ANTARA SELFIE, WEFIE, DAN SUAKA

DSC_1343.JPG

Cover buku “Suaka Batu Bertanah” terbitan KSDA Yogyakarta (2016), cover oleh Irvan Noviansyah.

Pada awal Juli 2017 lalu, saya mendapat tugas menulis Program Inovasi Desa di Nglanggeran, Pathuk Gunung Kidul. Di situ terdapat desa wisata yang mengelola Gunung Api Purba (GAP), embung, dan air terjun. Dari atas puncak GAP, saya mendapati segerombolan monyek ekor panjang (macaca fascicularis) yang mencari remah-remah makanan dari pengunjung. Rupanya kawasan pegunungan sewu merupakan habitat monyet ekor panjang itu.

Dari atas GAP, saya bisa menyaksikan bentangan alam yang maha luas Pegunungan Sewu di arah selatan, berbatasan langsung dengan laut selatan.

Pada perjalanan Wonosari – Panggang, dalam rangka silaturahmi ke rumah seorang tokoh spiritual di Panggang, saya melintasi kawasan Suaka Margasatwa (SM) Paliyan yang terletak kira-kira 10 KM dari Wonosari. Di kanan kiri jalan terdapat hutan jati dan tanaman keras lainnya, yang sudah mulai menghijau, di atas kondisi lahan – seluas 434,834 ha, yang orang setempat menyebutnya sebagai batu bertanah. Sebutan ini memang sesuai dengan kondisi tanah daerah Gunung Kidul yang didominasi oleh lapisan tanah yang tipis (ber-solum/ kedalaman rendah) dan mudah larut.

Pada awal bulan Agustus 2017 ini, saya mendapat hadiah buku dari seorang teman berjudul “Suaka Batu Bertanah: Rekam Jejak Pengelolaan SM Paliyan 2000 – 2015.” Seperti mengulang memori perjalanan saya sebelumnya ke Gunung Kidul sebulan yang lalu, mulailah saya belajar ilmu baru tentang konservasi.

Buku ini ditulis oleh anak-anak muda Yogjakarta, yang tergabung dalam Tim Penulis Balai KOnservasi Sumber Daya Alam (KSDA) Yogyakarta. Mereka adalah Galatia Puspa, Miranda Harlan, Nurohmah Wisudhaningrum, Taufiq Nur Rachman, Gunawan Setiaji, dan Krsitiani Fajar Wianti.

Sebagai sebuah buku potret rekam jejak keberhasilan program konservasi, buku ini patut diapresiasi. Apresiasi pertama ditujukan pada Tim Penulis yang terdiri dari anak-anak muda yang nantinya  mengemban tugas menjaga kelestrian bumi untuk masa depan. Apresiasi kedua, ditujukan pada KSDA Yogyakarta yang telah dengan sabar dan konsisten mewujudkan tugas berat nan mulia untuk menjaga bumi yang kita huni ini. Proyek konservasi, dan sekaligus penulisan buku ini mendaat bantuan dari Mitsui Sumitomo Insurance, Jepang.

Buku terbagi dalam 12 tulisan, dengan struktur penyajian muai dari memotret permasalahan pada masa awal sebelum program konservasi dicanangkan hingga rangkuman sekaligus refleksi atas apa yang telah dilakukan KDSA sepanjang 15 tahun perjalanan melakukan konservasi di Paliyan.

Paling tidak, ada 3 permasalahan utama yang telah dan akan terus diupayakan jalan keluarnya untuk merawat kawasan SM Paliyan. Ketiga permasalahan itu adalah, (1). kawasan yang rusak, (2). konflik satwa-manusia, (3). tingginya jumlah penggarap di dalam kawasan.

Kiranya buku ini menambah sedikit khasanah tentang Gunung Kidul yang saat in sedang menggeliat sebagai destinasi baru obyek wisata, yang menjadikan kita sebagai peran utama dalam frame selfie dan wefie, dan bentangan alam hanya sebagai gambar latar semata.

