Lust for Life: Kisah hidup Vincent Van Gogh

“Karena itu aku membuatmu menjadi seorang pelukis sejati. Semakin kau menderita, semakin besar seharusnya rasa terima kasihmu. Itulah yang membuat seseorang menjadi pelukis kelas satu. Perut kosong lebih bagus daripada perut kenyang, Van Gogh, dan patah hati lebih baik daripada kebahagiaan. Jangan pernah lupakan itu!” (hal-249) Itu adalah jawaban Wissenbruch ketika Van Gogh mencoba meminjam uang untuk menyambung hidupnya yang kekurangan uang.

Banyak seniman kelas dunia yang terlecut menghasilkan karya-karya masterpiece ketika didera hidup yang keras. Kesenangan dan kenyamanan akan mematikan proses kreativitas.

lust-for-LIFE-small

Novel “Lust for Life” (Terjemahan, Serambi: 2012) adalah kisah hidup pelukis kelas dunia Vincent Van Gogh dengan karya-karya lukisannya termahal di dunia, tapi semasa hidupnya senantiasa didera nasib malang, kemiskinan dan kegagalan cinta. Ini adalah novel biografi karya Irving Stone yang didasarkan pada sumber utama berupa 3 jilid surat-surat Vincent Van Gogh kepada adiknya, Theo. Ini sekaligus menjadi novel menggetarkan tentang kisah persaudaraan luar biasa antara dua orang kakak beradik.
Kisah hidup Van Gogh yang muram sudah dimulai ketika cintanya ditolak oleh Ursula, ketika Van Gogh memulai karir sebagai penjaga galeri seni di Goupil, London. Gagal dari Urusula, Van Gogh mencoba mendekati Kay, sepupunya sendiri. Tentu saja mendapat tentangan yang keras dari kerabat dan Kay sendiri yang selalu mengatakan tidak untuk Van Gogh. Demikian juga dengan kisah asmaranya yang gagal bersama Christine, dan Margot.

Van Gogh memulai kecintaan pada seni lukis justru ketika dia bertugas sebagai pendeta di Borinage, Belgia. Di sini, dia justru mulai gila membuat sketsa tentang kehidupan masyarakat tambang batu bara yang miskin dan keras. Hari demi hari Van Gogh terus belajar dengan membuat sketsa dengan pensil arang. Guru lukis pertamanya justru rekannya sendiri, pendeta Pietersen. Dia lebih suka menggambar benda yang punya karakter dan nyawa, meskipun benda itu terlihat kotor dan miskin. Dan pilihan seninya itu tak layak jual untuk pasar Eropa kala itu.

Tapi kemiskinan luar biasa dan hidup tidak teratur di Borinage membuat Van Gogh jatuh sakit. Sang adik, Theo, tak tega melihat kondisi kakaknya seperti itu. Dibuatlah kesepakatan antara kakak dan adik. Van Gogh harus keluar dari Borinage dan memulai karir sebagai pelukis. Untuk menopang hidupnya, Van Gogh akan mendapat sokongan finansial dari Theo. Keduanya sepakat dengan kontrak persaudaraan sedarah, sang kakak bertugas melukis, dan sang adik bertugas menampung karya-karya sang kakak untuk dijual.

Lepas dari Borinage, Van Gogh memulai perjalanan hidupnya berpindah-pindah ke Etten, Den Hag, Nuenen, dan Paris. Di Den Haag, Van Gogh berjumpa dan perempuan jalanan, Christine yang bersedia hidup bersama Van Gogh yang miskin. Tapi siapa yang tahan hidup denga laki-laki yang lebih mementingkan belanja cat dan perlengkapan lukis daripada untuk makan sehari-hari yang serba kekurangan? Itupun karena sokongan 150 franch setiap bulan dari Theo.

Di Nuenen dan Paris, Van Gogh terus mengasah keterampilan teknik melukisnya pada para guru lukis. Dan hasilnya selalu tak memuaskan, dan dianggap masih amatir. Banyak guru lukisnya mengatakan Van Gogh tak terlahir sebagai pelukis dan menghabiskan sisa hidupnya secara sia-sia. Tak kurang kedua orang tuanya juga prihatin menyaksikan anaknya yang tak jelas masa depannya itu.

