Cinta dan Toleransi

Kebutuhan untuk dialog antarumat beragama telah mendapat penekanan dengan adanya berbagai peristiwa beberapa tahun terakhir ini. Dialog antaragama dipandang sebagai alternatif atas topik yang banyak didiskusikan, yaitu “benturan peradaban”. Mereka yang tidak setuju dengan teori bahwa benturan peradaban tidak akan dapat dihindari mengusulkan, selain dialog tentang peradaban, pertukaran pandangan untuk saling memperkaya, berbagi pandangan yang dapat membawa semua orang memahami secara mendalam hakikat Tuhan dan Kehendak Tuhan untuk umat manusia di planet ini.

Itulah yang dibahas dalam buku Cinta dan Toleransi (BE Publishing: 2012). Buku ini menghadirkan pandangan-pandangan salah satu tokoh muslim dan pemimpin spiritual yang berpengaruh di dunia Islam dewasa ini. Gerakan yang diilhami dan dipandu oleh M. Fethullah Gulen menawarkan kepada umat Islam untuk hidup sesuai dengan nilai-nilai islami di tengah-tengah berbagai tuntutan masyarakat modern. Dari tempat asalnya di Turki, gerakan tersebut menyebar dengan cepat, melalui sekolah-sekolah di berbagai negara, melalui kegiatan-kegiatan kebudayaan dan media massa, dan melalui proyek-proyek sosial dan forum-forum dialog yang diselenggarakan orang-orang Turki yang tersebar di Eropa, Amerika Utara dan Australia hingga pengaruh gerakan Gulen dirasakan di semua wilayah, baik yang berpenduduk mayoritas beragama Islam maupun yang minoritas.

Buku ini memiliki tujuan ganda. Di satu sisi, buku ini mengajak umat Islam untuk benar-benar menyadari bahwa Islam mengajarkan perlunya dialog dan umat Islam dituntut untuk bisa menjadi agen-agen (khalifah Allah di muka bumi) dan saksi-saksi kasih sayang Tuhan yang universal. M. Fethullah Gulen menunjukkan pengetahuannya yang luas tentang Islam dengan membawa serta Al-Quran dan hadis yang dilaporkan dari Muhammad saw, dan pandangan-pandangan para tokoh muslim selama berabad-abad untuk membangun argumen yang meyakinkan bahwa toleransi, cinta dan kasih sayang adalah nilai-nilai Islam yang sebenarnya yang harus dibawa oleh umat Islam ke dunia modern.

Di sisi lain, buku ini berisi ajakan kepada nonmuslim untuk tidak berprasangka, curiga dan kurang percaya sehingga bisa memahami Islam yang sebenarnya. Seseorang yang pengetahuannya tentang Islam sebatas judul-judul berita di koran cenderung percaya bahwa agama tersebut mengajarkan terorisme, serangan bunuh diri, penindasan terhadap kaum wanita, dan kebencian terhadap orang-orang di luar komunitasnya. Siapakah yang sudi berdialog dengan orang-orang yang mempromosikan aksi-aksi seperti itu? Siapa yang mau tinggal bersama dengan orang-orang yang memiliki perilaku seperti itu?

Namun demikian, melalui tulisan-tulisan M. Fethullah Gulen, para pembaca akan mengetahui bahwa interpretasi yang benar terhadap ajaran Islam menunjukkan lebih pada nilai-nilai spiritual seperti ampunan, kedamaian batin, keharmonisan sosial, kejujuran dan kepercayaan kepada Tuhan. Dalam mengungkapkan nilai-nilai Islam ini, yang juga dimiliki oleh para penganut berbagai agama yang lain, Penulis tidak hanya mengajak orang-orang muslim untuk ikut berdialog, tetapi juga menyertakan nonmuslim dalam diskusi mengenai cita-cita bersama.

