Hujan Bulan Juni

hujan bulan juni

Cover novel “Hujan Bulan Juni” (Gramedia: cetakan ke-7, Februari 2o16), karya Sapardi Djoko Damono

“Mboten lucu nggih mas,” kata tukang becak, yang membicarakan soal bulan Juni tapi hujan tetap turun, ketika Sarwono menyewa becak yang membawanya ke kios majalah Malioboro untuk membeli koran yang memuat tiga puisinya.

Tulisannya memang renyah, mengalir, namun tetap bertenaga. Menyambar persoalan hakiki cinta anak manusia yang gampang-gampang susah untuk dinyatakan dan mendapatkan jawaban. Novel ini juga secara mendalam menguliti budaya Jawa, Manado dan Jepang, melalui tokoh-tokohnya.

Sejak awal tulisan, kita akan dengan mudah terbawa dugaan bahwa tokoh Sarwono, seorang antropolog yang sering mendapat tugas meneliti berbagai persoalan sosial, mulai dari Kali Code, Ambon, hingga Papua, tak lain dan tak bukan adalah Sapardi Djoko Damono sendiri. Penggambaran sosok Sarwono yang kerempeng, punya penyakit paru-paru basah, dan malang melintang di kampus UI maupun UGM, akan membuat pembaca mudah mendakwa, itu adalah sosok Sapardi sendiri. Sapardi saat ini berprofesi sebagai guru besar pensiun di UI, dan guru besar tetap pada program pasca sarjana di IKJ, Undip, Unpad, dan ISI Solo.

Tulisannya mengalir deras, bak untaian prosa dan puisi, menyentil dan menyodok sosok penyair yang begitu puas dan bahagia menjumpai tulisannya sendiri dimuat di koran. Baginya, tulisan di media masa adalah medium komunikasi, seperti shaman, sang dukun, atau clairvoyant! Tiga puisi yang dimuat pada koran lokal adalah sebentuk curahan perasaan terdalam dirinya pada sosok perempuan yang saat itu sedang berada di Jepang. Perempuan  itu adalah Pingkan, gadis beribu Jawa, dan berayah Manado.

Sapardi dengan tangkas mengulik hubungan kedua anak manusia dewasa, yang ternyata tak mudah untuk berterus terang soal cinta. Sarwono, yang Jawa, dan Pingkan yang setengah Jawa-Manado, menyimpan potensi gagal membangun keluarga karena soal beda agama dan budaya.

Akankah Pingkan menemukan Matindas, dalam sosok Sarwono, lelaki dalam dongeng Manado? Apakah tiga puisi yang tercetak di koran Swara Keyakinan itu mampu terkirim dan terbaca Pingkan yang sedang berada di Jepang? Apakah sang waktu sanggup menjawab keresahan hati Sarwono, sebelum penyakit paru-paru basah mencekik napasnya?

/i/

bayang-bayang hanya berhak setia

menyusur partitur ganjil

suaranya angin tumbang

 

agar bisa berpisah

tubuh ke tanah

jiwa ke angkasa

bayang-bayang ke serbamula

 

suaramu lorong kosong

sepanjang kenanganku

sepi itu, mata air itu

 

diammu ruang lapang

seluas angan-anganku

luka itu, muara itu

 

/ii/

 

di jantungku

sayup terdengar

debarmu hening

 

di langit-langit

tempurung kepalaku

terbit silau

cahayamu

 

dalam intiku

kau terbenam

 

/iii/

 

kita tak akan pernah bertemu:

aku dalam dirimu

 

tiadakah pilihan

kecuali di situ?

 

kau terpencil dalam diriku

 

Yang terhanyut, Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

Max Havelaar

B6FlsvECQAAvIn1.jpg largeMax Havelaar (Narasi: 2015) adalah novel klasik yang sudah lama saya buru. Perjumpaan saya dengan buku ini terjadi tanpa sengaja. Itupun terjadi, setelah saya terbangun dari tidur siang di sebuah mal kecil di Kota Solo. Saya menemukan buku itu teronggok pada deretan rak buku. Dan itupun tinggal satu-satunya buku yang tersisa, dengan kondisi sampul plastik yang sudah terkoyak.

Sebelum membaca novel  ini, saya mencoba browsing di internet tentang sosok novel  Max Havelaar ini. Ternyata sudah ada beberapa penerbit Indonesia yang memegang hak terjemahan novel  ini, termasuk hasil terjemahan paling baik oleh HB Yassin. Novel  Yang ada pada tangan saya ini terbitan Narasi, cetak ulang ketiga tahun 2015.

Dari berbagai komentar yang pernah saya baca untuk resensi novel ini, terbitan Narsi termasuk yang kurang bagus terjemahannya. Tapi tak apalah, saya tetap mencoba mengunyah apa adanya, tanpa pretensi apa-apa. Nyatanya memang agak kesulitan mencerna tulisan novel Max Havelaar versi Bahasa Indonesia ini. Rupanya, ini adalah hasil terjemahan dari versi Bahasa Inggris, dan bukan terjemahan dari versi Bahasa Belanda asli. Padahal, kita punya banyak penterjemah Bahasa Belanda yang ahli di bidangnya.

Saya mengenal nama Max Havelaar sejak jaman SD dulu, berkat nama seorang tokoh pergerakan nasional  bernama  dr. Eduard Dowes Dekker, pendiri Boedi Otomo.

Max Havelaar adalah nama tokoh yang disematkan untuk seorang Asiten Residen di Lebak pada jaman pendudukan Belanda. Max Havelaar itu  tak lain dan tak bukan adalah sosok Douwes  Dekker itu sendiri, yang kemudian menggunakan nama samaran sebagai Multatuli.

Douwes Dekker memang pernah menjabat sebagai seorang Asisten Residen di Lebak. Tokoh Belanda yang satu in bisa dikatakan sebagai antitesa dari tokoh Belanda yang selama ini kita kenal sebagai sosok penjajah nan pongah.

Cara bertutur Multatuli untuk tokoh Max Havelaar agak sedikit memutar. Kisah dibuka dengan penggambaran tokoh Batavus Droogstoppel, seorang makelar kopi Amsterdam yang bekerja di Last & Co. Sebagai seorang makelar kopi yang hampir setiap hari berkutat dengan urusan laba dan uang, Drogstoppel tak suka puisi atau syair. Baginya, keduanya tak lebih dari kebohongan dan omong kosong belaka. Baginya, logika untung rugi , bisnis, dan hukum adalah sesuatu yang jelas dan pasti.

Menurut saya, penggambaran tokoh Drogstoppel adalah premis untuk meneguhkan mengapa kemudian buku ini lahir. Buku ini lahir sebagai sebuah kebenaran, bukan omong kosong belaka. Sebuah kebenaran yang harus dikabarkan, meskipun itu pahit adanya. Sebagaimana dalam keyakinan Multatuli, bahwa apa yang ditulisnya di sebuah losmen di Belgia itu, suatu hari akan dibaca orang. Dan keyakinannya itu kini menjadi kenyataan.

Karakter Drogstoppel ini seolah mencibir tentang moral yang tak pernah mendapat imbalan yang nyata di dunia. Baginya, moral adalah kecintaan pada kebenaran itu sendiri, dan kemudian kesetiaan pada takdir. Maka, praktis sejak Bab 1 hingga Bab 4, novel ini menceritakan Drogstoppel sebagai makelar kopi, yang kemudian berjumpa dengan sahabat lamanya, yang disebut sebagai lelaki berselendang. Lelaki itu kemudian minta bantuan kepada Drogstoppel untuk menerbitkan naskah tulisannya tentang Lebak.  Padahal sejak awal sudah dibuka dengan penegasan bahwa Drogstoppel tidak suka sastra, yang dia anggap sebagai omong kosong!

Tapi membaca kisah yang ditulis oleh sahabat lamanya itu, Drogstoppel berubah pikiran. Tulisan-tulisan tentang Lebak membuka matanya tentang sesuatu yang harus dikabarkan kepada dunia. Meskipun kemudian dia menyadari bahwa tulisan itu bisa jadi akan membuka kebusukan bangsanya sendiri di atas tanah jajahannya di Hindia Belanda.

Mulai Bab 5, novel ini  mulai menceritakan perjalanan tokoh Max Havelaar di Lebak. Sebagai sebuah novel  yang mencoba memotret sejarah pendudukan Belanda, maka di tengah-tengah kisah Max Havelaar, Multatuli juga menggambarkan kondisi sosio- geografis dan struktur pemerintahan pada masa itu.

