Saatnya Menonton Buku

Buku yang semula menjadi sumber pengetahuan mulai era 2000-an harus rela bersaing dengan visualisasi digital.

Orang tak lagi suka membaca buku. Alih-alih membenamkan wajah pada buku, kini bergeser kepada menonton buku.

Jalan pintas ini tak bisa dihentikan.

Rumah Baca melihat, fenomena menonton buku tak bisa dihindarkan. Maka sejak awal pandemic Covid-19 ini, Rumah Baca berbenah dengan mencoba bertransfoormasi melalui visualisasi review buku di Rumah Baca dalam format video.

Inilah dua diantaranya yang sudah on air. Review buku-buku berikuktnya menyusul:

 

 

Enjoy.

Jangan lupa subscribe untuk mendapatkan seri review buku-buku bergizi berikutnya.

Salam,

Hartono Rakiman

 

Zaman Peralihan

Soe_Hok_Gie___Zaman_Peralihan“Zaman Peralihan” merupakan kumpulan  karya Soe Hok Gie yang dia tulis, dibukukan dan diterbitkan Bentang, 1995. Buku ini terbagi dalam tiga bagian, yaitu masalah kebangsaan, masalah kemanusiaan, catatan turis terpelajar.

Bagian pertama: Masalah kebangsaan

Bagian ini merekam catatan mengenai demostrasi besar-besaran yang dilakukan mahasiswa pada tahun 65, menuntut Soekarno untuk mempertanggungjawabkan pemerintahannya yang korup dan kebijakan Nasakom (nasionalis komunis). Di sisi lain, Soe Hok Gie juga menggugat internal kampus, dimana  mahasiswa menjadikan organisasi kemahasiswaan sebagai kendaraan politik, yaitu organisasi berdasarkan agama ataupun pandangan politik. Pasca tergulingnya Soekarno, beberapa mahasiswa ditunjuk sebagai perwakilan di DPR-GR. Soe Hok Gie kecewa dengan mereka yang menjadi pelacur intelektual. Dahulu mereka berjuang bersama di jalan,  namun setelah masuk kepemerintahan malah ikut andil dalam pemborosan uang negara, seperti menerima bantuan kredit mobil. Sebagai bentuk kekecawaannya, saat natal dan lebaran Gie mengirimkan hadiah kepada para mahasiswanya  berupa bedak dan gincu. Ini sungguh sarkasme yang menohok.

Pada bagian pertama ini, juga diceritakan tentang pendakian Gie dan kawan-kawan ke gunung Slamet Jawa tengah, dimana Gie mencoba “lari” dari hinggar binggar ibukota dan kegelisahannya tentang situasi social dan politik Indonesia.

Bagian ke 2 dan 3: Masalah kemanusiaan

Gie memang dikenal peduli akan ketidakadilan semenjak remaja. D ibagian ini Gie menyoroti korban kekerasan pasca 65/G30S/PKI yang jumlahnya ribuan. Siapapun yang dituduh PKI bisa saja dengan mudah dipenjara atau bahkan dibunuh tanpa ada peradilan. Mundur ke era Soekarno, banyak pula kriminal-kriminal kelas teri yang dipenjara sangat lama tanpa proses peradilan, tanpa tahu berapa lama dia dipenjara. Tak sedikit napi yang meninggal di dalam sel penjara.

Menurut buku ini pula, Palau Bali memiliki rakyat yang pro Soekarno karena nilai historisnya, yaitu ibu dari Soekarno berasal dari Bali. Pasca 65, pembantaian manusia terjadi di sana, didalangi oleh elit PKI/pro Soekarno, sebenarnya ingin cari selamat. Tak pandang bulu, petani buruh yang diduga terlibat PKI dipenjarakan atau dibunuh. Taktik politik PKI yang digunakan kala itu adalah dengan memberi bantuan berupa bibit atau pupuk yang “menjebak” petani kecil untuk masuk ke organisasi sayap PKI. Buruh pun juga diintimidasi bila tidak ikut organisasi buruh sayap PKI. Dari situ mulai muncul saling fitnah, pengusahaan menunjuk si A PKI karena si A adalah pesaing bisnis, begitupun dendam lainnya. Bagian yang paling epik dibagian ini adalah disaat Gie  berjalan pulang bertemu dengan seorang yang mengambil kulit mangga dari tong sampah dan memakannya Gie dengan cepat menarik kulit mangga dari orang itu lalu memberikan uang kepada orang tersebut.

