Archive for the 'anthropology' Category

Ustadz seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online

ustadz-seleb-bisnis-moral-fatwa-online

Cover buku “Ustadz Seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online (Komunitas Bambu: 2012)

Buku yang bermuatan analisis tajam soal perubahan perilaku suatu masyarakat, hanya menangguk sedikit pembaca. Padahal, sebagian besar pembaca Indonesia, yang mayoritas muslim, adalah “korban” dari sebuah perubahan yang bernama komodifikasi Islam itu.

Buku “Ustadz seleb: Bisnis Moral & Fatwa Online” (Komunitas Bambu: 2012) merupakan terjemahan dari sebuah proyek Indonesia yang dikerjakan oleh Greg Fealy dan Sally White, dengan judul “Expressing Islam: religious life and politics in Indonesia” (Singapore: ISEAS Publishing Institute of Southeast Asian Studies, 2008).

Buku ini secara tajam merangkum berbagai aspek perubahan itu, dari berbagai perspektif: ekspresi kesalehan pribadi; ekspresi politik, sosial, dan hukum; ekspresi ekonomi. Tulisan dirangkum dari berbagai analisa oleh para pakar luar negeri dan Indonesia, seperti M.C. Ricklef, Maria Ulfah Anshor, Umar Juoro, hingga Muhammad Syafii Antonio.  Tapi sebagai sebuah analisa, buku ini tak bermaksud memberikan penghakiman secara membabi buta bahwa proses perubahan komodifikasi Islam sebagai sebuah kemunduran Islam. Alih-alih, justru memberikan ruang kepada pembaca untuk mengamati apa sebenarnya yang telah terjadi. Apakah yang dilakukan selama ini benar-benar telah sesuai tuntunan Islam, atau jangan-jangan hanya terseret dalam euphoria Islam yang salah?

Ada begitu banyak peristiwa yang berserak, yang menggambarkan betapa perubahan ke arah komodifikasi Islam itu dimulai sejak tumbuhnya perekonomian di Indonesia di bawah rejim Orde Baru.  Mulailah tumbuh kelas menengah atas, terpelajar, dan tinggal di perkotaan. Pertumbuhan kelompok OKB (orang Kaya Baru) ini mulai tampak pasca 1990-an.  Pertumbuhan itu tergambar dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari  munculnya penerbitan yang berbau Islam, seperti majalah Sabili, Hidayah, hingga harian Republika. Muncul pula agen-agen perjalanan wisata spiritual, ziarah walisongo, paket umrah ke tanah suci bersama selebriti terkenal. Pasar komoditas juga  merambah dari obat-obat herbal, bekam, rukyah, multi-level marketing, fashion muslim, perbankan syariah, dan tentu saja label halal.

Munculnya ustadz-ustadz seleb yang tampil di televisi, dengan pengetahuan Bahasa Arab dan hukum Islam yang minim, tak membuat orang mundur, bahkan berbondong-bondong mendatangi majlis taklim yang mereka dirikan. Fenoma the holly man from Indonesia, AA Gym, turut meramaikan perubahan ini. Ustadz kondang Arifin Ilham, Yusuf Mansyur, Uje, dll adalah sederet nama yang mereka kenal dan elu-elukan. Sebagian besar “para pengikut” mereka adalah sekelompok muslim perkotaan yang merasa menemukan perwakilan dari keseharian mereka sendiri, dengan cara yang mudah dan moderat. Ustadz Uje yang mantan pemakai narkoba dan bintang film, segera menemukan banyak pengikut, bahwa masa lalu yang gelap bisa menemukan pertobatan di masa kini. Ustadz Yusuf Mansur, yang masa lalunya pernah bangkrut secara ekonomi sanggup bangkit kembali dengan menemukan rahasia berderma, melalui jargon “kun fayakuun.”

Benarkah ini pertanda bahwa masyarakat Indonesia telah menjadi muslim yang sebenar-benarnya? Ahmad Syafii Ma’arif, mantan Ketua PP Muhammadiyah, dengan miris mengatakan, “Sebagian dari popularitas Islam saat ini bersifat luar daripada dalam, dan kalangan Muslim yang baru itu lebih peduli untuk kelihatan Islam daripada menjadi Islam.”