Digambarkan bagaimana struktur pemerintahan jaman Hindia Belanda waktu itu  mengerucut dikepalai oleh seorang Gubernur Jenderal, kemudian di bawahnya dibantu Residen, Asisten Residen, Regen, dan  Bupati. Struktur pemerintahan itu kemudian dibandingkan dengan struktur pemerintahan di Eropa seperti kedudukan Count, Duke, dan Baron.

Menurut Multatuli, sudah terlihat pola hubungan yang aneh di sini, antara penjajah dan peribumi. Hubungan  keduanya diibaratkan sebagai hubungan kakak dan adik. Kakak yang penjajah, dan adik yang pribumi. Maka sebagai adik, wajib menghormati sang kakak.

Keberpihakan Max Havelaar pada rakyat jelata sudah mulai terlihat dari pidato pertamanya ketika pertama kali Max Havelaar menjabat Asisten Resisen di Lebak, juga pola relasi yang dia bangun dengan bawahan di sekitarnya.

Kemudian cerita mengalir, memotret carut-marut tata kelola pemerintahan Hindia Belanda  yang bekerja sama dengan para penguasa pribumi, yang ternyata justru tampil lebih kejam dibandingan para penjajah Belanda.

Para penguasa pribumi ini, yang menganggap dirinya golongan priyayi, tak sudi hidup susah. Maka dengan kekuasaan yang ada ditangannya, sebagai antek Belanda, mereka dengan sewenang-wenang memeras rakyat.

Multatuli kemudian menyisipkan kisah roman percintaan Saidah dan Adinda dalam buku ini, untuk menggambarkan betapa rakyat kecil sangat menderita karena ulah penguasa pribumi yang dengan sewenang-wenang  menarik pajak, mengambil kerbau yang menjadi andalan petani untuk bekerja di sawah. Maka kisah Saijah dan Adinda yang berbalut asmara, harus berakhir dengan kisah tragis.

Kisah tragis itu juga menimpa Multatuli sendiri, yang harus terkucil oleh bangsanya sendiri karena dianggap mencoreng muka dan martabat bangsa Belanda di dunia melalui tulisan-tulisannya di novel Max Havelaar ini. Tapi itulah kenyataan sejarah yang harus dia tulis, sepahit apapun itu.

Ini juga yang menjadi sebuah  kenyataan sejarah yang menyebutkan bahwa Belanda kemudian sanggup bercokol di Indonesia lebih dari 350 tahun, karena sebagian besar disokong oleh sikap penjilat dan penghisap dari penguasa pribumi itu sendiri.

Pramoedya Ananta Toer, seorang sastrawan besar yang dimiliki Indonesia, tak ketinggalan ikut menorehkan kritik  tentang Lebak ini, melalui bukunya “Sekali Peristiwa di Banten Selatan.”

Terlepas dari mutu terjamahan yang kurang nyaman untuk dibaca, buku Max Havelaar pantas untuk dibaca dan dimengerti oleh anak bangsa di Indonesia. Sebagaimana keyakinan Multatuli, “Ya, aku bakal dibaca.”

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

Out of the truck box

iqbal

Cover buku “Out of the truck box” karya Iqbal Aji Daryono (Mojo.co: 2015)

Orang satu ini memang khas turunan Jogja. Jago mbacot. Kalau bicara lunyu, alias licin seperti air yang lama menggenangi batu sehingga berlumut dan mudah membuat orang terpeleset dibuatnya. Gaya bertuturnya mbanyol ala Basiyo, orisinal, nylekit dan tanpa tedheng aling-aling.

Kumpulan tulisan Iqbal Aji Daryono memang kemripik, dikemas dalam buku “Out of the truck box” (Mojo.Co: 2015). Sekilas tulisannya remeh, tapi punya kedalaman makna dan mampu menohok cara berfikir kita. Meruntuhkan ideologi maupun keyakinan kita selama ini. Mengajak kita berantem dengan akal sehat, rasio, maupun keyakinan yang selama ini kita pegang teguh. Tujuannya memang untuk mengusik dogma yang sudah terlanjur menghujam dalam di dalam akar iman kita. “Buku ini berbahaya. Jangan coba-coba membacanya,” demikian peringatan yang disampaikan Harun Mahbub, seorang wartawan Tempo yang memberikan endorsement, sekaligus mengingatkan kita untuk tak coba-coba menyentuh buku ini kalau tak kuat iman.