Bagian ke 3: Catatan turis terpelajar

Bagian akhir buku ini menceritakan ketika Gie mendapatkan kesempatan pergi ke Amerika yang diberikan oleh Kedubes Amerika di Jakarta. Setelah mengatur jadwal, Gie mengurus surat-surat untuk bisa pergi keluar negeri. Gie mengikuti prosedur yang ada, namun ia terkendala oleh surat pernyataan kewarganegaraan. Gie adalah keturunan Tionghoa, yang saat itu pemerintah masih meragukan kesetian warga etnis Tionghoa atas negara Indonesia. Gie juga terkendala dengan surat “tidak terlibat PKI”. Gie  sudah menjelaskan bahwa dia adalah dosen UI (PNS). Tetapi prosedur yang dilakui tetap berbelit-belit.  “Orang-orang diperas untuk mendapatkan surat tersebut (surat tidak terlibat PKI), datang ke Koramil hanya ditanya Pancasila, apakah seorang komunis tidak hafal Pancasila, lalu mereka dipaksa membeli gambar Pancasila. Ya, ujung-ujungnya uang!”

Gie mengkritisi birokrasi pada saat itu. Lelah dengan itu Gie ambil jalan pintas dengan mendapatkan ijin, surat sakti dari Pemred tempat dia bekerja. Dengan bekal surat sebagai wartawan semua ijin selesai dengan cepat.

Di Amerika Gie banyak mendapatkan pengalaman berharga, diskusi dengan mahasiswa lintas benua, memahami gerakan Afro-Amerika disana, bertemu dengan kelompok happies, dan melihat permasalahan Amerika sebagai negara adidaya.

Secara keseluruhan buku ini menurut saya merupakan kritik terhadap sikap masyarakat intelektual yang hanya bermain “aman”, tak memiliki daya kritis yang tajam terhadap pemerintah, terutama mahasiswa yang digadang sebagai penerus bangsa. Mereka yang memiliki kesempatan luas untuk mengembangkan diri dan mengabdikan diri ke masyarakat. Kegelisahan Gie ini masih terjadi sampai sekarang. Pesan yang saya tangkap adalah kita pemuda khususnya bisa menyuarakan pendapat kita dimuka umum, mengkritisi kebijakan pemerintah namun harus diimbangi dengan mengambil peran dalam memajukan bangsa.

10 April 2020, Bakar Japet, seorang Kuli panggul buku

Tiga Gunung Memeluk Rembulan

Sudah lama rencana bertandang ke rumah penulis buku yang juga mantan Wartawan Kompas, Bre Redana, tersusun. Terhalang oleh kesibukan masing-masing, pagi ini (10/3/2020), akhirnya rencana ini terlunaskan.

20200310_103710

Espresso khas Thailand dan Ubi Talas khas Bogor

Masih perlu perjumpaan berikutnya, karena diskusi seru seputar buku, dongeng, silat, dan filsafat hidup tak mungkin kelar dalam hitungan jam. Berada di belakang teras pesanggrahan Mas Bre yang asri – diapit tiga gunung, Salak, Gede dan Pangrango – obrolan seru itu disokong kopi espresso khas Thailand, homemade cake dan gorengan ubi talas khas Bogor.

Buku tulisan mas Bre yang baru saja ditulis dan sudah diulas di Rumah Baca adalah “Majapahit Milenia.” Buku itu membuka obrolan seputar sejarah yang ditulis manusia. Pada budaya barat, history ditulis berbasis tulisan yang tercatat oleh tangan-tangan manusia, maupun artefak lainnya. Persoalannya, apakah itu benar-benar murni fakta, dan nir kepentingan? History selalu tergantung pada sudut pandang siapa yang menulis. Kata ganti orang ketiga His untuk Story menunjukkan ada relasi kuasa di sini. His adalah pengganti maskulinitas, alias siapa yang berkuasa. Jadi story yang disodorkan tak bebas dari kepentingan.

Pada budaya Jawa, atau bahkan flashback pada mitologi Yunani, maka narasi sejarah tersusun dalam ingatan manusia dalam bentuk dongeng. Tak harus berbasis bukti tulisan. Ini juga bentuk sejarah yang terekam dalam memori manusia sepajang mereka mau mengingat dan tak melupakannya. Siapa yang mau mengingat peristiwa pembunuhan jutaan manusia pada peristiwa pasca  G-30/S-PKI? Yang masih tersisa dalam ingatan adalah pembunuhan 7 jenderal, dan melupakan jutaan nyawa tak berdosa setelahnya.

Obrolan kemudian bergeser soal mental health atau kesehatan jiwa. Schizophrenia,  bipolar, delusi, halusinasi, menjadi perbincangan serius ketika dibedah dengan pendekatan “Mind, Body, and Spirit”  yang menjadi inti Perguruan Silat Bangau Putih, tempat Mas Bre menghabiskan sebagian waktu hidupnya di sana.

Kerja otak suatu waktu perlu digeser menjadi kerja mekanik tubuh. Tubuh tak harus selalu patuh pada otak. Karena tubuh sebenarnya punya kuasa sendiri. Ketika tubuh mampu bekerja sendiri, otak bisa istirahat. Pasrah adalah sebentuk praktik menjalani proses hidup tanpa terganggu dengan cara kerja otak yang kadang menyesatkan.

Saya terkesan dengan latihan kecil menggerakkan telapak tangan dengan poros putaran pada ibu jari, dan kemudian melakukan gerakan yang sama tapi dengan cara memindahkan pusat konsentrasi pada jari kelingking. Alhasil, telapak tangan tetap bergerak namun dengan memindahkan pusat konsentrasinya. Ini adalah latihan sederhana untuk membuka pelajaran penting tentang memindahkan beban pikiran pada fokus yang lain sembari tetap menjalani proses hidup itu sendiri. Jika persoalan datang, jangan terlalu terbebani pada persoalan itu, pindahkan saja pada hal yang lain, sembari tetap bergerak.

Latihan kecil yang lain adalah saling menarik pergelangan tangan. Ketika pikiran terbebani dengan “niat jahat” untuk menarik orang lain di depan kita maka dapat dipastikan tak akan mampu menyelesaikannya dengan baik. Ketika pikiran tentang orang lain di depan kita dihilangkan dan konsentrasi pada kekuatan mekanik otot, maka keajaiban akan terjadi. You know what I mean? Agak susah menjelaskan. Hal ini memang harus dipraktekkan dan bahkan dilatih.

Kunjungan perdana ini ditutup dengan foto bersama di depan ruang kerja Mas Bre dengan buku yang sangat menginspirasi perjalanan hidup saya, “Mind-Body-Spirit: Aku Bersilat Aku Ada.”

bre 1

Di depan ruang kerja Mas Bre dan buku “Mind Body Spirit: Aku Bersilat Aku Ada”

Homo Deus

20181221-195213-5c208691bde575407a2e8844Buku Homo Deus (Alvabet: 2018, versi terjemaham cetakan ke 3), karya Yuval Noah Harari – sejarahwan asal Yahudi lulusan Harvard yang kini menjadi dosen di Universitas Ibrani Yerusalem – merupakan kelanjutan dari bukuSapiensyang telah terbit sebelumnya. Buku ini melengkapi tesisnya tentang sejarah singkat umat manusia.

