Amba

amba

Cover novel “Amba” Laksmi Pamuntjak (Gramedia: 2016)

Hantu PKI hidup lagi? Akhir-akhir ini isu tentang hantu PKI muncul kembali di tengah rencana pemerintahan Jokowi mengadakan rekonsiliasi para korban targedi 65. Simposium “Membedah Tragedi 1965,” yang difasilitasi oleh Agus Widjojo, Gubernur Lemhanas, mendapat tentangan keras dari beberapa pihak, utamanya dari kelompok yang mengatasnamakan “Front Pancasila.”

Novel “Amba” (Gramedia: Cetakan kelima edisi baru: Juni 2016), karya Laksmi Pamuntjak ini tidak bermaksud menghidupkan hantu PKI, tapi novel ini dapat dikatakan sebagai novel berlatar sejarah dan dengan riset mendalam tentang peristiwa seputar tragedi 65. Bagi Amba, tokoh utama dalam novel ini, hidupnya selalu “dihantui” masa lalunya dengan tokoh Bhisma yang hilang sejak penggrebekan di Universitas Res Republica di Jogja pada 1965. Amba kemudian mencoba menemukan jejak-jekak hidup Bhisma hingga pulau Buru pada 2006.

Amba adalah perempuan keras hati. Tidak cantik seperti adik kembarnya: Ambika dan Ambalika. Amba dibesarkan dalam lautan kitab-kitab kuno milik bapaknya, yang menggandrungi serat Centhini maupun Mahabarata. Hingga dalam menamai anak-anaknya, Sudarminto, sang bapak, mengambil dari nama tokoh-tokoh dari dunia peawayangan. Amba, yang dalam cerita Mahabarata adalah titisan Bathari Durga, memang menjelma menjadi wanita keras hati, dan tak takhluk pada paras yang cantik saja, tapi pada kekuatan prinsip hidup yang ia anut.

Orang tuanya begitu prihatin melihat putri sulungnya belum juga mau memikirkan pasangan hidup hingga lulus SMA, hingga mempertemukannya dengan tokoh Salwa, seorang dosen dari UGM. Perjumpaanya dengan lelaki tampan, sopan, namun kurang punya gairah pada wanita dan tidak revolusioner itu, membuat Amba berpaling dan memilih Bhisma. Bagi Amba, Bhisma adalah lelaki penuh gairah, dan pandai memahami naluri seorang wanita. Dokter lulusan Leipzig, Jerman Timur itu ia temukan di sebuah rumah Sakit Kediri yang sedang bergolak. Kemudian keduanya menjalani hari-hari yang penuh gelora asmara di tengah-tengah tragedi berdarah. Dari sanalah bersemayam benih kasih yang nantinya menjelma menjadi sosok Srikandi.

Novel ini dibuka dengan hentakan keras di bagian depan, dengan tubuh luka dan berdarah dari dua orang wanita yang memperebutkan satu lelaki yang mereka cintai: Bhisma. Amba dan Mukaburung, perempuan dari Kepala Air, Pulau Buru, masing-masing merasa berhak untuk disebut wanita yang paling dicintai oleh sosok lelaki yang sama.

Novel ditulis dengan teknik flashback dan berlapis-lapis serupa dongeng, sehingga pembaca tak akan mau beranjak untuk menuntaskan novel setebal 577 halaman ini. Laksmi Pamuntjak memang piawai bertutur melalui kisah yang disampaikan melaui tokoh-tokohnya, atau melalui surat-surat mereka. Laksmi Pamuntjak sejak umur 4 tahun memang sudah akrab dengan dunia sastra, ayahnya adalah salah satu tokoh Balai Pustaka, dan pemilik penerbit Djambatan yang terkenal pada waktu itu.

Novel “Amba” ini pada awalnya ia tulis dalam Bahasa Inggris, dengan judul “Question of Red,” kemudian Gramedia memintanya untuk membuatnya dalam versi Bahasa Indonesia. Dalam kata pengantarnya, Laksmi Pamuntjak mengatakan bahwa penulisan novelnya dalam Bahasa Indonesia disebut sebagai “rediscovery of language,” atau menemukan kembali bahasa, dan bukan sekedar proses “menterjemahkan” secara harfiah.

Percayalah, melalui lapis-lapis cerita yang ia rangkai dengan apik, pembaca serasa sedang menonton perseteruan antara Amba, Salwa, Bhisma dalam lakon Mahabarata.  Tokoh Srikandisi menutup layar novel ini, dan pembaca akan menemukan alasan judul novel ini dalam versi Inggris: “question of red.”

Selamat membaca.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

Cerita dari Digul

digul

Cover “Cerita dari Digul” (KPG: Cetakan keenam April 2016)

Lamat-lamat benar aku dengar soal Digul. Dulu. Dulu sekali, sewaktu aku masih duduk di bangku SD. Itupun tak sungguh jelas amat. Gurukku sempat bercerita, dahulu Bung Hatta pernah dibuang ke Digul pada jaman revolusi melawan penjajah Belanda. Tak jelas benar, apakah Soekarno juga pernah dibuang ke sana. Bolehlah berkabar di sini, bagi yang tahu riwayat Soekarno di pembuangan Digul.

Selepas urusan sejarah itu, aku tak lengkap mengerti tentang Digul. Baru kemudian aku baca sedikit tentang ekspedisi zamrud katulistiwa dalam buku Meraba Indonesia, yang ditulis oleh Ahmad Yunus, dan Farid Gaban. Itupun belum timbul minat untuk mengerti tentang Digul.

Baru nyata penghayatanku tentang Digul, manakala terbaca kumpulan “Cerita dari Digul” (KPG: Cetakan keenam April 2016), yang ditulis oleh para eks-digulis, dan disunting oleh Pramoedya Ananta Toer. Ada lima tulisan yang berhasil dihimpun dan disunting oleh Bung Pram. Kelima penulis itu ialah: D.E. Manu Turoe, Oe Bo Tik, Abdoe’lXarim M.S, Wiranta, dan satu penulis Tanpa Nama.

Kelima penulis ini menggunakan Bahasa melayu, dengan gaya Bahasa tempo doeloe yang semakin menambah-nambah kesan kuat tentang peristiwa di masa lalu. Satu penulis terakhir, Tanpa Nama, terlihat berasal dari suku Jawa, dan berupaya untuk dapat menggunakan Bahasa Melayu dengan baik, meskipun di sana-sini dia mencoba menyelipkan istilah Jawa. Barangkali maksudnya agar para pembaca Jawa yang belum mengerti Bahasa Melayu mengerti maksudnya.

Secara garis beras, kelima penulis itu melukiskan tentang neraka Digul, yang membuat mereka kemudian memutuskan untuk lari dari sana, meskipun rintangan dan bahaya mengancam di depan mata: nyamuk malaria, lintah, binatang buas, sungai yang lebar dan dalam, rawa-rawa, hutan belantara, dan orang hutan yang disebut Kayakaya yang masih suka makan orang!

Sebagian besar penulis mengisahkan pelarian dari Digul dengan menambahkan roman, soal kekecewaan mereka atas perempuan yang tak lagi setia dengan penderitaan mereka di tanah pembuangan. Kisah Rustam Digulist (D.E. Manu Turoe), mengisahkan kekecewaan tokoh Rustam yang kecewa dengan pacarnya, Cindai, yang pada awalnya mau untuk dipersunting setelah Rustam kembali dari Digul, nyatanya Cindai mengatakan tidak untuk Rustam yang eks-Digulis.

Kisah “Pandu Anak Buangan (Abdoe’lXarim M.s), juga mengisahkan kekecawaan tokoh Pandu karena telah dipisahkan oleh mertuanya dari istrinya. Kemudian Bung Pandu kita memadu kasih dengan Zus Emi, yang sama-sama aktf di pergerakan. Tapi ketika Bung Pandu dijerat dengan pasal pemberontakan dan dibuang ke Digul, nyatanya Zus Emi tak mau ikut serta dan memilih pergi ke Betawi dan mengikat janji dengan orang lain.

Lain lagi perkara asmara dalam cerita “Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul” (Wiranta), yang mengisahkan pelarian Sujito dan Kemlin dari Digul menuju Nieuw-Guinea. Sujito ingin segera pergi saja dari Digul selepas mendapat surat dari istrinya, Rusmini, yang pada awalnya ikut Sujito di pembuangan, tapi kemudian pulang bersama anaknya. Sekian tahun kemudian, Rusmini memilih jalan hidup untuk menikah lagi dengan lelaki lain. Pilihan ini membuat hati Sujito hancur berkeping-keping. Maka pelarian dari Digul sebenarnya menjadi ajang bagi Sujito untuk mati saja dimakan neraka Digul.

Begitulah. Cerita dari Digul semakin menambah keyakinan, betapa manusia bisa dibuat tercerai-berai, tercerabut dari akar, hidup sengsara dan menderita karena berbagai perkara: ideologi, perang dan asmara. Mereka, para eks-Digulis, bisa jadi hidup pada waktu dan tempat yang salah. Mereka salah, karena memegang teguh ideologi komunis, di tengah-tengah kuasa penjajah yang kapitalis dan eksploitatif. Mereka salah telah memilih istri yang tidak setia. Tapi menurut saya, mereka telah benar ketika memutuskan untuk lari saja, minggat dari Digul. Karena itulah satu-satunya bukti bahwa hanya mereka sendirilah yang punya kuasa untuk menentukan kebebasan yang senyata-nyatanya.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

Hujan Bulan Juni

hujan bulan juni

Cover novel “Hujan Bulan Juni” (Gramedia: cetakan ke-7, Februari 2o16), karya Sapardi Djoko Damono

“Mboten lucu nggih mas,” kata tukang becak, yang membicarakan soal bulan Juni tapi hujan tetap turun, ketika Sarwono menyewa becak yang membawanya ke kios majalah Malioboro untuk membeli koran yang memuat tiga puisinya.

Tulisannya memang renyah, mengalir, namun tetap bertenaga. Menyambar persoalan hakiki cinta anak manusia yang gampang-gampang susah untuk dinyatakan dan mendapatkan jawaban. Novel ini juga secara mendalam menguliti budaya Jawa, Manado dan Jepang, melalui tokoh-tokohnya.

Sejak awal tulisan, kita akan dengan mudah terbawa dugaan bahwa tokoh Sarwono, seorang antropolog yang sering mendapat tugas meneliti berbagai persoalan sosial, mulai dari Kali Code, Ambon, hingga Papua, tak lain dan tak bukan adalah Sapardi Djoko Damono sendiri. Penggambaran sosok Sarwono yang kerempeng, punya penyakit paru-paru basah, dan malang melintang di kampus UI maupun UGM, akan membuat pembaca mudah mendakwa, itu adalah sosok Sapardi sendiri. Sapardi saat ini berprofesi sebagai guru besar pensiun di UI, dan guru besar tetap pada program pasca sarjana di IKJ, Undip, Unpad, dan ISI Solo.

Tulisannya mengalir deras, bak untaian prosa dan puisi, menyentil dan menyodok sosok penyair yang begitu puas dan bahagia menjumpai tulisannya sendiri dimuat di koran. Baginya, tulisan di media masa adalah medium komunikasi, seperti shaman, sang dukun, atau clairvoyant! Tiga puisi yang dimuat pada koran lokal adalah sebentuk curahan perasaan terdalam dirinya pada sosok perempuan yang saat itu sedang berada di Jepang. Perempuan  itu adalah Pingkan, gadis beribu Jawa, dan berayah Manado.

Sapardi dengan tangkas mengulik hubungan kedua anak manusia dewasa, yang ternyata tak mudah untuk berterus terang soal cinta. Sarwono, yang Jawa, dan Pingkan yang setengah Jawa-Manado, menyimpan potensi gagal membangun keluarga karena soal beda agama dan budaya.

Akankah Pingkan menemukan Matindas, dalam sosok Sarwono, lelaki dalam dongeng Manado? Apakah tiga puisi yang tercetak di koran Swara Keyakinan itu mampu terkirim dan terbaca Pingkan yang sedang berada di Jepang? Apakah sang waktu sanggup menjawab keresahan hati Sarwono, sebelum penyakit paru-paru basah mencekik napasnya?

/i/

bayang-bayang hanya berhak setia

menyusur partitur ganjil

suaranya angin tumbang

 

agar bisa berpisah

tubuh ke tanah

jiwa ke angkasa

bayang-bayang ke serbamula

 

suaramu lorong kosong

sepanjang kenanganku

sepi itu, mata air itu

 

diammu ruang lapang

seluas angan-anganku

luka itu, muara itu

 

/ii/

 

di jantungku

sayup terdengar

debarmu hening

 

di langit-langit

tempurung kepalaku

terbit silau

cahayamu

 

dalam intiku

kau terbenam

 

/iii/

 

kita tak akan pernah bertemu:

aku dalam dirimu

 

tiadakah pilihan

kecuali di situ?

 

kau terpencil dalam diriku

 

Yang terhanyut, Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

Max Havelaar

B6FlsvECQAAvIn1.jpg largeMax Havelaar (Narasi: 2015) adalah novel klasik yang sudah lama saya buru. Perjumpaan saya dengan buku ini terjadi tanpa sengaja. Itupun terjadi, setelah saya terbangun dari tidur siang di sebuah mal kecil di Kota Solo. Saya menemukan buku itu teronggok pada deretan rak buku. Dan itupun tinggal satu-satunya buku yang tersisa, dengan kondisi sampul plastik yang sudah terkoyak.

Sebelum membaca novel  ini, saya mencoba browsing di internet tentang sosok novel  Max Havelaar ini. Ternyata sudah ada beberapa penerbit Indonesia yang memegang hak terjemahan novel  ini, termasuk hasil terjemahan paling baik oleh HB Yassin. Novel  Yang ada pada tangan saya ini terbitan Narasi, cetak ulang ketiga tahun 2015.

Dari berbagai komentar yang pernah saya baca untuk resensi novel ini, terbitan Narsi termasuk yang kurang bagus terjemahannya. Tapi tak apalah, saya tetap mencoba mengunyah apa adanya, tanpa pretensi apa-apa. Nyatanya memang agak kesulitan mencerna tulisan novel Max Havelaar versi Bahasa Indonesia ini. Rupanya, ini adalah hasil terjemahan dari versi Bahasa Inggris, dan bukan terjemahan dari versi Bahasa Belanda asli. Padahal, kita punya banyak penterjemah Bahasa Belanda yang ahli di bidangnya.

Saya mengenal nama Max Havelaar sejak jaman SD dulu, berkat nama seorang tokoh pergerakan nasional  bernama  dr. Eduard Dowes Dekker, pendiri Boedi Otomo.

Max Havelaar adalah nama tokoh yang disematkan untuk seorang Asiten Residen di Lebak pada jaman pendudukan Belanda. Max Havelaar itu  tak lain dan tak bukan adalah sosok Douwes  Dekker itu sendiri, yang kemudian menggunakan nama samaran sebagai Multatuli.

Douwes Dekker memang pernah menjabat sebagai seorang Asisten Residen di Lebak. Tokoh Belanda yang satu in bisa dikatakan sebagai antitesa dari tokoh Belanda yang selama ini kita kenal sebagai sosok penjajah nan pongah.

Cara bertutur Multatuli untuk tokoh Max Havelaar agak sedikit memutar. Kisah dibuka dengan penggambaran tokoh Batavus Droogstoppel, seorang makelar kopi Amsterdam yang bekerja di Last & Co. Sebagai seorang makelar kopi yang hampir setiap hari berkutat dengan urusan laba dan uang, Drogstoppel tak suka puisi atau syair. Baginya, keduanya tak lebih dari kebohongan dan omong kosong belaka. Baginya, logika untung rugi , bisnis, dan hukum adalah sesuatu yang jelas dan pasti.

Menurut saya, penggambaran tokoh Drogstoppel adalah premis untuk meneguhkan mengapa kemudian buku ini lahir. Buku ini lahir sebagai sebuah kebenaran, bukan omong kosong belaka. Sebuah kebenaran yang harus dikabarkan, meskipun itu pahit adanya. Sebagaimana dalam keyakinan Multatuli, bahwa apa yang ditulisnya di sebuah losmen di Belgia itu, suatu hari akan dibaca orang. Dan keyakinannya itu kini menjadi kenyataan.

Karakter Drogstoppel ini seolah mencibir tentang moral yang tak pernah mendapat imbalan yang nyata di dunia. Baginya, moral adalah kecintaan pada kebenaran itu sendiri, dan kemudian kesetiaan pada takdir. Maka, praktis sejak Bab 1 hingga Bab 4, novel ini menceritakan Drogstoppel sebagai makelar kopi, yang kemudian berjumpa dengan sahabat lamanya, yang disebut sebagai lelaki berselendang. Lelaki itu kemudian minta bantuan kepada Drogstoppel untuk menerbitkan naskah tulisannya tentang Lebak.  Padahal sejak awal sudah dibuka dengan penegasan bahwa Drogstoppel tidak suka sastra, yang dia anggap sebagai omong kosong!

Tapi membaca kisah yang ditulis oleh sahabat lamanya itu, Drogstoppel berubah pikiran. Tulisan-tulisan tentang Lebak membuka matanya tentang sesuatu yang harus dikabarkan kepada dunia. Meskipun kemudian dia menyadari bahwa tulisan itu bisa jadi akan membuka kebusukan bangsanya sendiri di atas tanah jajahannya di Hindia Belanda.

Mulai Bab 5, novel ini  mulai menceritakan perjalanan tokoh Max Havelaar di Lebak. Sebagai sebuah novel  yang mencoba memotret sejarah pendudukan Belanda, maka di tengah-tengah kisah Max Havelaar, Multatuli juga menggambarkan kondisi sosio- geografis dan struktur pemerintahan pada masa itu.

Digambarkan bagaimana struktur pemerintahan jaman Hindia Belanda waktu itu  mengerucut dikepalai oleh seorang Gubernur Jenderal, kemudian di bawahnya dibantu Residen, Asisten Residen, Regen, dan  Bupati. Struktur pemerintahan itu kemudian dibandingkan dengan struktur pemerintahan di Eropa seperti kedudukan Count, Duke, dan Baron.

Menurut Multatuli, sudah terlihat pola hubungan yang aneh di sini, antara penjajah dan peribumi. Hubungan  keduanya diibaratkan sebagai hubungan kakak dan adik. Kakak yang penjajah, dan adik yang pribumi. Maka sebagai adik, wajib menghormati sang kakak.

Keberpihakan Max Havelaar pada rakyat jelata sudah mulai terlihat dari pidato pertamanya ketika pertama kali Max Havelaar menjabat Asisten Resisen di Lebak, juga pola relasi yang dia bangun dengan bawahan di sekitarnya.

Kemudian cerita mengalir, memotret carut-marut tata kelola pemerintahan Hindia Belanda  yang bekerja sama dengan para penguasa pribumi, yang ternyata justru tampil lebih kejam dibandingan para penjajah Belanda.

Para penguasa pribumi ini, yang menganggap dirinya golongan priyayi, tak sudi hidup susah. Maka dengan kekuasaan yang ada ditangannya, sebagai antek Belanda, mereka dengan sewenang-wenang memeras rakyat.

Multatuli kemudian menyisipkan kisah roman percintaan Saidah dan Adinda dalam buku ini, untuk menggambarkan betapa rakyat kecil sangat menderita karena ulah penguasa pribumi yang dengan sewenang-wenang  menarik pajak, mengambil kerbau yang menjadi andalan petani untuk bekerja di sawah. Maka kisah Saijah dan Adinda yang berbalut asmara, harus berakhir dengan kisah tragis.

Kisah tragis itu juga menimpa Multatuli sendiri, yang harus terkucil oleh bangsanya sendiri karena dianggap mencoreng muka dan martabat bangsa Belanda di dunia melalui tulisan-tulisannya di novel Max Havelaar ini. Tapi itulah kenyataan sejarah yang harus dia tulis, sepahit apapun itu.

Ini juga yang menjadi sebuah  kenyataan sejarah yang menyebutkan bahwa Belanda kemudian sanggup bercokol di Indonesia lebih dari 350 tahun, karena sebagian besar disokong oleh sikap penjilat dan penghisap dari penguasa pribumi itu sendiri.

Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan besar yang dimiliki Indonesia, tak ketinggalan ikut menorehkan kritik  tentang Lebak ini, melalui bukunya “Sekali Peristiwa di Banten Selatan.”

Terlepas dari mutu terjamahan yang kurang nyaman untuk dibaca, buku Max Havelaar pantas untuk dibaca dan dimengerti oleh anak bangsa di Indonesia. Sebagaimana keyakinan Multatuli, “Ya, aku bakal dibaca.”

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

Out of the truck box

iqbal

Cover buku “Out of the truck box” karya Iqbal Aji Daryono (Mojo.co: 2015)

Orang satu ini memang khas turunan Jogja. Jago mbacot. Kalau bicara lunyu, alias licin seperti air yang lama menggenangi batu sehingga berlumut dan mudah membuat orang terpeleset dibuatnya. Gaya bertuturnya mbanyol ala Basiyo, orisinal, nylekit dan tanpa tedheng aling-aling.

Kumpulan tulisan Iqbal Aji Daryono memang kemripik, dikemas dalam buku “Out of the truck box” (Mojo.Co: 2015). Sekilas tulisannya remeh, tapi punya kedalaman makna dan mampu menohok cara berfikir kita. Meruntuhkan ideologi maupun keyakinan kita selama ini. Mengajak kita berantem dengan akal sehat, rasio, maupun keyakinan yang selama ini kita pegang teguh. Tujuannya memang untuk mengusik dogma yang sudah terlanjur menghujam dalam di dalam akar iman kita. “Buku ini berbahaya. Jangan coba-coba membacanya,” demikian peringatan yang disampaikan Harun Mahbub, seorang wartawan Tempo yang memberikan endorsement, sekaligus mengingatkan kita untuk tak coba-coba menyentuh buku ini kalau tak kuat iman.

Sejatinya Iqbal hanyalah seorang sopir truk di Ostralia (dia memang menyebut begitu untuk Australia). Dia kesasar di sana karena mengikuti istri yang sedang melanjutkan studi di Murdock University, Perth, Australia. Beasiswa yang diperoleh sang istri tak mencukupi untuk menghidupi mereka bertiga: Iqbal, istri, dan anak semata wayangnya, Hayun. Terpaksalah Iqbal jadi sopir, berbekal SIM keularan Polres mBantul, Jogja.

Disela-sela menyopir itulah keluar segala keresahan yang bersumber dari dalam diri ketika melihat segala fenomena yang ada di negari barunya. Sebuah negeri yang dia rasa sebagai negeri kering, yang tak lebih dari seonggok tanah merah dan serumpun semak belukar. Tak ada pepohonan aneka warna, atau sawah yang hijau membentang seperti di tanah kelahirannya. Pun tak ada warung kopi nan egaliter, tempat dia bisa bersenda gurau denga teman-teman mbacotnya. Tak da lelucon segar khas Basiyo atau Srimulat. Hari-hari dia lalui dengan segala kegaringan. Justru dari sanalah kemudian mengalir tulisan-tulisan yang mengusik akal sehat. Bisa jadi itu adalah sebentuk pelarian untuk menjaga kewarasan.

Tulisannya secara umum terbagi dua bagian. Bagian pertama berisi Negara-Negara, yang berisi pengenalan budaya negeri baru yang bernama Ostralia, termasuk pengenalan sahabat barunya dari berbagai negara: India, Afganistan, Macedonia, Jerman, dll. Bagian kedua adalah Manusia-Manusia. Nah, bagian kedua inilah banyak bertebaran tulisan nakal yang akan mengusik akal sehat dan keyakinan kita selama ini. Jika tak kuat iman, kita akan segera goyah, dan ikut manggut-manggut dibuatnya. Tulisannya sebagian besar berlatar belakang analisa psikologi. Dia bisa dengan ringan mengupas soal pilihan agama, perdebatan ideologii syiah-sunni, taliban, soal spritualisme buah apel, makanan berdaging atau soal brengseknya kamera pengawas yang serupa “God eye” yang akan dengan mudah membuat kita masuk ke dalam jurang kemusyrikan.

Percayalah. Anda yang baru setingkat S1, nggak bakal sanggup mengunyah tulisan ini. Karena Iqbal sejatinya sudah sampai pada tataran S4 (seri HP yg dia punya, he…he…), maksudnya setingkat S3, yaitu setingkat para lulusan doctor yang sudah mampu berfikir menggugat asumsi mapan menyorong pendapat yang berseberangan.
Iqbal adalah sedikit penulis yang muncul belakangan ini, yang mengupas tulisan soal kehidupan sehari-hari sebagi tulisan non-fiksi secara ringan, dan itu tadi: kemripik!

Bandingkan dengan tulisan-tulisan saya di buku “Mabuk Dolar di Kapal Pesiar” (Rumah Baca: 2010) dan “Dilema: Kisah Dua Dunia Dari Kapal Pesiar” (Rumah Baca: 2012) yang juga berusaha mengulik persoalan manusia di atas kapal pesiar dari persepktif kemanusiaan. Kami ternyata sama-sama TKI. Bedanya kalau Iqbal bolak-balik di negara bagian Perth, Australia, sementara saya melalang buana di atas kapal pesiar. Kami sama-sama menjadi korban sebuah nasib yang harus dijalani, yaitu menjadi TKI. Bedanya, ya tentu saja cara bertuturnya lewat tulisan dan mengemasnya dalam sebuah buku.

Silahkan berfikir dua kali sebelum menyentuh buku ini. Selebihnya, terserah Anda.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

DSC_0569.JPG

Bela-belain baca bukunya Iqbal sambil nunggu stand Rumah Baca, saat belum ramai diserbu pengunjung:)


Data pengunjung

  • 247,513 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

25

21

20

More Photos

Goodreads


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,988 other followers