Wajah Eropa bagian utara yang dingin dan suram membuat Van Gogh ingin mencari suasana baru. Dia ingin pergi ke daerah selatan, dengan suasana langit cerah disiram matahari sepanjang hari . Daerah yang terbakar matahari pasti akan penuh warna dan bernuansa cerah. Maka, dengan sokongan Theo, mulailah Van Gogh berpetualang di Arles.

Tapi, kondisi alam di Arles yang panas, justru membuatnya menderita epilepsy dan halusinasi yang akut. Untuk memulihkan keadaan, Van Gogh dirawat di rumah sakit jiwa di St. Remy. Di rumah sakit jiwa, Van Gogh tak berhenti melukis. Pada ujung kesembuhan, Van Gogh menjalani pemulihan di Auvers.

Van Gogh meninggal di Auvers, dengan cara bunuh diri. Menembak dirinya sendiri dengan revolver, selepas menyelesaikan lukisan berjudul “Burung gagak di atas lading jagung.” Vincent Van Gogh meninggal dalam keadaan penuh kecintaan pada seni. Sepanjang hidupnya, Van Gogh telah menorehkan kecintaannya pada seni lukis, dan punya keyakinan bahwa pada suatu saat dia bisa mandiri dan tak selalu bergantung pada Theo. Senyatanya, Van Gogh tak mampu menjual lukisannya sepanjang hidupnya, kecuali satu lukisan berjudul “Ladang anggur Merah di Arles.”

Pada pidato menjelang Vincent Van Gogh diturunkan ke liang lahat, dokter Gachet berpidato “Janganlah kita berputus asa, kita yang menjadi teman-teman Vincent. Vincent tidak mati. Dia tidak akan pernah mati. Cinta, kejeniusan, dan keindahan luar biasa yang telah dia ciptakan akan hidup selamanya, memperkaya dunia. Tidak satu jam pun lewat tanpa aku melihat lukisan-lukisannya dan menemukan sebuah keyakinan baru, sebuah makna baru dari kehdoupan. Dia orang yang hebat…pelukis yang hebat…filsuf yang hebat. Dia menjadi martir karena kecintaanya pada seni.”

Pada akhir bulan ke enam, Theo pun meninggal, dikuburkan di samping kubur kakanya, di Auvers…

“Dan dalam kematian, mereka tidak terpisahkan.”

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

Review buku ini aku persembahkan untuk sahabtku, Khadir Supartini yang tak lelah mencari sosok sang ayah melalui lukisan-lukisannya, juga kecintaannya pada tokoh ibu yang tangguh, Supartini.

Muslimah Pembelajar

“Sesungguhnya Alloh tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan mereka sendiri” (QS. Ar-Rad :11).

Saya merupakan anak bungsu dari 4 bersaudara dan perempuan satu-satunya di keluarga saya. Ketiga kakak saya sangat mendukung segala keputusan dan langkah saya dalam menapaki kehidupan. Selama hidup saya selalu riang, hampir tak pernah menunjukkan rasa sedih. Tapi pada suatu hari, ketika Bapak saya meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya, saya merasa sangat terpuruk dan hampir saja tak bisa menentukan arah hidup saya. Lalu saya mencoba untuk bangkit dan mengambil hikmah dari apa yang saya alami. Dan akhirnya saya tau, kepergian Bapak membuat saya jauh lebih dewasa daripada teman-teman sebaya saya. Beginilah cara Tuhan meningkatkan derajat makhluk-Nya.

Ibu, adalah wanita yang membuat saya bertahan hidup dan berusaha keras untuk sukses. Menurut saya, wanita yang paling hebat yang pernah saya kenal adalah ibu saya. Beliau berkomitmen untuk membesarkan keempat anaknya dan menguliahkan anak dengan sekuat tenaga, alhasil ibu bisa menguliahkan anak-anaknya hingga selesai. Yang lebih mulia lagi, ibu memilih sendiri dan tak mau menikah lagi. Pantas saja semasa hidupnya Bapak selalu memuji Ibu, hingga suatu saat pernah terucap dari mulut Bapak : “Bu, jika hidup bisa memilih, aku berharap kau hidup lebih lama dariku. Karena aku percaya bahwa kau wanita tangguh yang diperuntukkan bagi anak-anakku”.

Konon, selalu ada sosok wanita di belakang setiap laki-laki hebat. Bisa jadi wanita yang dimaksud adalah sosok ibu, saudari, istri, anak ataupun lainnya. Yang jelas, ia seolah diciptakan untuk memberikan air kehidupan pada laki-laki hebat, menghabiskan usia untuk mendukung cita-citanya, mengurai setiap kesulitan yang dihadapinya. Bahkan tak jarang ia ikut menelan pahit getir, aral melintang yang dihadapi sang lelaki, semata karena berharap sang lelaki terus berkembang dengan baik. Akan tetapi, sosok wanita tersebut seringkali dilupakan begitu saja. Tak jarang ia wafat tanpa membawa penghargaan apapun, seolah tetap menjadi inspirator dan motivator rahasia, jasa-jasanya tak dilirik sama sekali. Padahal, jika bukan karenanya, bisa jadi tak akan lahir laki-laki hebat.

Wanita bukanlah objek untuk bersenang-senang, bukan sekedar perantara melahirkan generasi penerus, bukan burung bersayap patah yang menyembunyikan luka mendalam di balik lebatnya bulu nan indah. Seorang wanita berhak memahami dan menguasai ajaran agama, pendidikan yang sesuai dengan harapan dan kemampuannya. Karena wanita kelak mengemban tugas yang mulia yaitu mendidik anak-anaknya agar menjadi kebanggan orang tua dan memberikan yang terbaik bagi agama dan bangsa. Maka tanpa adanya bekal pendidikan dan wawasan yang luas, tidaklah mungkin melahirkan anak-anak yang hebat.

Wanita dalam bahasa Jawa berarti “wani ditata” (berani ditata/diatur). Ada yang menafsirkan bahwa “berani ditata/diatur” berarti wanita menjadi objek, dan pastinya hal ini akan sangat merugikan posisi wanita. Tapi di sisi lain, maksud dari “berani ditata/diatur” yaitu bila wanita mau diatur dengan segala upaya oleh dirinya sendiri maka kesusksesan dan prestasi pasti akan berpihak padanya.

Cover buku "Muslimah Pembelajar" (Zaman: 2013)

Cover buku “Muslimah Pembelajar” (Zaman: 2013)

Buku “Muslimah Pembelajar, Memandu Anda Jadi Wanita Hebat dan Menghebatkan” (Zaman: 2013) ini ditulis oleh Dr. Layyinah al Himsh dengan tebal 415 halaman. Dr. Layyinah adalah professor perbandingan mazhab fikih dan perbandingan agama di Majma’ Syekh Ahmad Kuftaro Damaskus. Buku ini mengajak kaum perempuan untuk membangkitkan kepercayaan diri dalam meraih cita-cita, membuktikan bahwa kesulitan hidup bukanlah batu sandungan melainkan batu loncatan untuk berhasil, dan menyodorkan mindset serta kebiasaan sukses dan bahagia.
Membaca buku ini serasa ada cermin besar di sekeliling kita, bahwa masih banyak orang yang disibukkan dengan ketidakpercayaan diri, terpuruknya hidup karena kegagalan, serta menyalahkan keadaan yang tak mendukung atas keberhasilan dirinya. Tapi setiap tulisan yang disuguhkan memberikan solusi pada tiap masalah dari sisi psikologis, agamis, maupun sosial kemasyarakatan.

