SINDROM ANAK SINGKONG

Kisah Penjual Koran yang Jadi Wartawan

Sindrom anak singkong bagus untuk dihidupkan dalam rangka membangun karakter bangsa yang mau bekerja keras, dan mencintai produk dalam negeri (baca: singkong, bukan keju!)

Menurut kamus Webster, sindrom adalah himpunan gejala atau tanda yang terjadi serentak (muncul bersama-sama) dan menandai ketidaknormalan tertentu; hal-hal (seperti emosi atau tindakan) yang biasanya secara bersama-sama membentuk pola yang dapat diidentifikasi. Istilah ini sering dipakai di bidang kedokteran dan psikologi. Tapi istilah ini juga dipakai untuk menerangkan gejala sosial tertentu. Seperti contoh munculnya “Cinderella syndrome,” yang menjelaskan gejala perempuan yang memiliki masalah ketidakmandirian dan berhasrat untuk menikah dengan lelaki yang lebih tua atau lebih kaya, seperti kisah Cinderella yang melegenda itu.

Pada contoh yang lain, ada yang disebut sebagai “Stockholm Syndrome,” yang merujuk pada kejadian penyanderaan di  Stockholm, Swedia, sekian tahun lalu. Pada kasus penyanderaan itu, terjadi pola relasi yang intim antara penyandera dengan pihak yang disandera. Alih-alih terjadi kebencian dan balas dendam di hati para pihak yang disandera, mereka justru simpati dengan misi penyenderaan itu.

Akhir-akhir ini bermunculan berbagai buku kisah sukses orang yang mengawali karirnya dari orang biasa. Bahkan ada yang secara eksplisit menyebut dirinya sebagai “Anak Singkong.”  Memoar orang sukses akan lebih memikat ketika diawali dengan sederet kisah perjuangan dan lelehan keringat.  Kisah orang sukses yang dilahirkan sebagai anak orang kaya, bisa  kuliah di luar negeri, mahir berbahasa Inggris, bergaul dengan kaum sosialita, tak akan menjadi bahan bacaan yang menarik. Karena itu sudah lumrah dan memang seharusnya begitu. Tak ada pelajaran moral yang bisa ditarik dari sana, kecuali ada nilai-nilai lain yang unik dan  khas dari tokoh yang ditulis di sana. Pelajaran moral dari kisah sukses yang berasal dari anak orang miskin, punya mimpi besar dan mau bekerja keras akan terasa indah dan bermakna jika dilalui dengan cara itu.

Saya menyebut fenomena baru itu sebagai sindrom anak singkong.

Cover Novel "Tidur Berbantal Koran," Karya N. Mursidi (Elex Media Computindo: 2013)

Cover Novel “Tidur Berbantal Koran,” Karya N. Mursidi (Elex Media Computindo: 2013)

Novel  “Tidur Berbantal Koran” karya N. Mursidi (Elex Media Computindo: 2013), kembali menegaskan tentang perjuangan keras seseorang dalam meraih mimpi. Ini adalah sebuah novel tentang cerita anak singkong. Cerita tentang anak desa yang punya hak yang sama untuk meraih mimpi. Sebangun dengan spirit novel tetralogi “Laskar Pelangi” yang ditulis oleh Andrea Hirata.

Dalam tulisan resensi buku N. Mursidi ini, tentu saya tidak sedang menempatkan dirinya seperti tokoh besar dan superkaya yang bangga menceritakan kepada orang-orang bahwa dulunya adalah orang biasa, anak orang miskin atau orang desa. Saya hanya ingin menempatkan N. Mursidi pada satu posisi di mana anak singkong bisa meraih kesuksesan yang dia impikan ketika masih jaman susah dulu. Maka segala sisi kemiskinan, penderitaan yang perkepanjangan bukan lagi menjadi sesuatu yang harus disembunyikan, atau tabu untuk diceritakan. Pada satu sisi, justru di situ kekuatan narasi yang ingin dibangun melalui tulisan. Dan pada sisi yang lain, pembaca akan sangat menikmati tulisan semacam itu.

Novel yang berdasarkan pada kisah nyata ini  menceritakan dengan gamblang dan lugas perjuangan N. Mursidi yang ingin keluar dari jerat kemiskinan dengan cara ingin kuliah di Jogja. Tapi kuliah di Jogja justru menyorongkan dirinya pada nasib lain berupa kebutuhan finansial yang tidak sedikit. Kuliah di univeritas swasta, Universitas Sarjana Wiyata, pastilah akan menyedot kebutuhan finansial yang tidak sedikit. Terutama dengan latar belakang ekonomi keluarganya yang tidak mendukung. Tapi niat itu sudah terpatri dan pantang baginya untuk pulang ke Lasem, Jawa Tengah, tempat dia lahir dan dibesarkan.

Pada semester awal kuliah di Universitas Sarjana Wiyata itu, N. Mursidi terpaksa kembali lagi ke Lasem karena orang tuanya sakit keras. Keputusan itu membuat dia harus merelakan melepas mimpi untuk kuliah di Jogja. Tapi seberapa lama dia sanggup dengan kondisi itu? Dengan tekad yang membara dia putuskan untuk kembali lagi ke Jogja. Dan kuliah di IAIN adalah pilihan terbaik, karena itu adalah sebuah perguruan tinggi negeri yang relatif lebih murah. Lalu bagaimana dia menghidupi dirinya, karena pasokan finansial tak lagi lancar dari orang tuanya? Cara yang paling mudah untuk menopang hidupnya sembari kuliah adalah sebagai penjual koran. Maka suka duka sebagai penjual koran jalanan menjadikan novel ini menarik untuk diikuti. Di sana, sekolah kehidupan justru sedang dimulai. Di jalanan, N. Mursidi banyak pelajaran hidup, terutama kerasnya kehidupan jalanan, yang telah menjadikan dirinya sebagai pribadi yang matang dan pantang menyerah.

Suka duka mencari topangan hidup sembari kuliah, tinggal di kost yang mirip kandang ayam, dan mimpi untuk menjadi penulis terus menjadi obor semangatnya untuk terus bertahan di Jogja.

Karir kepenulisan N. Mursidi justru dimulai sebagai tukang koran itu. Karena seperti yang dia kutip dari Stephen King, “Kalau engkau ingin menjadi penulis, ada dua hal yang harus kau lakukan: banyak membaca dan menulis. Setahuku, tidak ada jalan lain selain dua hal itu, dan tidak ada jalan pintas.”    (hal 168).  Bahan bacaan berlimpah dari tulisan yang ada di koran yang dia jual setiap hari. Nasib juga mempertemukan N. Mursidi dengan buku-buku yang dia temukan di kamar terkunci di sebuah rumah kontrakan yang dia sewa bersama teman-temannya, juga dari buku-buku yang dia dapat pinjam dari temannya. Tak ada guru dalam menulis. Semua dia lakukan secara otodidak, dengan cara melakukan pengamatan dari berbagai tulisan, dan latihan yang hampir setiap malam dia lakukan dengan mesin ketik butut. Olah latih menulis itu dia lakukan di tengah guncangan rel kereta yang hanya berjarak sekian meter dari kamar kost-nya. Di tengah-tengah insomnia malam hari.

Kejadian paling membekas dalam karir kepenulisannya adalah ketika untuk pertama kalinya N. Mursidi mendapat honor dari karyanya sebesar Rp. 20.000. Dan ketika teman-teman kampusnya tahu, dia ditodong untuk mentraktir mereka. Dan hasilnya dia harus mengeluarkan uang sampai Rp. 22.000. “Kalian semua memang rakus! Honor yang kuterima cuma dua puluh ribu, tetapi kalian makan menghabiskan lebih dari honor yang aku terima…” (hal 116). Padahal sejatinya uang itu adalah andalan satu-satunya di dapat bertahan hidup di Jogja dengan cara menulis. Orang lain mungkin sudah sampai pada taraf aktualisasi diri ketika menulis. Tapi N. Mursidi menulis untuk mengganjal perut. Dan teman-temannya telah menyerbot kebutuhan dasarnya.

Novel ini juga menegaskan soal pilihan hidup yang dijalanai dengan tulus dan penuh kecintaan. Di sana ada passion. Jalan hidup N. Mursidi juga menunjukkan bahwa passion adalah penuntun sejati. Jalur sekolah formal, selembar ijazah, menjadi tidak ada artinya jika itu tak dilandasi dengan kecintaan penuh untuk melakukan sesuatu.

Novel ini juga sedikit dibumbui dengan kisah asmara antara N. Mursidi dengan seorang dara bernama Aida, meskipun tidak secara jelas diceritakan kelanjutan dari kisah asmara ini. Di sana juga bertebaran bumbu-bumbu humor yang keluar dari dialog dengan teman-temannya semasa kuliah. Nama teman-teman N. Mursidi sengaja ditulis dengan nama asli, bahkan dengan nama panggilan mereka. Barangkali itu adalah salah satu ungkapan terima kasih N. Mursidi atas jasa mereka dalam rentang sejarah hidupnya.

JIka ingin menyebut kekurangan, maka kekurangan novel ini terutama terletak pada pengolahan karakter tokoh-tokoh yang ada di sana. Sebagai sebuah novel, karakter N. Mursidi terlalu dominan mewarnai mulai dari lembar pertama hingga lembar terakhir. Tokoh-tokoh lain yang ada dalam novel ini hanya hadir sebatas figuran tempelan yang tak begitu penting. Plot cerita juga tak memiliki konflik yang berujung pada solusi di akhir cerita. Kecuali fragmen cerita yang dia susun dalam beberapa bab, dan pecahan sub bab.

Terlepas dari semua itu, novel ini masih relevan untuk hadir di tengah-tengah publik Indonesia yang kian lama kian terpuruk dalam kubangan penyakit kronis konsumtif dan koruptif yang kian hari kian menggerogoti sendi kehidupan bangsa Indonesia. Sindrom anak singkong justru bagus untuk dihidupkan dalam rangka membangun karakater bangsa yang mau bekerja keras, dan mencintai produk dalam negeri (baca singkong, bukan keju!)

Review novel oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

Superhero Juga Manusia

Cover buku "Superhero Juga Manusia." Karya Hermawan Kartajaya (Gramedia: 2012)

Cover buku “Superhero Juga Manusia.” Karya Hermawan Kartajaya (Gramedia: 2012)

Saya mengenal Hermawan Kartajaya lebih dari 10 tahun lalu lewat buku-bukunya. Buku pertama yang membekas dalam ingatan saya adalah “Marketing in Venus.” Buku itu menguak kesadaran saya bahwa dunia telah berubah. Manusia telah berubah dalam memandang dunia. Bagi mereka yang tidak tahu bahwa di sana ada perubahan, ya silahkan saja berdiri terpaku di tempatnya.

Ringkasan yang selalu saya bawa ke sana kemari terhadap buku itu adalah bahwa manusia bumi telah berubah menjadi manusia venus. Hati telah menggantikan otak, yang dulu amat dibangga-banggakan orang. Desain juga telah berubah, yang dulu kaku, kasar, dan terkesan macho, kini telah berubah menjadi feminim, lembut, dan halus. Perhatikan desain hand phone di tangan Anda, atau desain sepeda motor, mobil yang Anda kendarai.

Buku terbaru Hermawan Kartajaya langsung menohok mata ketika berjajar di rak buku: “Superhero Juga Manusia” (Gramedia: 2012). Buku ini merupakan kumpulan 107 tulisan Hermawan Kartajaya tentang New Wave Marketing dan Marketing 3.0 di Harian Jawa Pos.

Di mata saya, Hermawan Kartajaya adalah sosok yang kuat, sekuat pesan-pesan yang dia bawakan di ranah dunia marketing. Positioning-nya kuat. Padahal dia mengaku, dulu hanyalah lulusan IKIP, yang seharusnya jadi guru. Tapi sejarah kemudian membuktikan bahwa dia memang kemudian benar-benar menjadi guru, bahkan menjadi world top marketing guru, bersanding dengan Profesor Philip Kotler, mahaguru marketing tingkat dunia. Mereka berdua sering berkolaborasi menerbitkan buku marketing dan telah diterjemahkan ke dalam 23 bahasa!

Kekuatan sosok Hermawan Kartajaya terletak pada kelugasan gaya bicaranya, pemikirannnya yang cerdas, contoh-contoh yang pas untuk mendukung teorinya. Kelugasan gaya bahasa, terutama ketika melafalkan bahasa Inggris, menjadi panutan saya ketika berbicara bahasa Inggris. Kalau Hermawan Kartajaya masih medhok dengan gaya khas Jawa Timuran, saya sungguh PD menggunakan logat Jawa Tengah ketika berbicara dalam bahasa Inggris.  Saya tak punya niat sedikitpun untuk mencoba meniru-niru aksen gaya Amerika atau British. Menurut saya, justru di situ kekuatannya!

