Foxtrott: Rubah yang pandai bernyanyi

tata 2Judul Buku : Foxtrott
Penulis : Helme Heine
Penerjemah : Veriana Devi
Tebal : 32 halaman
Penerbit : Carl Hanser Verlang, 2003

Buku ini berkisah tentang seekor rubah bernama Foxtrott. Ia lahir dari tempat tersepi di dunia yang digambarkan sebagai sebuah liang berongga-rongga di bawah tanah. Jika bumi diiris akan terlihat penampang rumah Foxtrott. Ada ruang makan, ruang nonton teve, ruang bermain, ruang tidur, pokoknya persis seperti ruang-ruang di rumah kita. Di rumah itu Foxtrott tinggal bersama ayah dan ibunya.

Di rumahnya yang berada jauh di dalam tanah itu, tidak ada satupun bunyi terdengar. Televisi memang menayangkan gambar, tapi tidak ada suara, itu filem bisu. Kedua orang tua Foxtrott juga tidak pernah bercakap-cakap. Mereka berkomunikasi melalui tatapan mata dan senyum saja.

Satu hari, Foxtrott mengintip keluar dari lubang rumahnya. Ia heran, ada banyak bunyi di atas sana. Hampir semua binatang ternyata bersuara. Lebah berdengung, kodok mengorek, dan bebek berkotek. Foxtrott bingung dibuatnya. Inilah untuk pertamakalinya ia mendengar beragam bunyi.

Kejadian itu sungguh membekas. Sejak itu Foxtrott tak henti-hentinya membuat bunyi-bunyian. Ia bernyanyi, berteriak, menabuh panci, mengadu tutup panci, dan memukul berbagai barang. Pokoknya, menimbulkan bunyi. Semakin gaduh, semakin hati Foxtrott girang. Ayah dan Ibu Foxtrott hilang akal.

Satu hari, ayah memutuskan untuk berburu ayam di kandang ayam milik manusia. Malam-malam satu keluarga keluar rumah. Foxtrott ikut dengan mulut terikat – berjaga agar dia tidak menimbulkan suara. Ini perburuan penting, semua bekerja tanpa suara, berjalan pun mengendap. Sial, mereka ketahuan. Penjaga menangkap basah keluarga Foxtrott. Ia siap membidikkan senapannya hendak membunuh ketiganya. Foxtrott kecil berhasil melarikan diri, ia melepaskan ikatan mulutnya dan bernyanyi. Nyanyian Foxtrott membuat penjaga iba dan melepaskan ketiganya. Ayah Foxtrott bangga. Sejak itu Foxtrott diperbolehkan bernyanyi dan bermain musik sepuasnya. Foxtrott kini dikenal sebagai penyanyi di kawanan rubah. Tidak hanya itu, Foxtrott bahkan diundang untuk bernyanyi dalam pesta-pesta binatang lainnya.

Foxtrott lantas hidup bahagia dan menikah dengan seekor rubah cantik. Mereka punya banyak anak. Setiap malam satu keluarga bernyanyi dan bermain musik bersama.

Tunggu. Apakah semua? Ternyata tidak. Satu orang anak Foxtrott punya kebiasaan yang unik, ia tidak suka bernyanyi. Ia pendiam dan suka membaca. Bagaimana kelanjutannya? Tidak ada yang tahu, karena Heine mengakhiri ceritanya sampai di situ.

Begitulah kisah Foxtrott yang dikarang oleh Helme Heine berakhir. Ini buku anak-anak, tercetak di kertas berkualitas baik, hard cover, dan bergambar apik. Helme Heine adalah seorang penulis Jerman. Selain menulis, Heine juga seorang ilustrator dan desainer. Ilustrasi kisah Foxtrott dikerjakan sendiri oleh Heine.

tata1

Sebagai penulis cerita anak, Heine sangat diakui karena memenangi beragam penghargaan bergengsi. Tiga tokoh rekaannya yang paling dikenal adalah tiga sekawan Charlie Rooster (ayam jago), Johnny Mouse (tikus), and Percy (babi) yang tinggal di sebuah daerah bernama Mollywoop. Melalui internet, saya baca Manajemen Kebun Binatang di Hanover, Jerman membangun satu ruang bermain untuk anak yang diberinama Mollywoop dan menghidupkan karakter ketiga binatang tersebut di sana.