Naik turunnya tingkat keimanan sesorang, tak bisa dilihat dari besar kecilnya perhatian mereka pada sesuatu  yang berbau Islam. Pangsa pasar bank syariah di Indonesia, ternyata hanya meraup 2% dari total nasabah. Berbeda dengan Malaysia yang mencapai 20%. Jumlah pembaca majalah Hidayah untuk setiap kali terbitannya, ditunggu sekitar 2,1 juta pembaca Indonesia. Sementara harian Republika hanya dibaca 230 ribu pembaca saja. Berbeda dengan harian Kompas, yang hampir menguasai pangsa pasar pembaca harian di Indonesia.

Menarik pula untuk mendapat gambaran, apakah perubahan ini mampu menyeret seseorang lebih moderat, toleran, atau justru mendorong seseorang menjadi radikal?

Buku ini juga menganalisa dari ekspresi politik, sosial, dan hukum, sekaligus ekspresi ekonomi. Dari sisi politik, ternyata jumlah suara yang mengalir untuk partai-partai yang berbasis Islam, apabila semuanya digabungkan (PKB, PKS, PPP, Bulan Bintang) tak lebih dari 30% saja, padahal mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam.

Pada akhirnya, dengan luas dan kompleksnya permasalahan Islam di Indonesia membuat analisa yang rapi dan komprehensif menjadi hampir mustahil dilakukan. Maka, kita akan bisa keliru menyimpulkan sesuatu apabila hanya memperhatikan satu bagian tertentu dan tak melihatnya secara menyeluruh.

Akhirnya, buku ini tetap wajib untuk dibaca oleh pembaca muslim yang tak mau menjadi “korban” dari komodifikasi Islam, atau pembaca umum yang ingin mengetahui perkembangan yang terjadi saat ini. Sebagai sebuah proses perkembangan, maka bisa saja arah perubahan itu bisa jauh berbeda dengan apa yang terjadi sekarang ini.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

Advertisements

Wasripin & Satinah

wasripin

Cover novel “Wasripin & Satinah” (Kompas: 2013), karya Kuntowijoyo

Tugas utama seorang penulis adalah merekam peristiwa sosial yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat melalui tulisan-tulisannya. Tulisan itu kemudian menjadi saksi sejarah. Menjadi pengingat kepada generasi berikutnya, bahwa kejadian itu benar-benar telah terjadi, dan orang tak boleh melupakannya.

Kuntowijoyo, menyandang predikat sebagai sejarawan dan sastrawan sekaligus.  Kombinasi itu menjadikannya piawai dalam menuliskan sejarah dengan caranya yang enak untuk dinikmati. Novelnya, “Wasripin & Satinah” (Kompas:  2013) sangat cair dalam menjelaskan bagaimana perilaku sebagian besar bangsa Indonesia yang irasional, mulai dari kalangan bawah hingga kalangan atas. Kehidupan sehari-hari bangsa Indonesia tak pernah lepas dari urusan klenik yang tak dapat diukur dengan logika.

Alkisah, muncul tokoh Wasripin, pemuda tanggung yang diasuh oleh emak angkatnya, menggelandang di kolong-kolong pinggiran Kota Jakarta, menyediakan “tenaganya” untuk dapat “memuaskan hasrat” perempuan-perempuan yang membutuhkannya. Tapi, Wasripin tak ingin mati dengan cara itu. Alhasil, ia lari dengan menumpang bus lewat Pantura. Ia ambil bus jurusan Jakarta-Cirebon, kemudian menyambung Cirebon-Semarang. Ia sendiri tak tahu, harus turun di mana. Ia hanya mengikuti apa kehendak hatinya saja. Ia akan segera bilang, “turun,” kepada kondektur bus ketika ia merasa sudah sampai. Sepotong informasi yang ia peroleh dari emak angkatnya adalah bahwa ibunya berasal dari daerah pantai utara Jawa Tengah sebelah barat. Dan ia benar-benar turun di daerah itu.

