David and Goliath

20190719_085122Tulisan Malcolm Gladwell selalu menghadirkan cara pandang yang baru dari sebuah peristiwa yang sering terjadi di sekitar kita, namun kita abai memperhatikannya. Tengoklah tulisan Malcolm Gladwell pada bukunya yang telah terbit sebelumnya, seperti Tipping Point, Blink, Outliers, dan What the Dog Saw, yang telah diulas di laman Rumah Baca ini.

Buku “David and Goliath” menjelaskan cara pandang bahwa dibalik kelemahan ada kekuatan. Sebaliknya, dibalik kekuatan terdapat kelemahannya. Kisah David and Goliath sudah berumur ribuan tahun, dan awet dalam ingatan manusia. Ini adalah kisah legendaris seorang bocah gembala kecil dan ringkih melawan raksasa Goliath. Duel David and Goliath yang tidak seimbang pada akhirnya dimenangkan oleh David. Goliath tumbang karena serangan kerikil batu yang dilempar oleh David dengan ketapel tepat mengenai dahi tengahnya.

Malcolm Gladwell membongkar ulang kisah itu dari kacamata science dan menemukan di mana letak keunggulan David dan kelemahan Goliath. Inilah temuannya:

David adalah penggembala kambing yang terbiasa dengan senjata pelontar batu. Dia pernah membunuh singa dengan alat ketapel itu. Pelontar batu perpengalaman, seperti David, dapat mencederai lawan yang berjarak hingga 180 meter. Duel David dan Goliath diperkirakan berjarak 35 meter, dengan kecepatan 34 meter perdetik. Kecepatan itu setara dengan tembakan pistol modern berukuran sedang.  Jenis batu yang digunakan berjenis Barium Sulfat yang memiliki kerapatan massa 4,2 gram/cc (lebih tinggi dari batu biasa dengan kerapatan massa 2,4 gram/cc). Itulah kekuatan David. Lalu, dimana letak kelembahan Goliath sang raksasa? Goliath adalah tantara perang bangsa Filistin yang mengenakan zirah berbahan ratusan keping perunggu yang menyelimuti tubuhnya. Hal itu membuat gerakan tubuhnya menjadi lamban. Di balik tubuhnya yang raksasa, penelitian menemukan bahwa Goliath menghidap akromegali-penyakit akibat tumor jinak di kelenjar pituitary. Tumor ini menyebabkan produksi berlebihan hormon pertumbuhan. Efek sampingnya adalah pada masalah pengelihatan yang terbatas dan diplopia, atau penglihatan ganda. Itulah sebabnya, dalam kisah diceritakan Goliath didampingi bujang ketika turun ke lambah Elah menemui David. Si bujang adalah penuntunya, karena dunia yang dipandangnya tidak jelas. Dan Goliath tidak menyadari bahwa David mengubah cara pertempuran sampai David berada dalam jarak dekat, hingga kerikil batu itu memecah tengkorak kepalanya.

Kisah David and Goliath adalah hipotesa pertama yang ditawarkan Malcolm Gladwell bahwa siapapun yang memiliki kelemahan janganlah berkecil hati, karena sang lawan yang tampak raksasa dan menakutkan sejatinya mudah untuk dikalahkan.

Buku “David and Goliath” ini mengupas sepuluh bukti otentik tentang kekuatan di balik kelemahan. Tengoklah kisah Vivek Ranadive sang pelatih bola basket yang memiliki tim bertubuh pendek namun berhasil memenangi kejuaran nasional Amerika; Teresa DeBrito, tentang anggapan kelas kecil lebih baik daripada kelas besar, dan ternyata tak terbukti; Caroline Sack, tentang kuliah di universitas besar yang membuatnya terlihat bodoh; David Bois, dan anak-anak disleksia yang justru berhasil dalam karir dan hidupnya; serta kisah-kisah lain yang inspiratif yang membuat kita tercengang.

Membaca kisah-kisah yang dituturkan oleh Malcolm Gladwell selalu mengasyikkan. Dengan dukungan data hasil riset dan wawancara, khas jurnalis senior dari The New Yorker, tulisannnya menjadi renyah dan enak dibaca sambil ngopi.

Satu hal yang kurang saya suka pada edisi terjemahan dari Gramedia (cetakan ketujuh 2018) ini adalah pada warna sampul buku warna hijau. Saya cenderung lebih suka sampul warnah putih bersih, seperti buku-buku Malcom Glladwell pada umumnya.