Sejatinya Iqbal hanyalah seorang sopir truk di Ostralia (dia memang menyebut begitu untuk Australia). Dia kesasar di sana karena mengikuti istri yang sedang melanjutkan studi di Murdock University, Perth, Australia. Beasiswa yang diperoleh sang istri tak mencukupi untuk menghidupi mereka bertiga: Iqbal, istri, dan anak semata wayangnya, Hayun. Terpaksalah Iqbal jadi sopir, berbekal SIM keularan Polres mBantul, Jogja.

Disela-sela menyopir itulah keluar segala keresahan yang bersumber dari dalam diri ketika melihat segala fenomena yang ada di negari barunya. Sebuah negeri yang dia rasa sebagai negeri kering, yang tak lebih dari seonggok tanah merah dan serumpun semak belukar. Tak ada pepohonan aneka warna, atau sawah yang hijau membentang seperti di tanah kelahirannya. Pun tak ada warung kopi nan egaliter, tempat dia bisa bersenda gurau denga teman-teman mbacotnya. Tak da lelucon segar khas Basiyo atau Srimulat. Hari-hari dia lalui dengan segala kegaringan. Justru dari sanalah kemudian mengalir tulisan-tulisan yang mengusik akal sehat. Bisa jadi itu adalah sebentuk pelarian untuk menjaga kewarasan.

Tulisannya secara umum terbagi dua bagian. Bagian pertama berisi Negara-Negara, yang berisi pengenalan budaya negeri baru yang bernama Ostralia, termasuk pengenalan sahabat barunya dari berbagai negara: India, Afganistan, Macedonia, Jerman, dll. Bagian kedua adalah Manusia-Manusia. Nah, bagian kedua inilah banyak bertebaran tulisan nakal yang akan mengusik akal sehat dan keyakinan kita selama ini. Jika tak kuat iman, kita akan segera goyah, dan ikut manggut-manggut dibuatnya. Tulisannya sebagian besar berlatar belakang analisa psikologi. Dia bisa dengan ringan mengupas soal pilihan agama, perdebatan ideologii syiah-sunni, taliban, soal spritualisme buah apel, makanan berdaging atau soal brengseknya kamera pengawas yang serupa “God eye” yang akan dengan mudah membuat kita masuk ke dalam jurang kemusyrikan.

Percayalah. Anda yang baru setingkat S1, nggak bakal sanggup mengunyah tulisan ini. Karena Iqbal sejatinya sudah sampai pada tataran S4 (seri HP yg dia punya, he…he…), maksudnya setingkat S3, yaitu setingkat para lulusan doctor yang sudah mampu berfikir menggugat asumsi mapan menyorong pendapat yang berseberangan.
Iqbal adalah sedikit penulis yang muncul belakangan ini, yang mengupas tulisan soal kehidupan sehari-hari sebagi tulisan non-fiksi secara ringan, dan itu tadi: kemripik!

Bandingkan dengan tulisan-tulisan saya di buku “Mabuk Dolar di Kapal Pesiar” (Rumah Baca: 2010) dan “Dilema: Kisah Dua Dunia Dari Kapal Pesiar” (Rumah Baca: 2012) yang juga berusaha mengulik persoalan manusia di atas kapal pesiar dari persepktif kemanusiaan. Kami ternyata sama-sama TKI. Bedanya kalau Iqbal bolak-balik di negara bagian Perth, Australia, sementara saya melalang buana di atas kapal pesiar. Kami sama-sama menjadi korban sebuah nasib yang harus dijalani, yaitu menjadi TKI. Bedanya, ya tentu saja cara bertuturnya lewat tulisan dan mengemasnya dalam sebuah buku.

Silahkan berfikir dua kali sebelum menyentuh buku ini. Selebihnya, terserah Anda.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

DSC_0569.JPG

Bela-belain baca bukunya Iqbal sambil nunggu stand Rumah Baca, saat belum ramai diserbu pengunjung:)

Om Anthony Giddens dan Penanggulangan Penyakit Tuberculosis

0745600077constsoc.inddPada suatu sore di hari minggu tanggal 6 November 2015 Jakarta Utara dan sekitarnya disiram air hujan yang begitu deras disertai angin yang cukup kencang. Hujan berlangsung cukup lama hampir 3 jam. Tentu saja hujan tersebut membuat panik warga Jakarta yang tinggal di daerah pinggiran dan padat penduduk seperti saya. Air mulai masuk ke dalam rumah, itu artinya kami harus segera menyelamatkan barang-barang yang ada di lantai bawah. Bagi saya barang-barang yang harus diselamatkan adalah buku-buku yang kebetulan beberapa berada di rak bawah. Ya, buku adalah koleksi berharga yang harus segera dievakuasi terlebih dahulu. Adapun barang-barang yang lain rasanya tak perlu diselamatkan karena saya yakin air akan kembali surut ketika hujan berhenti.

