Bicara soal cover buku, ada pepatah andalan yang mengatakan, “don’t judge the book by its cover.” Ini sebenarnya tidak dimaksudkan untuk buku, tapi mengarah pada sikap mental untuk tidak menilai orang dari penampilannya. Banyak di antara kita yang terkecoh dengan penampilan seseorang. Ketika bertemu dengan orang yang berbaju takwa dan bersorban langsung kita kira sebagai orang soleh. Sebaliknya, ketika berjumpa dengan orang yang berkacamata hitam, bertato, memakai jaket kulit hitam langsung saja kita menyingkir karena kita kira orang jahat. Tak selamanya begitu.

Tapi bicara soal cover atau sampul buku, hal itu menjadi andalan utama bagi penerbit dalam mempertaruhkan laku tidaknya sebuah buku.

Akhir-akhir ini saya perhatikan ada trend menarik dalam soal merancang sampul buku. Buku-buku best seller duni, kalau saya perhatikan, memiliki karakter sampul dengan background warna putih dengan tulisan sederhana. Tidak ada tampilan gambar yang memenuhi halaman. Kadang-kadang memang hanya tampil judul tulisan, nama pengarang dan penerbit. That’s it! Perhatikan buku-buku best seller karangan Malcolm Gladwell: The tipping point, Blink, Outliers, dan What the dog saw.

Perhatikan pula sampul buku The Black Swan

Dalam diskusi desain, warna putih dan ruang kosong disebut sebagai ruang negatif. Pengertian negatif di sini bukan dalam pengertian yang jelek. Ruang negatif adalah ruang kosong, lega, seamcam ruang untuk bernafas dari sesak penat mata dan perasaan manusia. Bagi sementara orang desain yang bagus adalah desain yang penuh warna dan gambar. Desain ini biasanya cenderuk norak dan kampungan. Sebenarnya, manusia menyukai kesederhanaan, dan  ini justru akan membuat orang lebih nyaman. Dengan desain semcam ini, calon pembaca merasa yakin dengan kualitas sebuah tulisan, bukan ditipu dengan tampilan gambar.

Coba saja anda membaca buku-buku yang saya tampilan di atas, mereka memang tergolong buku-buku yang berkualitas.

Salam

Hartono

Pengasuh http://www.rumahnaca.wordpress.com

4 Responses to “Cover buku (1)”


  1. 1 Wiyanto Wednesday, July 7, 2010 at 7:17 pm

    Kesederhanaan memang layak dijadikan gaya hidup mas, dengan sederhana bumi akan diselamatkan dari keserakahan. Maju terus, mundur pantang!

  2. 2 hartono Monday, July 12, 2010 at 1:41 pm

    Di atas keserakahan masahi ada yang lebih serakah. Di atas kemewahan, masih ada yang lebih mewah lagi. Di atas langit, masih as langit.

    Kesederhanaan adalah batas paling hakiki yang tidak ada tandinganya.

  3. 3 julian balia Wednesday, September 1, 2010 at 12:15 pm

    mode sedang kembali ke asalnya……orang sekarang sudah mulai jenuh dengan keribetan…..mkanya pantas klo buku-buku bestseller cendrung memakai cover sederhana

  4. 4 nathan Saturday, February 19, 2011 at 11:04 am

    sederhana memang menjadi salah satu prinsip desain. namun demikian desain yang sederhana seperti tampilan di atas memang terkonsep dengan sangat matang, artinya tidak melulu desain dengan semacam itu selalu bagus, ada beberapa jenis buku yang memang harus dibuat colorfull…sesuai dengan karakter dan segmentasi yang akan dituju.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s




Data pengunjung

  • 262,707 Kunjungan

Halal atau Haramkah kerja di kapal pesiar?

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

raja 16

Raja Amoat 14

Pasir timbul, Raja Ampat 1

More Photos

Goodreads


%d bloggers like this: