Dari dulu saya tak bisa membayangkan belajar dan mondok di pesantren itu rasanya seperti apa? Kalau melihat beberapa pesantren yang dekat jalan raya antar kota, saya lihat kok rada “mengerikan.” Tapi setelah mambaca novel Negeri-5-Menara yang ditulis oleh A. Fuadi ini, bayangan saya tentang pendidikan pesantren berubah.
Judul Negeri-5-Menara sendiri melambangkan cita-cita 5 santri untuk “menjangkau” atau mencapai negeri dan kota dimana lima landmark itu berada. Impian lima santri itu dikembangkan saat mereka istirahat di halaman masjid dan menatap langit.
Penulis punya kemampuan deskripsi yang kuat sehingga sebagai pembaca saya bisa membayangkan situasi yang “membanggakan” saat ia bekerja di Washington, sebagai jurnalis yang sempat meliput suasana dan kesibukan pasca tragedi 9/11. Suasana kantornya yang terletak dekat Gedung Putih, Pentagon. Dia bersiap-siap akan terbang ke London untuk bicara di satu seminar, sekaligus akan melakukan wawancara dengan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Bayangkan dari suasana pesantren di desa bisa sampai ke “pusat kekuasaan politik dunia.” ada yang dramatis dari kisah yang berbasis kisah nyata ini.
Drama itu cepat berlanjut, karena saat Alif (nama samaran sang penulis dalam novel) akan menutup Apple Power nya, ada pesan masuk, yang ternyata dari sahabatnya, salah satu dari 5 santri yang beberapa tahun sebelumnya bermimpi ke Al-Azhar, Cairo dan tercapai.
Itu adalah kontak pertama setelah berpisah selepas sekolah. Dan, mereka ternyata disambut oleh satu pilar lagi yang sesuai cita-citanya bekerja di London. Akhirnya reunilah mereka, mereka berkumpul, menatap langit seperti di pesantren dulu, tapi kali ini di Trafalgar Suare, di pusat kota London.
Begitulah kelimanya berhasil merealisir cita-cita di masa sekolahnya dulu. Pendidikan pesantren di desa itu ternyata, di luar dugaan saya, berhasil mengantar para pemuda mencapai “puncak dunia.” Apa resep suksesnya pendidikan itu? Ternyata sederhana saja, itu terangkum dalam kalimat, “Man jadda wajada” (siapa bersungguh-sungguh pasti berhasil). Suatu doktrin yang ditanamkan dengan kuat di Pesantren Madani.
Bagaimana anak-anak yang umumnya dari pelosok dan nyantri di pondok pesantren di perdesaan itu bisa sampai ke pusat-pusat metropolitan dunia? Kuncinya bisa ditebak adalah factor bahasa. Mereka sangat menguasai Bahasa Inggris dan Arab. Di pondok ini dijamin dalam waktu empat bulan santrinya sudah menguasai dua bahasa itu. Caranya? Itu pula yang jadi daya tarik novel ini. Termasuk bagaimana “kata mutiara” dalam Bahasa Arab atau Inggris bisa berpindah “dari papan tulis ke otak” dalam sekejap.
Ada dramatisasi yang mendebarkan, mengharukan. Ada pesan implisit yang kuat dari prinsip pendidikan pesantren. Juga teladan-teladan hidup mulia yang ditunjukkan oleh perilaku Kiai-kiai yang bijaksana. Serta kisah Rasullullah saw, yang disampaikan oleh para Kiai. Tetapi membaca novel ini nyaman, tidak harus serius, karena tiap jengkalnya kita bisa menemukan kelucuan-kelucuan, kenaifan-kenaifan anak muda.
Ada hikmah dibalik kesedihan, karena Alif sebetulnya berniat kuat untuk masuk sekolah umum SMA, sesuai cita-citanya menjadi ahli teknologi seperti Habibie. Tetapi ibundanya memintanya masuk sekolah agama, dengan alasan “Kalau tiap anak pandai masuk sekolah umum, nanti sekolah agama hanya diisi sisanya. Bagaimana masa depan pendidikan agama?” Panggilan itu akhirnya diterimanya dengan berat hati. Namun ternyata dalam perjalanan Alif menemukan banyak pelajaran hidup yang tak ternilai dari pendidikan karakter ala pesantren Pondok Madani itu.
Kesan saya novel ini berhasil meramu resep yang memadukan hiburan dan pelajaran hidup. Sebagian pembaca mengaikannya dengan novel sebelumnya yang juga sukses, yaitu Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta. Tapi jelas beda dan originalitasnya, karena kisah yang ditulis sebagian besar plot dan detailnya adalah kisah nyata.
Proses menulis novel ini, sebagaimana diakui penulisnya, adalah aplikasi dari motto “man jadda wajada” itu. Yaitu keinginan, visi yang kuat dan dilaksanakan sungguh, pasti akan terwujud. Itu benar, karena saya tahu betul keseriusan A Fuadi dalam mengumpulkan bahan dan menulisnya secara menyicil tiap hari setengah – satu halam tapi dengan disiplin yang tinggi. Man jadda wajada!
Data Buku – Judul: Negeri 5 Menara; penulis Ahmad Fuadi; penerbit PT Gramedia Pustaka Utama; terbit Juli 2009; tebal 405 halaman.
Reviewer - Risfan Munir, penulis buku “Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala SAMURAI SEJATI” (Gramedia, 2009). Dan, menulis: blog www.samuraisejati.blogspot.com, dan kolumnis tetap pada www.AndaLuarBiasa.com, serta mereview buku untuk www.RumahBaca.wordpress.com
Novel ini aslinya berjudul “On the Hills of God,” buah karya Ibrahim Fawal, keturunan Palestina yang kini bermukim di Amerika. Pada edisi Indonesia, judul novel kemudian diganti menjadi “My Salwa My Palestine,” masih dengan menyertakan terjemahan judul asli “Di atas Bukit Tuhan,” tapi dengan huruf lebih kecil. Pilihan judul ini sedikit menarik untuk diulas di sini, mengingat terjemahan judul asli itu agak sulit ditangkap oleh publik Indonesia. Kata Palestina menjadi daya magnet bagi pembaca muslim di Indonesia. Novel ini kebetulan diterbitkan oleh penerbit Mizan yang notabene punya pasar setia kelompok muslim. Tapi Novel ini tidak mengupas semangat Jihad kelompok Muslim melawan kelompok Yahudi di Palestina. Tokoh dalam novel ini, Yousif Safi adalah seorang Kristen, anak dari seorang dokter kaya di Palestina. Dia mencintai Salwa, yang juga seorang Kristen. Ketika Palestina dicabik-cabik oleh perang, maka Yousif menghadapi pergolakan batin dan fisik, mempertahankan bumi kelahirannya dan sekaligus Salwa yang sebentar lagi akan bertunangan dengan orang lain.
Ikut melepas kepergian penyair besar WS Rendra tergerak saya untuk membuka kumpulan puisinya yang terangkum dalam “Potret Pembangunan dalam Puisi” yang diterbitkan Lembaga Studi Pembangunan, 1980. Sesuai judulnya, ini adalah kumpulan puisi Rendra yang paling eksplisit bicara (mengritik) praktek kepemerintahan dalam proses pembangunan.
Setelah sekian waktu membaca novel-novel luar negeri dengan suasana yang relatif moderen, saatnya kembali ke tanah air, sekalian kilas balik sejarah nusantara. Jadinya terpikat dengan novel Rara Mendut karya YB Mangun Wijaya, atau lebih akrab dipanggil Romo Mangun (alm).
Novel “Ritual Gunung Kemukus,” kental dengan bau seks. Tapi kesan yang tertangkap tidaklah sevulgar buku Moamar Emka, “Jakarta Under Cover.” Buku terakhir ini lebih banyak mengeksploitasi seks sebagai bacaan dangkal, hanya mengumbar syahwat semata. Buku pertama mengupasnya dari tinjauan antropologis. Ditulis dengan gaya dialog, dikupas habis dengan sudut pandang wartawan. Kebetulan penulis novel ini memang wartawan yang penyair, F. Rahardi. Cover novel digarap oleh Si Ong, menambah kesan mistis dan sunyi.
“
Ada pertanyaan sederhana sebelum orang membaca habis buku karya Nassim Nicholas Taleb, The Black Swan (Gramedia: 2009): percayakah anda bahwa di dunia ini ada angsa berwarna putih? Dapat dipastikan bahwa jawaban yang akan diberikan adalah seragam: tidak percaya! Dari dulu, yang namanya angsa itu berwarna putih, mana ada angsa berwarna hitam? Tapi ketika orang menemukan kenyataan bahwa ada angsa berwarna hitam di Australia, ada kejutan, dan kepercayaan itu runtuh.
Buku seru bersampul biru itu langsung menohok mata, di antara deretan buku-buku yang lain. The Naked-Traveller, hmm …judul yang provokatif. Ditulis oleh orang yang mengaku sebagai Trinity. Dua hal yang segera mengundang rasa penasaran, sebelum benar-benar membaca isinya.