Ini foto Heine bersama ketiga tokoh rekaannya di Kebun Binatang di Hanover, Jerman:

tata 3

Di Indonesia buku terjemahan Heine belum banyak – atau mungkin tidak ada ya, saya baru ketemu sekarang ini soalnya. Buku Foxtrott yang saya baca bersama Putri, anak saya ini diterjemahkan oleh seorang mahasiswi Universitas Negeri Jakarta bernama Veriana Devi. Penerjemahan itu bagian dari proyek kerja sama Goethe Institute dengan mahasiswa yang sedang belajar bahasa Jerman. Bukan diterbitkan kembali dalam bentuk buku, hasil terjemahan itu dicetak pada secarik kertas yang kemudian ditempelkan dengan pita rekat plastik pada halaman buku. Jadi satu terjemahan dalam satu halaman buku. Memang halaman buku menjadi “kotor” dibuatnya. Tapi, ini cara paling sederhana dan murah untuk mengerti isi buku-buku anak yang bagus-bagus itu di Goethe. Seandainya saja saya mengerti bahasa Jerman..

Kembali ke Foxtrott. Saya kira Heine ingin menyampaikan pesan bahwa menyukai kesenangan yang beda dengan yang lain itu tidak mengapa. Jika itu memang membuat kamu bahagia, kenapa tidak? Asal, tentu saja gunakan kesenangan itu untuk kebaikan.

Eh, tapi saya merasa sepertinya Heine punya pesan juga buat orang tua yang mendampingi anak-anaknya membaca. Coba bayangkan, bagaimana jika punya anak yang tidak mau menuruti kebiasaan dan peraturan yang susah payah kita bangun di rumah? Ia seperti…apa ya, ibarat makhluk asing yang ada di rumah. Tak habis pikir terkadang, kok bisa dari darah-daging saya muncul manusia baru yang punya kebiasaan beda sama sekali dari saya?

Maka, jika saya jadi ibunya Foxtrott, pasti saya larang juga Foxtrott membuat gaduh di rumah. Itu kan sungguh bertentangan nilai-nilai yang diterapkan di rumah yang tenang, sepi, dan nyaman. Tapi, siapa sangka Foxtrott lah yang jadi pahlawan penyelamat saat penjaga bersiap menarik pelatuk senapan.

Foxtrott memenuhi benak saya akhir-akhir ini. Mengingatkan akan satu tulisan yang membahas soal mengapa generasi orang jenius tidak muncul lagi. Tulisan itu berakhir dengan tudingan bahwa orang tua adalah penyebab utama hilangnya generasi jenius yang baru dan tips bagaimana mendampingi anak yang suka berulah “di luar kebiasaan”.

Masih menurut tulisan itu, ketidakmampuan para orang tua dalam menerima perilaku anak yang di luar kebiasaan jadi penyebabnya. Anak-anak yang sebenarnya berbeda itu “disamakan” begitu saja dengan yang lain. Akibatnya mereka kehilangan kemampuannya untuk menjadi beda. Dan lahirlah generasi yang seragam. Satu cita-cita tertentu bisa diagungkan dan cita-cita lain dicibir.

Melalui kisah Foxtrott, Heine seolah mengingatkan bahwa dalam satu keluarga selalu ada yang punya kebiasaan unik. Kita memang tidak pernah tahu untuk apa dan kapan keunikan itu berguna kelak. Saya kira mengajarkan nilai-nilai kebaikan seperti berbagi, menolong sesama, dan berkarya lebih penting ketimbang menahan mereka untuk melakukan sesuatu yang disukai.

Begitulah. Menuliskannya saja sih, gampang, menjalaninya? Semoga saja ibumu ini mampu memahamimu ya, nak :)

Catatan: Buku ini bisa dibaca di Perpustakaan Goethe Institute, Jakarta.
Timbangan buku oleh Elisabet Tata, elisabet.tata.@facebook.com Pegiat buku, Tinggal di Serpong.

Mengislamkan Jawa, Mungkinkah?

buku_mengislamkan-jawa“Mengislamkan Jawa” (Serambi: November 2013) karya M.C. Ricklefs,

Buku setebal 885 halaman ini memang lumayan berat untuk dibaca sambil duduk dengan kedua tangan menyangga buku. Isinya juga lumayan berat, tapi teknis penulisan dari Prof. Ricklef cukup membuat buku ini enak untuk dinikmati sampai halaman terakhir. Teknis penulisannya seperti sedang mendegarkan kuliah dari sang professor sejarah. Saya menjadi terlena untuk mnedalami isinya, memahami proses Islamisasmi di tanah Jawa periode 1930 hingga kini.