Contoh-contoh kasus yang dia ceritakan, dengan gaya “story telling” ketika ingin menyampaikan sebuah gagasan adalah kekuatan yang sedang dia teorikan, yakni bahwa kini dunia sudah masuk pada era 3.0. Berbeda dengan era 1.0 yang cenderung mempromosikan produk habis-habisan, maka konsep marketing pada masa itu masih sangat hard selling. Era 2.0 sudah mulai bergeser pada customer. Customer adalah raja, alias memanjakan customer. Nah, era 3.0, yang menurut Herwaman Kartajaya masuk pada New Wave marketing itu, konsep marketing harus bisa membangun sebuah “story telling” dan kuat pada sisi “human spirit.”

Maka jangan heran kalau gaya saya dalam mereview buku ini juga tidak sibuk dengan kajian gaya bahasa, diksi, tebal halaman, atau tanda baca. Alih-alih saya malah cerita soal sosok Hermawan Kartajaya. Itulah semangat 3.0!

Lalu apa isi buku “Superhero Juga Manusia ini”? Sebaiknya kita bicarakan dulu soal cover buku ini. Waduh, saya jatuh cinta dengan desain cover dan judul yang kuat dari buku ini. Dengan desain yang bersih, dan ilustrasi orang-orang berkacamata bak superhero, itu sungguh desain yang kuat dalam mengirim pesan. Kekuatan itu semakin nyata dengan judul di bawahnya: “Superhero Juga Manusia.” Judul yang keren!

Dibutuhkan kreativitas yang tinggi untuk menemukan judul seksi itu. Orang awam mungkin akan menjuduli buku itu dengan “New Wave Marketing 3.0” atau “Strategi Baru Memenangkan Persaingan di Era Digital.”

Dengan judul itu, setelah baca isinya, saya benar-benar menemukan spirit soal superhero juga manusia. Era 3.0 memang harus kuat pada sisi human spirit itu tadi, maka jangan heran kalau film-film soal superhero kini mulai menceritakan James Bond, Spiderman, Batman atau Superman dari sisi human spiritnya. James Bond yang ketembak mati, Spiderman yang jadi tukar pengantar pizza, atau Batman yang kalah.

Buku ini terbagi dalam 3 bagian besar. Bagian satu menceritakan soal pergeseran konsep berfikir di era 3.0 tadi. Bagian dua menyoroti perilaku manusia yang kini harus bersikap horizontal, menjadi kawan, siap diterima dan menerima siapa saja ketika masuk dalam jagad komunitas. Bagian ketiga adalah bagian personal dari perjalanan hidup Hermawan Kartajaya, dengan selipan perjalanan Mark Plus yang telah dia besarkan hingga saat ini. Bagian ketiga ini menurut saya memiliki pasan yang kuat soal konsep 3.0 itu. Hermawan Kartajaya seolah ingin menegaskan kepada pembaca untuk diterima sebagai kawan akrab, diterima apa adanya, melalui cerita-cerita soal dirinya, soal anak-anaknya, soal impiannya.

Bagian tiga ini menutup buku dengan amat cantik. Human spirit-nya sungguh kena!

Review buku ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

Traveler @ Sea

Cover buku "Traveler @ Sea" karya Meninao

Cover buku “Traveler @ Sea” karya Meninao

Ini persoalan how, bukan lagi what. Kadang hidup lebih banyak dilihat sebagai what, sebuah obyek. Bagi yang sedang galau, hidup ibarat penjara yang membuat orang tak tahan dan maunya keluar dari sana. Bagi yang sedang bahagia, hidup itu begitu indah dan pantas untuk dirayakan. Maka hidup semestinya tak lagi dilihat sebagai what, tapi dijalani saja. Menjadi how. Artinya, tinggal bagaimana cara kita menjalaninya.

Meninao pada awal perjalanan hidupnya berada pada persimpangan jalan, hingga kemudian dia menemukan inspirasi hidup dari guru Capoeira-nya, Rod. Bahwa setiap ada kemauan, di situ ada jalan. Ketika kemauan sudah tertanam di dalam hati, sisanya adalah tinggal mengalir mengikuti gerak semesta. Maka kemudian jalan hidup Meninao terbuka, yang semula bekerja di sebuah café kecil, menjadi petualang sejati, berkelilling dunia dengan kapal pesiar. Jika dunia itu terdiri dari 5 benua, 2 samudra, Meninao pernah meginjakkan kakinya di sana. Asia, Afrika, Amerika, Eropa, Australia, hingga Antartica yang sedikit orang punya kesempatan menjamahnya, dia sempat membuat jejak kaki di sana.

Pada buku seri pertama “Traveler @ Sea” (2013), dari 4 buku yang direncanakan akan dia tulis, Meninao mulai menulis kisah perjalanan hidupnya di atas kapal pesiar. Angka 4 menandai 4 kali kontrak kerja di kapal pesiar, yang telah menuntaskan perjalanan keliling dunia tanpa bayar, dan sebaliknya justru mendapat bayaran dolar. Meskipun untuk mendapatkan kesempatan itu harus berjuang mati-matian sambil bekerja sebagai waiter di kapal pesiar.

Buku ini dia sebut sebagai bentuk eksperimen dari penerbitan model indie book. Dengan bekal semangat yang sama ketika dulu mulai berlayar, Meninao mencoba menerbitkan buku tentang kapal pesiar. Kebetulan Meninao kuliah D3 Komunikasi UGM, jadi penerbitan bukunya secara indie ini dapat dia jadikan model pembelajaran tentang liku-liku penerbitan buku dengan model ini. Tak perlu belajar dari orang lain. Dia membiarkan dirinya sendiri sebagai kelinci percobaan. Ibarat kata, mencemplungkan dirinya sendiri ke dalam lautan penerbitan buku indie.

Meninao mencoba mengaduk-aduk emosi pembacanya melalui kisah pribadinya, dengan seting kapal pesiar. Di sana ada cerita sendu ketika gadis yang ingin dia jadikan “the one” justru pergi disambar orang. Perjalanan keliling dunia di atas kapal pesiar bisa jadi menjadi sebentuk pelarian atas luka hati yang dia derita. Tapi baginya, hidup belum berhenti. Karena di atas kapal Meninao menemukan gadis lain, Valentina, dan kemudian Alex, yang membuat hidupnya kembali bergairah. Meninao secara jujur mengisahkan perjalanan asmara dengan gadis-gadis Eropa Timur itu.

Bumbu kisah asmara di atas kapal pesiar bisa jadi menjadi daya tarik dari buku ini, selain cerita soal petualangan keliling dunia. Maka pantas saja kalau di sampul depan ada tertulis peringatan: buku ini hanya layak dibaca untuk mereka yang sudah berumur 18 tahun ke atas.
Kita tunggu saja buku serial berikutnya, hingga genap 4 jumlahnya.

Hartono Rakiman, penulis buku trilogy kapal pesiar (Mabuk Dolar di Kapal Pesiar Illegal AlienDilema: Kisah 2 Dunia dari Kapal Pesiar).