Mulailah balada Wasripin di sebuah tempat di pantai utara, mengawali hidup di sebuah surau yang dirawat oleh seorang Modin. Kedatangan Wasripin di surau itu kemudian mewarnai keseharian masyarakat pantai. Wasripin dipercaya orang-orang mendapat ilmu langsung dari Nabi Haidir, sosok lelaki berambut putih yang mengajarinya ilmu agama, dan menjadikan dirinya orang sakti. Wasripin sanggup menyembuhkan orang bisu bisa kembali bicara hanya denga dipijat tenggorokannya. Selain jadi tukang pijat – Wasripin berprofesi jadi satpam TPI – ia juga mampu berkomunikasi dengan makhluk halus. Maka orang-orang mulai berdatangan untuk berobat.

Sepak terjang Wasripin yang menggegerkan kampung nelayan itu menyeretnya dalam pusaran politik dalam negeri, melibatkan lurah, camat, bupati, tentara, polisi, hingga pimpinan partai. Mereka ternyata tak jauh beda dengan kebanyakan rakyat pada umumnya. Intrik politik tak pernah jauh dari urusan kekuasaan. Dan untuk mendapatkan kekuasaan, sangat lazim berhubungan dengan ilmu klenik.

Romantika hidup Wasripin menjadi berwarna ketika ia berjumpa dengan Satinah, seorang penyanyi keliling, yang selalu ditemani pamannya yang buta. Tokoh Satinah mengingatkan saya pada sosok Srintil dalam novel “Ronggeng Dukuh Paruh” yang ditulis Ahmad Tohari. Baik Satinah maupun Srintil, keduanya ditemani lelaki buta. Dan mereka berdua mengamen di sepanjang perjalanan.

Intrik politik jugalah yang kemudian menyeret Wasripin pada kematiannya yang tragis, ditembak tentara, dan membawa Pak Modin menjadi miring otaknya akibat intimidasi tentara yang kelewatan.

Novel ini memotret secara parodi tentang bagaimana politik di Indonesia sangat kental dengan intrik-intrik kekuasaan, yang dimainkan oleh para elit partai, polisi, tentara, kejaksaan, hingga sang presiden.

Kuntowijoyo menyamarkan nama seting lokasi peristiwa. Ia hanya menyebutnya Pantura.  Nama partai ia ubah menjadi Partai Randu dan Partai Langit. Orang akan dengan mudah menghubungkannya dengan Partai Beringin dan Partai Ka’bah.  Nama presiden yang berkuasa ia beri nama Sadarto. Sudah pasti, mengarah pada mantan presien kita yang murah senyum itu.

Begitulah, tugas seorang sastrawan telah ia tunaikan. Meninggalkan sejak sejarah bangsanya dengan caranya sendiri. Dengan membaca novel ini, orang-orang yang pernah mengalami peristiwa pada masa itu akan cepat menghubungkan dengan peristiwa yang sebenarnya. Tapi, untuk generasi berikutnya, saya tak begitu yakin. Sebagian besar juga tak peduli dengan politik. Mereka justru lebih kenal  artis Korea, pelakon  India, atau pesohor Hollywood. Peristiwa politik paling up date yang mereka kenal, paling-paling perseteruan Donald Trump dan Hillary Clinton dalam perebutan kekuasaan presiden di Amerika Serikat. Dan itupun mereka peroleh dari sosial media.

Review buku oleh Hartono Rakiman.

Cerita dari Digul

digul

Cover “Cerita dari Digul” (KPG: Cetakan keenam April 2016)

Lamat-lamat benar aku dengar soal Digul. Dulu. Dulu sekali, sewaktu aku masih duduk di bangku SD. Itupun tak sungguh jelas amat. Gurukku sempat bercerita, dahulu Bung Hatta pernah dibuang ke Digul pada jaman revolusi melawan penjajah Belanda. Tak jelas benar, apakah Soekarno juga pernah dibuang ke sana. Bolehlah berkabar di sini, bagi yang tahu riwayat Soekarno di pembuangan Digul.

Selepas urusan sejarah itu, aku tak lengkap mengerti tentang Digul. Baru kemudian aku baca sedikit tentang ekspedisi zamrud katulistiwa dalam buku Meraba Indonesia, yang ditulis oleh Ahmad Yunus, dan Farid Gaban. Itupun belum timbul minat untuk mengerti tentang Digul.

Baru nyata penghayatanku tentang Digul, manakala terbaca kumpulan “Cerita dari Digul” (KPG: Cetakan keenam April 2016), yang ditulis oleh para eks-digulis, dan disunting oleh Pramoedya Ananta Toer. Ada lima tulisan yang berhasil dihimpun dan disunting oleh Bung Pram. Kelima penulis itu ialah: D.E. Manu Turoe, Oe Bo Tik, Abdoe’lXarim M.S, Wiranta, dan satu penulis Tanpa Nama.

Kelima penulis ini menggunakan Bahasa melayu, dengan gaya Bahasa tempo doeloe yang semakin menambah-nambah kesan kuat tentang peristiwa di masa lalu. Satu penulis terakhir, Tanpa Nama, terlihat berasal dari suku Jawa, dan berupaya untuk dapat menggunakan Bahasa Melayu dengan baik, meskipun di sana-sini dia mencoba menyelipkan istilah Jawa. Barangkali maksudnya agar para pembaca Jawa yang belum mengerti Bahasa Melayu mengerti maksudnya.

Secara garis beras, kelima penulis itu melukiskan tentang neraka Digul, yang membuat mereka kemudian memutuskan untuk lari dari sana, meskipun rintangan dan bahaya mengancam di depan mata: nyamuk malaria, lintah, binatang buas, sungai yang lebar dan dalam, rawa-rawa, hutan belantara, dan orang hutan yang disebut Kayakaya yang masih suka makan orang!

Sebagian besar penulis mengisahkan pelarian dari Digul dengan menambahkan roman, soal kekecewaan mereka atas perempuan yang tak lagi setia dengan penderitaan mereka di tanah pembuangan. Kisah Rustam Digulist (D.E. Manu Turoe), mengisahkan kekecewaan tokoh Rustam yang kecewa dengan pacarnya, Cindai, yang pada awalnya mau untuk dipersunting setelah Rustam kembali dari Digul, nyatanya Cindai mengatakan tidak untuk Rustam yang eks-Digulis.

Kisah “Pandu Anak Buangan (Abdoe’lXarim M.s), juga mengisahkan kekecawaan tokoh Pandu karena telah dipisahkan oleh mertuanya dari istrinya. Kemudian Bung Pandu kita memadu kasih dengan Zus Emi, yang sama-sama aktf di pergerakan. Tapi ketika Bung Pandu dijerat dengan pasal pemberontakan dan dibuang ke Digul, nyatanya Zus Emi tak mau ikut serta dan memilih pergi ke Betawi dan mengikat janji dengan orang lain.

Lain lagi perkara asmara dalam cerita “Antara Hidup dan Mati atau Buron dari Boven Digul” (Wiranta), yang mengisahkan pelarian Sujito dan Kemlin dari Digul menuju Nieuw-Guinea. Sujito ingin segera pergi saja dari Digul selepas mendapat surat dari istrinya, Rusmini, yang pada awalnya ikut Sujito di pembuangan, tapi kemudian pulang bersama anaknya. Sekian tahun kemudian, Rusmini memilih jalan hidup untuk menikah lagi dengan lelaki lain. Pilihan ini membuat hati Sujito hancur berkeping-keping. Maka pelarian dari Digul sebenarnya menjadi ajang bagi Sujito untuk mati saja dimakan neraka Digul.

Begitulah. Cerita dari Digul semakin menambah keyakinan, betapa manusia bisa dibuat tercerai-berai, tercerabut dari akar, hidup sengsara dan menderita karena berbagai perkara: ideologi, perang dan asmara. Mereka, para eks-Digulis, bisa jadi hidup pada waktu dan tempat yang salah. Mereka salah, karena memegang teguh ideologi komunis, di tengah-tengah kuasa penjajah yang kapitalis dan eksploitatif. Mereka salah telah memilih istri yang tidak setia. Tapi menurut saya, mereka telah benar ketika memutuskan untuk lari saja, minggat dari Digul. Karena itulah satu-satunya bukti bahwa hanya mereka sendirilah yang punya kuasa untuk menentukan kebebasan yang senyata-nyatanya.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

Hujan Bulan Juni

hujan bulan juni

Cover novel “Hujan Bulan Juni” (Gramedia: cetakan ke-7, Februari 2o16), karya Sapardi Djoko Damono

“Mboten lucu nggih mas,” kata tukang becak, yang membicarakan soal bulan Juni tapi hujan tetap turun, ketika Sarwono menyewa becak yang membawanya ke kios majalah Malioboro untuk membeli koran yang memuat tiga puisinya.

Tulisannya memang renyah, mengalir, namun tetap bertenaga. Menyambar persoalan hakiki cinta anak manusia yang gampang-gampang susah untuk dinyatakan dan mendapatkan jawaban. Novel ini juga secara mendalam menguliti budaya Jawa, Manado dan Jepang, melalui tokoh-tokohnya.

Sejak awal tulisan, kita akan dengan mudah terbawa dugaan bahwa tokoh Sarwono, seorang antropolog yang sering mendapat tugas meneliti berbagai persoalan sosial, mulai dari Kali Code, Ambon, hingga Papua, tak lain dan tak bukan adalah Sapardi Djoko Damono sendiri. Penggambaran sosok Sarwono yang kerempeng, punya penyakit paru-paru basah, dan malang melintang di kampus UI maupun UGM, akan membuat pembaca mudah mendakwa, itu adalah sosok Sapardi sendiri. Sapardi saat ini berprofesi sebagai guru besar pensiun di UI, dan guru besar tetap pada program pasca sarjana di IKJ, Undip, Unpad, dan ISI Solo.

Tulisannya mengalir deras, bak untaian prosa dan puisi, menyentil dan menyodok sosok penyair yang begitu puas dan bahagia menjumpai tulisannya sendiri dimuat di koran. Baginya, tulisan di media masa adalah medium komunikasi, seperti shaman, sang dukun, atau clairvoyant! Tiga puisi yang dimuat pada koran lokal adalah sebentuk curahan perasaan terdalam dirinya pada sosok perempuan yang saat itu sedang berada di Jepang. Perempuan  itu adalah Pingkan, gadis beribu Jawa, dan berayah Manado.

Sapardi dengan tangkas mengulik hubungan kedua anak manusia dewasa, yang ternyata tak mudah untuk berterus terang soal cinta. Sarwono, yang Jawa, dan Pingkan yang setengah Jawa-Manado, menyimpan potensi gagal membangun keluarga karena soal beda agama dan budaya.

Akankah Pingkan menemukan Matindas, dalam sosok Sarwono, lelaki dalam dongeng Manado? Apakah tiga puisi yang tercetak di koran Swara Keyakinan itu mampu terkirim dan terbaca Pingkan yang sedang berada di Jepang? Apakah sang waktu sanggup menjawab keresahan hati Sarwono, sebelum penyakit paru-paru basah mencekik napasnya?

/i/

bayang-bayang hanya berhak setia

menyusur partitur ganjil

suaranya angin tumbang

 

agar bisa berpisah

tubuh ke tanah

jiwa ke angkasa

bayang-bayang ke serbamula

 

suaramu lorong kosong

sepanjang kenanganku

sepi itu, mata air itu

 

diammu ruang lapang

seluas angan-anganku

luka itu, muara itu

 

/ii/

 

di jantungku

sayup terdengar

debarmu hening

 

di langit-langit

tempurung kepalaku

terbit silau

cahayamu

 

dalam intiku

kau terbenam

 

/iii/

 

kita tak akan pernah bertemu:

aku dalam dirimu

 

tiadakah pilihan

kecuali di situ?

 

kau terpencil dalam diriku

 

Yang terhanyut, Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

Out of the truck box

iqbal

Cover buku “Out of the truck box” karya Iqbal Aji Daryono (Mojo.co: 2015)

Orang satu ini memang khas turunan Jogja. Jago mbacot. Kalau bicara lunyu, alias licin seperti air yang lama menggenangi batu sehingga berlumut dan mudah membuat orang terpeleset dibuatnya. Gaya bertuturnya mbanyol ala Basiyo, orisinal, nylekit dan tanpa tedheng aling-aling.

Kumpulan tulisan Iqbal Aji Daryono memang kemripik, dikemas dalam buku “Out of the truck box” (Mojo.Co: 2015). Sekilas tulisannya remeh, tapi punya kedalaman makna dan mampu menohok cara berfikir kita. Meruntuhkan ideologi maupun keyakinan kita selama ini. Mengajak kita berantem dengan akal sehat, rasio, maupun keyakinan yang selama ini kita pegang teguh. Tujuannya memang untuk mengusik dogma yang sudah terlanjur menghujam dalam di dalam akar iman kita. “Buku ini berbahaya. Jangan coba-coba membacanya,” demikian peringatan yang disampaikan Harun Mahbub, seorang wartawan Tempo yang memberikan endorsement, sekaligus mengingatkan kita untuk tak coba-coba menyentuh buku ini kalau tak kuat iman.