Jika sejarah umat manusia diretang sejak kemenangan Homo Sapiens menguasai puncak mata rantai makanan hingga saat ini, maka revolusi singkatnya kira-kira begini: Revolusi kognitif, Revolusi pertanian, Pemersatu umat manusia, dan Revolusi sains. Untuk mengetahui peta pembagian revolusi umat manusia, bisa ngintip pada ulasan buku Homo Sapiens di Rumah Baca.

Nah, Buku Homo Deus mengulas secara mendalam apa yang dia sebut sebagai Revolusi sains. Revolusi sains yang Harari maksudkan bukan merupakan ramalan atau prediksi masa depan umat manusia, tapi lebih kepada kecenderungan yang mungkin saja bakal terjadi apabila menata ulang rangkaian peristiwa-peristiwa yang mendahuluinya.

Akar Homo Deus berasal dari dua kata yaitu Homo dan Deus. Homo berasal dari bahasa Latin yang berarti keuarga manusia. Sedangkan kata Deus adalah Tuhan, yang juga berasal dari bahasa Latin, dan punya korelasi dengan Dewa Zeus. Homo Deus memiliki makna bahwa pada ujung revolusi, manusia telah berubah menjadi tuhan. Tanda-tandanya sudah terlihat sejak umat manusia mengutak-atik karya agung Tuhan dengan rekayasa genetika.  Penelitian tentang DNA, cloning, operasi wajah, serum peremajaan kulit, implan jantung, mata buatan, hingga penelitian yang pada ujungnya akan membuat manusia tidak bisa mati alias immortal.

Gagasan tentang manusia-tuhan sebenarnya sudah ada sejak jaman dahulu, misalnya lahirnya sosok Fir’aun yang ingin menjadi tuhan dan tidak bisa mati, hingga sampai pada akhirnya dia harus mati sekalipun terdapat hasrat untuk mengawetkannya dengan metode balsam, agar umat manusia masih menganggapnya tetap hidup!

Dalam kontek alam pikir manusia, Homo Deus juga mengupas soal perkembangan pola pikir manusia yang pada awalnya hidup di alam animisme-dinamisme, yang  kemudian bergeser pada alam agama atau spiritualisme. Pada perkembangannya, terutama sejak muncul filsafat eksistensialisme, manusia mulai meragukan keberadaan Tuhan, dan menyodorkan alam pikir baru yang mereka sebut sebagai humanisme. Gerakan ini menjadi popular terutama sejak John Lennon menggubah lagu “Imagine.” Agama tak lagi dianut sebagai pedoman umat manusia, karena dianggap justru menjadi biang perpecahan dan perang agama, yang dulu dikenal dengan Perang Salib (crusade) dan perang jihad.

Animisme, dinamisme, agama, dan humanisme kini secara cepat sudah mulai tergeser oleh perkembangan baru di era digital, yaitu dataisme. Pada era masa kini dan era mendatang, kekuasaan atas manusia ditentukan seberapa besar orang atau lembaga menguasai data.

Kebanyakan orang mungkin lebih mengenal Bill Gates-bos Microsoft, atau Mark Zuckerberg-bos Facebook, daripada Larry Page, bos Google. Ketiganya pioner dataisme, mengelola data menjadi informasi, pengetahuan, dan kebijakan. Data berseliweran dan diolah dengan prinsip algoritma, atau pola sistemik yg sudah terprogram.

Data yang dimaksudkan di sini tak melulu berupa angka. Satelit NASA berkeliling bumi 14x sehari dan memotret citra bumi di malam hari. Hasilnya, beberapa wilayah terang benderang, beberapa wilayah redup. Citra satelit itu pada masa kini dapat dijadikan data tentang tingkat pertumbuhan ekonomi atau kemakmuran suatu bangsa. Tentu yang terang benderang adalah yang juara. Kini, pada era digital, data tak selamanya bersumber dari angka tapi bisa kata dan gambar atau foto.

Salah satu pelajaran penting dari buku Homo Deus, bagi umat manusia adalah soal apa yang harus dipersiapan oleh umat manusia di masa datang.