Kota Dalam Ranselku: Catatan Backpacker Febrie Hastiyanto

Cover buku "Kota dalam Ranselku: Catatan Backpacker Febrie Hastiyanto." (Tigamaha: 2012).

Cover buku “Kota dalam Ranselku: Catatan Backpacker Febrie Hastiyanto.” (Tigamaha: 2012).

Ada 2 orang yang unik dalam hal menulis, yang pernah saya temui sepanjang hidup. Orang pertama adalah Gol A Gong. Dia menulis dengan menggunakan satu tangan saja, karena tangan kirinya pernah diamputasi sewaktu kecil. Tapi semangat menulisnya tak pernah kendur. Hebatnya lagi, pada awal karier kepenulisannya, dia belum menggunakan komputer yang gampang diedit, tapi menggunakan mesin ketik biasa yang kalau salah ketik harus diedit pakai tip-ex. Tapi hal itu juga tak dilakukannya. Salah ketik, maka akibatnya adalah mengetik ulang. mulai dari awal lagi. Wah, nggak kebayang kerja kerasnya!

Orang kedua adalah Febrie Hastiyanto. Saya megenalnya lewat dunia maya, yang kemudian menjadi kontributor setia di Rumah Baca. Tulisannya mengalir, dan sudah menembus kemana-mana. Tak kurang cerpen, puisi dan artikel menembus di berbagai koran di tanah air. Dan saya baru tahu bahwa semua tulisan itu dia buat di Warnet, karena di rumah tak punya komputer!

Kini saya menemukan buku pertamanya berjudul “Kota dalam Ranselku: Catatan Backpacker Febrie Hastiyanto.” (Tigamaha: 2012). Dan saya tahu betul, semua bahan tulisan dalam buku itu dia tulis di Warnet!

Catatan Febrie terasa personal. Lebih banyak menyoroti soal sejarah, kuliner, dan budaya di sekitar lokasi yang dia kunjungi. Saya menikmati catatan perjalanannya, terutama ketika menceritakan jalan-jalan berdua bersama istri tercinta. Tak ada cerita soal menyewa limousine atau menginap di cottage, apalagi hotel berbintang. Tak ada cerita belanja kalung mutiara, belanja perak di Kota Gede, atau belanja Batik di Solo untuk istri tercinta. Mereka berdua melewatkan perjalanan itu secara sederhana. Barangkali memang itu adalah laku hidup yang sedang mereka nikmati berdua. Dan itu justru menjadi kenangan perjalanan yang tak ternilai harganya.

Semestinya setiap orang bisa menempuh model jalan-jalan seperti itu. Memulai dengan jalan-jalan di Nusantara, mengabarkan tentang kekayaan alam. budaya, adat istiadat yang tidak semua orang memahaminya. Tak menutup kemungkinan, Febrie akan melanjutkan catatan backpacker-nya di luar negeri. Tapi itu mungkin masih lama, atau untuk sementara kesempatan itu biar diambil teman-teman lain yang suka backpacker ke luar negeri. Saya justru khawatir, jika Febrie ke luar negeri, tak ada orang Indonesia yang mau mengabarkan kekayaan gemah ripah Nusantara. Semua terpesona dengan sesuatu yang berbau luar negeri, sesuatu yang berbahasa Inggris, Jepang, atau Korea!

Saya justru lebih menikmati catatan soal Nasi Kucing, seperti yang ditulis oleh Febrie, “Makan adalah soal cara. Kita semua menyebutnya sebagai nasi. Namun ketika ia dimasukkan dalam bambu dan dibakar, kita menyebutnya Nasi Bakar. Bila ia dibungkus daun jati, orang Cirebon menyebutnya Nasi Jamblang. Dibungkus selagi hangat dengan daun pisang muda lain lagi, namanya Nasi Timbel. Dibungkus sejumput kecil di Bali, disebut Nasi Jinggo. Di Tegal orang bilang Nasi Ponggol. Lain lagi Wong Solo dan Wong Jogja, inilah yang paling populer sebagai Nasi Kucing.”

Review buku itulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca

65: Lanjutan Blues Merbabu

Saya selalu ingin mengawali tulisan tentang review buku karangan Gitanyali ini dengan sebuah film. Pada buku pertamanya, “Blues Merbabu” saya mengkaitannya dengan film “Malena.” Itu adalah film yang secara pas menggambarkan kenakalan Gitanyali kecil bersama teman-temannya ketika  mengintip mbak-mbak yang sedang mandi telanjang. Kenalakan anak-anak itu pula yang menghantarkannya pada pengalaman pertama ejakulasi dengan Mbak Kadarini. Atau ketika “burungnya” disunat karena tersagkut pagar kawat ketika ketahuan sedang melakukan aksi spionase mengintip orang mandi.

Pada buku sekuel keduanya ini,  “65”, saya tiba-tiba terkenang dengan film “Everything is Illuminated”- nya Jonathan Safran Foer (diangkat dari buku dengan  judul yang sama).  Antara buku dan film, memiliki karakter yang sama. Menceritakan kekelaman masa lalu secara natural dan kadang konyol. Film “Everything is Illuminated”  menceritakan bagaimana Jonathan kecil berupaya mencari tahu sejarah masa lalunya di Ukrania sebagai anak keturunan  Yahudi yang dulu kakek moyangnya berasal dari sana, yang kemudian menetap dan menjadi warga Negara Amerika Serikat.  Cara Jonathan Safran Foer merajut masa lalu sungguh unik dan berbeda. Tak ada sumpah serapah kepada bangsa Arya Jerman yang dipimpin Hitler. Alih-alih menyumpah-nyumpah, Jonathan justru menyukai hobi sebagai seorang kolektor. Apa saja dikoleksi, mulai dari sepatu, sikat gigi, kondom, gigi palsu, sampai pasir dan belalang hidup-hidup akan dia masukkan ke dalam plastik clip on yang selalu dia bawa ke mana-mana. Itu barangkali cara Jonathan membekukan kenangan. Dimasukan saja kedalam kantong plastik!