Kebetulan saya orang Jawa yang merasakan dinamika seperti yang digambarkan dalam buku ini. Saya lahir dari keluarga abangan. Menurut cerita dari kerabat dekat saya, bapak dan ibu saya dulunya beragama Islam (abangan) yang kemudian pindah agama Kristen. Sebaliknya, saya sendiri mengalami perpindahan dari Kristen ke Islam semenjak menikah. Meskipun hidup dalam keluarga yang multi religius, kehidupan kami baik-baik saja. Kami tidak mengalami intensitas  ketegangan agama seperti yang terjadi semenjak pasca kajatuhan Orde Baru. Kami dibesarkan dalam tradisi Kristen, dari 6 anak yang hidup, hanya 1 yang Kristen, 1 katholik dan selebihnya menjadi Islam. Barangkali itu adalah protret keluarga Jawa, khususnya yang tinggal di sekitar Surakarta. Maka dalam alam pikiran kami, Ilsam dan Kristen itu sama saja. Menurut catatan Ricklef, kota Solo menyumbang komunitas Kristen hingga seperempat penduduknya, yang dulunya dapat dipastikan kelompok Abangan. Jangan-jangan bapak dan ibu saya menyumbang prosentas 25% itu.

Buku ini banyak menguak  peristiwa yang sebelumnya tidak saya ketahui, atau saya baru “ngeh” atas rangkaian keajian yang melingkupinya. Dari situ, minimal saya bisa mengerti duduk persoalan dari perspektif sejarah yang benar.

Apakah saya muslim sejati? Itu pertanyaan yang terus menggelayuti pikiran ketika sedang membaca buku ini.  Jangan-jangan saya masih termasuk dalam kelompok Islam abangan, meskipun secara ritual mencoba untuk menjadi Islam yg taat dengan menjalankan 4 dari 5 rukun Islam, kecuali ibadah haji.

Buku ini mengupas masukkannya Islam sejak 1930, meskipun sebenarnya juga disinggung beberapa catatan Islam sebelum itu, ketika berbagai praktik pra-islam seperti berbagai tradisi mistik Jawa masih banyak dipraktekkan kala itu.

Era gerakan Islam pada era 1930 dimulai dengan munculnya organisasi besar keagamaan beralian modernis (Muhammadiyah-1912) dan tradisionalis (NU-1926). Muhammadiyah yang bermarkas di Jogja mencoba meluruskan Islam melalui pendidikan dan merangkul kelompok terdidik di perkotaan. Sebaliknya NU menempuh jalur tradisional dengan tetap mengakui budaya lokal seperti selamatan, zikir, ziarah kubur, dll. Dengan demikian organisasi NU berbasis di desa dan memulai kiprahnya dari pondek pesantren di Jombang.

Masa itu, Islam muncul sebagai gerakan antithesis dari kolonialisme Belanda atau kezaliman manusia atas manusia yg lain. Tentu saja gerakan Islam di akar rumput ini mendapat sorotan tajam dari penguasa kolonial yang khawatir jika  sewaktu-waktu dapat merongrong kekuasaan mereka. Pada masa pendudukan Jepang, gerakan Islam kurang mendapat sorotan, namun demikian juga tidak berkembang secara signifikan.

Pada masa orde lama, di bawah Soekarno, Islam mendapat saingan berat dari faham komunisme yang digerakkan oleh kelompok abangan, yang secara politik bersebarangan, terwakili lewat partai PNI dan PKI di satu sisi, dan Masyumi di sisi yang lain, di mana NU menjadi bagian dari Masyumi. Kelompok abangan ini kemudian juga dituduh ateis,  oleh karena itu halal hukumnya untuk dibunuh. NU merasa merasa perlu untuk mendukung pembersihan kelompok abangan pada tahun 1965-66 yang membawa Soeharto ke puncak kekuasaaan.