Seorang Pendeta Katolik yang tinggal di Roma sudah mengetahui anggota-anggota gerakan yang diprakarsai M. Fethullah Gulen selama lebih dari satu dekade. Ia menyatakan bahwa mereka secara tulus dan mengesankan menjalankan ajaran-ajaran pemandu spiritual mereka. Mereka dengan hormat menyapa Gulen “Hoca Effendi”, yang berarti “Guru”. Menurutnya, apa yang ada dalam buku ini diambil dari Al-Quran dan hadis, membentuk sikap-sikap yang dapat digunakan orang-orang muslim untuk mempraktikkan komitmen keagamaan mereka. Dalam membawa serta tulisan-tulisannya yang sudah muncul di berbagai jurnal dan wawancara, sebagian di antaranya belum pernah muncul dalam bahasa Inggris, M. Fethullah Gulen telah dengan baik melayani mereka yang ingin mengetahui cita-cita yang menandai gerakan ini.

Beberapa tahun yang lalu, Pendeta tersebut memberi kuliah di Urfa dan Gaziantep di Turki bagian timur. Dalam perjalanan pulang ke Roma, ia diundang untuk menemui sekelompok orang-orang muda di Istanbul pada pertemuan yang diadakan oleh gerakan Gulen. Sesampai di sana, ia terkejut mendapati perkumpulan sekitar 4.000 pemuda. Ketika berbicara di hadapan mereka, ia tahu bahwa mereka mewakili berbagai kalangan pemuda Istanbul, sebagian mahasiswa teknik, kedokteran dan ilmu komputer, sebagian lainnya karyawan dan karyawati. Beberapa wanita di antaranya bekerja sebagai sekretaris, agen perjalanan, atau guru sekolah. Ia juga bertemu pemuda yang bekerja di bank, sopir truk dan pekerja bangunan.

Mereka adalah para pemuda yang bergembira dan antusias yang berkumpul bersama untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. Ia merasa sangat aneh, sebagai seorang Pendeta Katolik diundang untuk berbicara di hadapan mereka dengan tema “Rasulullah, Rahmat bagi Umat Manusia”. Ceramahnya diikuti dengan pembacaan puisi untuk menghormati Muhammad, dan malam itu ditutup dengan penyanyi terkenal Turki yang membawakan lagu puji-pujian kepada Tuhan dengan diiringi gitar elektrik. Ia merasakan malam itu seperti dalam banyak acara, bahwa jika M. Fethullah Gulen dan gerakannya telah mampu menanamkan keinginan pada sekian banyak pemuda untuk memuji dan bersyukur kepada Tuhan dan untuk hidup dengan cinta dan saling menghormati satu sama lainnya, mereka pasti telah terlibat dalam upaya spiritual yang sangat berharga.

Orang-orang nonmuslim akan setuju, bahwa inilah orang-orang yang bisa diajak untuk hidup berdampingan dan bekerja sama untuk kemaslahatan semua orang. Namun, tak diragukan lagi akan ada pertanyaan tentang pandangan-pandangan Gulen dan gerakannya terhadap orang lain di dunia muslim yang mudah berbuat kekerasan. Dalam buku ini, Penulis juga membahas pertanyaan “sulit” ini dalam bagian “Jihad-Terorisme-Hak Asasi Manusia”, yang menjelaskan pengertian jihad dan menyatakan secara jelas bahwa seorang muslim sejati tidak akan pernah terlibat dalam terorisme.

Gulen, sebagai guru spiritual yang dijuluki oleh Pendeta Katolik tersebut pernah menyatakan,

”Seandainya saya punya kemampuan untuk membaca pikiran orang, yaitu, seandainya saya punya kemampuan untuk mengetahui setiap orang dengan karakteristik khusus masing-masing, tentunya saya akan membimbing setiap orang menuju bukit kesempurnaan yang paling layak untuk mereka. Saya akan merekomendasikan refleksi, kontemplasi, pembacaan berkelanjutan; saya akan memberitahu mereka untuk mempelajari tanda-tanda Tuhan di alam, di diri manusia itu sendiri; saya akan menyarankan kepada orang lain untuk membaca ayat-ayat Al-Quran dan doa-doa tertentu secara reguler; saya tetap akan memberitahu orang lain untuk terus merefleksikan fenomena “alam”. Yakni, saya akan memberikan tugas-tugas kepada orang-orang pada bidang masing-masing sesuai kemampuan alami mereka.”[]

Review buku oleh Addys Aldizar.

Kicau Kacau

Indra Herlambang benar-benar kacau jika sudah mencercau. Mungkin terbawa dengan keceriwisannya saat masih membawakan acara infotainment bersama Cut Tari beberapa tahun lalu. Dunia infortainment, celebrity, dan  persoalan remeh-temeh yang dia lihat, dan rasakan menjadi bahan tulisan yang menarik. Sudut pandang atau cara dia mengungkapkan peristiwa memang selalu memakai kacamata manusia biasa yang seringkali dia sendiri ikut terlibat dalam peristiwa yang dia tuliskan. Jadi tidak ada jarak. Dan itu membuat dia tahu betul persoalan manusia moderen, yang selalu galau alias gelisah dan kacau.

Buku Kicau Kacau (Gramedia: 2011) memang menggambarkan kekacauan cara berfikir sebagian  besar manusia moderen yang mudah galau, bingung, tak punya pendirian. Yang seringkali hidup hanya sekedar mengikuti gaya, trend, dan arus utama pada masanya.

Bandingkan dengan manusia yang hidup pada jaman, di mana efek digital belum begitu kuat menyergap setiap sendi kehidupan. Manusia jaman dahulu lebih mendarat, punya prinsip hidup yang biasanya diperoleh lewat wejangan, ”saur sepuh,” lewat petuah lisan, pertunjukan wayang, gurindam, dongeng, tembang, dll. Kearifan masa lalu itu cukuplah jadi pegangan hidup.

Manusia moderen itu rawan galau dan kacau, jika memang tidak punya prinsip, dan hidup hanya sekedar ikut-ikutan orang lain.  Karakter Indra Herlambang pas sekali menggambarkan fenomena itu. Dan orang tidak perlu merasa nyinyir atau naik pitam membaca tulisan-tulisannya, karena memang dia sendiri ikut serta dalam peristiwa itu, dan hadir bukan sebagai sosok yang menghakimi. Beragam hal yang dia coba ulas, diantaranya tentang persoalan gaya hidup, status perkawinan, Jakarta, Indonesia, dan persoalan keluarga.

Tulisan-tulisan itu sebelumya telah tersebar di berbagai majalah seperti Free magazine,  U magazine, ME Asia, dalam bentuk kolom. Gaya penulisannya mirip dengan gaya penulisan kolom parodi Samuel Mulia, yang biasa hadir setiap minggu di Harian Kompas. Tulisan-tulisan semacam itu memang cocok untuk rubrik gaya hidup.

Membaca tulisan Indra Herlambang tidak perlu mengernyitkan dahi. Dan memang tidak semua pandangan hidupnya wajib kita ikuti. Itu kan Cuma curahan hati, cara pandang dia melihat persoalan kehidupan. Tapi saya justru lebih suka menikmati goresan sketsanya yang dia buat sendiri untuk ilustrasi bukunya itu. Bahasa visualnya lebih membebaskan saya untuk berimajinasi. Indra Herlambang memang lulusan FSRD ITB jurusan desain komunikasi visual, selain seorang presenter, penyiar radio, kini menjadi seorang penulis.

Jadi, bagi yang sedang galau, bacalah buku Indra Herlambang ini. Dijamin ada temen curhat yang membuat hidup Anda yang sedang kacau jadi lebih kacau lagi.

Review buku ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

Lolita

Cover buku Lolita (Serambi: cetal ulang 2011)

Humbert Humbert, seorang profesor ahli sastra, berusia setengah baya, terobsesi cinta dengan seorang gadis muda belia. Dolorez Haze, sang Lolita. Agar ia bisa berdekatan dengan sang gadis belia, yang disebutnya “peri asmara”- Humbert menikahi ibu sang gadis. Takdir seolah berpihak pada sang Profesor, si ibu meninggal dalam kecelakaan. Humbert kemudian membawa anak tirinya berkelana keliling Amerika Serikat, menikmati cinta terlarang dengan segala manis- getirnya.

Novel ini dipandang sebagai salah satu novel terbaik sepanjang masa, paling tidak karena beberapa alasan. Pertama, tema cerita, sangat berani untuk zamannya (tahun ‘50an) yaitu tentang obsesi psikologis – ketertarikan seksual orang dewasa terhadap gadis belia (13 tahun- ketika dijadikan film diubah menjadi 15 tahun).  Tema ini membuat penerbitan novel  tertunda beberapa tahun. Terbit pertama dalam bahasa Inggeris di Prancis, tahun 1955 karena penerbit di Amerika menolak menerbitkan novel ini dengan alasan melanggar tata susila. Bahkan di Prancis sekalipun, novel ini dianggap berbahaya dan dilarang beredar, hingga dicabut larangannya tahun 1958. Novel ini terbit di USA tahun 1958, dan menjadi novel terlaris, dicetak 100.000 eksemplar yang habis terjual dalam waktu 3 minggu. Novel ini pernah dilarang beredar di Inggeris, Australia, Burma, Belgia, Austria. Bahkan di kampung halaman Nabokof, Rusia, novel ini baru beredar tahun 1980an- era Gorbachev. Di Indonesia, novel ini terbit pertama kali tahun 2008 oleh Serambi, menjadi novel laris dengan terjual 23.000 eksemplar dan kemudian dicetak ulang Oktober 2011.

Alasan kedua, adalah kepiawaian Nabokof, sang penulis novel yang luar biasa dalam teknis penulisan yang tidak lazim pada zamannya. Teknik flash-back, bahasa simbolik, bertutur dalam model riwayat hidup sedemikian kuatnya sehingga pembaca terhanyut dalam gulatan psikologis sang profesor, bahkan mampu membuat pembaca simpati dengan ‘cinta terlarangnya’, disamping suasana humor dan kegetiran hidup yang dibangunnya. Walau demikian, Humbert pada akhirnya juga berkata: “ perkawinan yang paling kacau sekalipun- masih lebih baik dari sebuah hubungan inses”.

Ketiga, jauh dari bayangan pembaca yang dipengaruhi kontroversial tema phaedopilia dan pelarangan novel “berbahaya” ini,  novel ini sama sekali tidak memuat deskripsi yang dapat “merangsang” pembaca. Novel ini sama sekali tidak memuat paragraf cabul. Disinilah kehebatan penulis, sehingga disatu sisi novel ini dapat dianggap sebagai novel dengan tema gangguan psikologis- kasus psikiatrik.

Lolita, sedemikian popularnya, dan dianggap sebagai salah satu novel paling berpengaruh pada abad kedua puluh oleh majalah Time dan dua kali diangkat ke layar lebar, tahun 1962 (sutradara Stanley Kubrick) dan tahun 1997 (Sutradara Adrian Lyne).

Review buku ditulis oleh Syahrizal Syarif, sesepuh komunitas Rumah Baca

Ikhtiar Persahabatan dalam Korespondensi

Relasi antara umat muslim dan kristiani telah berlangsung sejak 14 abad lalu, sesaat setelah risalah agama Islam dibawa Muhammad SAW. Sejak itu pula hubungan antara umat muslim dan kristiani melewati masa-masa pasang surut. Kecurigaan, peperangan, perdamaian dan persahabatan secara siklikal silih berganti menandai hubungan antarumat dua agama besar di dunia ini Meskipun pada permukaan tampaknya persahabatan didemonstrasikan namun sesungguhnya masing-masing ajaran agama disalahmengerti, yang kemudian dikodifikasi dalam ujaran-ujaran yang membenarkan agama masing-masing. Untuk mengurai ketegangan teologis inilah, Vatikan, otoritas kristiani terbesar di dunia memulai inisiasi untuk mencairkan hubungan antaragama. Usaha ini antara lain ditandai dengan rilis Ucapan Selamat Idul Fitri bagi umat muslim di seluruh dunia sejak tahun 1967 oleh Sekretariat untuk Agama-Agama Non-Kristiani yang kemudian berganti nama menjadi Dewan Kepausan untuk Dialog Antaragama (Pontifical Council for Interreligious Dialogue/PCID). Sejak tahun 1991, sesaat setelah Perang Teluk meletus yang membuat ketegangan antarumat beragama semakin menguat, Sri Paus Johannes Paulus II mengambil inisiatif menulis sendiri ucapan selamat ini kepada saudara muslimnya di seluruh dunia. Ucapan Selamat Idul Fitri ini kemudian dibukukan dalam Perjumpaan dalam Persahabatan: Surat-Surat dari Vatikan kepada Umat Islam 1967-2011 (Penerjemah Aan Rukmana, Editor P. Markus Solo Kewuta, P.T. Elex Media Komputindo Kompas Gramedia, 2011).

Pada tahun-tahun pertama rilis Ucapan Selamat Idul Fitri, Vatikan merasa perlu berkali-kali untuk menegaskan bahwa ungkapan silaturahmi ini bukanlah ungkapan biasa dan bersifat formalitas melainkan sikap tulus umat kristiani yang merasa memiliki iman yang sama pada Allah Yang Maha Kuasa dan Maha Rahim. Dengan begitu, sebuah dunia baru yang mengganti kebencian dengan kasih, kecurigaan dengan pengertian dan ketakacuhan dengan solidaritas dapat dibangun. Persahabatan yang ditandai dengan korespondensi ini tak hanya berakar pada iman yang sama tetapi juga persahabatan yang dipersatukan oleh Allah sendiri. Bagi Vatikan, korespondensi ini diharapkan dapat menghentikan segala ketegangan maupun peperangan yang antara lain disebabkan karena perspektif teologi masing-masing agama yang disalahpersepsikan.

Dalam banyak Ucapan Selamat Idul Fitri yang dirilis, Vatikan berulangkali hendak meyakinkan umat muslimin bahwa umat kristiani sangat memahami laku religius yang dilakukan umat muslim sebelum merayakan Idul Fitri: Puasa Ramadan. Puasa juga merupakan salah satu ritus yang dilakukan umat kristiani, sehingga berkat dari puasa yang dilakukan umat muslim yakni penghayatan keimanan yang semakin meningkat juga dirasakan umat kristiani yang melakukan puasa sesuai ajaran agamanya. Interdependesi yang diajarkan dalam ritus puasa  selain memperkuat nilai-nilai spiritualitas seperti solidaritas dan pertobatan hati diharapkan  juga mempertemukan umat kristiani dan muslimin dalam situasi saling menghargai dan percaya serta melampaui perbedaan-perbedaan yang tak perlu ditutupi. Puasa atau menahan nafsu diri memang ritus paling lazim dalam banyak agama dan kepercayaan di dunia.

Meskipun tak ingin dianggap formalitas, Vatikan sejak mula mengakui bahwa korespondensi ini lebih banyak bersifat solidaritas dan sebagai satu upaya untuk berusaha mengenal satu sama lain secara lebih baik. Vatikan secara tulus menyebutkan bahwa kata-kata dalam korespondensi tidak dapat serta merta membawa damai ke tempat di mana peperangan sedang berlansung, atau membawa tawaran pekerjaan ke tempat di mana penganggur berada maupun membawa kebahagiaan bendawi ke tempat di mana kaum papa bermukim. Namun kiranya tanda-tanda persahabatan yang tumbuh akan menjelma menjadi kedamaian dan kebahagian seturut Idul Fitri yang dirayakan kaum muslimin.

Tak hanya mengulas isu-isu normatif dalam dialog antaragama seperti perdamaian, cinta kasih, atau tanggungjawab moral, Vatikan dalam tahun-tahun pada dekade 1990-2000-an mulai membuka diri terhadap isu-isu aktual masyarakat dunia zaman milennium seperti kemiskinan,  pemuda, anak-anak sebagai generasi penerus, teknologi termasuk di dalamnya kedokteran, genetika, teknologi informasi hingga internet agar selalu setia melayani manusia berdasar nilai-nilai kemanusiaan.

Umat muslim sebagai subyek korespondensi, terutama yang bermukim di Indonesia patut berbangga karena mendapat tempat dalam pesan-pesan perdamaian Vatikan. Secara eksplisit Vatikan menyebut Indonesia pada beberapa ucapan untuk menggambarkan relasi yang telah dibangun Vatikan dengan komunitas-komunitas muslim dunia. Meskipun aktif dalam dialog yang diselenggarakan masing-masing agama, usaha yang dilakukan Vatikan belum serta merta meredakan ketegangan teologis yang ada meskipun kita harus mendukukkan ketegangan ini sebagai faktor yang dependen terhadap banyak variabel yang terjadi—dan tentu tak diharapkan umat kedua agama.

Meski Vatikan telah mengawali memberi Ucapan Selamat Idul Fitri, membalas Ucapan Selamat Natal bagi sebagian umat muslim di tanah air telah menjadi polemik berkepanjangan. Bermula setidaknya sejak tahun tahun 1981 tatkala Komisi Fatwa MUI merilis fatwa yang ditandatangani oleh K.H. M. Syukri dan Drs. H. Mas’udi bahwa mengikuti upacara Natal bersama bagi umat Islam hukumnya haram yang kemudian ditafsirkan secara beragam oleh umat: ada yang menyebutkan bahwa fatwa hanya mengatur soal “upacara Natal bersama”—ada yang memahami upacara dalam konteks sakramen (ritual) Natal; ada pula yang memperluas maknanya sekaligus pada “Ucapan Selamat Natal”; maupun umat yang bersandar pada fatwa-fatwa ulama lain seperti Syeikh Al-’Utsaimin dan Ibnul Qayyim yang mengharamkan ucapan Selamat Natal maupun ulama lain yang membolehkan ucapan Selamat Natal dengan sejumlah catatan seperti Dr. Mustafa Ahmad Zarqa’ dan Dr. Yusuf Al-Qaradawi—ulama yang disebut terakhir cukup populer di tanah air.

Walaupun telah digelar sejumlah pertemuan dan konferensi melengkapi pesan-pesan yang dirilis Vatikan, sejumlah praktik beragama masing-masing umat masih menimbulkan ketidaknyamanan bagi umat agama lain. Tahun 1989 misalnya, pemuka-pemuka umat Islam Indonesia yakni Mohammad M. Natsir (mantan Perdana Menteri RI), K.H. Masykur (mantan Menteri Agama RI), K.H. Rusli Abd. Wahid (mantan Menteri Negara RI), dan Prof. Dr. H.M. Rasyidi (mantan Menteri Agama RI) melakukan korespondensi dengan Vatikan, mengucapkan selamat datang atas rencana kunjungan Paus Johanes Paulus II ke Indonesia. Melalui surat itu Natsir dan kawan-kawan secara santun meminta perhatian Vatikan atas penyalahgunaan Diakonia (pelayanan masyarakat) yang bagi sebagian umat muslimin dianggap sebagai Kristenisasi meskipun telah digelar Konferensi Internasional tentang Misi Kristen dan Dakwah Islam di Chambesy tahun 1976 sebagai ruang bagi tumbuhnya dialog, toleransi dan semangat saling menghargai.

