Zaman Peralihan

Soe_Hok_Gie___Zaman_Peralihan“Zaman Peralihan” merupakan kumpulan  karya Soe Hok Gie yang dia tulis, dibukukan dan diterbitkan Bentang, 1995. Buku ini terbagi dalam tiga bagian, yaitu masalah kebangsaan, masalah kemanusiaan, catatan turis terpelajar.

Bagian pertama: Masalah kebangsaan

Bagian ini merekam catatan mengenai demostrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa pada tahun 65, menuntut Soekarno untuk mempertanggungjawabkan pemerintahannya yang korup dan kebijakan Nasakom (nasionalis komunis). Di sisi lain, Soe Hok Gie juga menggugat internal kampus, dimana  mahasiswa menjadikan organisasi kemahasiswaan sebagai kendaraan politik, yaitu organisasi berdasarkan agama ataupun pandangan politik. Pasca tergulingnya Soekarno, beberapa mahasiswa ditunjuk sebagai perwakilan di DPR-GR. Soe Hok Gie kecewa dengan mereka yang menjadi pelacur intelektual. Dahulu mereka berjuang bersama di jalan,  namun setelah masuk kepemerintahan malah ikut andil dalam pemborosan uang negara, seperti menerima bantuan kredit mobil. Sebagai bentuk kekecawaannya, saat natal dan lebaran Gie mengirimkan hadiah kepada para mahasiswanya  berupa bedak dan gincu. Ini sungguh sarkasme yang menohok.

Pada bagian pertama ini, juga diceritakan tentang pendakian Gie dan kawan-kawan ke gunung Slamet Jawa tengah, dimana Gie mencoba “lari” dari hinggar binggar ibukota dan kegelisahannya tentang situasi social dan politik Indonesia.

Bagian ke 2 dan 3: Masalah kemanusiaan

Gie memang dikenal peduli akan ketidakadilan semenjak remaja. D ibagian ini Gie menyoroti korban kekerasan pasca 65/G30S/PKI yang jumlahnya ribuan. Siapapun yang dituduh PKI bisa saja dengan mudah dipenjara atau bahkan dibunuh tanpa ada peradilan. Mundur ke era Soekarno, banyak pula kriminal-kriminal kelas teri yang dipenjara sangat lama tanpa proses peradilan, tanpa tahu berapa lama dia dipenjara. Tak sedikit napi yang meninggal di dalam sel penjara.

Menurut buku ini pula, Palau Bali memiliki rakyat yang pro Soekarno karena nilai historisnya, yaitu ibu dari Soekarno berasal dari Bali. Pasca 65, pembantaian manusia terjadi di sana, didalangi oleh elit PKI/pro Soekarno, sebenarnya ingin cari selamat. Tak pandang bulu, petani buruh yang diduga terlibat PKI dipenjarakan atau dibunuh. Taktik politik PKI yang digunakan kala itu adalah dengan memberi bantuan berupa bibit atau pupuk yang “menjebak” petani kecil untuk masuk ke organisasi sayap PKI. Buruh pun juga diintimidasi bila tidak ikut organisasi buruh sayap PKI. Dari situ mulai muncul saling fitnah, pengusahaan menunjuk si A PKI karena si A adalah pesaing bisnis, begitupun dendam lainnya. Bagian yang paling epik dibagian ini adalah disaat Gie  berjalan pulang bertemu dengan seorang yang mengambil kulit mangga dari tong sampah dan memakannya Gie dengan cepat menarik kulit mangga dari orang itu lalu memberikan uang kepada orang tersebut.

Bagian ke 3: Catatan turis terpelajar

Bagian akhir buku ini menceritakan ketika Gie mendapatkan kesempatan pergi ke Amerika yang diberikan oleh Kedubes Amerika di Jakarta. Setelah mengatur jadwal, Gie mengurus surat-surat untuk bisa pergi keluar negeri. Gie mengikuti prosedur yang ada, namun ia terkendala oleh surat pernyataan kewarganegaraan. Gie adalah keturunan Tionghoa, yang saat itu pemerintah masih meragukan kesetian warga etnis Tionghoa atas negara Indonesia. Gie juga terkendala dengan surat “tidak terlibat PKI”. Gie  sudah menjelaskan bahwa dia adalah dosen UI (PNS). Tetapi prosedur yang dilakui tetap berbelit-belit.  “Orang-orang diperas untuk mendapatkan surat tersebut (surat tidak terlibat PKI), datang ke Koramil hanya ditanya Pancasila, apakah seorang komunis tidak hafal Pancasila, lalu mereka dipaksa membeli gambar Pancasila. Ya, ujung-ujungnya uang!”

Gie mengkritisi birokrasi pada saat itu. Lelah dengan itu Gie ambil jalan pintas dengan mendapatkan ijin, surat sakti dari Pemred tempat dia bekerja. Dengan bekal surat sebagai wartawan semua ijin selesai dengan cepat.

Di Amerika Gie banyak mendapatkan pengalaman berharga, diskusi dengan mahasiswa lintas benua, memahami gerakan Afro-Amerika disana, bertemu dengan kelompok happies, dan melihat permasalahan Amerika sebagai negara adidaya.

Secara keseluruhan buku ini menurut saya merupakan kritik terhadap sikap masyarakat intelektual yang hanya bermain “aman”, tak memiliki daya kritis yang tajam terhadap pemerintah, terutama mahasiswa yang digadang sebagai penerus bangsa. Mereka yang memiliki kesempatan luas untuk mengembangkan diri dan mengabdikan diri ke masyarakat. Kegelisahan Gie ini masih terjadi sampai sekarang. Pesan yang saya tangkap adalah kita pemuda khususnya bisa menyuarakan pendapat kita dimuka umum, mengkritisi kebijakan pemerintah namun harus diimbangi dengan mengambil peran dalam memajukan bangsa.

10 April 2020, Bakar Japet, seorang Kuli panggul buku

0 Responses to “Zaman Peralihan”



  1. Leave a Comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 348,816 Kunjungan

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

Goodreads


%d bloggers like this: