Out of the truck box

iqbal

Cover buku “Out of the truck box” karya Iqbal Aji Daryono (Mojo.co: 2015)

Orang satu ini memang khas turunan Jogja. Jago mbacot. Kalau bicara lunyu, alias licin seperti air yang lama menggenangi batu sehingga berlumut dan mudah membuat orang terpeleset dibuatnya. Gaya bertuturnya mbanyol ala Basiyo, orisinal, nylekit dan tanpa tedheng aling-aling.

Kumpulan tulisan Iqbal Aji Daryono memang kemripik, dikemas dalam buku “Out of the truck box” (Mojo.Co: 2015). Sekilas tulisannya remeh, tapi punya kedalaman makna dan mampu menohok cara berfikir kita. Meruntuhkan ideologi maupun keyakinan kita selama ini. Mengajak kita berantem dengan akal sehat, rasio, maupun keyakinan yang selama ini kita pegang teguh. Tujuannya memang untuk mengusik dogma yang sudah terlanjur menghujam dalam di dalam akar iman kita. “Buku ini berbahaya. Jangan coba-coba membacanya,” demikian peringatan yang disampaikan Harun Mahbub, seorang wartawan Tempo yang memberikan endorsement, sekaligus mengingatkan kita untuk tak coba-coba menyentuh buku ini kalau tak kuat iman.

Sejatinya Iqbal hanyalah seorang sopir truk di Ostralia (dia memang menyebut begitu untuk Australia). Dia kesasar di sana karena mengikuti istri yang sedang melanjutkan studi di Murdock University, Perth, Australia. Beasiswa yang diperoleh sang istri tak mencukupi untuk menghidupi mereka bertiga: Iqbal, istri, dan anak semata wayangnya, Hayun. Terpaksalah Iqbal jadi sopir, berbekal SIM keularan Polres mBantul, Jogja.

Disela-sela menyopir itulah keluar segala keresahan yang bersumber dari dalam diri ketika melihat segala fenomena yang ada di negari barunya. Sebuah negeri yang dia rasa sebagai negeri kering, yang tak lebih dari seonggok tanah merah dan serumpun semak belukar. Tak ada pepohonan aneka warna, atau sawah yang hijau membentang seperti di tanah kelahirannya. Pun tak ada warung kopi nan egaliter, tempat dia bisa bersenda gurau denga teman-teman mbacotnya. Tak da lelucon segar khas Basiyo atau Srimulat. Hari-hari dia lalui dengan segala kegaringan. Justru dari sanalah kemudian mengalir tulisan-tulisan yang mengusik akal sehat. Bisa jadi itu adalah sebentuk pelarian untuk menjaga kewarasan.

Tulisannya secara umum terbagi dua bagian. Bagian pertama berisi Negara-Negara, yang berisi pengenalan budaya negeri baru yang bernama Ostralia, termasuk pengenalan sahabat barunya dari berbagai negara: India, Afganistan, Macedonia, Jerman, dll. Bagian kedua adalah Manusia-Manusia. Nah, bagian kedua inilah banyak bertebaran tulisan nakal yang akan mengusik akal sehat dan keyakinan kita selama ini. Jika tak kuat iman, kita akan segera goyah, dan ikut manggut-manggut dibuatnya. Tulisannya sebagian besar berlatar belakang analisa psikologi. Dia bisa dengan ringan mengupas soal pilihan agama, perdebatan ideologii syiah-sunni, taliban, soal spritualisme buah apel, makanan berdaging atau soal brengseknya kamera pengawas yang serupa “God eye” yang akan dengan mudah membuat kita masuk ke dalam jurang kemusyrikan.

Percayalah. Anda yang baru setingkat S1, nggak bakal sanggup mengunyah tulisan ini. Karena Iqbal sejatinya sudah sampai pada tataran S4 (seri HP yg dia punya, he…he…), maksudnya setingkat S3, yaitu setingkat para lulusan doctor yang sudah mampu berfikir menggugat asumsi mapan menyorong pendapat yang berseberangan.
Iqbal adalah sedikit penulis yang muncul belakangan ini, yang mengupas tulisan soal kehidupan sehari-hari sebagi tulisan non-fiksi secara ringan, dan itu tadi: kemripik!

Bandingkan dengan tulisan-tulisan saya di buku “Mabuk Dolar di Kapal Pesiar” (Rumah Baca: 2010) dan “Dilema: Kisah Dua Dunia Dari Kapal Pesiar” (Rumah Baca: 2012) yang juga berusaha mengulik persoalan manusia di atas kapal pesiar dari persepktif kemanusiaan. Kami ternyata sama-sama TKI. Bedanya kalau Iqbal bolak-balik di negara bagian Perth, Australia, sementara saya melalang buana di atas kapal pesiar. Kami sama-sama menjadi korban sebuah nasib yang harus dijalani, yaitu menjadi TKI. Bedanya, ya tentu saja cara bertuturnya lewat tulisan dan mengemasnya dalam sebuah buku.

Silahkan berfikir dua kali sebelum menyentuh buku ini. Selebihnya, terserah Anda.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

DSC_0569.JPG

Bela-belain baca bukunya Iqbal sambil nunggu stand Rumah Baca, saat belum ramai diserbu pengunjung :)

Om Anthony Giddens dan Penanggulangan Penyakit Tuberculosis

0745600077constsoc.inddPada suatu sore di hari minggu tanggal 6 November 2015 Jakarta Utara dan sekitarnya disiram air hujan yang begitu deras disertai angin yang cukup kencang. Hujan berlangsung cukup lama hampir 3 jam. Tentu saja hujan tersebut membuat panik warga Jakarta yang tinggal di daerah pinggiran dan padat penduduk seperti saya. Air mulai masuk ke dalam rumah, itu artinya kami harus segera menyelamatkan barang-barang yang ada di lantai bawah. Bagi saya barang-barang yang harus diselamatkan adalah buku-buku yang kebetulan beberapa berada di rak bawah. Ya, buku adalah koleksi berharga yang harus segera dievakuasi terlebih dahulu. Adapun barang-barang yang lain rasanya tak perlu diselamatkan karena saya yakin air akan kembali surut ketika hujan berhenti.

Setelah hujan surut, perhatian saya tertuju pada setumpuk buku yang saya selamatkan dari basahnya genangan air hujan. Jumlahnya sekitar 13 Buku hasil pemikiran satu tokoh yang cukup ternama, yaitu Anthony Giddens. The Constitution of Society, Capitalism and Modern Social Theory, The Consequences of Modernity, dan beberapa judul lainnya adalah karya-karya tokoh yang berasal dari inggis tersebut yang cukup membuat aku jatuh hati padanya.

Perkenalan dengan pemikiran Anthony Giddens, berawal dari seorang senior dan mentor saya di Jakarta yang sedang melakukan riset tentang Pemilukada di Indonesia yang membutuhkan asisten penelitian dan beliau memintaku mencarikan teman yang dari jurusan sosiologi untuk membantu membuatkan resume terhadap buku-buku Anthony Giddens. Saya langsung merekomendasikan Azzam, senior saya yang memang dari jurusan sosiologi dan waktu itu sedang studi S2 di Center for Religion and Cross-Culture Studies di UGM. Awalnya setelah perkenalan dan diskusi pertama di apartemen mentor saya itu di Kalibata city, beliau merasa cocok dengan Azzam. Namun setelah beberapa minggu,karena terkendala jarak, akhirnya Azzam mengundurkan diri. Dan karena merasa tidak enak, saya menawarkan diri untuk menggantikan Azzam. Singkatnya, sayalah yang harus membaca setumpuk buku-buku Giddens.

Gagasan besar Giddens menurut pembacaan saya terletak pada upaya Giddens untuk mendamaikan pergolakan pemikiran ilmuan sosial modern yang menurutnya terlalu deterministic dalam menjawab persoalan sosial. Giddens berpendapat bahwa Obyek utama dari ilmu sosial bukanlah peran sosial (social role) seperti dalam Fungsionalisme Talcot Parsons, bukan kode tersembunyi (hidden code) seperti dalam Strukturalisme Claude Levi Strauss, bukan juga dari keunikan situasional seperti dalam Interaksionisme Simbolis Erving Goffman. Bukan keseluruhan, bukan bagian, bukan struktur bukan pula pelaku perorangan, melainkan titik temu antara keduanya. Oleh karena itulah teori strukturasi merupakan “jalan tengah” untuk mengakomodasi dominasi struktur atau kekuatan sosial dengan pelaku tindakan (agen).

Sederhanyanya saya ilustrasikan begini, ketika membaca fenomena sosial yang terjadi di lingkungan kita, sebagian orang sering berpendapat “oh, ini sistemnya yang keliru”, sedangkan yang lain berpendapat “tidak, sistemnya sudah bagus, orang-orang yang menjalankan sistem tersebut yang keliru”. Bagi Giddens jawaban tersebut terjabak pada dualisme yang terlalu deterministik. Jawaban pertama menurutnya berarti menitikberatkan sistem (stuktur) dari pada individu (Giddens menggunakan kata “Agen”), sedangkan jawaban kedua sebaliknya, mengutamakan Agen daripada struktur.

Untuk mengkritik pendapat-pendapat tersebut, Giddens mengembangkan teori Strukturasi. Teori strukturasi merupakan jalan tengah yang menjembatani perdebatan panjang dua mazhab besar ilmu sosial yaitu antara paradigma tindakan sosial yang menekankan pada subyek-aktor-agen seperti pada interaksionisme simbolis, etnometodologi, dan penganut Weberian dengan pandangan strukturalis yang memusatkan perhatian pada struktur seperti dalam paradigma strukturalisme fungsional dan teori sistem penganut Durkhemian dan Parsonian. Untuk yang pertama, mereka beranggapan bahwa subjektivitas adalah pusat pengalaman kebudayaan dan sejarah, sehingga tindakan dan makna mendapatkan posisi utama dalam penjelasan perilaku manusia, sehingga mengabaikan struktur sosial. Sedangkan yang kedua, mereka justru menekankan konsep struktural lebih mendapat posisi utama daripada tindakan.

Jika dua kutub pemikiran ilmu sosial memposisikan Agen dan struktur dalam posisi yang dualisme dan kontradiktif, teori strukturasi menggambarkan hubungan dialektis antara struktur dengan agen. Struktur dan agen adalah dualitas; tak ada satupun yang bisa eksis tanpa keberadaan yang lain. Berbeda dengan Durkheimian tentang struktur yang lebih bersifat mengekang-memaksa (contsraining), struktur dalam gagasan Giddens juga bersifat memberdayakan (enabling). Luar biasa bukan?

Setelah membaca ulang Giddens, saya mendapat jawaban atas dua strategi utama yang dirumuskan dalam penanggulangan penyakit tuberculosis pada program Community Empowerment of People Against Tuberculosis yang dilakukan oleh Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama yaitu Mobilisasi dan Advokasi. Dulu saya bertanya-tanya, kenapa harus dua strategi itu yang harus dilakukan dalam memberantas penyakit tuberculosis. Kenapa kita tidak fokus pada strategi yang pertama saja? Kita cukup memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, melatih tokoh agama dan tokoh masyarakat, dan mengajak masyarakat untuk berobat ke puskesmas. Atau kita cukup melakukan advokasi saja dengan mendorong peningkatan pelayanan puskesmas, mengawal kebijakan pemerintah dan mendorong pemerintah daerah mengeluarkan perda atau semacamnya.

Kalau saja om Giddens dengar pertanyaan tersebut, tentu saja dia akan langsung menegur saya “ente keliru bro, kedua komponen tersebut harus berjalan beriringan dan tak bisa dipisah-pisahkan”. Mungkin om Giddens juga akan berkata “sampaikan salam takjub ane ama orang-orang yang merumuskan strategi penanggulangan penyakit TB CEPAT-LKNU ya”.

Saya tidak tahu apakah yang merumuskan strategi tersebut pernah membaca Giddens atau belum. Tetapi ketika saya yang memang terlibat dalam program tersebut, merasa corak pemikiran Giddens begitu terasa. Bagaimana tidak,Perubahan sosial bagi Giddens bisa terjadi jika para agen mampu melakukan reflective monitoring of action sehingga mereka mampu keluar dari rutinitas dan melakukan de-routinisation. Dalam program CEPAT, misalnya untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi masyarakat yang biasanya diterima oleh pasien TB adalah dengan membekali pengetahuan yang cukup kepada para agen (kader, tokoh agama dan masyarakat) sehingga mereka melakukan derutinisasi terhadap stigma dan diskriminasi yang biasanya berasal dari norma dan kepercayaan yang berlaku di masyarakat. Dan banyak lagi kemiripan gagasan dalam strategi-strategi yang dijalankan oleh CEPAT-LKNU dengan apa yang rumuskan oleh Giddens.

Walhasil, saya telah berhasil menemukan rangkaian benang merah antara apa yang pernah saya lakukan di masa lampau dengan apa yang sedang saya lakukan di masa kini. Kini saya tersenyum optimis menyambut hari esok dengan penuh semangat. Semoga di hari esok Indonesia bisa terbebas dari penyakit Tuberculosis dan kita adalah pelaku sejarah yang mungkin tak akan tertulis dalam buku sejarah.

Review buku oleh Agus Herlambang, Koordinator Kota CEPAT-LKNU Jakarta Utara.

Diary Pramugari: Seks, Cinta dan Kehidupan

diary-pramugariJangan pernah meremehkan sumber ilmu, di manapun dan dalam bentuk apapun. Termasuk dalam tumpukan buku-buku lama yang telah kita anggap kuno dan tak mengikuti perkembangan jaman. Karena sekali lagi, pengetahuan dan sumber ilmu tersimpan di mana-mana, tergantung kepada kemauan dan kesanggupan menyerapnya.

Novel yang berdasarkan kisah nyata seorang pramugari ini saya temukan dalam tumpukan buku lama, ketika ada acara bersih-bersih rumah, semenjak kemarau panjang menyerang. Debu menempel tebal di mana-mana, tak terkecuali dalam tumpukan buku-buku.
Novel berjudul “Diary Pramugari: Seks, Cinta, dan Kehidupan” (Pohon Cahaya: 2011) karya Agung Webe ini pada mulanya saya kira sebagi novel esek-esek yang nggak perlu dibaca. Melihat cover dan judulnya sangat tendensius mengajak pembaca mengintip rahasia hidup seseorang yang enak untuk dipergunjingkan: pramugari, PSK, wanita malam, atau semacamnya. Nyatanya, setelah membaca novel ini, saya tak menemukan maksud buruk seperti yang tergambar pada cover dan judul novel. Mungkin ini strategi marketing biasa. Ada kalanya berhasil, tapi ada kalanya gagal. Untuk pembaca kebanyakan yang berharap mendapat bacaan esek-esek, mungkin akan sedikit kecele. Sebaliknya, untuk pembaca serius yang ingin mendapat pembelajaran hidup bisa saja tidak akan pernah menyentuh novel ini karena cover dan judulnya yang tendensius.
Nyatanya, saya “kesasar” juga untuk membaca novel ini secara tidak sengaja, sebagai hadiah bersih-bersih rumah.

Novel ini bersumber dari kisah hidup Jingga (bukan nama sebenarnya), seorang perempuan dari daerah Mojosongo, Solo, yang menjalani hidup sebagai seorang pramugari. Dalam perjalanan hidupnya, Jingga dipertemukan dengan Anya yang tak percaya agama. Tapi Jingga justru banyak belajar tentang hidup dari sosok Anya. Tokoh lain yang mewarnai hidupnya adalah Puri, anak orang kaya yang hiperseks dan tertarik dengan profesi pramugari karena bisa memuaskan dirinya. Puri kemudian hamil, buah dari pergaulan bebasnya dengan Igo, sosok lelaki yang hampir memperkosa Jingga. Tokoh lain yang paling penting dalam perjalanan hidup Jingga adalah Mas Gede dan Alvin.

Perjalanan hidup Jingga sebagai pramugari pada awalnya adalah sebuah pelarian hidup karena dirinya merasa kotor. Masa sekolah SMP pernah mendapat pelecehan seksual dari guru olahraganya sendiri. Trauma masa kecilnya begitu membekas, hingga Jingga berkesimpulan bahwa setiap lelaki adalah bangsat! Trauma itu menjadi bertambah-tambah ketika menemukan kenyataan ayahnya kawin lagi, ketika ibunya sakit. Semenjak itu, Jingga sangat membenci ayahnya sendiri.

Paras Jingga memang cantik, berkulit kuning langsat, seperti orang Cina. Padahal Jingga beribu dan berayah Jawa. Perjalanannya ke negeri Cina saat menjalankan tugas sebagai pramugari menguak salah satu rahasia terbesar hidupnya, tentang siapa sebenarnya dirinya. Perlukah kebencian pada sosok laki-laki seperti ayahnya pantas untuk diteruskan? Pertemuannya dengan tokoh Mas Gede, seorang paranormal yang tinggal di daerah Bekasi membuka sesak sumpek hidupnya, hingga Jingga siap untuk menerima segala beban hidup, termasuk kemauan dirinya membuka pintu hatinya untuk seorang lelaki: Alvin. Alvin, sosok lelaki yang baik, seolah menjadi sandaran hidup masa lalunya yang kelam, meskipun Alvin beragama Katolik, dana Jingga sendiri seorang muslimah.

Plot cerita dalam novel ini sangat menarik. Termasuk pelajaran hidup tentang toleransi, kematian, reinkaransi, katarsis, dll. Sepertinya Agung Webe ingin menjelaskan pandangan hidupnya tentang kehidupan. Kebetulan Agung Webve adalah seorang praktisi hipnoterapi, dan banyak menyelenggarakan sesi pelatihan. Saya curiga, tokoh Mas Gede, tak lain dan tak bukan adalah dirinya sendiri.

Sungguh, kita bisa belajar banyak dari siapapun dan dari apapun yang ada di sekitar kita. Termasuk dari novel yang pada awalnya saya kira berbau esek-esek ini.

Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

Samsara

samsaraDongeng tentang asmara dahana tak pernah habis untuk dibahas lewat sastra lisan maupun tulis. Mulai kisah asmara para dewa di khayangan, yang suka bikin gaduh mayapada hingga arcapada, hingga kisah yang ditulis para pujangga klasik, macam kisah Romeo – Juliet, karya Shakespeare. Tak kurang kisah roman percintaan jaman kuno, seperti Roro Mendut – Pranacitra dan Sam Pek – Eng Tay, hingga jaman Galih – Ratna, atau percintaan jaman millennium Cinta – Rangga pada filem Ada Apa Dengan Cinta. Dongeng tentang asmara seperti berulang, terkutuk samsara.

Novel “Samsara” (Hormonauts: 2013), merupakan debut novel indie Uwie, nama pena dari Juwita Sitanggang, yang mencoba mengadopsi cerita dewa-dewi Yunani sebagai kehidupan yang berulang lewat tubuh Keira dan Ferenc. Maka cinta bukan hanya urusan manusia,tapi juga merasuki para dewa. Dewi Venus yang jatuh cinta pada Dewa Adonis, mendapat halangan dari dewa lain yang juga menaruh hati pada Dewi Venus, yaitu Dewa Mars dan Apollo.

Urusannya menjadi panjang dan tak berkesudahan hingga sampai pada jaman sekarang, ketika kisah asmara khayangan dewi-dewi itu oleh Uwie diramu dengan semi action, di mana Dewi Venus menjelma ke dalam tubuh Keira, dan Dewa Adonis sebagai Ferenc. Ada adegan kejar-kejaran di Italia.

Setting lokasi Italia menjadi unik, karena Uwie sendiri belum pernah menginjakkan kaki di sana. Kejadian ini mengingatkan kita tentang Karl May yang menulis “Winetou” dan “Old Shatterhand” dengan landskap Amerika, padahal dia sama sekali belum pernah ke sana. Dalam dunia sastra fiksi, ini sah-sah saja. Apalagi, pada jaman digital saat ini, kita bisa dengan mudah melakukan googling map, dan mendapatkan gambaran liku-liku sebuah kota secara jelas. Setting Italia mungkin oleh Uwie dipilih karena merasa nyaman dengan bahasa yang sedang dia pelajari di sebuah tempat kursus bahasa Italia. Atau barangkali Uwie tertarik dengan kaum prianya yang terkenal seksi dan macho! (Kesimpulan terakhir ini pernah dia sanggah sendiri ketika berdiskusi soal bukunya di temu travel book lover di café “Suwe Ora Jamu” di daerah Kebayoran).

Novel ini bisa jadi sebagai cara katarsis bagi Uwie yang menjadi single parent untuk Aurelle, buah hatinya yang memberi alasan kuat bagi dirinya untuk terus move on. Menulis, memang salah satu cara paling ampuh untuk mengekspresikan segala rasa, termasuk gundah gulana, marah, jengkel, atau frustasi. Cara lain bisa dilakukan dengan melukis, berkebun, meditasi atau yoga.

Novel ini ditulis dengan teknik penulisan berlapis. Pada bagian pertama, pembaca dibawa pada setting negeri para dewa, kemudian dibawa pada situasi perang di sebuah Negara di Eropa. Tokoh-tokoh yang muncul memiliki kehidupan berulang, seperti samsara, hingga pada tokoh sentral Keira, yang tak lain jelmaan Dewi Venus, yang masih mendambakan cinta Adonis lewat sosok Ferenc.

Teknik berlapis ini juga Uwie terapkan pada gaya bertutur, di mana sang tokoh kadang sebagai orang pertama (kata ganti aku), dan menjadi orang ketiga (kata ganti dia dan Keira). Pergantian antara penutur sebagai orang pertama dengan orang ketiga ditandai dengan tanda bintang tiga (***). Jika tidak hati-hati, pergantian ini bisa membingungkan pembaca, atau bahkan bisa kepleset dan tertukar.

Sedikit catatan untuk novel indie ini adalah pada kualitas cetak pada cover yang kurang tajam, pemilihan font yang cenderung kebesaran, dan salah cetak pada beberapa bagian. Bahkan ada beberapa halaman yang kebalik.
Pilihan judul “Samsara” menurut saya juga membutuhkan keberanian, kalau tak boleh dibilang sebuah kenekadan. Judul yang sama pernah ditulis oleh penulis-penulis yang sudah mapan, sebutlah misalnya Zara Zettira ZR yang juga menulis novel dengan judul yang sama. Belum lagi beberapa novel terbitan dari luar negeri dengan judul “Samsara.” Pemilihan judul generic ini mengandung resiko. Maka pembaca akan segera membandingkan dengan judul serupa dari penulis-penulis sebelumnya. Lalu mengajukan pertanyan: apa keunikan buku yang ditulis Uwie ini? Apa yang membedakan dari buku sebelumnya?

Sebagai novel indie, upaya Uwie patut diapresiasi. Memulai itu lebih penting, daripada hanya berhenti pada sebatas ide. Dengan memulai menulis, artinya akan muncul tulisan berikutnya. Akan muncul buku berikutnya yang pasti akan lebih baik dari sebelumnya, dan tak lagi terkutuk samsara.

Review buku ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

Lust for Life: Kisah hidup Vincent Van Gogh

“Karena itu aku membuatmu menjadi seorang pelukis sejati. Semakin kau menderita, semakin besar seharusnya rasa terima kasihmu. Itulah yang membuat seseorang menjadi pelukis kelas satu. Perut kosong lebih bagus daripada perut kenyang, Van Gogh, dan patah hati lebih baik daripada kebahagiaan. Jangan pernah lupakan itu!” (hal-249) Itu adalah jawaban Wissenbruch ketika Van Gogh mencoba meminjam uang untuk menyambung hidupnya yang kekurangan uang.

Banyak seniman kelas dunia yang terlecut menghasilkan karya-karya masterpiece ketika didera hidup yang keras. Kesenangan dan kenyamanan akan mematikan proses kreativitas.

lust-for-LIFE-small

Novel “Lust for Life” (Terjemahan, Serambi: 2012) adalah kisah hidup pelukis kelas dunia Vincent Van Gogh dengan karya-karya lukisannya termahal di dunia, tapi semasa hidupnya senantiasa didera nasib malang, kemiskinan dan kegagalan cinta. Ini adalah novel biografi karya Irving Stone yang didasarkan pada sumber utama berupa 3 jilid surat-surat Vincent Van Gogh kepada adiknya, Theo. Ini sekaligus menjadi novel menggetarkan tentang kisah persaudaraan luar biasa antara dua orang kakak beradik.
Kisah hidup Van Gogh yang muram sudah dimulai ketika cintanya ditolak oleh Ursula, ketika Van Gogh memulai karir sebagai penjaga galeri seni di Goupil, London. Gagal dari Urusula, Van Gogh mencoba mendekati Kay, sepupunya sendiri. Tentu saja mendapat tentangan yang keras dari kerabat dan Kay sendiri yang selalu mengatakan tidak untuk Van Gogh. Demikian juga dengan kisah asmaranya yang gagal bersama Christine, dan Margot.

Van Gogh memulai kecintaan pada seni lukis justru ketika dia bertugas sebagai pendeta di Borinage, Belgia. Di sini, dia justru mulai gila membuat sketsa tentang kehidupan masyarakat tambang batu bara yang miskin dan keras. Hari demi hari Van Gogh terus belajar dengan membuat sketsa dengan pensil arang. Guru lukis pertamanya justru rekannya sendiri, pendeta Pietersen. Dia lebih suka menggambar benda yang punya karakter dan nyawa, meskipun benda itu terlihat kotor dan miskin. Dan pilihan seninya itu tak layak jual untuk pasar Eropa kala itu.