Yang lebih menarik lagi menyimak lembar demi lembar dari buku ini karena banyak contoh cerita nyata yang disampaikan, hal ini mempermudah pembaca untuk memahami dan mengimajinasikan apa yang dimaksud oleh penulis. Tak lupa penulis juga menyuguhkan ayat-ayat Al Qur’an dan hadits setiap mengkaji topik, sehingga memperkuat pijakan kita bahwa solusi dan motivasi yang disuguhkan oleh penulis adalah baik dan benar secara syariat.
Halaman 61 dalam buku ini terdapat kalimat nasihat yang sangat mengena di hatiku dan mengajarkanku untuk lebih bijak dalam memandang sesuatu hal, yaitu nasihat dari Ibrahim ibn Adham, yaitu : “Jika engkau melihat orang sibuk dengan urusan dunia, sibuklah engkau dengan urusan akhirat. Jika mereka sibuk menghias lahiriah, sibuklah kalian menghias batiniah. Jika mereka sibuk membangun kebun dan istana, sibuklah kalian membangun kubur. Jika mereka sibuk melayani sesama makhluk, sibuklah kalian untuk melayani Alloh, Tuhan alam semesta. Jika mereka sibuk dengan aib orang lain, sibuklah kalian dengan aib sendiri. Ambillah dari dunia ini bekal yang dapat menghantarkanmu ke akhirat, sesungguhnya dunia ini adalah ladang akhirat”.

Setelah selesai membaca buku ini, saya merasa ada motivasi baru untuk melangkah maju ke depan dengan segala harapan dan impian yang dibarengi dengan optimis.

Review buku oleh Elina D.Karmila.

Architectour Semarang: Tugas hidup Antin Sambodo

Tuhan itu Maha Adil. Ada orang yang dilahirkan untuk menjadi pengusaha, ada juga yang menjadi penguasa. Ada tukang becak, loper koran, guru, penulis, dan juga arsitek. Itulah tugas hidup yang harus ditunaikan secara ikhlas oleh masing-masing orang yang dilahirkan dan menggenggam nasib seperti itu. Filosofi tentang manusia dan tugas hidup ini saya peroleh dari seorang seniman dari Jogja yang sudah merasa cukup hanya menjadi seorang seniman. Pertanyaan mendasar yang sering kita tanyakan adalah: apakah dengan menjadi seniman hidupmu akan berkecukupan, terutama untuk biaya pangan, sandang, dan papan? Pertanyaan itu juga sempat saya tanyakan kepada teman seniman itu, jawabnya, “ya kalau mau cukup secara materi mendingan jual bensin aja di pinggir jalan, atau jual pulsa!” Baginya, menjadi seniman adalah tugas hidup yang harus dia tunaikan. Dia merasa bahagia, sebahagia-bahagianya bila mampu membuat dunia menjadi indah dengan membuat karya seni.

Hingga saya bertemu dengan seorang perempuan bernama Antin Sembodo. Saya kemudian menduga-duga tugas hidupnya barangkali juga untuk sebuah karya seni. Selepas kuliah dari arsitektur Universitas Trisakti, sempat bekerja sebagai konsultan arsitek. Kini menggeluti proyek seni lewat “Jinjit Pottery.” Terakhir saya juga lihat dia sibuk dengan komunitas “Rajut Kejut” yang suka membuat masyarakat terkejut-kejut dengan karya outdoor membungkus pohon-pohon di tepi jalan dengan ornamen rajut. Dan terkahir menghebohkan car free day Jakarta dengan membentangkan bentangan rajut ukuran raksasa untuk menggelorakan cinta pada valentine day.

Tugas hidup Antin Sambodo yang ingin dia tunaikan dan mungkin ingin dia jadikan legacy pada anak cucunya kelak adalah dengan menulis buku bertajuk “architectour” Semarang. Saya ikut mendoakan semoga tag line “architectour” tak berhenti sampai di sini. Maka akan kita tunggu “architectour” dari kota-kota lain di Indonesia.

Cover buku Architectour Semarang (Imajinesia: 2012)

Cover buku Architectour Semarang. by Antin Sambodo  (Imajinesia: 2012)

Buku Architectour Semarang (Imajinesia: 2012) setebal 88 halaman colorful, penuh dengan foto-foto khas jepretan dari sudut mata seorang arsitek akan terasa beda dengan jepretan orang biasa. Padahal Antin Sambodo hanya berbekal kamera pocket sahaja. Buku ini mengupas perjalanan wisata di kota Semarang hanya dalam waktu 2 hari, lengkap dengan detail itinerary dalam hitungan menit dan jam. Tulisan disusun berdampingan dengan foto yang disusun apik, bagai narasi yang dibacakan oleh voice over seperti yang sering kita lihat dan dengar di acara televisi. Andai tulisan itu hanya berupa caption foto saja, maka dapat dipastikan bakal garing dan menjemukan. Maka saya menjadi ikut senyum-senyum dan merasakan sentuhan personal ketika sang penulis memasukkan karakter tokoh yang dia temui sepanjang perjalanan, seperti yang dia temui di Susteran Fransiskus, Masjid Jami Pekojan, berjumpa dengan seorang haji yang keturunan Cina di gang Lombok, atau berdialog dengan tukang foto di Klenteng Sam Poo Kong.

Siapapun yang pertama kali membaca buku ini akan segera merasakan bau khas alumni arsitek, mulai dari desain grafis peta kota Semarang, lengkap dengan penomoran dan arah perjalanan, hingga lay out foto-foto. Dari pengakuannya, Antin Sambodo harus rela mengeluarkan biaya sendiri untuk membayar desainer grafis dan lay out, di luar kontrak penerbitan buku itu sendiri. Kalkulasinya mungkin didasarkan pada selera dan tuntutan seni arsitektur yang tak dimiliki oleh penerbit.

Saya sendiri yang lahir dan besar di kota Solo, yang hanya berjarak tak lebih dari 150 KM tak begitu faham kota Semarang dengan segala keindahannya. Ternyata Kota Semarang cukup kental dengan pluralism agama. Di sana sangat mudah untuk menemukan jejak agama Kristen, Katholik, Islam, dan Konghucu. Juga soal pluralisme dalam urusan kuliner. Perjalanan ke suatu tempat memang tak bisa dilepaskan dari unsur bangunan, manusia, budaya, termasuk keragaman masakannya. Maka di sana akan ditemukan makan khas sate kambing dan gule 29, pangsit gang Lombok, Toko Oen, nasi ayam kemuning bu Sandinah, dan belanja oleh-oleh di jalan Pandanaran.

Membaca buku ini saya juga jadi belajar banyak soal istilah arsiteksur, sebutlah misalnya tentang Renaissance, Byzantine, Gothic, atau Art Deco. Dua hal yang saya ingat dengan tepat dan akurat adalah soal arsitektur Rennaisance. Arsitek ini ditandai dengan kecenderungann horisontalisme, alias melebar ke samping. Sementara itu arsitek Gothic bercirikan bentuk-bentuk runcing pada hampir semua bagian ujung atas. Dua gaya arsitektur ini mengingatkan saya pada gaya seni lukis jaman renaissance yang juga menampilkan potret wanita telanjang berbadan subur (horizontal-lebar ke samping-red). Maka dengan analogi yang sama, saya mencoba mengelompokkan gaya penampilan perempuan jaman sekarang dengan gaya Gothic yang ramping dan langsing. Anyway, saya tetap konsisten dengan gaya Rennaisance, ha….ha…..ha….

Baiklah, tugas hidup untuk menulis review buku sudah saya tunaikan, selanjutnya silahkan Anda mendapatkan dan membaca sendiri buku ini.

Review buku oleh Hartono Rakiman, Pengasuh Rumah Baca

Pengakuan Algojo 1965: Investigasi Tempo Perihal Pembantaian 1965

Cover buku "Pengakuan algojo 1956 Investigasi Tempo perihal pembantaian 1965" (Tempo Publishing: 2014)

Cover buku “Pengakuan algojo 1956
Investigasi Tempo perihal pembantaian 1965″ (Tempo Publishing: 2014)