Illuminating-language-2Berbekal kalung liontin dan  foto kenangan mendiang kakeknya, Jonathan nekat ke Ukraina, menuju sebuah tempat bernama “Trachimbrod.” Bersama pemandunya, Alexander Perkov, kakek Alexander yang “mentally blind” dan sekor anjing, mereka memulai petualangan. Tak ada yang tahu nama tempat itu, hingga pada ujung cerita, secara kebetulan mereka bertemu dengan seorang perempuan tua, yang menjadi salah satu bagian cerita masa lalu kakeknya. Perempuan itulah satu-satunya yang bisa menunjukkan tempat yang disebut “Trachimbrod.”  Tempat itu tak lain adalah pingiran sungai dengan pasir membentang sepanjang sungai. Di sana orang-orang menanam  kenangan, dan menjadi saksi bahwa pada masa lalu telah terjadi suatu tragedi. Sejarah itu tak boleh dilupakan. “Trachimbrod” adalah kenangan. Perempuan itu juga juga menyimpan ratusan kardus-kardus di rak rumahnya. Disana dia menyimpan ratusan kenangan sanak saudara,  sahabat dan para korban lain. Kardus-kardus itu menjadi saksi bahwa mereka pernah ada, bukan sekedar dongeng belaka.

Momen “Trachimbrod” itu seolah menjadi penghubung sejarah tentang bagaimana dulu pada tahun 1965 orang-orang PKI dibantai dan tubuhnya ditanam di pinggir sungai. Di atasnya ditanami pohon pisang. ”Turun hujan deras, begitu cerita orang yang memintaku mendengarkanya itu. Hujan membuat mayat-mayat yang tertimbun pasir muncul di permukaan. Rata-rata tanpa kepala…” (hal 35) Dilanjutkan dengan sajak teman Gitanyali, “bukan sungai mengalirkan darah, tapi darah yang negalirkan sungai.” (hal 36).

Gitanyali, melalui “Blues Merbabu” dan “65” sebenarnya sedang bercerita bahawa masa lalu sungguh sulit dihapus dari kanangan. Kenanganya tentang Merbabu, pertigaan REX, yang disebutnya sebagai pusat dunia, atau tentang perempuan-perempuan yang mengisi  hari-hari sepinya: Tante Rosa-Hilda-Christina. Mungkin itu adalah kanalisasi dari kerinduan akan cinta pada kehangatan keluarga yang tak sempat dia nikmati karena tercerai berai oleh peristiwa G30S PKI.  Bapaknya diciduk tentara dan tak tahu dimana kuburnya.  Ibunya kemudian menyusul  dipenjara bertahun-tahun  dan masih harus wajib lapor sesudahnya.

Kesenangannya pada erotisme perempuan tak bisa disangkal sebagai bentuk pelarian dari beban hidup yang menghimpit dirinya. Di sana dia menemukan kebebasan. Gitanyali adalah anak jaman, yang besar pada era 60 dan 70-an, dimana pada masa itu sedang marak  generasi bunga, yang memiliki kredo “we make love, not war.”

Cover novel "65: Lanjutan Blues Merbabu" Karangan Gitanyali, (KPG: 2012)

Cover novel “65: Lanjutan Blues Merbabu” Karangan Gitanyali, (KPG: 2012)

Pada buku kedua ini, banyak sekali bertebaran  kenangan akan lagu-lagu masa itu, macam Deep Purple, The Who, Led Zepplin, atau Simon & Garfunkel.  Juga lagu Koes Plus yang sempat sekali dalam hidup dia nyanyikan di atas panggung, “Kisah Sedih di Hari Minggu.”

Petualangan Gitanyali  tampaknya harus diakhiri. Dalam buku “65” ini, sekaligus angka keramat bagi dirinya, karena dari sinilah sejarah hidup barunya bermula. Dari Sukhumvit 65, Bangkok, Gitanyali menyatakan ingin menikah dengan Emmarreta, pemilik galeri seni,  menjelang tutup tahun monyet. Kata-kata itu dia ucapkan pada perjalanan pulang  menuju apartemen, persis di depan kuil. Sang Budha  menjadi saksinya.

Sebagai penutup, saya justru ingin mengambil preambul buku ini, bahwa “Dari sekarang sampai 10 tahun mendatang, generasi paling sukses dan beruntung ini akan menuju pensiun.” Sebelum pensiun, Gitanyali ingin menumpahkan kenangan sejarah itu, merawatnya dalam ingatan. Minimal dalam buku, agar orang-orang tak akan melupakannya. Inilah perjuangan melawan lupa,” kredo yang ditorehkan oleh Milan Kundera, pengarang favoritnya.

Review buku ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca.

Sabuk Hijau Wangari

 Judul Buku: Gerakan Sabuk Hijau, Judul asli: The Green Belt Movement: Sharing the Approach and the Experience. Penulis: Wangari Maathai. Penerjemah: Ilsa Meidina. Penerbit: Marjin Kiri, 2012, Tebal: xvi + 136 hlm

Judul Buku: Gerakan Sabuk Hijau, Judul asli: The Green Belt Movement: Sharing the Approach and the Experience. Penulis: Wangari Maathai. Penerjemah: Ilsa Meidina. Penerbit: Marjin Kiri, 2012, Tebal: xvi + 136 hlm

Entah saya yang sedang galau atau karena memang momen yang saya saksikan mengharukan. Yang jelas saat itu saya kok  terharu menyaksikan Wangari Muta Maathai, perempuan asal Kenya, Afrika itu menerima Nobel Perdamaian pada 2004 lalu.

Panitia Nobel Norwegia menganggap Wangari layak menerima Nobel atas sumbangsihnya dalam “pembangunan berkelanjutan, demokrasi dan perdamaian” dunia. Itu semua dilakukan Wangari melalui Gerakan Sabuk Hijau yang digagasnya dan yang kini menjadi inspirasi gerakan penanaman pohon di banyak negara lain.

Wangari sudah tiada. Ia meninggal akibat kanker pada 25 September 2011 di usia 71 tahun, tapi gagasannya terus dijaga melalui lembaga Wangari Maathai Institute for Peace and Environmental Studies.

Saya tentu saja tidak ikut ke Norwegia, hanya lihat dari film dokumenter pendek berjudul Planting Hope. Ini film karya Alan Dater dan Lisa Merton dari Marlboro Production. Lewat film berdurasi 7 menit itu saya menyaksikan kilasan perjuangan Wangari bersama perempuan-perempuan perdesaan di Kenya hingga memperoleh penghargaan bergengsi: Nobel Perdamaian.

Saya sendiri merasa Wangari layak mendapatkannya setelah apa yang diperjuangkannya sejak 1974 di Kenya. Rasa hormat saya muncul bukan saja karena telah menyaksikan film pendek itu tapi juga usai membaca buku karya Wangari berjudul Gerakan Sabuk Hijau. Ini buku terbaru yang diterbitkan Marjin Kiri. Ia diluncurkan ke pasar 25 November 2012 lalu untuk turut merayakan gerakan menanam pohon di Indonesia yaitu: Hari Penanaman Pohon pada tanggal yang sama dan Bulan Menanam Pohon di sepanjang Desember.