Merasa komunisme sudah hilang tidak otomatis gagasan kejayaan Islam sudah terpampang di depan mata. Soeharto ternyata melihat NU dapat menjadi batu sandungan terhadap kekuasaan yang sedang dia bangun. Maka kemudian Soeharto megeluarkan tandingan dengan gerakan pembanguan ribuan masjid, memberi kursus keagamaan kepada guru-guru agama Islam, serta mendirikan Yayasan Amal Muslim Pancasila. Di luar terlihat bahwa Soeharto memperhatikan Islam, meskipun sebenarnya itu adalah Islam yang sudah dikebri di bawah kendali rezim birokrasi yang dia bangun. Soeharto sendiri masih mempraktikan ilmu-ilmu kejawen yang kuat. Soeharto juga melindungi lairan kebatinan/ kepercayaan yang itu jelas-jhelas ingin diperangi oleh kelompok Islam.

Puncak kekecewaan NU adalah ketika pada era tahun 1970-an jatah menteri agama yang bisasanya diberikan kepada NU, semenjak itu sudah deserahkan kepada Masyumi, pada jaman Mukti Ali.

Selain Muhammadiyah dan NU sendiri, sebenarnya telah lahir bibit-bibit Islam garis keras macam LDII atau kelompok Salafi yang digagas Abu Bakar Ba’asyir dan Abdulllah Sungkar di Surakarta. Tapi di bawah kekuasan Soeharto yg totaliter, hal itu dapat dikendalikan. Maka pada masa Orde Baru, lawan utama sesunggunya Islam adalah Aliran kebatinan, dan tentu saja Kristenisasi.

Pasca kejatuhan Soeharto keadaan tidaklah menjadi lebih baik bagi gerakan Islamisasi, karena Islam garis keras justru semakin merajelala, seperti kemunculan MMI, JI, HTI, FPI, FPIS, juga pada gerakan melalui partai yang diwaliki PK (yang kemudian berganti nama menjadi PKS), dan tentu saja LDII. Beberapa diantaranya kemudian dituduh terlibat dengan aksi terorisme di Indonesia yang justru merugikan gerakan Islamisasi di  Indonesia.

Maka setelah itu, gerakan Islamisasi di Jawa tak lagi berhadapan dengan kelompok Abangan-Kristen, alih-alih justru berhadapan dengan Islam  garis keras, melalui wajah terorisme yang kemudian diparangi oleh pemerintah melalui Densus 88 yang mendapat sokongan dana dari Amerika Serikat dan Australia pasca bom Bali,

Diskusi penting dari buku ini adalah soal kebebasan dan keadilan. Apakah kita mau mengambil jalan demokrasi,berupa kebabasan (liberalisme)  ala Plato. Atau mencari keadilan yang ilaiah dengan mendirikan Khilafah seperti pada jaman nabi, yang kini secara keras diperjuangan oleh HTI, FPI dan kelompok garis keras lainnya.

Pilihan terakhir tampaknya terdengar utopis, meskiun hal itu untuk sementara orang menjadi sesuatu yang wajib untuk diperjuangkan. Pertanyaaanya apakah hal itu harus ditempuh dengan jalan pedang?

Masyarakat Jawa yang mayoriatas Islam ternyata tak semudah itu untuk diajak menuju ke sana, Dalam hatinya yang paling dalam, menurut saya,  lebih menyukai budi luhur, harmonisasi, menghargai budaya nenek moyang yang kian hari kian dibabat habis oleh gerakan Islam yang mencoba membebaskan diri dari syirik dan segala sesuatu yang mensekutukan Tuhan.

Pada bagian akhir buku ini menawarkan diskusi tentang arti kebebasan dan keadilan di atas. tentang siapa yang punya otoritas  untuk melakukannya. Jawaban yang diharapkan berpulang pada kuasa negara yang sampai pada detik ini mengambil jalan demokrasi.

Buku ini adalah hasil penelitian Prof. Ricklef bersama kawan-kawan peneliti dari Indoesnia dengan mengabil kasus di Kediri dan Surakarta, atas bantuan pemerintah Australia. Dua lokasi ini mewakili potret pergeseran Islam dengan segala dinamika yang melingkupinya. Lokasi penelitan kemudian bertambah di Jogja  dan Surabaya atas bantuan pemerintah Singapura. Praktis, penelitian yang kemudian dibukukan ini menhabiskan waktu lebih dari 7 tahun.

Keterangan lain tentang buku ini dapat dibaca pada reportase saya ketika menghadiri launching buku ini di CSIS.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

 

Gus Dur itu Wali?