Sempatkan waktu untuk melihat dan merasakan, betapa alama yang kita huni ini sejatinya sedang rapuh dan butuh diperhatikan, agar kita tetap bisa memuaskan nafsu selfie dan wefie, tanpa kelak harus menggantinya dengan wallpaper alam buatan.

Ringkasan buku oleh Hartono Rakiman, Pengasuh Rumah Baca.

Panggil Aku Peng Hwa

peng-hwaTahun baru Cina 2017 baru saja berlalu. Perayaan Imlek tahun 2017 jatuh pada hari Sabtu, tanggal 28 Januari 2017. Seperti biasa, tahun baru Imlek selalu ditandai dengan guyuran hujan. Tak bermaksud untuk ikut merayakan, atau mencoba merasakan suasana Imlek, tangan saya dengan ringan mencomot buku lama yang dijual secara diskon di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta. Yang menarik perhatian dari buku itu kombinasi antara judul buku. “Panggil Aku Peng Hwa,” dengan penulis buku Veven sp Wardhana. Di situ saya baru tahu, bahwa ternyata sosok penulis yang sering muncul di majalah Hai, sewaktu saya masih duduk di bangku SMP, ternyata orang Cina.

Buku ini merupakan kumpulan 20 cerpen Mas Veven, alias Effendi Wardhana, alias Peng Hwa. Judul cerpen pertama, yang menjadi judul kumpulan cerpen ini, dengan amat halus menceritakan betapa sulitnya menjadi orang Cina di Indonesia, terutama pada masa Orde Baru. Peng Hwa dengan amat terpaksa menggunakan nama negara, Effendi Wardhana, agar tak mudah jadi bahan olok-olok sebagai cina totok. Puncak dari kesulitan itu adalah tragedi kerusuhan Mei 1998 yang meninggalkan bekas luka mendalam pada korban kelompok etnis Cina.

Sebagian besar cerita yang lain ditulis dari sudut pandang korban perempuan etnis Cina. Di sana ada sosok Siao Cing Hwa, yang sempat ia jumpai di Katmandu, atau penyanyi Xiao Qing, yang ternyata adalah arwah penasaran perempuan Cina bernama Hsiao Tsing. Mereka  adalah beberapa potret luka hanya karena mereka dilahirkan sebagai orang Cina.

Melalui cerpen ini, Veven Sp Wardhana mencoba memotret sejarah yang harus menjadi ingatan kolektif bangsa Indonesia, bahwa di sana pernah terjadi tragedi yang memilukan. Tulisan serupa, yang terkait dengan tragedi Mei 1998, pernah ditulis Sindhunata, melalui novel Putri Cina yang pernah diulas di Rumah Baca.

Catatan singkat oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

Happy Career

happy careerPada libur lebaran tahun 2016 ini, saya pulang kampung dan berjumpa  teman SD yang kini sudah beruban dan ada gurat ketuaan di wajahnya. Dia sendiri mengakui bahwa sekarang merasa sudah tua, mungkin karena sudah punya cucu. Saya hampir tidak mengenali wajahnya, kalau dia tidak menyapa lebih dulu. Secara berseloroh, dia berkata bahwa saya terlihat jauh lebih muda dan segar. Tapi dari sorot mata dan senyumnya, saya masih bisa menyaksikan, bahwa di usia tuanya, dia masih tampak bahagia dengan kehidupan sehari-harinya sebagai petani di desa.

Teman SD saya yang tinggal di desa itu pasti tidak pernah membaca soal tips hidup bahagia. Apalagi membaca buku tentang cara mengejar keberhasilan karir dengan lebih dulu mengejar kebahagiaan. Hidupnya sebagai petani pastilah sudah menjadi jalan hidupnya, menjadi karir sepanjang hidupnya. Tapi melalui perjumpaan singkat itu, saya melihat sendiri dia terlihat bahagia, meskipun tersaput keriput dan uban di kepalanya.