Buku Wangari tentang Gerakan Sabuk Hijau yang pertama terbit pada 1985. Edisi revisi pertama muncul pada 2003. Revisi kedua pada 2004 setelah ada perubahan kondisi politik di Kenya, yaitu penunjukan Wangari sebagai Wakil Menteri Lingkungan dan Sumber Daya Alam oleh Presiden Kenya, Mwai Kibaki pada 2003. Revisi ketiga muncul pada 2006, dilengkapi dengan Pengumuman Penerimaan Hadiah Nobel Perdamaian 2004 untuk Wangari dan wawancara dengan Wangari.

Nah, yang saya baca adalah terjemahan dari revisi ketiga itu. Ada yang berbeda dibanding aslinya. Pada edisi terjemahan ini Marjin Kiri tidak memuat dua “pelengkap” yang saya sebutkan namun menggantinya dengan tulisan karya John Vidal berjudul “Mengenang  Wangari Maathai” yang dimuat di the Guardian, surat kabar Inggris, 26 September 2011 dan Pidato Wangari saat menerimaan Hadiah Nobel Perdamaian 2004. Saya rasa keduanya benar-benar melengkapi isi buku.

Yang pertama, tulisan John Vidal, redaktur lingkungan the Guardian, adalah semacam biografi ringkas. Ini memudahkan pembaca Indonesia untuk mengenal siapa Wangari Maathai dan memahami perjuangannya demi lingkungan dan kaum perempuan. Wangari berpendapat: kaum perempuan lah yang terimbas dampak terburuk kerusakan lingkungan. Yang kedua, pidato Wangari saat menerima Nobel yang berisi ungkapan perasaan dan pikiran Wangari terhadap Gerakan Sabuk Hijau.

Isi buku Gerakan Sabuk Hijau sendiri menceritakan bagaimana awal gerakan berdiri, tujuan pendirian, pengorganisasian, berbagai kendala yang menghadang, pengukuhan gerakan, sekaligus gambaran gerakan di masa depan. Buku ini ditulis dengan gaya runut seturut perjalanan waktu. Pada bagian pembuka, pembaca diajak untuk mengenal negara Kenya, baik secara geografis maupun politis.

Wangari adalah perempuan pertama dari Afrika Timur maupun Afrika Tengah yang meraih gelar PhD dalam bidang Kedokteran Hewan dari Universitas Nairobi, Kenya. Saat memulai Gerakan Sabuk Hijau pada 1977, ia sudah bergelar Professor dan menjadi Ketua Jurusan Anatomi Kedokteran Hewan di Universitas Nairobi.

Masuk dalam jajaran sedikit orang terpelajar sekaligus aktivis sosial di Kenya, sosok Wangari yang saat itu menjadi Ketua Palang Merah Nairobi dengan mudah menjadi incaran saat sebuah lembaga bernama Environment Liasison Centre (ELC) mencari orang lokal untuk menggantikan anggota dewan yang berasal dari Utara.

ELC sendiri adalah pusat kegiatan bagi LSM-LSM Utara yang tertarik untuk menjalin kerjasama dengan United Nations Environmet Program (UNEP/Program Lingkungan PBB) yang baru saja berdiri di Nairobi pada 1972. Dalam perkembangannya, ELC kini dikenal sebagai ELCI, Environment Liasison Centre International. Sebagai catatan, pendirian UNEP ini adalah hasil dari Konferensi PBB tentang Lingkungan Manusia di Stockholm pada tahun yang sama.

Semenjak itulah isu lingkungan masuk dalam pemikirannya. Namun baru pada 1974 ia benar-benar mulai fokus pada isu penghijauan dan reboisasi. Mulanya Wangari menggunakan isu itu untuk membantu suaminya, Mwangi Mathai yang sedang kampanye politik untuk pemenangan dirinya sebagai anggota parlemen daerah. Wangari menjanjikan penggalakan penanaman pohon sekaligus membuka lowongan kerja di daerah Lang’ata, Nairobi.

Saat suaminya memenangi pemilu, ia menepati janjinya dengan membuka perusahaan bernama Envirocare, Ltd. Ini sebuah perusahaan yang akan mempekerjakan para pemilih untuk membersihkan rumah warga di Lang’ata dan menanam pohon bilamana diperlukan.

Jalan tak selalu mulus. Kerja Envirocare tersendat, karena dana terbatas. Namun Wangari tak patah semangat, ia mengikutsertakan perusahaan kecilnya ke pameran internasional dengan harapan mendapat perhatian dari dunia luar. Hasilnya, tak satupun yang menemuinya di pameran datang mengambil bibit. Lantas ia ikuti beberapa pertemuan yang bertaraf internasional di manca negara. Ia bertemu dan berbagi pengalaman dengan banyak aktivis lingkungan dari belahan dunia lain. Semangatnya menyala kembali.

Satu saat, dalam sebuah seminar di Nairobi, Wangari mendengar fakta yang mencengangkan tentang kondisi gizi buruk pada masyarakat di Provinsi Tengah. Salah satu hal yang membuat Wangari melebarkan telinganya adalah karena Wangari menghabiskan masa kecilnya di sana, di daerah bernama Nyeri.

Seorang pembicara menyampaikan tiga hal penyebab gizi buruk. Pertama, petani menggenjot pertanian komoditas dengan mengorbankan pertanian keluarga dengan logika bahwa areal yang sama jika digunakan untuk tanaman komoditas dapat menghasilkan pendapatan lebih. Nyatanya, ada mismanajemen sehingga petani mendapat bayaran kurang. Akibatnya keluarga petani tidak mampu memberi asupan makan seimbang hingga menyebabkan gizi buruk.

Kedua, petani berpenghasilan sedang cenderung mengorbankan makanan tradisional non-olahan seperti umbi-umbian serta sayuran lokal dan mengikuti pola makanan orang kota. Karena harga bahan makan orang kota itu cukup tinggi petani tidak mampu menyediakannya secara rutin. Ini juga mengakibatkan ketidakseimbangan asupan nutrisi dan akhirnya menimbulkan gizi buruk.

Ketiga, terjadinya kelangkaan kayu bakar yang menyebabkan beberapa keluarga memilih mengonsumsi makanan yang dimasak dengan sedikit kayu bakar atau bahkan tidak perlu sama sekali. Ini pun menimbulkan gizi buruk.

Bagi Wangari, solusi untuk permasalahan tersebut adalah menanam pohon. Memang sulit menyampaikan penjelasan yang masuk akal pada masyarakat desa. Setidaknya, yang paling jelas adalah dengan menanam pohon penduduk mudah mendapatkan kayu bakar. Meski ada kendala di awal, gerakan menanam pohon yang pertama pun berhasil dimulai tepat pada Hari Lingkungan Hidup Sedunia, 5 Juni 1977 di Nairobi.