“Ingatlah sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran pada mereka dan tidak pula mereka bersedih hati. Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus 10:62).

Apa perlunya mencari tahu sesorang itu wali atau bukan? Apa perlunya membuat pembuktian  bahwa seseorang itu pantas disebut wali atau bukan?

Cover buku "Bukti-bukti Gus Dur itu Wali." (Renebook: 2014)

Cover buku “Bukti-bukti Gus Dur itu Wali.” (Renebook: 2014)

Buku “Bukti-bukti Gus Dur itu Wali” hasil penelusuran Achmad Mukafi Niam dan Syafullah Amin kepada beberapa orang di sekitar Gus Dur (Renebook: 2014), terasa ingin membuktikan hipotesis awal bahwa Gus Dur itu wali. Bagi orang-orang yang anti Gus Dur, akan segera melempar buku ini ke keranjang sampah. Mereka bisa menuduh ini kultus individu. Cukuplah wali itu berjumlah sembilan (wali songo), jangan ditambah lagi menjadi 10! Bagi pengagum Gus Dur, buku ini akan dicari dan dijadikan penguat keyakinan bahwa memang tidak salah untuk mengamini bahwa Gus Dur itu wali. Bagi Gus Dur sendiri (jika dia masih hidup) tak ada urusan untuk memikirkan keduanya: “Emang gue pikirin. Gitu aja kok repot!”

Buku yang terbagi ke dalam 9 bab ini memuat 99 tulisan pendek tentang testimoni orang-orang di sekitar Gus Dur. Testimoni mereka memang tidak selalu harus mengamini bahwa Gus Dur itu wali, bahkan ada bantahan bahwa Gus Dur itu hanya manusia biasa. Testimoni ini justru berasal dari keluarga dekat Gus Dur. Bagi mereka, Gus Dur adalah kakak, adik, ayah atau suami biasa, dengan segala keunikan dan gaya khasnya sendiri. Soal orang lain menganggapnya Gus Dur itu wali, itu diserahkan kepada masyarakat luas. Toh bukan itu tujuan utama sesorang ingin disebut wali, karena hanya orang yang benar-benar dikasihi Allah SWT yang disebut wali.

Kesembilan bab itu memuat tentang: Fenomena kewalian Gus Dur, Komunikasi dengan para wali, karamah Gus Dur, Weruh sak duruning winarah (tahu sebelum terjadi), Keistimewaan Gus Dur, Dekat dengan umat dan merakyat, Menjadi presiden RI, Gus Dur di mata keluarga, Dipuji dan dimusuhi. Di Antara kesembilan bab dan 99 tulisan pendek itu, terselip humor ala Gus Dur yang bikin ngakak, tertawa jenius :D. Secara grafis, buku ini lumayan enak untuk dibaca dan dinikmati.

Bagi saya, secara pribadi, buku ini terasa istimewa. Buku ini saya temukan saat pertama kali menginjakkan kaki di kantor PB NU di jalan Salemba Raya. Sebagai warga gedung NU yang baru, sangat perlu untuk memahami salah satu pengisi roh sebuah organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Setelah selesai membaca buku ini, saya tak punya kesimpulan bahwa Gus Dur itu wali atau bukan. Bagi saya itu tidak lagi penting. Karena yang paling penting adalah bahwa kita kehilangan seorang negarawan yang tidak bisa melihat, tapi ingin melihat bangsa ini berjalan lurus ke depan, tampil sebagai bangsa yang bermartabat di hadapan bangsa-bangsa lain di dunia. Sebagaimana telah dicontohkan Gus Dur yang dengan santainya ngobrol dan bahkan melemparkan guyonan dengan pemimpin-pemimpin dunia lainnya tanpa ada rasa rendah diri atau merasa inferior. Gus Dur juga bukan tipe orang yang khawatir atau takut akan sesuatu, termasuk tidak takut kehilangan jabatan tertinggi, yakni sebagai presiden. Pada akhir masa jabatannya ketika dilengserkan oleh orang-orang yang rakus kekuasaan, dengan santainya keluar istana dengan hanya mengenakan celana pendek. Pun dengan santainya mengatakan orang-orang yang duduk di gedung DPR tak lebih dari sekumpulan anak-anak TK!

“Gitu aja kok repot!”