Sebagai pengasuh komunitas Rumah Baca, saya punya kesempatan yang luas untuk belajar dari buku-buku yang saya baca, dan berdiskusi dengan teman-teman komunitas, termasuk buku “bergenre mengejar bahagia”  yang ingin saya tulis di sini.

Saya menjumpai buku “Happy Career”: Cara Mengejar Keberhasilan Karier dengan Lebih Dulu Mengejar Kebahagiaan, tulisan Elvi Fianita (Gramedia: 2016), sebagai pengingat beberapa hal yang pernah saya pelajari atau pernah saya alami dalam hidup. Beberapa hal yang baru,  semakin memperkaya pemahaman dan keyakinan soal hidup bahagia dalam karir.

Buku-buku serupa yang pernah saya bahas di Rumah Baca, untuk menyebut beberapa di antaranya: Manajemen Apresiatif, Setengah Isi-Setengah Kosong, The Lost Secret Of SuccessThe Excellent Life, dan Makrifat Jawa. Sekali lagi, saya menjadi punya banyak kesempatan untuk belajar dan memperbaiki hidup setiap hari melalui kegiatan membaca.

Buku “Happy Career” ini cukup unik dalam tampilan isinya. Mengikuti kecenderungan minat baca manusia modern yang tak bisa lagi berlama-lama dengan teks yang padat, apalagi bersaing dengan gadget di tangan, maka tampilan harus ringkas, tapi tetap menarik. Buku ini tergolong tipis, dengan 93 halaman.  Isi buku dikemas layaknya orang membaca slide presentation. Terdapat banyak potongan quote, catatan ringkas, sticky notes, tips, dan kolom kecil berisi ringkasan perjalanan hidup seorang inspirator.

Buku ini secara garis besar terbagi dalam 3 bagian: catatan awal, 9 prinsip bahagia yang mendatangkan sukses, dan penutup. Kesembilan prinsip itu adalah: temukan pekerjaan yang sesuai dengan diri anda yang sesungguhnya, tetapkan target dan tujuan, menggunakan kelebihan anda sesering mungkin, temukan “panggilan hidup” dalam pekerjaan anda, membuat bekerja seperti bermain, be optimistic, mampu bangkit di saat-saat sulit, berinvestasi di lingkungan sosial, dan mens sana in corpore happy.

Pasti ada plus minusnya dengan membaca buku model ringkasan seperti ini. Kelebihannya adalah pembaca memiliki catatan pengingat tentang prinsip-prinsip yang pernah dibaca di banyak buku yang lain atau yang bersumber dari pengalaman hidup. Kekurangannya adalah, pembaca tak mendapatkan gambaran secara mendalam dengan apa yang dibacanya, kecuali seperti sedang menghafal sebuah deretan prinsip atau pedoman hidup bahagia. Ringkasan dalam buku akan  mengambil peran aktif pembaca dalam mengambil kesimpulan. Padahal, kesimpulan satu orang dengan orang yang lain  bisa berbeda, tergantung kepada tingkat kematangan emosi dan pengetahuan seseorang. Dan itu jauh lebih mengendap dan menjadi prinsip hidup yang akan dia yakini sendiri apabila membaca secara utuh sebuah buku inspiratif. Misalnya membaca biografi Habibie, Dalai Lama, Bill Gates, atau bahkan Soeharto.

Sedikit catat tentang buku ini, sebagai salah satu cara mengejar keberhasilan karir, akan lebih baik kalau pada bagian akhir setiap prinsip disediakan latihan kepada pembaca berupa check list harian. Dari sana pembaca dapat menilai sendiri apakah sudah terjadi perubahan dalam  hidup menuju bahagia atau belum.

Sebagai catatan lain, penulis buku adalah seorang psikolog, dan menyebut dirinya sebagai happiness coach. Berbagai jenis pelatihan pernah dia berikan, terkait dengan motivasi kerja, karir, kreativitas, dan perkembangan pribadi.  Dia pasti punya kompetensi untuk menulis tentang semua hal yang terkait dengan motivasi dan perubahan perilaku seseorang.