Realitas ini tentu tidak dapat dijadikan konklusi bahwa umat muslim tak merespons secara positif pesan-pesan universal Ucapan Selamat Idul Fitri dari Vatikan, maupun ditafsirkan sebagai sikap mendua Vatikan dalam praktik beragama yang tak selaras dengan pasan-pesan perdamaiannya sehingga ketidaknyamanan masih hadir dalam sanubari saudara muslimnya. Realitas ini justru menegaskan bahwa Ucapan Selamat Idul Fitri dan pesan-pesan perdamaian Vatikan serta dialog, dan konferensi antarumat beragama semakin relevan untuk diteruskan untuk melampaui semua ketidaknyamanan akibat sesuatu yang salah dimengerti. Harapan dari semua ini tentu saja kedamaian, cinta kasih, penghargaan atas martabat kemanusiaan dapat mewujud dalam kehidupan sehari-hari yang salah satu perjuangannya dilakukan melalui teks-teks korespondensi.

Review buku ditulis oleh Febrie Hastiyanto, Kontributor pada Komunitas Rumah Baca. Pernah sekolah di Sosiologi FISIP UNS.

Sastra Lisan, Seni dan Ilmu

Cover buku "Studi Sastra Lisan" (Lemera: 2010)

Saat berkeliling ke berbagai pelosok Nusantara, hal paling seru yang saya lakukan adalah berburu kisah-kisah yang dituturkan secara lisan oleh petutur lokal. Banyak kisah sarat makna kehidupan disana, meskipun kadang-kadang berselimut metaphor. Tak mudah menangkap makna simbolik di baliknya, tapi di situ letak seninya.

Sastra lisan termasuk dalam bidang seni dan ilmu. Sebagai sebuah bidang kesenian, sastra lisan dipandang sebagai sebagai hasil kreativitas manusia yang mengandung keindahan. Sastra yang memiliki medium kelisanan itu membawa pesan keharmonisan dari dan untuk masyarakat. Itulah sebabnya, buku Studi Sastra Lisan (Lemera: 2010) yang ditulis oleh Yoseph Yapi Taum, melihat sastra lisan sebagai proyeksi pikiran dan emosi manusia yang paling jujur manifestasinya.

Sebagai sebuah bidang keilmuan, studi sastra lisan memiliki seperangkat teori, metode, dan pendekatan untuk menyelidiki, menemukan, dan meningkatkan pemahaman manusia. Sastra lisan dipandang sebagai sebuah bidang ‘existential knowledge’ yang penting dipelajari sebagai upaya mencari dan menemukan kebenaran kemanusiaan.

Sebagai sebuah bidang kesenian, sastra lisan muncul dari keterpesonaan manusia menyaksikan kekuatan ‘ilahi’ yang dahsyat, agung, dan luar biasa. Ekspresi-ekspresi sastra lisan dalam bentuk mitos, dongeng, dan legenda itu menentramkan dan menggembirakan manusia.  Di dalamnya manusia mengenali hubungan yang akrab dan hangat antara dirinya dengan kukuatan-kekuatan lain, bahkan dengan sumber atau asas segala sesuatu yang menarik, mengikat dan memikat.  Dalam proses penciptaan itu, manusia mengalami semacam ‘ekstase’ di mana dia merasa berada di luar ruang dan waktu sehari-hari. Manusia menyerahkan dirinya kepada yang indah. Karena itulah, memahami Legenda Ratu Roro Kidul, misalnya, kita mengenal manusia yang luluh dengan keindahannya: aspek-aspek manusiawi diterobos. Memahami legenda itu sebagai sastra lisan, berguna untuk memahami manusia dengan cara yang mendalam (verstehen), bahwa dia bukan hanya sekadar makhluk duniawi semata.

Sastra lisan adalah kreasi estetik dari imaginasi manusia. Para penutur sastra lisan itu tak ubahnya dengan novelis-novelis atau penyair-penyair yang menyusun cerita panjang dengan imaginasi dan sensitivitas khusus yang kompleks, yang muncul dari ’rangsangan yang hebat antara permainan kekuatan alam dan manusia.’

Dalam politik kebudayaan nasional,  yang diidealkan sebagai sastra dan menduduki domain estetika hanyalah ‘sastra resmi tulisan,’ yaitu sastra yang diajarkan di sekolah-sekolah formal dan mewakili sastra Indonesia serta yang  diabsahkan oleh politik. Di luar ‘sastra resmi tulisan’ terdapat sastra terlarang (sastra Lekra, karya-karya Ki Panjikusmin), sastra yang diremehkan (sastra populer, sastra remaja, sastra radio), dan sastra yang dipisahkan (sastra lisan) (Heryanto, 1980). Sastra lisan “dipisahkan” dari pembicaraan resmi karena dipandang tidak sesuai dengan ciri formal dan kualitas yang biasanya diterima dalam pembicaraan ‘sastra Indonesia’.

Sastra lisan merupakan sebuah bidang ilmu yang baru. Kesadaran untuk memahami sastra dan kebudayaan lisan secara akademis memang merupakan hasil perkembangan yang relatif baru, termasuk juga  di dunia Barat. Ilmuwan abad ke-19, misalnya, memandang teks lisan sebagai tulisan  yang tidak tertulis (unwritten writing) yang kemudian ditulis, dan pada akhirnya mencapai bentuk ‘standar’ yakni prosa atau puisi tulisan yang gramatik.

Sebagai sebuah bidang ilmu yang baru, pertumbuhan studi sastra lisan di Indonesia masih menghadapi berbagai hambatan yang tidak mudah. Di beberapa fakultas sastra ataupun jurusan pendidikan bahasa dan sastra Indonesia, selain tidak terdapat mata kuliah sastra lisan, mahasiswanya pun tidak diperbolehkan untuk menulis skripsi dalam bidang sastra lisan dengan alasan sastra lisan bukan merupakan bidang kajian akademik. Perhatian para perencana pembangunan dan kalangan akademisi terhadap kebudayaan lisan, tradisional, kesukuan tidak banyak diberikan.

Hambatan-hambatan semacam itu perlu segera diatasi. Seperti dikatakan dalam buku ini, studi sastra lisan di Indonesia perlahan-lahan tumbuh menjadi sebuah bidang kajian akademis dan kini mulai memasuki arus utama dan arus populer ilmu sastra. Sebagai sebuah bidang kajian akademis, studi sastra lisan memiliki sejumlah objek kajian dengan metodologi yang beragam sesuai dengan tujuan dan objek kajian yang dihadapi.

Buku ini mengulas dan menghadirkan berbagai persoalan historis, teoretis, akademis, serta aplikatif dalam bidang studi sastra lisan. Beberapa teori analisis sastra lisan dikemukakan secara komprehensif dalam buku ini, antara lain Madzab Finlandia, Teori Parry-Lord, Vladimir Propp, A. J. Greimas, Claude Levi-Strauss, dan James J. Fox. Selain itu, banyak contoh kajian sastra lisan yang memberi inspirasi bagi pembaca untuk memahami dan mengkaji berbagai fenomena sastra lisan.

Lalu, apa pentingnya sastra lisan ini?

Sastra lisan itu merupakan kesadaran kolektif yang tersebar dan diwariskan turun-temurun. Karena itu, studi sastra lisan pun pada gilirannya mampu memberikan kontribusi yang besar bagi pengembangan ekonomi kreatif. Istilah ekonomi kreatif, yang kini sangat populer dengan dibentuknya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, seringkali digunakan secara bergantian dengan istilah creative industries dan culture industry. Ekonomi kreatif adalah usaha-usaha dan produksi kreatif yang berkaitan dengan kebudayaaan sebuah bangsa.

Marilah kita mulai dengan menggali kekayaan sastra lisan di bumi Nusantrara yang kaya raya ini.

Review buku oleh Agustinus Patrick Sephira Taum

Next Page »


Data pengunjung

  • 108,339 Kunjungan

Resensi yang lain

Index

my pictures

khadir supartini 8

khadir  supartini 4

khadir suaprtini 6

More Photos