Dibaca dengan mata, dirasakan dengan hati oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

The Lost Secret of Success

51ec5UD-YQL._SY344_BO1,204,203,200_Teknik menulis buku kini semakin berkembang, terutama buku-buku non-fiksi, yang terpaksa harus berjuang keras untuk memenangkan persaingan di hati pembaca. Struktur yang selama ini baku dan kaku: pengantar – latar belakang – isi – penutup, sudah lazim dan kadang membosankan. Yang sedikit berbeda dan tidak lazim adalah buku non-fiksi yang ditulis dalam format wawancara. Salah satunya yang akan saya bahas di sini adalah buku “The Lost Secret of Success (Gramedia: 2013) yang ditulis oleh Harry Utomo.

Sebenarnya sudah ada beberapa buku sebelumnya yang pernah saya baca dengan format wawancara. Sedikit diantaranya adalah buku bersejarah  “Wawancara Imajiner dengan Bung Karno,” Karya Christianto Wibisono. Terbit sekitar tahun 1970-an. Buku ini termasuk buku panas yang dilarang beredar pada jaman Orde Baru.

Buku lain dengan format wawancara adalah buku “Excellent Life,” (Zaman: 2013), karya Dr. Ibrahim Elfiky. Buku ini pernah juga diulas di Rumah Baca ini.

Buku yang sedang saya ulas ini, “The Lost Secret of Success,” juga ditulis dalam format wawancara. Beruntung sekali, Harry Utomo mendapat sparring partner yang seimbang sebagai pewawancara, yaitu, Edy Zaqeus, yang kebetulan adalah seorang penulis best seller, writing coach, trainer dan juga editor. Dari wawancara itu mengalir pengetahuan bergizi yang terbagi ke dalam 12 bab.

Secara pribadi saya mencoba membuat pola dengan membaginya ke dalam 3 bagian besar saja. Bagian pertama adalah landasan pikir tentang sukses vs bahagia. Ini penting, agar terdapat kesamaan persepsi tentang konsep bahagia. Apakah kebahagiaan itu identik dengan kaya harta? Atau bahagia itu urusan hati semata?

Bagian kedua adalah konsep diri, yang berisi deal with dan citra diri positif. Deal with lebih banyak berbicara soal bagaimana manusia mampu berdamai dengan dirinya sendiri, apapun kondisi masa lalu dan kenyataan yang dihadapi saat ini. Ketika proses deal with gagal, maka mental blocking ini akan terus menjadi batu sandungan untuk bergerak maju. Jika sudah mampu deal with, maka akan mudah membangun citra diri positif. Citra diri positif adalah gambaran jujur yang ingin kita tampilkan di depan sesama.

Nah, bagian ketika lebih banyak menyinggung soal cara, how to. Latihan paling mudah tapi perlu disiplin dan niat yang kuat adalah melalui public speaking dan berelasi. Public speaking bukan hanya diartikan sebatas pada pidato di depan publik, tapi lebih kepada keberanian diri untuk berbicara apa adanya tentang diri kita, membuka topeng, menjadi diri sendiri. Public speaking sebenarnya latihan deal with di depan umum. Latihan berikutnya adalah melalui berelasi, membangun hubungan dengan orang lain. Dari hubungan dengan sesama secara luas itulah, pintu-pintu rezeki akan mengalir. Bukankah sejatinya manusia itu makhlus sosial?

Ah, sudahlah. Tulisan ini akan sangat tidak menarik kalau saya teruskan menulis. Baca sendiri bukunya dan siap-siap untuk berdialog dengan sang penulis. Metode dialog mungkin lebih baik daripada satu arah, seperti yang saya tulis di sini.

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

 

Memang Jodoh

Cover buku "Memang Jodoh," (Qanita: Mei 2013), karya Marah Rusli

Cover buku “Memang Jodoh,” (Qanita: Mei 2013), karya Marah Rusli

Apakah di jaman digital saat ini masih ada kawin paksa,  terutama di tanah Minang?

Kawin paksa pernah menjadi masalah utama pada jaman dulu, atau orang sering menyebutnya jaman Sitti Nurbaya. Dapat dipastikan apabila praktik kawin paksa terjadi  di jaman sekarang, yang terjadi adalah kawin lari. Jaman memang sudah berubah.