Selebihnya, saya selau mengatakan bahwa ilmu ada di mana-mana. Termasuk, salah satunya, dengan membaca buku ini. Be happy!

Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

Ustadz seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online

ustadz-seleb-bisnis-moral-fatwa-online

Cover buku “Ustadz Seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online (Komunitas Bambu: 2012)

Buku yang bermuatan analisis tajam soal perubahan perilaku suatu masyarakat, hanya menangguk sedikit pembaca. Padahal, sebagian besar pembaca Indonesia, yang mayoritas muslim, adalah “korban” dari sebuah perubahan yang bernama komodifikasi Islam itu.

Buku “Ustadz seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online” (Komunitas Bambu: 2012) merupakan terjemahan dari sebuah proyek Indonesia yang dikerjakan oleh Greg Fealy dan Sally White, dengan judul “Expressing Islam: religious life and politics in Indonesia” (Singapore: ISEAS Publishing Institute of Southeast Asian Studies, 2008).

Buku ini secara tajam merangkum berbagai aspek perubahan itu, dari berbagai perspektif: ekspresi kesalehan pribadi; ekspresi politik, sosial, dan hukum; ekspresi ekonomi. Tulisan dirangkum dari berbagai analisa oleh para pakar luar negeri dan Indonesia, seperti M.C. Ricklef, Maria Ulfah Anshor, Umar Juoro, hingga Muhammad Syafii Antonio.  Tapi sebagai sebuah analisa, buku ini tak bermaksud memberikan penghakiman secara membabi buta bahwa proses perubahan komodifikasi Islam sebagai sebuah kemunduran Islam. Alih-alih, justru memberikan ruang kepada pembaca untuk mengamati apa sebenarnya yang telah terjadi. Apakah yang dilakukan selama ini benar-benar telah sesuai tuntunan Islam, atau jangan-jangan hanya terseret dalam euphoria Islam yang salah?

Ada begitu banyak peristiwa yang berserak, yang menggambarkan betapa perubahan ke arah komodifikasi Islam itu dimulai sejak tumbuhnya perekonomian di Indonesia di bawah rejim Orde Baru.  Mulailah tumbuh kelas menengah atas, terpelajar, dan tinggal di perkotaan. Pertumbuhan kelompok OKB (orang Kaya Baru) ini mulai tampak pasca 1990-an.  Pertumbuhan itu tergambar dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari  munculnya penerbitan yang berbau Islam, seperti majalah Sabili, Hidayah, hingga harian Republika. Muncul pula agen-agen perjalanan wisata spiritual, ziarah walisongo, paket umrah ke tanah suci bersama selebriti terkenal. Pasar komoditas juga  merambah dari obat-obat herbal, bekam, rukyah, multi-level marketing, fashion muslim, perbankan syariah, dan tentu saja label halal.

Munculnya ustadz-ustadz seleb yang tampil di televisi, dengan pengetahuan Bahasa Arab dan hukum Islam yang minim, tak membuat orang mundur, bahkan berbondong-bondong mendatangi majlis taklim yang mereka dirikan. Fenoma the holly man from Indonesia, AA Gym, turut meramaikan perubahan ini. Ustadz kondang Arifin Ilham, Yusuf Mansyur, Uje, dll adalah sederet nama yang mereka kenal dan elu-elukan. Sebagian besar “para pengikut” mereka adalah sekelompok muslim perkotaan yang merasa menemukan perwakilan dari keseharian mereka sendiri, dengan cara yang mudah dan moderat. Ustadz Uje yang mantan pemakai narkoba dan bintang film, segera menemukan banyak pengikut, bahwa masa lalu yang gelap bisa menemukan pertobatan di masa kini. Ustadz Yusuf Mansur, yang masa lalunya pernah bangkrut secara ekonomi sanggup bangkit kembali dengan menemukan rahasia berderma, melalui jargon “kun fayakuun.”