Sejatinya Iqbal hanyalah seorang sopir truk di Ostralia (dia memang menyebut begitu untuk Australia). Dia kesasar di sana karena mengikuti istri yang sedang melanjutkan studi di Murdock University, Perth, Australia. Beasiswa yang diperoleh sang istri tak mencukupi untuk menghidupi mereka bertiga: Iqbal, istri, dan anak semata wayangnya, Hayun. Terpaksalah Iqbal jadi sopir, berbekal SIM keularan Polres mBantul, Jogja.

Disela-sela menyopir itulah keluar segala keresahan yang bersumber dari dalam diri ketika melihat segala fenomena yang ada di negari barunya. Sebuah negeri yang dia rasa sebagai negeri kering, yang tak lebih dari seonggok tanah merah dan serumpun semak belukar. Tak ada pepohonan aneka warna, atau sawah yang hijau membentang seperti di tanah kelahirannya. Pun tak ada warung kopi nan egaliter, tempat dia bisa bersenda gurau denga teman-teman mbacotnya. Tak da lelucon segar khas Basiyo atau Srimulat. Hari-hari dia lalui dengan segala kegaringan. Justru dari sanalah kemudian mengalir tulisan-tulisan yang mengusik akal sehat. Bisa jadi itu adalah sebentuk pelarian untuk menjaga kewarasan.

Tulisannya secara umum terbagi dua bagian. Bagian pertama berisi Negara-Negara, yang berisi pengenalan budaya negeri baru yang bernama Ostralia, termasuk pengenalan sahabat barunya dari berbagai negara: India, Afganistan, Macedonia, Jerman, dll. Bagian kedua adalah Manusia-Manusia. Nah, bagian kedua inilah banyak bertebaran tulisan nakal yang akan mengusik akal sehat dan keyakinan kita selama ini. Jika tak kuat iman, kita akan segera goyah, dan ikut manggut-manggut dibuatnya. Tulisannya sebagian besar berlatar belakang analisa psikologi. Dia bisa dengan ringan mengupas soal pilihan agama, perdebatan ideologii syiah-sunni, taliban, soal spritualisme buah apel, makanan berdaging atau soal brengseknya kamera pengawas yang serupa “God eye” yang akan dengan mudah membuat kita masuk ke dalam jurang kemusyrikan.

Percayalah. Anda yang baru setingkat S1, nggak bakal sanggup mengunyah tulisan ini. Karena Iqbal sejatinya sudah sampai pada tataran S4 (seri HP yg dia punya, he…he…), maksudnya setingkat S3, yaitu setingkat para lulusan doctor yang sudah mampu berfikir menggugat asumsi mapan menyorong pendapat yang berseberangan.
Iqbal adalah sedikit penulis yang muncul belakangan ini, yang mengupas tulisan soal kehidupan sehari-hari sebagi tulisan non-fiksi secara ringan, dan itu tadi: kemripik!

Bandingkan dengan tulisan-tulisan saya di buku “Mabuk Dolar di Kapal Pesiar” (Rumah Baca: 2010) dan “Dilema: Kisah Dua Dunia Dari Kapal Pesiar” (Rumah Baca: 2012) yang juga berusaha mengulik persoalan manusia di atas kapal pesiar dari persepktif kemanusiaan. Kami ternyata sama-sama TKI. Bedanya kalau Iqbal bolak-balik di negara bagian Perth, Australia, sementara saya melalang buana di atas kapal pesiar. Kami sama-sama menjadi korban sebuah nasib yang harus dijalani, yaitu menjadi TKI. Bedanya, ya tentu saja cara bertuturnya lewat tulisan dan mengemasnya dalam sebuah buku.

Silahkan berfikir dua kali sebelum menyentuh buku ini. Selebihnya, terserah Anda.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

DSC_0569.JPG

Bela-belain baca bukunya Iqbal sambil nunggu stand Rumah Baca, saat belum ramai diserbu pengunjung 🙂


Data pengunjung

  • 281,293 Kunjungan

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

Goodreads