Setelah hujan surut, perhatian saya tertuju pada setumpuk buku yang saya selamatkan dari basahnya genangan air hujan. Jumlahnya sekitar 13 Buku hasil pemikiran satu tokoh yang cukup ternama, yaitu Anthony Giddens. The Constitution of Society, Capitalism and Modern Social Theory, The Consequences of Modernity, dan beberapa judul lainnya adalah karya-karya tokoh yang berasal dari inggis tersebut yang cukup membuat aku jatuh hati padanya.

Perkenalan dengan pemikiran Anthony Giddens, berawal dari seorang senior dan mentor saya di Jakarta yang sedang melakukan riset tentang Pemilukada di Indonesia yang membutuhkan asisten penelitian dan beliau memintaku mencarikan teman yang dari jurusan sosiologi untuk membantu membuatkan resume terhadap buku-buku Anthony Giddens. Saya langsung merekomendasikan Azzam, senior saya yang memang dari jurusan sosiologi dan waktu itu sedang studi S2 di Center for Religion and Cross-Culture Studies di UGM. Awalnya setelah perkenalan dan diskusi pertama di apartemen mentor saya itu di Kalibata city, beliau merasa cocok dengan Azzam. Namun setelah beberapa minggu,karena terkendala jarak, akhirnya Azzam mengundurkan diri. Dan karena merasa tidak enak, saya menawarkan diri untuk menggantikan Azzam. Singkatnya, sayalah yang harus membaca setumpuk buku-buku Giddens.

Gagasan besar Giddens menurut pembacaan saya terletak pada upaya Giddens untuk mendamaikan pergolakan pemikiran ilmuan sosial modern yang menurutnya terlalu deterministic dalam menjawab persoalan sosial. Giddens berpendapat bahwa Obyek utama dari ilmu sosial bukanlah peran sosial (social role) seperti dalam Fungsionalisme Talcot Parsons, bukan kode tersembunyi (hidden code) seperti dalam Strukturalisme Claude Levi Strauss, bukan juga dari keunikan situasional seperti dalam Interaksionisme Simbolis Erving Goffman. Bukan keseluruhan, bukan bagian, bukan struktur bukan pula pelaku perorangan, melainkan titik temu antara keduanya. Oleh karena itulah teori strukturasi merupakan “jalan tengah” untuk mengakomodasi dominasi struktur atau kekuatan sosial dengan pelaku tindakan (agen).

Sederhanyanya saya ilustrasikan begini, ketika membaca fenomena sosial yang terjadi di lingkungan kita, sebagian orang sering berpendapat “oh, ini sistemnya yang keliru”, sedangkan yang lain berpendapat “tidak, sistemnya sudah bagus, orang-orang yang menjalankan sistem tersebut yang keliru”. Bagi Giddens jawaban tersebut terjabak pada dualisme yang terlalu deterministik. Jawaban pertama menurutnya berarti menitikberatkan sistem (stuktur) dari pada individu (Giddens menggunakan kata “Agen”), sedangkan jawaban kedua sebaliknya, mengutamakan Agen daripada struktur.

Untuk mengkritik pendapat-pendapat tersebut, Giddens mengembangkan teori Strukturasi. Teori strukturasi merupakan jalan tengah yang menjembatani perdebatan panjang dua mazhab besar ilmu sosial yaitu antara paradigma tindakan sosial yang menekankan pada subyek-aktor-agen seperti pada interaksionisme simbolis, etnometodologi, dan penganut Weberian dengan pandangan strukturalis yang memusatkan perhatian pada struktur seperti dalam paradigma strukturalisme fungsional dan teori sistem penganut Durkhemian dan Parsonian. Untuk yang pertama, mereka beranggapan bahwa subjektivitas adalah pusat pengalaman kebudayaan dan sejarah, sehingga tindakan dan makna mendapatkan posisi utama dalam penjelasan perilaku manusia, sehingga mengabaikan struktur sosial. Sedangkan yang kedua, mereka justru menekankan konsep struktural lebih mendapat posisi utama daripada tindakan.