Melihat sesuatu dari kacamata yang berbeda itu penting. Versi adalah cara pandang yang berbeda, yang berarti kebalikan dari sesuatu yang telah diyakini oleh banyak orang selama ini.
Contoh berbagai versi yang telah dilakukan beberapa seniman, Pramudya Ananta Toer telah membuat versi yang berbeda soal tragedi perseteruan antara Sultan Agung dengan Mangir di Jogja pada novel “Mangir”, juga soal pemahaman negara maritim Nusantara dalam novel “Arus Balik.” Garin Nugroho membuat versi yang berbeda soal kisah cinta Rama-Shinta dalam “Opera Jawa.”
Sesungguhnya versi itu penting, agar kita tak terjebak dalam stereotype yang telah ada sebelumnya. Penolakan terhadap sesuatu yang berbeda ini memang sering muncul, bahkan dari dalam diri sendiri yang tak percaya karena kadung dicekoki oleh versi sebelumnya.
Buku “Pengakuan Algojo 1965: Investigasi Tempo Perihal Pembantaian 1965” (Tempo Publishing: Cetakan VI Mei 2014) adalah versi lain soal tragedi yang biasa disebut dengan istilah G-30S PKI. Selama ini pemahaman publik tentang peristiwa G-30S PKI adalah bahwa PKI dalang dari seluruh tragedi ini, dimulai dengan penculikan para jenderal. Maka kesalahan total sudah semestinya ditimpakan kepada PKI. Tapi, apakah publik menyadari peristiwa lain yang lebih dhasyat daripada itu? Yaitu pembantaian orang-orang yang terlibat atau dituduh terlibat PKI. Jumlahnya simpang siur, tapi cukup fantastis: antara 200 ribu sampai 3 juta orang mati dibantai dengan cara dan teknik yang biadab!
Versi lain tentang kejadian 1965 ini sontak menarik perhatian publik pasca munculnya film dokumenter besutan Joshua Oppenheimer berjudul “Jagal.” Film dokumenter ini dibintangi oleh sang algojo pelaku pembantian 1965: Anwar Congo. Tempo kemudian membuat tulisan investigasi di berbagai tempat terjadinya pembataian PKI, yang sebagian besar mengambil sudut pandang dari versi pelaku pembantaian.
Tulisan investigasi yang ditampilkan di majalah Tempo itu kemudian dibukukan dengan menampilkan lebih dari 40 tulisan sejenis. Sebagian besar berisi pengakuan para algojo, baik dengan menyebutkan nama sebenarnya, atau ada juga hanya berupa inisial. Terdapat juga tulisan ulasan para peneliti, kritikus, dan tak ketinggalan wawancara dengan Joshua Oppenheimer.
Ladang pembantaian terbesar ada di wilayah Jawa Timur, kemudian menyusul Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan Sulawesi. Uniknya, pembantaian tak terjadi di Jawa Barat, berkat perintah tegas dari Komandan Daerah Militer VI Siliwangi, yang bereada di Jawa Barat waktu itu: Majend. Ibrahim Adjie.
Yang mengkhawatirkan, peristiwa pembantian PKI di Jawa Timur ternyata dimotori oleh Banser NU. Berita tentang hal ini tentu membuat pengurus besar organisasi Islam terbesar di Indonesia ini gerah, meskipun jauh hari sebelumnya, Gus Dur, selaku presiden dan mantan ketua PBNU pernah menyampaikan permohonan maaf kepada seluruh korban tragedi PKI. Alhasil, pimpinan redaksi Tempo diundang ke kantor PBNU di jalan Kramat Raya, Jakarta, untuk mendiskusikan masalah tersebut. Pertanyaan mendasar yang diajukan adalah mengenai apa latar belakang Tempo mengangkat laporan investigasi ini. Apakah agenda tersembunyi di balik semua itu?
Fakta sejarah dari versi yang berbeda ini sangat penting untuk diketahui oleh siapapun, terutama generasi muda yang dapat dipastikan tak mengetahui versi yang berbeda ini. Dalam penggalan tulisan Ariel Heryanto, yang juga ditampilkan dalam buku ini mengatakan: “Banyak orang mengkampanyekan slogan “menolak lupa” terhadap kejahatan 1965. Memang telah terjadi amnesia sejarah dalam lingkup bangsa-negara Indonesia. Tapi, bagi sebagian besar anggota masayarakat, khusunya generasi muda, yang perlu dilawan adalah ketidaktahuan. Bukan Lupa. Bagaimana bisa lupa jika tidak tahu sejarah sama sekali?”
Review oleh Hartno Rakiman, pendiri dan pengasuh Rumah Baca

Foxtrott: Rubah yang pandai bernyanyi

tata 2Judul Buku : Foxtrott
Penulis : Helme Heine
Penerjemah : Veriana Devi
Tebal : 32 halaman
Penerbit : Carl Hanser Verlang, 2003

Buku ini berkisah tentang seekor rubah bernama Foxtrott. Ia lahir dari tempat tersepi di dunia yang digambarkan sebagai sebuah liang berongga-rongga di bawah tanah. Jika bumi diiris akan terlihat penampang rumah Foxtrott. Ada ruang makan, ruang nonton teve, ruang bermain, ruang tidur, pokoknya persis seperti ruang-ruang di rumah kita. Di rumah itu Foxtrott tinggal bersama ayah dan ibunya.