Roman semi autobiografi “Memang Jodoh” (Qanita: Mei 2013) karya Marah Rusli ini segera mengingatkan orang pada roman pertamanya “Sitti Nurbaya.” “Memang Jodoh” adalah karya terakhir Marah Rusli yang sempat tersimpan lebih dari 50 tahun lamanya. Pembaca akan segera mudah menghubungkan roman terkahirnya ini dengan kisah Sitti Nurbaya. Tema sentralnya sama: soal kawin paksa. Saya menduga, roman”Sitti Nurbaya” memang dipakai oleh Marah Rusli untuk menggelorakan penolakan adat istiadat yang melanggar hak hakiki manusia untuk menentukan nasib sendiri. Tak lain dan tak bukan, “Sitti Nurbaya” adalah gambaran persoalan dirinya sendiri yang waktu itu juga mengalami nasib serupa.

Dalam roman “Memang Jodoh” ini Marah Rusli mengganti namanya menjadi Marah Hamli, pergi ke Bogor dan bertemu dengan Radin Asmawati, alias Din Wati yang kemudian menjadi istrinya (nama sebenarnya adalah Raden Putri Kancana). Din Wati adalah orang Sunda, punya garis keturunan darah biru, sebagimana Marah Hamli yang juga keturunan ningrat dari Padang. Meskipun status sosial mereka setara, ada halangan besar melintang, yakni adat Padang yang tak memperbolehkan laki-laki Padang menikah dengan perempuan di luar sukunya. Di lain pihak paman Din Wati, Radin Anggawinata di Jati Negara, yang juga menolak perkawinan itu, karena sudah banyak kisah memilukan perkawinan dengan laki-laki Padang. Radin Anggawinata sebenarnya sudah menyiapkan jodoh buat Din Wati, yaitu Wedana Cianjur.

Kisah roman ini sempat tersimpan 50 tahun lamanya sebelum benar-benar diterbitkan oleh Qanita, atas wasiat dari Marah Rusli sendiri kepada anak-cucunya, agar kisah hidupnya ini boleh diterbitkan dan dibaca oleh banyak orang ketika tokoh-tokoh yang ada dalam roman itu sudah meninggal dunia semua. Penerbitan buku ini juga menjadi kado perkawainan Marah Rusli dengan Raden Putri Kencana yang telah menurunkan anak cucu yang cukup terpandang. beberapa tokoh yang dikenal saat ini antara lain: Harry Roesli (musikus), Rully Roesli (dokter dan penulis buku), serta Utami Roesli (penggerak IMD dan ASI ekslusif).

Kisah perjodohan mereka dibumbui dengan cerita takhayul, tapi mereka yakini sebagai  takdir dari Tuhan. Keduanya percaya karena beberapa peristiwa sebelumnya mengarah pada perjodohan ini. Mulai dari ramalan kartu Mpok Nur, bahwa Din Wati akan mendapat jodoh orang alim dari tanah seberang. Atau ramalan Ajengan Kiai Naidan, tatkala Din Wati masih berumur sepuluh tahun. Hamli inilah yang akan menjadi ayah anaknya, yaitu arwah Ajengan ini, yang akan kembali ke dunia. Sebaliknya, ibu Marah Hamli suatu malam bermimpi bahwa suaminya, Sutan Bandahara, datang dari tanah Jawa membawa seekor burung bayan (nuri) yang amat elok rupanya, dalam sebuaha sangkar permai, lalu diberikannya kepada Anjani, sebagai buah tangan dari Jawa. Menurut ahli nujum itu pertanda bahwa anak yang dikandung Anjani, Hamli, jodohnya ada di tanah Jawa.

Bisa jadi cerita takhayul yang diselipkan dalam roman ini adalah cara Marah Rusli menegaskan bahwa adat yang kaku juga harus dilawan dengan cerita takhayul, agar adat yang masih percaya dengan cerita-cerita takhayul mendapat tandingannya. Tapi bisa jadi memang cerita takhayul itu ingin dipakai oleh Marah Rusli sebagai bagian seting cerita yang terjadi pada masa itu. Itu adalah potret etnografi yang perlu untuk diketahui pembaca.

Roman ini masih asyik dibaca oleh generasi 60-an hingga 80-an, tapi mungkin akan sulit dicerna dan dikuti oleh generasi MTV, Manga atau K-POP yang sekarang ini merajela!

Review buku oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca


Data pengunjung

  • 197,984 Kunjungan

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

mm9

mm8

mm7

More Photos

Goodreads


Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,712 other followers