Jika dua kutub pemikiran ilmu sosial memposisikan Agen dan struktur dalam posisi yang dualisme dan kontradiktif, teori strukturasi menggambarkan hubungan dialektis antara struktur dengan agen. Struktur dan agen adalah dualitas; tak ada satupun yang bisa eksis tanpa keberadaan yang lain. Berbeda dengan Durkheimian tentang struktur yang lebih bersifat mengekang-memaksa (contsraining), struktur dalam gagasan Giddens juga bersifat memberdayakan (enabling). Luar biasa bukan?

Setelah membaca ulang Giddens, saya mendapat jawaban atas dua strategi utama yang dirumuskan dalam penanggulangan penyakit tuberculosis pada program Community Empowerment of People Against Tuberculosis yang dilakukan oleh Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama yaitu Mobilisasi dan Advokasi. Dulu saya bertanya-tanya, kenapa harus dua strategi itu yang harus dilakukan dalam memberantas penyakit tuberculosis. Kenapa kita tidak fokus pada strategi yang pertama saja? Kita cukup memberikan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat, melatih tokoh agama dan tokoh masyarakat, dan mengajak masyarakat untuk berobat ke puskesmas. Atau kita cukup melakukan advokasi saja dengan mendorong peningkatan pelayanan puskesmas, mengawal kebijakan pemerintah dan mendorong pemerintah daerah mengeluarkan perda atau semacamnya.

Kalau saja om Giddens dengar pertanyaan tersebut, tentu saja dia akan langsung menegur saya “ente keliru bro, kedua komponen tersebut harus berjalan beriringan dan tak bisa dipisah-pisahkan”. Mungkin om Giddens juga akan berkata “sampaikan salam takjub ane ama orang-orang yang merumuskan strategi penanggulangan penyakit TB CEPAT-LKNU ya”.

Saya tidak tahu apakah yang merumuskan strategi tersebut pernah membaca Giddens atau belum. Tetapi ketika saya yang memang terlibat dalam program tersebut, merasa corak pemikiran Giddens begitu terasa. Bagaimana tidak,Perubahan sosial bagi Giddens bisa terjadi jika para agen mampu melakukan reflective monitoring of action sehingga mereka mampu keluar dari rutinitas dan melakukan de-routinisation. Dalam program CEPAT, misalnya untuk menghilangkan stigma dan diskriminasi masyarakat yang biasanya diterima oleh pasien TB adalah dengan membekali pengetahuan yang cukup kepada para agen (kader, tokoh agama dan masyarakat) sehingga mereka melakukan derutinisasi terhadap stigma dan diskriminasi yang biasanya berasal dari norma dan kepercayaan yang berlaku di masyarakat. Dan banyak lagi kemiripan gagasan dalam strategi-strategi yang dijalankan oleh CEPAT-LKNU dengan apa yang rumuskan oleh Giddens.

Walhasil, saya telah berhasil menemukan rangkaian benang merah antara apa yang pernah saya lakukan di masa lampau dengan apa yang sedang saya lakukan di masa kini. Kini saya tersenyum optimis menyambut hari esok dengan penuh semangat. Semoga di hari esok Indonesia bisa terbebas dari penyakit Tuberculosis dan kita adalah pelaku sejarah yang mungkin tak akan tertulis dalam buku sejarah.

Review buku oleh Agus Herlambang, Koordinator Kota CEPAT-LKNU Jakarta Utara.

Diary Pramugari: Seks, Cinta dan Kehidupan

diary-pramugariJangan pernah meremehkan sumber ilmu, di manapun dan dalam bentuk apapun. Termasuk dalam tumpukan buku-buku lama yang telah kita anggap kuno dan tak mengikuti perkembangan jaman. Karena sekali lagi, pengetahuan dan sumber ilmu tersimpan di mana-mana, tergantung kepada kemauan dan kesanggupan menyerapnya.