Di rumahnya yang berada jauh di dalam tanah itu, tidak ada satupun bunyi terdengar. Televisi memang menayangkan gambar, tapi tidak ada suara, itu filem bisu. Kedua orang tua Foxtrott juga tidak pernah bercakap-cakap. Mereka berkomunikasi melalui tatapan mata dan senyum saja.

Satu hari, Foxtrott mengintip keluar dari lubang rumahnya. Ia heran, ada banyak bunyi di atas sana. Hampir semua binatang ternyata bersuara. Lebah berdengung, kodok mengorek, dan bebek berkotek. Foxtrott bingung dibuatnya. Inilah untuk pertamakalinya ia mendengar beragam bunyi.

Kejadian itu sungguh membekas. Sejak itu Foxtrott tak henti-hentinya membuat bunyi-bunyian. Ia bernyanyi, berteriak, menabuh panci, mengadu tutup panci, dan memukul berbagai barang. Pokoknya, menimbulkan bunyi. Semakin gaduh, semakin hati Foxtrott girang. Ayah dan Ibu Foxtrott hilang akal.

Satu hari, ayah memutuskan untuk berburu ayam di kandang ayam milik manusia. Malam-malam satu keluarga keluar rumah. Foxtrott ikut dengan mulut terikat – berjaga agar dia tidak menimbulkan suara. Ini perburuan penting, semua bekerja tanpa suara, berjalan pun mengendap. Sial, mereka ketahuan. Penjaga menangkap basah keluarga Foxtrott. Ia siap membidikkan senapannya hendak membunuh ketiganya. Foxtrott kecil berhasil melarikan diri, ia melepaskan ikatan mulutnya dan bernyanyi. Nyanyian Foxtrott membuat penjaga iba dan melepaskan ketiganya. Ayah Foxtrott bangga. Sejak itu Foxtrott diperbolehkan bernyanyi dan bermain musik sepuasnya. Foxtrott kini dikenal sebagai penyanyi di kawanan rubah. Tidak hanya itu, Foxtrott bahkan diundang untuk bernyanyi dalam pesta-pesta binatang lainnya.

Foxtrott lantas hidup bahagia dan menikah dengan seekor rubah cantik. Mereka punya banyak anak. Setiap malam satu keluarga bernyanyi dan bermain musik bersama.

Tunggu. Apakah semua? Ternyata tidak. Satu orang anak Foxtrott punya kebiasaan yang unik, ia tidak suka bernyanyi. Ia pendiam dan suka membaca. Bagaimana kelanjutannya? Tidak ada yang tahu, karena Heine mengakhiri ceritanya sampai di situ.

Begitulah kisah Foxtrott yang dikarang oleh Helme Heine berakhir. Ini buku anak-anak, tercetak di kertas berkualitas baik, hard cover, dan bergambar apik. Helme Heine adalah seorang penulis Jerman. Selain menulis, Heine juga seorang ilustrator dan desainer. Ilustrasi kisah Foxtrott dikerjakan sendiri oleh Heine.

tata1

Sebagai penulis cerita anak, Heine sangat diakui karena memenangi beragam penghargaan bergengsi. Tiga tokoh rekaannya yang paling dikenal adalah tiga sekawan Charlie Rooster (ayam jago), Johnny Mouse (tikus), and Percy (babi) yang tinggal di sebuah daerah bernama Mollywoop. Melalui internet, saya baca Manajemen Kebun Binatang di Hanover, Jerman membangun satu ruang bermain untuk anak yang diberinama Mollywoop dan menghidupkan karakter ketiga binatang tersebut di sana.