Tengoklah dalam diri kita, apa saja kelemahan kita. Jangan-jangan, di situlah letak kekuatan kita.

Review buku oleh Hartono, pengasuh Rumah Baca.

Advertisements

Sapiens

sapiens2“Sangkan paraning dumadi”. Filosofi kejawen itu sudah lama merenungkan tentang asal muasal manusia: dari mana-mau kemana. Orang Jawa mencari jawab atas asal muasal manusia dengan cara merenung, bermeditasi, dan jawaban yang diberikan bersifat spiritual.

Yuval Noah Harari, sejarahwan asal Yahudi lulusan Harvard yang kini menjadi dosen di Universitas Ibrani Yerusalem, membongkar rasa penasarannya tentang asal muasal manusia dengan menulis buku kontroversial berjudul “Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia” (KPG: 2018, terjemahan). Harari membedah asal muasal umat manusia dengan kilas balik 70.000 tahun yang lalu, dan sekaligus meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan.

Homo Sapiens adalah adalah sekelompok manusia yang berhasil survive hingga saat ini, mengalahkan para pendahulunya homo erectus, homo ergaster, neadertal, homo soloensis, home floresensis, maupun homo devinocus.

Buku “Sapiens” terbagi ke dalam empat bab besar: Revolusi kognitif, Revolusi pertanian, Pemersatu umat manusia, dan Revolusi sains. Yang sedikit kurang konsisten adalah pada penjudulan bab Pemersatu umat manusia. Bab Pemersatu umat manusia sebenarnya bisa masuk sebagai sub bab revolusi kognitif.  Seharusnya pembagian bab pada buku ini cukup tiga saja: Revolusi kognitif, Revolusi pertanian, dan Revolusi sains.

Anayway, terserah saja sama Mas Harari mau membagi bab-bab buku ini sepeerti apa, itu semua terserah pada imajinasi di kepalanya sendiri.

Inilah hipotesa Harari soal homo sapiens.

Homo sapiens secara struktur biologi satu spesies dengan simpanse. Sejak manusia mengalami revolusi kognitif, homo sapiens meninggalkan saudaranya. Sejak saat itu manusia melompat dari anak tangga mata rantai makanan, melompati binatang buas macam harimau atau singa.

Kemampuan kognitif itulah, menurut Harari, yang membuat manusia mampu survive hingga saat ini. Ada dua mahakarya revolusi kognitif, yaitu kemampuan bergosip dan mendirikan perusahaan terbatas! Inilah kemampuan mengembangkan imajinasi alias fiksi.

Simpanse, atau binatang lain memiliki bahasa yang dimengerti oleh kelompok mereka. Misalnya: di sana ada pisang, atau di sana ada singa. Mereka mengatakannya dengan bahasa isyarat, menyatakan fakta tentang keberadaan pisang atau singa.

Homo sapiens berbeda. Gosip tidak lagi mengatakan fakta, tapi sudah masuk wilayah imajinasi, yaitu fiksi. Maka dalam kelompok-kelompok manusia muncul gosip, membicarakan si anu selingkuh dengan anu, barusan melihat si anu mencuri pisang tetangga, dll. Dengan bergosip, fakta sudah diubah menjadi fiksi. Dan fiksi itu kemudian diyakini sebagai kebenaran.

Tesisi Harari inilah yang membuat pembaca bisa goyah iman ketika Harari menyinggung soal agama, sebagai salah satu mahakarya manusia yang dia sebut sebagai fiksi. Saya malah jadi ingat beberapa waktu lalu Rocky Gerung pernah bikin heboh di TV gara-gara pernah mengatakan agama itu fiksi! (Jangan-jangan dia juga barusan baca bukunya Harari ini).

Gosip inilah yang membuat homo sapiens survive, menyatu dalam kelompok yang lebih besar, tergantung kepada jenis fiksiyang dikembangkan dan dipercaya oleh sebagian umat.

Secara naluri, manusia hanya bisa berteman dengan 150 orang. Ini adalah magic number tentang tali pertemanan manusia. Hitunglah jumlah teman Anda di media social (Facebook, Instagram, atau Twitter). Pasti tak lebih dari 150 orang. Selebihnya adalah teman dunia maya yang tak punya pertalian erat. Nah, angka 150 itu akan terlampaui melalui alat pemersatu manusia yang digerakkan oleh fiksi. Dalam bab-bab berikutnya Harari membahas alat pemersatu manusia dengan 3 jenis: uang, imperium, dan agama!

Karya fiksi manusia paling fenomenal yang lain adalah perusahaan terbatas (PT).  Perusahaan atau corporate (diambil dari bahasa latin, corpus, yaitu badan), adalah buah imajinasi luar biasa manusia. Semenjak sebuah PT dibentuk, dalam selembar surat pendirian perseroan, yang diurus oleh seorang pengacara, maka sejak saat itu nama perusahaan itu akan terus hidup dan tak bisa mati, kecuali dinyatakan bangkrut. Uniknya, PT yang didirikan manusia ketika menghadapi persoalan hukum yang didakwa bukan orangnya, tapi badan hukumnya!

“Menuturkan kisah yang efektif tidaklah mudah. Kesulitannya bukan dalam menurutkan  kisah itu sendiri. Melainkan meyakinakn semua orang lain untuk mempercayainya. Itulah kekuatan fiksi yang menyatukan manusia.” Masih menurut Harari.

Bab selanjutnya membahas soal revolusi pertanian. Revolusi pertanian adalah penipuan terbesar yang diderita umat manusia dari yang semula sebagai pemburu-pengumpul kemudian terdomestikasi kepada pertanian. Sejak manusia mulai menanam gandum manusia terdomestikasi oleh gandum, bukan sebaliknya, gandum didomestikasi manusia.

Sejak menetap dan menanam gandum, manusia semakin menderita.Padahal semula hidupnya bebas, mengembara ke seantero alam raya. Kini menetap, mengolah ladang, mencari air untuk menyirami tanaman, menyaingi rumput atau gulma. Dan semenjak menetap, manusia beranak pinak. Hidupnya kian hari kian berat, karena manusia bertambah banyak.

Manusia kemudian bergulat dengan dialektikanya sendiri, muncul strata sosial yang berbeda karena kekayaan, ras, kasta, jenis kelamin. Di sini, Harari membahas tentang ketidaksetujuannya pada perbedaan yang didasarkan pada SARA. Harari juga tidak menyetujui soal kebencian manusia pada homoseksual! Tesisnya, sekali lagi itu adalah buah fiksi manusia, secara biologis homoseksual itu ada dan mereka suka-sama suka. Kekuatan fiksilah yang membuat manusia melahirkan etika, moral dan tetek bengek lainnya yang mengatakan bahwa homoseksual itu dosa. (Khusus soal homoseksual, saya masih tidak mendukung gagasan Harari).

Pada Bab pemersatu umat manusia, secara komprehensif Harari mengupas lalu lintas peradaban dunia yang membuat manusia terkonesksi satu sama lain secara massif. Harari juga menegaskan bahwa di dunia ini tidak ada seuatu yang otentik alias asli. Siapa sangka bahwa masakan kari India aslinya dari Mexico. Apakah Anda juga masih percaya bahwa spaggetti adalah asli Italia, seyakin Anda tentang coklat yang berasal dari Swiss? Tahukah Anda bahwa ternyata suku Indian bukan penunggan kuda, karena kuda-kuda itu baru hadir di belantara Amerika ketika bangsa Eropa menginvasi Amerika.

Alat pemersatu umat manusia paling fenomenal adalah uang, imperium, dan agama. Manusia yang tidak saling kenal, ketika menerima alat pembayaran uang dollar misalnya, langsung saja percaya bahwa dengan selembar kertas itu bisa digunakan di mana saja. Bahkan Osama Bin Laden yang getol memerangi kapitalisme Amerika akan senang menerima uang dollar untuk pembelian senjata!

Imperium adalah alat pemersatu yang sekaligus meruntuhkan sendi-sendi kemanusiaan. Bayangkan, apa yang terjadi pada suku Indian di Amerika atau suku aborigin di Australia dan Tasmania sebelum bangsa kulit putih mengginjakkan kaki mereka atas nama slogan: gold-glory-gospel?

Agama monoteis, Kristen dan Islam, adalah alat pemersatu umat manusia. Sifat penyebarnnya yang ekspansionis, seperti kelompok misionaris Kristen dan model dakhwah Islam yang menyebar ke mana-mana. Berbeda dengan metode agama Budah dan Hindu yang tidak ekspansionis.

Sekali lagi, bagi Harari, agama tak lebih sebagai alat pemersatu manusia, bukan jalan menuju surga (Surga itu fiksi atau fakta?)