Hanya dalam hitungan kurang dari dasawarsa, manusia sudah harus cepat-cepat berfikir tentang profesi baru di masa depan. Secara umum, profesi itu terbagi 3: pertanian, industri, dan jasa. Komposisi profesi negara seperti Indonesia pada tahun 2018 untuk sektor pertanian 30%, industri 36%, dan sisanya jasa. Sedangkan di AS tahun 2010 hanya punya 2% pertanian, 20% industri, dan 78% jasa.

Celakanya, otot (pertanian dan industri) sudah direnggut otomatisasi mesin. Dan sektor jasa yang sebagian besar mengandalkan otak, pada beberapa bagian sudah diambìl alih oleh algoritma komputer. Lalu profesi apa yg tersisa untuk manusia?

Ulasan buku oleh Hartono, Pengasuh Rumah Baca

Majapahit Milenia

WhatsApp Image 2019-12-10 at 12.01.09Dunia ini banyak menyimpan misteri dan rahasia yang belum terkuak. Tuhan memang sengaja menyimpan-Nya agar manusia punya pekerjaan yang belum selesai. Bukankah misteri itu mengandung rasa penasaran yang membuat orang tak bisa diam?  Sama seperti orang main game PS, yang akan merasa ketagihan dan berusaha naik level. Ketika semua level sudah terlampaui, orang menjadi bosan dan permainan PS tidak lagi menarik hati.

Selain alam dan Tuhan itu sendiri, manusia juga gemar menyimpan misteri, membungkusnya dalam balutan makna yang tak semua orang mampu mengurainya. Maka diciptakanlah syair, tembang, lukisan, gambar, kiasan, dll.

Tengoklah 11 tembang Macapat, yang ternyata menyimpan pesan berupa siklus hidup manusia sejak dalam kandungan hingga ajal menjemput: Maskumambang, Mijil, Kinanthi, Sinom, Asmaradhana, Gambuh, Dhandanggula, Durma, Pangkur, Megatruh, dan Pucung.

Novel Majapahit Milenia (KPG: 2019) yang dianggit oleh Bre Redana berangkat dari misteri masa lalu yang belum semua orang memahaminya. Bre Redana menggunakan ke-11 tembang sebagai latar belakang setiap babak cerita yang dia tulis, namun dengan teknik yang tidak linier. Urutannya bisa dibolak-balik sesuai suasana hati yang ingin dibangun melalui narasai cerita yang dia sajikan.

Misteri sejarah masa lalu berawal dari tetirah Bre Redana di sebuah candi kuno yang terletak di lerang Gunung Lawu, Candi Cetho. Di sana, Bre Redana merasa ‘kangslupan” roh Banca dan Naya.

Banca dan Naya adalah sang pemomong tanah Jawa pada masa kejayaan Majapahit. Keduanya moksa (hilang tak berbekas) dan berjanji akan kembali sewaktu-waktu untuk bikin perhitungan. Banca sesumbar: “Titenono! (Ingatlah) Kami tidak rela kerajaan kami pecah berkeping-keping, negeri kami hancur. Setiap saat kami akan kembali.”  Dan benar, keduanya masuk ke tubuh, pikiran dan jiwa Bre Redana. Semenjak itu cerita yang diawali dari runtuhnya kerajaan Majapahit, di bawah kekuasaan Girindrawardana,  mengalir deras hingga munculnya Kesultanan Pajang di bawah kekuasaan Sultan Hadiwijaya, sebagai titik awal munculnya kerajaan Mataram Kuno.

Semenjak Bre Redana menganggap dirinya sebagai tukang cerita, dia dengan bebas mengarang dan menambah-nambahi dengan versinya sendiri. Maka jangan heran, ketika Banca dan Naya yang masuk ke dalam tubuh tukang cerita sekalipun, bisa geleng-geleng kepala ketika tukang cerita menambahi pernah bertemu lelembut Gunung Lawu dalam sosok wanita cantik. Tukang cerita menambahi: ada tahu lalat di pundaknya!