Ini foto Heine bersama ketiga tokoh rekaannya di Kebun Binatang di Hanover, Jerman:

tata 3

Di Indonesia buku terjemahan Heine belum banyak – atau mungkin tidak ada ya, saya baru ketemu sekarang ini soalnya. Buku Foxtrott yang saya baca bersama Putri, anak saya ini diterjemahkan oleh seorang mahasiswi Universitas Negeri Jakarta bernama Veriana Devi. Penerjemahan itu bagian dari proyek kerja sama Goethe Institute dengan mahasiswa yang sedang belajar bahasa Jerman. Bukan diterbitkan kembali dalam bentuk buku, hasil terjemahan itu dicetak pada secarik kertas yang kemudian ditempelkan dengan pita rekat plastik pada halaman buku. Jadi satu terjemahan dalam satu halaman buku. Memang halaman buku menjadi “kotor” dibuatnya. Tapi, ini cara paling sederhana dan murah untuk mengerti isi buku-buku anak yang bagus-bagus itu di Goethe. Seandainya saja saya mengerti bahasa Jerman..

Kembali ke Foxtrott. Saya kira Heine ingin menyampaikan pesan bahwa menyukai kesenangan yang beda dengan yang lain itu tidak mengapa. Jika itu memang membuat kamu bahagia, kenapa tidak? Asal, tentu saja gunakan kesenangan itu untuk kebaikan.

Eh, tapi saya merasa sepertinya Heine punya pesan juga buat orang tua yang mendampingi anak-anaknya membaca. Coba bayangkan, bagaimana jika punya anak yang tidak mau menuruti kebiasaan dan peraturan yang susah payah kita bangun di rumah? Ia seperti…apa ya, ibarat makhluk asing yang ada di rumah. Tak habis pikir terkadang, kok bisa dari darah-daging saya muncul manusia baru yang punya kebiasaan beda sama sekali dari saya?

Maka, jika saya jadi ibunya Foxtrott, pasti saya larang juga Foxtrott membuat gaduh di rumah. Itu kan sungguh bertentangan nilai-nilai yang diterapkan di rumah yang tenang, sepi, dan nyaman. Tapi, siapa sangka Foxtrott lah yang jadi pahlawan penyelamat saat penjaga bersiap menarik pelatuk senapan.

Foxtrott memenuhi benak saya akhir-akhir ini. Mengingatkan akan satu tulisan yang membahas soal mengapa generasi orang jenius tidak muncul lagi. Tulisan itu berakhir dengan tudingan bahwa orang tua adalah penyebab utama hilangnya generasi jenius yang baru dan tips bagaimana mendampingi anak yang suka berulah “di luar kebiasaan”.

Masih menurut tulisan itu, ketidakmampuan para orang tua dalam menerima perilaku anak yang di luar kebiasaan jadi penyebabnya. Anak-anak yang sebenarnya berbeda itu “disamakan” begitu saja dengan yang lain. Akibatnya mereka kehilangan kemampuannya untuk menjadi beda. Dan lahirlah generasi yang seragam. Satu cita-cita tertentu bisa diagungkan dan cita-cita lain dicibir.

Melalui kisah Foxtrott, Heine seolah mengingatkan bahwa dalam satu keluarga selalu ada yang punya kebiasaan unik. Kita memang tidak pernah tahu untuk apa dan kapan keunikan itu berguna kelak. Saya kira mengajarkan nilai-nilai kebaikan seperti berbagi, menolong sesama, dan berkarya lebih penting ketimbang menahan mereka untuk melakukan sesuatu yang disukai.

Begitulah. Menuliskannya saja sih, gampang, menjalaninya? Semoga saja ibumu ini mampu memahamimu ya, nak :)

Catatan: Buku ini bisa dibaca di Perpustakaan Goethe Institute, Jakarta.
Timbangan buku oleh Elisabet Tata, elisabet.tata.@facebook.com Pegiat buku, Tinggal di Serpong.


Data pengunjung

  • 213,883 Kunjungan

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

New year Borneo 2015

New year 2015

New year 2015

More Photos

Goodreads


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,870 other followers