Selanjutnya Harari membahas tentang revolusi sains, yang menurutnyta ditandai pada pukul 05:29:49 pada 16 Juli 1945 dengan dijatuhkannya bom atom di Alamgorodo, New Mexico, dan perjalanan manusia ke bulan. Selanjutnya, secara meyakinkan, Harari memberikan banyak contoh tentang perkembangan sains dan tekhnologi.

Bagian terakhir pada bab ini, Harari tampak religius dengan mengajukan pertanyaan mendasar: apakah manusia semakin bahagia setelah pencapaian yang luar biasa sejak 70.000 tahun yang lalu?

Mmasih pada bagain terakhir bukunya, Harari seperti sedang memberikan pengantar  pada buku seri keduanya, “Homo Deus”, yang menyatakan bahwa di masa depan manusia akan berubah secara evolusi dari binatang mejadi tuhan.

Penemuan manusia pada bidang sains telah menggantikan proses seleksi alam, digantikan di dalam ruang laboratorium melalui cara: rekayaa biologis, rekayasa siborg (separuh robot), dan rekayaa anorganik (sepenuhnya robot). Inilah awal tamatnya Homo sapiens dan digantikan makhluk lain ciptaannya sendiri!

Review buku oleh Hartono Rakiman, pendiri dan pengasuh Rumah Baca

 

Sang Raja

IMG_20181023_073841_126.jpg

Novel “Sang Raja” (KPG: September 2017), dan secangkir kopi vietnam drip.

Menulis sejarah bisa dari berbagai sudut pandang (angle). Iksaka Banu, salah satu penulis di tanah air, tertarik mengulas sejarah kerajaan bisnis rokok kretek di Kudus, dalam balutan novel berjudul “Sang Raja” (KPG: September 2017).

Iksaka Banu adalah seorang desainer grafis, lulusan FSRD ITB, yang lama  malang  melintang sebagai pengarah seni pada beberapa biro iklan di Jakarta, dan sekaligus penulis lepas di berbagai media nasional. Tak heran, dengan latar belakang dirinya itulah dalam novel ini terungkap banyak kisah menarik tentang bagaimana NV Nitisemito menjadi pelopor ide-ide kreatif dalam promosi rokok kretek yang dipakai hingga saat ini.

Ide-ide out of box yang dipakai kala itu antara lain adalah menyebar pamfel tentang rokok kretek Tjap Bal Tiga, yang menjadi merek rokok kretek NV Nitisemito, melalui pesawat  Foker F.VIIb milik Belanda yang disewa secara komersil. Ide ini terbilang liar kala itu, menjadikan alun-alun kota Bandung yang dijadikan target promosi seperti mendapat hujan salju berupa kertas pamflet warna putih melayang terbang di udara. Di kemudian hari, ide ini tampaknya ditiru oleh Tung Desem Waringin dengan menyebar uang lewat udara, yang mengundang kontroversi.

Ide lain adalah mensponsori acara kesenian rakyat Stamboel Bangsawan Melajoe, dengan mencetak berbagai media promosi seperti karcis tanda masuk, poster, hingga melatih para pemain untuk tampil menawarkan rokok melalui cerita guyonan saat selingan lawakan tiba.

Ide-ide kreatif NV Nitisemito terus menaglir, antara lain mendirikan Koedoesch Radio Vereeneging Bal Tiga dan Nitisemito Bioscoop sebagai channel informasi dan promosi rokok kretek mereka. Ide-ide kecil lain yang sampai saat ini masih dipakai dan diterapkan oleh hampir seluruh pabrik rokok dalam mempromosikan produknya adalah membuat mobil promosi keliling, menyelenggarakan paket hiburan malam, menyediakan hadiah pring, gelas, hingga sepeda, dengan menukarkan beberapa bungkus rokok. Ide-ide brilian soal promosi ini keluar dari tokoh Karmain dan Wirosoeseno.

Ide-ide kreatif itu bahkan masih muncul di bawah tekanan pemerintah pendudukan Jepang yang menginginkan propaganda: Nippon – cahaya, pelindung, dan pemimpin Asia. Di tangan Wirosoeseno, ketiga kata kunci itu diterjemahkan secara terpisah. Pesan Nippon sebagai “Cahaya Asia” dieksekusi pada bungkus korek api batangan. Pelindung Asia, dibuat dengan teknik saring di atas payung, dan Pemimpin Asia dicetak di atas empat kartu As, tepat di bawah gambar-gambar tokohnya! Semua media promosi itu digratiskan kepada setiap pembeli 5-10 bungkus rokok Bal Tiga!