Tapi kemiskinan luar biasa dan hidup tidak teratur di Borinage membuat Van Gogh jatuh sakit. Sang adik, Theo, tak tega melihat kondisi kakaknya seperti itu. Dibuatlah kesepakatan antara kakak dan adik. Van Gogh harus keluar dari Borinage dan memulai karir sebagai pelukis. Untuk menopang hidupnya, Van Gogh akan mendapat sokongan finansial dari Theo. Keduanya sepakat dengan kontrak persaudaraan sedarah, sang kakak bertugas melukis, dan sang adik bertugas menampung karya-karya sang kakak untuk dijual.

Lepas dari Borinage, Van Gogh memulai perjalanan hidupnya berpindah-pindah ke Etten, Den Hag, Nuenen, dan Paris. Di Den Haag, Van Gogh berjumpa dan perempuan jalanan, Christine yang bersedia hidup bersama Van Gogh yang miskin. Tapi siapa yang tahan hidup denga laki-laki yang lebih mementingkan belanja cat dan perlengkapan lukis daripada untuk makan sehari-hari yang serba kekurangan? Itupun karena sokongan 150 franch setiap bulan dari Theo.

Di Nuenen dan Paris, Van Gogh terus mengasah keterampilan teknik melukisnya pada para guru lukis. Dan hasilnya selalu tak memuaskan, dan dianggap masih amatir. Banyak guru lukisnya mengatakan Van Gogh tak terlahir sebagai pelukis dan menghabiskan sisa hidupnya secara sia-sia. Tak kurang kedua orang tuanya juga prihatin menyaksikan anaknya yang tak jelas masa depannya itu.

Wajah Eropa bagian utara yang dingin dan suram membuat Van Gogh ingin mencari suasana baru. Dia ingin pergi ke daerah selatan, dengan suasana langit cerah disiram matahari sepanjang hari . Daerah yang terbakar matahari pasti akan penuh warna dan bernuansa cerah. Maka, dengan sokongan Theo, mulailah Van Gogh berpetualang di Arles.

Tapi, kondisi alam di Arles yang panas, justru membuatnya menderita epilepsy dan halusinasi yang akut. Untuk memulihkan keadaan, Van Gogh dirawat di rumah sakit jiwa di St. Remy. Di rumah sakit jiwa, Van Gogh tak berhenti melukis. Pada ujung kesembuhan, Van Gogh menjalani pemulihan di Auvers.

Van Gogh meninggal di Auvers, dengan cara bunuh diri. Menembak dirinya sendiri dengan revolver, selepas menyelesaikan lukisan berjudul “Burung gagak di atas lading jagung.” Vincent Van Gogh meninggal dalam keadaan penuh kecintaan pada seni. Sepanjang hidupnya, Van Gogh telah menorehkan kecintaannya pada seni lukis, dan punya keyakinan bahwa pada suatu saat dia bisa mandiri dan tak selalu bergantung pada Theo. Senyatanya, Van Gogh tak mampu menjual lukisannya sepanjang hidupnya, kecuali satu lukisan berjudul “Ladang anggur Merah di Arles.”

Pada pidato menjelang Vincent Van Gogh diturunkan ke liang lahat, dokter Gachet berpidato “Janganlah kita berputus asa, kita yang menjadi teman-teman Vincent. Vincent tidak mati. Dia tidak akan pernah mati. Cinta, kejeniusan, dan keindahan luar biasa yang telah dia ciptakan akan hidup selamanya, memperkaya dunia. Tidak satu jam pun lewat tanpa aku melihat lukisan-lukisannya dan menemukan sebuah keyakinan baru, sebuah makna baru dari kehdoupan. Dia orang yang hebat…pelukis yang hebat…filsuf yang hebat. Dia menjadi martir karena kecintaanya pada seni.”

Pada akhir bulan ke enam, Theo pun meninggal, dikuburkan di samping kubur kakanya, di Auvers…

“Dan dalam kematian, mereka tidak terpisahkan.”

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

Review buku ini aku persembahkan untuk sahabtku, Khadir Supartini yang tak lelah mencari sosok sang ayah melalui lukisan-lukisannya, juga kecintaannya pada tokoh ibu yang tangguh, Supartini.


Data pengunjung

  • 239,653 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

DSC_0564

DSC_0478

DSC_0474

More Photos

Goodreads


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,985 other followers