Aksi itu menjadi awal gerakan sabuk hijau yang pertama meski saat itu program penghijauan itu bernama Selamatkan Tanah Harambee. Dalam bahasa Kiswahili, Harambee berarti “Mari kita usahakan bersama.” Program itu dilaksanakan Wangari bersama dengan NCWK (National Council Women of Kenya) yang beranggotakan mayoritas adalah perempuan desa.

Program itu disambut positif hingga tak lama kemudian, pada September 1977, aksi menanam pohon kedua diadakan kembali saat Kenya menjadi tuan rumah Konferensi PBB tentang Penggurunan di Nairobi.

Minat masyarakat untuk melakukan aksi serupa muncul di berbagai daerah di Nairobi hingga diputuskan untuk menanam barisan pohon dalam barisan sekurang-kurangnya seribu bibit guna membentuk sabuk-sabuk hijau pepohonan. Sabuk-sabuk itu kelak bermanfaat sebagai tempat berteduh, penahan angin, memfasilitasi pelestarian tanah, meningkatkan keindahan pemandangan dan memberikan tempat bagi burung-burung dan hewan kecil.

Sejak itulah aksi menanam pohon bersama-sama itu berubah menjadi Gerakan Sabuk Hijau dengan kaum perempuan sebagai penggerak utamanya. Aksi ini memulihkan citra perempuan dan bahkan memotivasi kaum pria bersama-sama melakukan penanaman pohon demi keluarganya, demi anak-cucunya.

Wangari tak hanya menganjurkan masyarakat menanam pohon untuk keperluan kayu bakar semata ataupun memunculkan kembali mata air, melainkan juga menganjurkan untuk melestarikan tanaman sumber pangan lokal untuk ketahanan pangan. Selain itu Wangari juga memasukkan pemahaman akan isu kewarganegaraan pada masyarakat desa.

Yang terakhir itu melibatkan serangkaian aksi demonstrasi mengecam tindakan pemerintah yang dianggap tidak menjaga lingkungan. Beberapa aksi demo yang dilakukan misalnya aksi mengecam pembangunan yang dilakukan di Taman Nasional, aksi demo mengecam pejabat pemerintah yang melakukan korupsi dana pembangunan, dsb.

Gerakan Sabuk Hijau menarik minat UNEP yang kemudian meminta Waingari untuk membuat replika aksi serupa di negara-negara lain. Sejak 1988, dimulailah aksi Gerakan Sabuk Hijau di luar Nairobi dan yang kemudian merambah ke berbagai negara lain hingga kini.

Di bagian akhir buku ini, dalam pidato penerimaan Nobel, Waingari mengungkapkan masa kecilnya. Ia cerita saat kecil sering disuruh ibu mengambil air di sungai kecil di sebelah rumah. Di sungai itu Waingari kecil bisa minum air langsung, di air sungai yang jernih itu pula ia bisa melihat ribuan kecebong (anak katak) menggeliat-geliat. Sayang, saat dewasa ia mendapati sungai itu sudah kering.

Tantangannya kini, lanjut Waingari, adalah mengembalikan rumah kecebong-kecebong itu dan memberikan kembali kepada anak-anak kita sebuah dunia yang indah dan menakjubkan.

Kesan saya secara keseluruhan buku ini inspiratif. Ditulis dengan gaya dan tata bahasa yang tidak rumit, bahkan cenderung teknis di beberapa bagian. Sangat mudah dipahami. Bagi yang ingin melakukan gerakan serupa – terutama kalangan akademis yang sering kesulitan untuk berkomunikasi di lapangan – sila baca bukunya. Saya bisa katakan, inilah rujukan dan panduan terbaik yang bisa Anda baca.*

Catatan:

1. Situs Gerakan Sabuk Hijau bisa diakses di: http://www.greenbeltmovement.org

2. Film pendek Planting Hope bisa dilihat di: http://www.youtube.com/watch?feature=player_embedded&v=Es6eVgmPWJM

Review buku oleh Elizabeth Tata (diambil atas ijin ybs dari note-nya di FB).

Mind Body Spirit: Aku Bersilat, Aku Ada

bodyPertama-tama saya menyampaikan salam hormat untuk Kompas yang telah secara konsisten menjadi penjaga gawang kebhinekaan dan keaslian budaya Indonesia. Melalui tulisan-tulisan yang setiap hari hadir di Koran Kompas, juga dengan penerbitan buku-buku bermutu. Tendensi penerbitan buku-bukunya selalu mengedepankan esensi dan jauh dari kontroversi.

Menemukan buku bersampul hitam dengan lambang purba, berupa bulatan putih dan garis-garis menyilang membentuk irisan konsep mind, body, spirit. Judulnya seolah memanggil-manggil saya. “Mind Body Spirit: Aku Bersilat, Aku Ada.”

Lalu saya melihat di sana ada nama Jakob Oetama dan Bre Redana. Kombinasi sederhana desain grafis, nama Kompas, Jakob Oetama, Bre Redana dan PGB Bangau Putih Gunawan Rahardja langsung menyedot perhatian saya. Saya tak lagi perlu berpikir, maka langsung menyataan ini pasti buku bagus karena ditulis oleh orang-orang yang punya komitmen tinggi untuk kemajuan bangsa.

Tak salah. Sejak halaman prakata, hingga menelisik isinya, sangat menyejukkan jiwa, dan sekaligus memanjakan mata dan rasa oleh ilustrasi foto-foto indah yang dibuat Widya Poerwoko, dan desain grafis oleh Gamaliel W. Budiharga (Boim). Saya menemukan ruang dan waktu yang selama ini saya cari jawabnya.

Saya segera  membenamkan diri dalam kamar anak saya. Saya seperti menemukan ruang baru dalam  dunia membaca. Ternyata sangat nyaman membaca di ruang tidur anak saya sendiri.  Kebaruan itu saya nikmati dan rasakan. Dan saya juga menemukan sebuah kebahagiaan ketika tiba-tiba istri saya mencari-cari saya, karena saya tidak pernah berbenam diri di ruang itu.  Saya biasanya beredar di taman belakang rumah, beranda depan, atau sedang mencabut rumput. Sebuah kebahagian, ketika ada yang mencari dan menemukan.

Lalu apa hebatnya buku tulisan Bre Redana ini? Saya tak akan menulis kehebatan tulisan, karena buku itu secera terus menerus justru menggempur pertahanan ego saya yang selalu ingin tampil lebih dan serba hebat.