Sekali lagi, sejarah kerajaan rokok dibedah dari sudut pandang yang berbeda. Alaih-alih menggali cerita dari keluarga besar Nitisemito, namun Iksaka Banu lebih suka mengurai sejarah dengan meminjam mulut kedua tokoh Wirosoeseno dan Filipus Rechterhand, yang tak lain adalah karyawan NV Nitisemito.

Cerita dimulai dengan munculnya tokoh wartawan Matahari Timur, Bardiman, yang ingin menggali sejarah dibalik kerajaan rokok yang dibangun Nitisemito hingga kejatuhannya pasca kemerdekaan Indonesia.

NV Nitisemito menjadi menarik untuk dikupas karena dialah satu-satunya perintis rokok kretek yang dimiliki pribumi tulen, jauh sebelum munculnya pabrik rokok sampai saat ini, yang mampu mempekerjakan lebih dari 10.000 karyawan, dan menyewa orang Belanda sebagai tenaga ahlli pembukuan (Poolman dan Filipus).

Layaknya sebuah kerajaan bisnis yang kaya raya waktu itu, kisah hidup  Nitisemito yang bernama asli Rusdi, anak seorang lurah sedikit terbalut intrik perempuan dan judi hasil pengaruh dari menantunya sendiri, Karmain. Namun dalam perjalanannya, Karmain harus tersingkir oleh Akoen Markoem, yang tak lain adalah cucu Nitisemito dari istri pertama. Karmain tersangkut kasus penggelapan pajak cukai rokok, yang dicurigai dipakai untuk mendanai pergerakan politik Sarikat Islam.

Jatuh bangun kerajaan rokok kretek NV Nitisemito dimulai sejak jaman pendudukan Belanda, Jepang, hingga kejatuhannya pasca kemerdekaan Indonesia, sekaligus selepas meninggalnya Sang Raja: Nitisemito.

Review novel oleh Hartono Rakiman, pendiri Rumah Baca.

ANTARA SELFIE, WEFIE, DAN SUAKA

DSC_1343.JPG

Cover buku “Suaka Batu Bertanah” terbitan KSDA Yogyakarta (2016), cover oleh Irvan Noviansyah.

Pada awal Juli 2017 lalu, saya mendapat tugas menulis Program Inovasi Desa di Nglanggeran, Pathuk Gunung Kidul. Di situ terdapat desa wisata yang mengelola Gunung Api Purba (GAP), embung, dan air terjun. Dari atas puncak GAP, saya mendapati segerombolan monyek ekor panjang (macaca fascicularis) yang mencari remah-remah makanan dari pengunjung. Rupanya kawasan pegunungan sewu merupakan habitat monyet ekor panjang itu.

Dari atas GAP, saya bisa menyaksikan bentangan alam yang maha luas Pegunungan Sewu di arah selatan, berbatasan langsung dengan laut selatan.

Pada perjalanan Wonosari – Panggang, dalam rangka silaturahmi ke rumah seorang tokoh spiritual di Panggang, saya melintasi kawasan Suaka Margasatwa (SM) Paliyan yang terletak kira-kira 10 KM dari Wonosari. Di kanan kiri jalan terdapat hutan jati dan tanaman keras lainnya, yang sudah mulai menghijau, di atas kondisi lahan – seluas 434,834 ha, yang orang setempat menyebutnya sebagai batu bertanah. Sebutan ini memang sesuai dengan kondisi tanah daerah Gunung Kidul yang didominasi oleh lapisan tanah yang tipis (ber-solum/ kedalaman rendah) dan mudah larut.

Pada awal bulan Agustus 2017 ini, saya mendapat hadiah buku dari seorang teman berjudul “Suaka Batu Bertanah: Rekam Jejak Pengelolaan SM Paliyan 2000 – 2015.” Seperti mengulang memori perjalanan saya sebelumnya ke Gunung Kidul sebulan yang lalu, mulailah saya belajar ilmu baru tentang konservasi.

Buku ini ditulis oleh anak-anak muda Yogjakarta, yang tergabung dalam Tim Penulis Balai KOnservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Yogyakarta. Mereka adalah Galatia Puspa, Miranda Harlan, Nurohmah Wisudhaningrum, Taufiq Nur Rachman, Gunawan Setiaji, dan Krsitiani Fajar Wianti.

