cerita pewayangan dan tembang jawa yang adiluhung. Romo Mangun juga seorang humoris, ada canda dalam setiap getir peristiwa yang disajikan.

Sebagai laki-laki, saya juga ikut tersihir untuk membayangkan kecantikan Rara Mendut, dan gayanya yang menggoda ketika menghisap rokok dan menjual bekas puntung rokok yang telah basah oleh bibir sensualnya, seperti yang tergambarkan dalam cover novel ini. Tapi di balik itu, saya juga segera tersadar bahwa Rara Mendut bukanlah perempuan murahan yang rela menjadi tontonan kalap mata kaum laki-laki dengan menjual puntung rokok. Itu adalah upaya pemberontakannya terhadap Tumenggung Wiraguna tuwir yang sepantasnya menjadi kakeknya.

Resensi ditulis oleh Hartono –  pengasuh Rumah Baca

The Sampoerna Legacy

samlegacy.jpgAkulturasi budaya adalah pilihan yang lebih masuk akal daripada bersikeras pada fanatisme tradisi masa lalu yang rigid. Oerang Moeda Indonesia kini berada di persimpangan budaya timur dan barat. Tampaknya dalam benturan budaya ini, budaya barat lebih dominan dan relatif menang di sini. Tapi benarkan yang serba barat mesti di tolak? Budaya timur yang katanya adiluhung itu harus dilestarikan?

Baik Djenar Maesa Ayu maupun Sudjiwo Tedjo, lebih sepakat untuk tidak memandang keduanya secara konfrontatif, karena keduanya sebenarnya punya sisi universalnya. Keduanya bisa melebur. Taruhlah misalnya ketika Sudjiwo Tedjo masuk MTV, apakah itu berarti dia sudah terkooptasi dengan budaya barat? Karena bagi dia, memahami dan melakoni seni tradisi wayang dan gemelan tidak harus menduplikasi habis cetak biru kesenian tradisional itu. Dia harus bisa mewujud dalam berbagai bentuk. Seperti ketika Sudjiwo Tedjo diminta membuat lukisan tentang tokoh Semar, visualisasi Semar sudah mengalami deformasi sesuai dengan pergulatan batinnya selama ini. Di sana ada kontras. Dan itu sungguh asyik!

Tema oerang moeda berboedaja ini diangkat oleh The Sampoerna Foundation ketika melakukan peluncuran buku The Sampoerna Legacy pada hari kedua di toko buku ak.’sa.ra, di bilangan Kemang, Jakarta.  Semangat akulturasi budaya itu sebenarnya telah menjadi semangat hidup Mr. Liem Seeng Tee, pendiri imperium rokok kretet ”Dji-Sam-Soe.” Semangat itu tergambar jelas lewat perjalanan hidupnya yang terekam dengan manis dan indah lewat cerita yang disusun oleh Michelle Sampoerna, yang kemudian ditulis  dan mendapat sentuhan artisitik dari Diana Hollingsworth Gessler. Visualisasi gambar dibuat sangat cermat dan artistik.

Kembali kepada soal akulturasi budaya, itu semua telah dipraktekkan oleh Mr. Liem Seeng Tee. Lihatlah bagaimana dia mampu bertahan hidup di tanah perantauan sebagai orang Cina daratan, berganti nama Sampoerna, beristrikan Cina peranakan, menyekolahkan anak-anaknya di sekolah barat, dan sangat mencintai seni budaya, hingga pada tahun-tahun pertama pada saat dia memulai bisnis rokok masih sempat membuka ”Taman Sampoerna” sebagai tempat menampung segala aktivitas seni panggung dan bioskop pada masa itu.