Buku ini adalah catatan kecil Bre Redana yang menjabat sebagai Ketua Pengurus Dewan Pelatih PGB Bangau Putih. Maka sangat pas ketika Bre Redana menyebut kata ganti kami, sebagai kata ganti orang ketiga banyak untuk mengantar tulisan dalam buku ini.

Buku ini kembali membongkar ruang dan waktu yang telah saya jalani selama ini. Tentang sepak terjang  dalam mengarungi hidup. Sudah benarkah cara dan proses hidup saya?

Buku ini secara struktur sangat lentur, berupa catatan-catatan perenungan pendek Bre Redana setelah bertahun-tahun berguru di PGB Bangau Putih. Dari catatan Bre Redana itu saya  jadi mengenal Subur Rahardja dan Gunawan Rahardja yang mereka sebut sebagai guru atau suhu di padepokan itu.  Lalu saya menjadi sangat intim dengan Rendra yang ternyata punya kedekatan yang amat sangat dekat dengan Bangau Putih. Setiap kata dalam sajak yang mengalir, setiap gerak yang hadir di pentas-pentas Bengkel teater adalah hasil serapan Rendara ketika berguru di PGB Bangau Putih.

Saya jadi mengenal Keroncong Asmara, sebuah perkumpulan keroncong  yang selalu hadir setiap Senin malam di padepokan itu. Saya juga jadi mengenal Happy Salma, tapi bukan dirinya sebagai seorang  artis, melainkan sebuah pelajaran soal resiko memindahkan ruang dan waktu pertunjukan.

Secara konsep, buku ini ingin menularkan sebuah semangat hidup, seperti yang terpancar lewat semangat dan oleh gerak orang-orang yang terlibat di PGB Bangau Putih, yang hingga bulan Januari 2013 ini berulangtahun yang ke 60. Itu juga yang menjadi salah satu alasan mengapa buku ini hadir di tengah-tengah publik Indonesia. Buku ini secara garis besar berisi soal konsep kombinasi tubuh dan pikiran (body and mind), yang pada gilirannya akan melahirkan daya gerak (spirit). Dalam tulisan-tulisan berikutnya, saya kemudian menangkap soal konsep ruang dan waktu.  Lalu soal kredo PGB Bangau Putih,  bahwa hidup itu semestinya disikapi dengan komitmen, fokus dan terus-menerus.

PGB Bangau Putih mengajarkan gerakan yang bisa bikin orang frustasi, karena dalam setiap latihannnya selalu mengajarkan gerakan dasar: Pa Hong (memukul angin), yang bisa membuat orang merasa tolol karena seperti orang meninju angin kosong tanpa makna. Dan itu dilakukan berulang-ulang sampai tubuh merasa cukup dan berhenti.  Gerakan dasar yang lain adalah kuda-kuda, geseran, jatuhan. Dalam setiap latihan, juga selalu ada Tui Cu (latihan silat berpasangan). Ini sebenarya latihan mengendalikan diri sendiri, meskipun tujuannnya adalah menjatuhkan lawan. Tantangan paling berat dalam Tui Cu adalah bergerak, melakukan, tapi tak boleh berpikir. Apalagi punya pikiran untuk menjatuhkan lawan. Konsepnya adalah bergerak, mengikuti gerak tubuh, dan kosongkan pikiran. Sekali pikiran diisi dengan semangat menyala-nyala untuk menjatuhkan lawan, maka bukannya kita akan sukses menggempur lawan, alih-alih kita sendiri yang terjungkal.

Soal melakukan dan mengosongkan pikiran inilah yang menjadi persoalan serius kita sehari-hari. Saya termasuk di dalamnya. Pikiran orang modern selalu dipenuhi dengan ambisi untuk sukses, dibilang hebat. Ukurannya adalah jabatan, pangkat, harta, dan popularitas.

Saya mencoba merefleksikan konsep latihan bergerak dan mengosongkan pikiran dalam ritual shalat yang saya lakukan. Apakah gerakan itu dikendalikan pikiran? Apakah di sana sudah muncul gerakan bawah sadar? Dan yang paling esensial, apakah di sana ada kepasarahan total ketika shalat? Maka akan menjadi persoalan sendiri ketika shalat yang kita lakukan hanya mekanik, atau lebih parah lagi diisi dengan pikiran agar kita mendapat pahala berlimpah dari  Yang Maha Kuasa, menjadi kaya, menjadi hebat, dan selalu terhindar dari mara bahaya.

Maka proses hidup akan selalu digoda dengan komitmen, fokus dan terus-menerus itu. Kewajaran, kepasrahan sangat sulit untuk diraih. Janganlah kita mengira, murid-murid PGB Bangau Putih yang telah bertahun-tahun berguru di sana akan mampu menjatuhkan lawan saat melakukan Tui Cu. Merasa telah senior, merasa telah menjadi murid perguruan, merasa telah berilmu, justru akan menjadi batu sandungan. Karena tugas selanjutnya justru menyediakan ruang kosong dalam diri sendiri untuk menerima, dan bukan merasa telah penuh.

Sebagai bagian dari review buku ini, saya merasa perlu untuk menyampaikan sebuah kesaksian atas apa yang saya alami dalam dunia tulis-menulis. Ketika saya membuat debut dalam menulis buku, dengan melahirkan “Mabuk Dolar di Kapal Pesiar,” saya tak punya ambisi apa-apa soal buku itu, selain kegairahan dalam menulis dan berbagi untuk kawan-kawan yang akan bekerja di kapal  pesiar atau mereka yang sudah bekerja di kapal pesiar. Maka tanpa saya sadari, buku itu mendapat sambutan yang luas dari pembaca. Mendapat liputan yang luas dari media, radio, koran, majalah, hingga muncul di acara Kick Andy. Justru di situ awal persoalannya.  Saya kemudian masuk dalam godaan ego. Sebuah niat menulis yang bisa salah. Karena dalam buku berikutnya, yang ada adalah kalkulasi marketing, kemudian sibuk memikirkan ide kontroversial, memikirkan popularitas, memikirkan laba, dan tetek bengek lainnya.

Tetapi bukan berarti kemudian saya akan berhenti untuk menulis. Yang ingin saya rubah adalah nawaitu-nya, niat ingsun-nya. Saya akan mencoba tetap bersilat lewat kata-kata. Semoga Tuhan masih berkenan memberi umur panjang, berkarya buat orang banyak, dan jauh dari ambisi-ambisi dunia yang menyesatkan.

Review buku ditulis oleh Hartono Rakiman, pengasuh Rumah Baca


Data pengunjung

  • 156,358 Kunjungan

Resensi yang lain

Index

my pictures at flickr

119

246

227

More Photos

Goodreads

No data found
Book recommendations, book reviews, quotes, book clubs, book trivia, book lists

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 1,519 other followers