Sebagai sebuah buku potret rekam jejak keberhasilan program konservasi, buku ini patut diapresiasi. Apresiasi pertama ditujukan pada Tim Penulis yang terdiri dari anak-anak muda yang nantinya  mengemban tugas menjaga kelestrian bumi untuk masa depan. Apresiasi kedua, ditujukan pada KSDA Yogyakarta yang telah dengan sabar dan konsisten mewujudkan tugas berat nan mulia untuk menjaga bumi yang kita huni ini. Proyek konservasi, dan sekaligus penulisan buku ini mendaat bantuan dari Mitsui Sumitomo Insurance, Jepang.

Buku terbagi dalam 12 tulisan, dengan struktur penyajian muai dari memotret permasalahan pada masa awal sebelum program konservasi dicanangkan hingga rangkuman sekaligus refleksi atas apa yang telah dilakukan KDSA sepanjang 15 tahun perjalanan melakukan konservasi di Paliyan.

Paling tidak, ada 3 permasalahan utama yang telah dan akan terus diupayakan jalan keluarnya untuk merawat kawasan SM Paliyan. Ketiga permasalahan itu adalah, (1). kawasan yang rusak, (2). konflik satwa-manusia, (3). tingginya jumlah penggarap di dalam kawasan.

Kiranya buku ini menambah sedikit khasanah tentang Gunung Kidul yang saat in sedang menggeliat sebagai destinasi baru obyek wisata, yang menjadikan kita sebagai peran utama dalam frame selfie dan wefie, dan bentangan alam hanya sebagai gambar latar semata.

Sempatkan waktu untuk melihat dan merasakan, betapa alama yang kita huni ini sejatinya sedang rapuh dan butuh diperhatikan, agar kita tetap bisa memuaskan nafsu selfie dan wefie, tanpa kelak harus menggantinya dengan wallpaper alam buatan.

Ringkasan buku oleh Hartono Rakiman, Pengasuh Rumah Baca.

Panggil Aku Peng Hwa

peng-hwaTahun baru Cina 2017 baru saja berlalu. Perayaan Imlek tahun 2017 jatuh pada hari Sabtu, tanggal 28 Januari 2017. Seperti biasa, tahun baru Imlek selalu ditandai dengan guyuran hujan. Tak bermaksud untuk ikut merayakan, atau mencoba merasakan suasana Imlek, tangan saya dengan ringan mencomot buku lama yang dijual secara diskon di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta. Yang menarik perhatian dari buku itu kombinasi antara judul buku. “Panggil Aku Peng Hwa,” dengan penulis buku Veven sp Wardhana. Di situ saya baru tahu, bahwa ternyata sosok penulis yang sering muncul di majalah Hai, sewaktu saya masih duduk di bangku SMP, ternyata orang Cina.

Buku ini merupakan kumpulan 20 cerpen Mas Veven, alias Effendi Wardhana, alias Peng Hwa. Judul cerpen pertama, yang menjadi judul kumpulan cerpen ini, dengan amat halus menceritakan betapa sulitnya menjadi orang Cina di Indonesia, terutama pada masa Orde Baru. Peng Hwa dengan amat terpaksa menggunakan nama negara, Effendi Wardhana, agar tak mudah jadi bahan olok-olok sebagai cina totok. Puncak dari kesulitan itu adalah tragedi kerusuhan Mei 1998 yang meninggalkan bekas luka mendalam pada korban kelompok etnis Cina.

Sebagian besar cerita yang lain ditulis dari sudut pandang korban perempuan etnis Cina. Di sana ada sosok Siao Cing Hwa, yang sempat ia jumpai di Katmandu, atau penyanyi Xiao Qing, yang ternyata adalah arwah penasaran perempuan Cina bernama Hsiao Tsing. Mereka  adalah beberapa potret luka hanya karena mereka dilahirkan sebagai orang Cina.

Melalui cerpen ini, Veven Sp Wardhana mencoba memotret sejarah yang harus menjadi ingatan kolektif bangsa Indonesia, bahwa di sana pernah terjadi tragedi yang memilukan. Tulisan serupa, yang terkait dengan tragedi Mei 1998, pernah ditulis Sindhunata, melalui novel Putri Cina yang pernah diulas di Rumah Baca.

Catatan singkat oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca


Data pengunjung

  • 330,119 Kunjungan

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

Goodreads

Advertisements