Kekuatan buku The Sampoerna Legacy adalah pada diseminasi semangat akulturasi itu, selain tentu saja semangat hidup yang memiliki  visi jauh ke depan. Kita bisa belajar bahwa sukses itu tidak diraih dengan mudah dan serba instan. Melalui buku ini, kita bisa merunut balik kisah hidup Mr. Lee ketika pada usia 5 tahun harus meninggalkan desa Anxi, bersama bapak dan saudara perempuannya di atas keranjang pikulan. Saat tiba di Penang, saudara perempuannya terpaksa harus ditinggal dan diangkat oleh salah seorang keluarga Hokian di Penang, karena bapaknya tidak punya cukup uang untuk biaya berlayar 3 orang. Dengan sedih, akhirnya hanya mereka berdua melanjutkan pelayaran ke Surabaya. Belum genap 6 bulan, bapaknya meninggal karena penyakit Kolera.  Sejak itulah, Mr. Liem hidup sebatang kara sebagai anak yatim piatu dan memulai babak baru kehidupannnya dengan penuh perjuangan.

Sambil membaca buku ini, saya mencoba menangkap spirit hidup Mr. Liem. Di sana ada perjuangan, tapi dia juga meyakini bahwa segala sesuatu itu sudah ada takarannya.  Itu yang dinamakan takdir. Mr. Liem berhasil meletakan pondasi ketegaran berjuang kepada generasi penerusnya, Pak Aga Sampoerna, Pak Putera Sampoerna, dan Pak Michael Sampoerna sepanjang hampir 100 tahun imperium Sampoerna hingga dibeli oleh Phillip Moris. 

Dalam melihat kehidupan, segala sesuatu juga mesti memakai perhitungan, misalnya soal angka 9. Anda akan banyak menemukan angka 9 bertebaran di Sampoerna. Dji-Sam-Soe adalah kombinasi angka 2-3-4 yang jika dijumlah akan menjadi 9. Dji-Sam-Soe dan Sampoerna sendiri terdiri 9 huruf. Nomor rumah tinggal, nomor kantor, nomor telepon, nomor mobil dan segala pernak-perniknya akan ketemu angka 9. Jumlah ikan koi di museum Sampoerna ada 18, artinya 1 tambah 8 jadi 9. Bahkan pada saat peluncuran buku The Sampoerna Legacy, saya baru sadar kalau hari pertama peluncuran adalah tanggal 9 bulan 9. Mau tahu harga buku The Sampoerna Legacy? Harganya Rp. 270.000, yang berarti 2 tambah 7 jadi 9. Menakjubkan!

Bagi saya, mistikisasi angka 9, bukan semat-mata klenik seperti yang diyakini oleh orang jawa. Tapi di sana ada prinsip, ada  value yang harus secara konsisten dijaga dan dipertahankan.

Beberapa kekurangan yang menyertai buku ini adalah pada tingginya harga buku itu sendiri- meskipun hasil penjualan buku merupakan donasi untuk pendidikan Indonesia. Kalau sasarannya adalah oerang moeda, maka saya sangsi target akan tercapai melalui penjulan buku. Spirit buku hanya akan bisa ditangkap oleh mereka yang punya uang. Kekurangan kedua adalah dalam soal pilihan bahasa yang digunakan-Bahasa inggris. Lagi-lagi hanya sedikit orang yang mampu memahami isinya. Kekurangan lain yang sedikit mengganggu adalah 12 erata yang belum-belum sudah muncul di book divider.

Above all, buku ini telah menjadi salah satu sumbangsih bagi kemajuan Indonesia.  Terutama melalui The Sampoerna Foundation yang peduli pada pendidikan di Indonesia. Sebagai sebuah buku sejarah keluarga dan bisnis Sampoerna, dia tidak lagi berhenti di wilayah kenangan nostalgia keluarga Sampoerna. Dia telah melampaui itu semua. Telah menjadi milik publik, yang harus disemangati dan menjadi jiwa, terutama oerang moeda dalam menyongsong hari depan yang lebih cerah.

(Resensi ditulis oleh Hartono)


Data pengunjung

  • 316,819 Kunjungan

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

Goodreads

Advertisements