Jangan heran juga ketika tukang cerita sangat menggemari cerita percintaan antara tokoh laki-laki dengan tokoh perempuan cantik. Muncullah sederet tokoh wanita, seperti Dewi Candrakirana, Dewi Anggraeni, Kembangsari,  Mawarwati, Dewi Ungaran, atau Woro Andhini. Tengok saja ketika tokoh Karebre dan Manca melawat ke Kedungsrengenge. Keduanya punya selera yang berbeda, Mas Manca tertarik dengan Woro Andhini yang semok, dan Karebre yang suka perempuan langsing!

Porsi cerita untuk tokoh Karebre lumayan panjang dibandingkan tokoh yang lain. Saya curiga tukang cerita memang sengaja meminjam sosok Karebre yang punya darah Majapahit, dengan suku kata khas Majapahit: Bre. Cocok dengan nama pena tukang cerita: Bre Redana. Mungkin saja dia punya darah Majapahit yang mengalir dalam tubuhnya.

Kalau diperhatikan benang merah cara bertutur Bre Redana yang cenderung ndugal dan nakal sudah terlihat sejak tulisan-tulisannya mengalir dalam buku “Urban Sensation, Rex, Blues Merbabu atau 65.” Buku-bukunya bertebaran dengan aroma wangi tubuh perempuan. Tapi bukankan sebagian besar  pembaca menyukainya?

Dalam strategi komunikasi, pesan tak boleh hanya berfungsi inform saja, tapi juga harus entertain, dan pada tataran yang leih tinggi harus bisa persuade.

Benang merah selain soal perempuan adalah setting cerita yang tak jauh-jauh dari Boyolali, Sela, Merapi-Merbabu, Salatiga, Pengging , dan sekitarnya. Di situlah tukang cerita bisa mengeskplorasi setting lokasi yang sangat dia kenal.

Setting cerita Padepokan Banyubiru saat Karebre berguru pada Kyai Buyut Banyubiru mengingatkan saya pada bukunya “Aku Bersilat Aku Ada” yang mengupas soal PGB Bangau Putih asuhan Guru Gunawan Rahardja.

Cerita apalagi novel, memang selalu berangkat dari apa yang dikenal dan dialami secara mendalam oleh penulisnya. Bukan sesuatu yang di luar jangkauan dan belum pernah dia alami. Ini berbeda dengan tulisan Karl May pada bukunya “Winetou” – soal petualangan ala cowboy di belantara Amarika Serikat yang belum pernah dia kunjungi selama hidupnya

Cerita melalui novel adalah pernyataan sang penulis, berupa keresahan hatinya. Latar belakang masa lalu tak akan mungkin, dan tidak mudah dia buang begitu saja.

Salah satu keresahan yang ingin tukang ceita ungkapkan melalui novel Majapahit Milenia ini adalah tentang bagaimana kekuasan diperolah dan dipertahankan dengan penuh intrik dan tipu daya. Sejak dulu selalu begitu. Kakuasan selalu berbalut mitos, dogma agama, dan juga tak jauh dari urusan wanita. Maka tak salah jika ada ungkapan tahta, harta, wanita. Ketiganya membentuk karakter khas kuasa yang tak bisa dipisahkan. Ketiganya adalah syahwat dunia.

Pada chapter terakhir, yang ditandai tembang Gambuh, tukang cerita menulis:

Politik kekuasaan yang penuh muslihat perlu dibungkus dengan dongeng asmara agar kekuasaan tampak anggun…Karebre meniti puncak kekuasaan pun perlu ditandai oleh cerita dari alam dongeng. Kekuasaan bukan hanya memerlukan kekuatan, tapi ingatan.

Titenono…

Review buku olleh Hartono Rakiman – pengasuh Komunitas Rumah Baca

 

 

 

 


Data pengunjung

  • 338,549 Kunjungan

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

Goodreads