Novel yang berdasarkan kisah nyata seorang pramugari ini saya temukan dalam tumpukan buku lama, ketika ada acara bersih-bersih rumah, semenjak kemarau panjang menyerang. Debu menempel tebal di mana-mana, tak terkecuali dalam tumpukan buku-buku.
Novel berjudul “Diary Pramugari: Seks, Cinta, dan Kehidupan” (Pohon Cahaya: 2011) karya Agung Webe ini pada mulanya saya kira sebagi novel esek-esek yang nggak perlu dibaca. Melihat cover dan judulnya sangat tendensius mengajak pembaca mengintip rahasia hidup seseorang yang enak untuk dipergunjingkan: pramugari, PSK, wanita malam, atau semacamnya. Nyatanya, setelah membaca novel ini, saya tak menemukan maksud buruk seperti yang tergambar pada cover dan judul novel. Mungkin ini strategi marketing biasa. Ada kalanya berhasil, tapi ada kalanya gagal. Untuk pembaca kebanyakan yang berharap mendapat bacaan esek-esek, mungkin akan sedikit kecele. Sebaliknya, untuk pembaca serius yang ingin mendapat pembelajaran hidup bisa saja tidak akan pernah menyentuh novel ini karena cover dan judulnya yang tendensius.
Nyatanya, saya “kesasar” juga untuk membaca novel ini secara tidak sengaja, sebagai hadiah bersih-bersih rumah.

Novel ini bersumber dari kisah hidup Jingga (bukan nama sebenarnya), seorang perempuan dari daerah Mojosongo, Solo, yang menjalani hidup sebagai seorang pramugari. Dalam perjalanan hidupnya, Jingga dipertemukan dengan Anya yang tak percaya agama. Tapi Jingga justru banyak belajar tentang hidup dari sosok Anya. Tokoh lain yang mewarnai hidupnya adalah Puri, anak orang kaya yang hiperseks dan tertarik dengan profesi pramugari karena bisa memuaskan dirinya. Puri kemudian hamil, buah dari pergaulan bebasnya dengan Igo, sosok lelaki yang hampir memperkosa Jingga. Tokoh lain yang paling penting dalam perjalanan hidup Jingga adalah Mas Gede dan Alvin.

Perjalanan hidup Jingga sebagai pramugari pada awalnya adalah sebuah pelarian hidup karena dirinya merasa kotor. Masa sekolah SMP pernah mendapat pelecehan seksual dari guru olahraganya sendiri. Trauma masa kecilnya begitu membekas, hingga Jingga berkesimpulan bahwa setiap lelaki adalah bangsat! Trauma itu menjadi bertambah-tambah ketika menemukan kenyataan ayahnya kawin lagi, ketika ibunya sakit. Semenjak itu, Jingga sangat membenci ayahnya sendiri.

Paras Jingga memang cantik, berkulit kuning langsat, seperti orang Cina. Padahal Jingga beribu dan berayah Jawa. Perjalanannya ke negeri Cina saat menjalankan tugas sebagai pramugari menguak salah satu rahasia terbesar hidupnya, tentang siapa sebenarnya dirinya. Perlukah kebencian pada sosok laki-laki seperti ayahnya pantas untuk diteruskan? Pertemuannya dengan tokoh Mas Gede, seorang paranormal yang tinggal di daerah Bekasi membuka sesak sumpek hidupnya, hingga Jingga siap untuk menerima segala beban hidup, termasuk kemauan dirinya membuka pintu hatinya untuk seorang lelaki: Alvin. Alvin, sosok lelaki yang baik, seolah menjadi sandaran hidup masa lalunya yang kelam, meskipun Alvin beragama Katolik, dana Jingga sendiri seorang muslimah.

Plot cerita dalam novel ini sangat menarik. Termasuk pelajaran hidup tentang toleransi, kematian, reinkaransi, katarsis, dll. Sepertinya Agung Webe ingin menjelaskan pandangan hidupnya tentang kehidupan. Kebetulan Agung Webve adalah seorang praktisi hipnoterapi, dan banyak menyelenggarakan sesi pelatihan. Saya curiga, tokoh Mas Gede, tak lain dan tak bukan adalah dirinya sendiri.

Sungguh, kita bisa belajar banyak dari siapapun dan dari apapun yang ada di sekitar kita. Termasuk dari novel yang pada awalnya saya kira berbau esek-esek ini.

Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca


Data pengunjung

  • 246,008 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

25

21

20

More Photos

Goodreads


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,987 other followers