Benarkah ini pertanda bahwa masyarakat Indonesia telah menjadi muslim yang sebenar-benarnya? Ahmad Syafii Ma’arif, mantan Ketua PP Muhammadiyah, dengan miris mengatakan, “Sebagian dari popularitas Islam saat ini bersifat luar daripada dalam, dan kalangan Muslim yang baru itu lebih peduli untuk kelihatan Islam daripada menjadi Islam.”

Naik turunnya tingkat keimanan sesorang, tak bisa dilihat dari besar kecilnya perhatian mereka pada sesuatu  yang berbau Islam. Pangsa pasar bank syariah di Indonesia, ternyata hanya meraup 2% dari total nasabah. Berbeda dengan Malaysia yang mencapai 20%. Jumlah pembaca majalah Hidayah untuk setiap kali terbitannya, ditunggu sekitar 2,1 juta pembaca Indonesia. Sementara harian Republika hanya dibaca 230 ribu pembaca saja. Berbeda dengan harian Kompas, yang hampir menguasai pangsa pasar pembaca harian di Indonesia.

Menarik pula untuk mendapat gambaran, apakah perubahan ini mampu menyeret seseorang lebih moderat, toleran, atau justru mendorong seseorang menjadi radikal?

Buku ini juga menganalisa dari ekspresi politik, sosial, dan hukum, sekaligus ekspresi ekonomi. Dari sisi politik, ternyata jumlah suara yang mengalir untuk partai-partai yang berbasis Islam, apabila semuanya digabungkan (PKB, PKS, PPP, Bulan Bintang) tak lebih dari 30% saja, padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam.

Pada akhirnya, dengan luas dan kompleksnya permasalahan Islam di Indonesia membuat analisa yang rapi dan komprehensif menjadi hampir mustahil dilakukan. Maka, kita akan bisa keliru menyimpulkan sesuatu apabila hanya memperhatikan satu bagian tertentu dan tak melihatnya secara menyeluruh.

Akhirnya, buku ini tetap wajib untuk dibaca oleh pembaca muslim yang tak mau menjadi “korban” dari komodifikasi Islam, atau pembaca umum yang ingin mengetahui perkembangan yang terjadi saat ini. Sebagai sebuah proses perkembangan, maka bisa saja arah perubahan itu bisa jauh berbeda dengan apa yang terjadi sekarang ini.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

Wasripin & Satinah

wasripin

Cover novel “Wasripin & Satinah” (Kompas: 2013), karya Kuntowijoyo

Tugas utama seorang penulis adalah merekam peristiwa sosial yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat melalui tulisan-tulisannya. Tulisan itu kemudian menjadi saksi sejarah. Menjadi pengingat kepada generasi berikutnya, bahwa kejadian itu benar-benar telah terjadi, dan orang tak boleh melupakannya.

Kuntowijoyo, menyandang predikat sebagai sejarawan dan sastrawan sekaligus.  Kombinasi itu menjadikannya piawai dalam menuliskan sejarah dengan caranya yang enak untuk dinikmati. Novelnya, “Wasripin & Satinah” (Kompas:  2013) sangat cair dalam menjelaskan bagaimana perilaku sebagian besar bangsa Indonesia yang irasional, mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia tak pernah lepas dari urusan klenik yang tak dapat diukur dengan logika.

Alkisah, muncul tokoh Wasripin, pemuda tanggung yang diasuh oleh emak angkatnya, menggelandang di kolong-kolong pinggiran Kota Jakarta, menyediakan “tenaganya” untuk dapat “memuaskan hasrat” perempuan-perempuan yang membutuhkannya. Tapi, Wasripin tak ingin mati dengan cara itu. Alhasil, ia lari dengan menumpang bus lewat Pantura. Ia ambil bus jurusan Jakarta-Cirebon, kemudian menyambung Cirebon-Semarang. Ia sendiri tak tahu, harus turun di mana. Ia hanya mengikuti apa kehendak hatinya saja. Ia akan segera bilang, “turun,” kepada kondektur bus ketika ia merasa sudah sampai. Sepotong informasi yang ia peroleh dari emak angkatnya adalah bahwa ibunya berasal dari daerah pantai utara Jawa Tengah sebelah barat. Dan ia benar-benar turun di daerah itu.

Mulailah balada Wasripin di sebuah tempat di pantai utara, mengawali hidup di sebuah surau yang dirawat oleh seorang Modin. Kedatangan Wasripin di surau itu kemudian mewarnai keseharian masyarakat pantai. Wasripin dipercaya orang-orang mendapat ilmu langsung dari Nabi Haidir, sosok lelaki berambut putih yang mengajarinya ilmu agama, dan menjadikan dirinya orang sakti. Wasripin sanggup menyembuhkan orang bisu bisa kembali bicara hanya denga dipijat tenggorokannya. Selain jadi tukang pijat – Wasripin berprofesi jadi satpam TPI – ia juga mampu berkomunikasi dengan makhluk halus. Maka orang-orang mulai berdatangan untuk berobat.

Sepak terjang Wasripin yang menggegerkan kampung nelayan itu menyeretnya dalam pusaran politik dalam negeri, melibatkan lurah, camat, bupati, tentara, polisi, hingga pimpinan partai. Mereka ternyata tak jauh beda dengan kebanyakan rakyat pada umumnya. Intrik politik tak pernah jauh dari urusan kekuasaan. Dan untuk mendapatkan kekuasaan, sangat lazim berhubungan dengan ilmu klenik.

Romantika hidup Wasripin menjadi berwarna ketika ia berjumpa dengan Satinah, seorang penyanyi keliling, yang selalu ditemani pamannya yang buta. Tokoh Satinah mengingatkan saya pada sosok Srintil dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruh” yang ditulis Ahmad Tohari. Baik Satinah maupun Srintil, keduanya ditemani lelaki buta. Dan mereka berdua mengamen di sepanjang perjalanan.

Intrik politik jugalah yang kemudian menyeret Wasripin pada kematiannya yang tragis, ditembak tentara, dan membawa Pak Modin menjadi miring otaknya akibat intimidasi tentara yang kelewatan.

Novel ini memotret secara parodi tentang bagaimana politik di Indonesia sangat kental dengan intrik-intrik kekuasaan, yang dimainkan oleh para elit partai, polisi, tentara, kejaksaan, hingga sang presiden.

Kuntowijoyo menyamarkan nama seting lokasi peristiwa. Ia hanya menyebutnya Pantura.  Nama partai ia ubah menjadi Partai Randu dan Partai Langit. Orang akan dengan mudah menghubungkannya dengan Partai Beringin dan Partai Ka’bah.  Nama presiden yang berkuasa ia beri nama Sadarto. Sudah pasti, mengarah pada mantan presien kita yang murah senyum itu.

Begitulah, tugas seorang sastrawan telah ia tunaikan. Meninggalkan sejak sejarah bangsanya dengan caranya sendiri. Dengan membaca novel ini, orang-orang yang pernah mengalami peristiwa pada masa itu akan cepat menghubungkan dengan peristiwa yang sebenarnya. Tapi, untuk generasi berikutnya, saya tak begitu yakin. Sebagian besar juga tak peduli dengan politik. Mereka justru lebih kenal  artis Korea, pelakon  India, atau pesohor Hollywood. Peristiwa politik paling up date yang mereka kenal, paling-paling perseteruan Donald Trump dan Hillary Clinton dalam perebutan kekuasaan presiden di Amerika Serikat. Dan itupun mereka peroleh dari sosial media.

Review buku oleh Hartono Rakiman.


Data pengunjung

  • 278,605 Kunjungan

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

Goodreads