Negri 5 Menara

Negeri 5 MenaraDari dulu saya tak bisa membayangkan belajar dan mondok di pesantren itu rasanya seperti apa? Kalau melihat beberapa pesantren yang dekat jalan raya antar kota, saya lihat kok rada “mengerikan.” Tapi setelah mambaca novel Negeri-5-Menara yang ditulis oleh A. Fuadi ini, bayangan saya tentang pendidikan pesantren berubah.

Judul Negeri-5-Menara sendiri melambangkan cita-cita 5 santri untuk “menjangkau” atau mencapai negeri dan kota dimana lima landmark itu berada. Impian lima santri itu dikembangkan saat mereka istirahat di halaman masjid dan menatap langit.

Penulis punya kemampuan deskripsi yang kuat sehingga sebagai pembaca saya bisa membayangkan situasi yang “membanggakan” saat ia bekerja di Washington, sebagai jurnalis yang sempat meliput suasana dan kesibukan pasca tragedi 9/11. Suasana kantornya yang terletak dekat Gedung Putih, Pentagon. Dia bersiap-siap akan terbang ke London untuk bicara di satu seminar, sekaligus akan melakukan wawancara dengan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Bayangkan dari suasana pesantren di desa bisa sampai ke “pusat kekuasaan politik dunia.” ada yang dramatis dari kisah yang berbasis kisah nyata ini.

Drama itu cepat berlanjut, karena saat Alif (nama samaran sang penulis dalam novel) akan menutup Apple Power nya, ada pesan masuk, yang ternyata dari sahabatnya, salah satu dari 5 santri yang beberapa tahun sebelumnya bermimpi ke Al-Azhar, Cairo dan tercapai.

Itu adalah kontak pertama setelah berpisah selepas sekolah. Dan, mereka ternyata disambut oleh satu pilar lagi yang sesuai cita-citanya bekerja di London. Akhirnya reunilah mereka, mereka berkumpul, menatap langit seperti di pesantren dulu, tapi kali ini di Trafalgar Suare, di pusat kota London.

Begitulah kelimanya berhasil merealisir cita-cita di masa sekolahnya dulu. Pendidikan pesantren di desa itu ternyata, di luar dugaan saya, berhasil mengantar para pemuda mencapai “puncak dunia.” Apa resep suksesnya pendidikan itu? Ternyata sederhana saja, itu terangkum dalam kalimat, “Man jadda wajada” (siapa bersungguh-sungguh pasti berhasil). Suatu doktrin yang ditanamkan dengan kuat di Pesantren Madani.

Bagaimana anak-anak yang umumnya dari pelosok dan nyantri di pondok pesantren di perdesaan itu bisa sampai ke pusat-pusat metropolitan dunia? Kuncinya bisa ditebak adalah factor bahasa. Mereka sangat menguasai Bahasa Inggris dan Arab. Di pondok ini dijamin dalam waktu empat bulan santrinya sudah menguasai dua bahasa itu. Caranya? Itu pula yang jadi daya tarik novel ini. Termasuk bagaimana “kata mutiara” dalam Bahasa Arab atau Inggris bisa berpindah “dari papan tulis ke otak” dalam sekejap.

Ada dramatisasi yang mendebarkan, mengharukan. Ada pesan implisit yang kuat dari prinsip pendidikan pesantren. Juga teladan-teladan hidup mulia yang ditunjukkan oleh perilaku Kiai-kiai yang bijaksana. Serta kisah Rasullullah saw, yang disampaikan oleh para Kiai. Tetapi membaca novel ini nyaman, tidak harus serius, karena tiap jengkalnya kita bisa menemukan kelucuan-kelucuan, kenaifan-kenaifan anak muda.

Ada hikmah dibalik kesedihan, karena Alif sebetulnya berniat kuat untuk masuk sekolah umum SMA, sesuai cita-citanya menjadi ahli teknologi seperti Habibie. Tetapi ibundanya memintanya masuk sekolah agama, dengan alasan “Kalau tiap anak pandai masuk sekolah umum, nanti sekolah agama hanya diisi sisanya. Bagaimana masa depan pendidikan agama?” Panggilan itu akhirnya diterimanya dengan berat hati. Namun ternyata dalam perjalanan Alif menemukan banyak pelajaran hidup yang tak ternilai dari pendidikan karakter ala pesantren Pondok Madani itu.

Kesan saya novel ini berhasil meramu resep yang memadukan hiburan dan pelajaran hidup. Sebagian pembaca mengaikannya dengan novel sebelumnya yang juga sukses, yaitu Laskar Pelangi dan Ayat-ayat Cinta. Tapi jelas beda dan originalitasnya, karena kisah yang ditulis sebagian besar plot dan detailnya adalah kisah nyata.

Proses menulis novel ini, sebagaimana diakui penulisnya, adalah aplikasi dari motto “man jadda wajada” itu. Yaitu keinginan, visi yang kuat dan dilaksanakan sungguh, pasti akan terwujud. Itu benar, karena saya tahu betul keseriusan A Fuadi dalam mengumpulkan bahan dan menulisnya secara menyicil tiap hari setengah – satu halam tapi dengan disiplin yang tinggi. Man jadda wajada!

Data Buku – Judul: Negeri 5 Menara; penulis Ahmad Fuadi; penerbit PT Gramedia Pustaka Utama; terbit Juli 2009; tebal 405 halaman.

Reviewer - Risfan Munir, penulis buku “Jurus Menang dalam Karier dan Hidup ala SAMURAI SEJATI” (Gramedia, 2009). Dan, menulis: blog www.samuraisejati.blogspot.com, dan kolumnis tetap pada www.AndaLuarBiasa.com, serta mereview buku untuk www.RumahBaca.wordpress.com

My Salwa My Palestine

my salwa my palestineNovel ini aslinya berjudul “On the Hills of God,” buah karya Ibrahim Fawal, keturunan Palestina yang kini bermukim di Amerika. Pada edisi Indonesia, judul novel kemudian diganti menjadi “My Salwa My Palestine,” masih dengan menyertakan terjemahan judul asli “Di atas Bukit Tuhan,” tapi dengan huruf lebih kecil. Pilihan judul ini sedikit menarik untuk diulas di sini, mengingat terjemahan judul asli itu agak sulit ditangkap oleh publik Indonesia. Kata Palestina menjadi daya magnet bagi pembaca muslim di Indonesia. Novel ini kebetulan diterbitkan oleh penerbit Mizan yang notabene punya pasar setia kelompok muslim. Tapi Novel ini tidak mengupas semangat Jihad kelompok Muslim melawan kelompok Yahudi di Palestina. Tokoh dalam novel ini, Yousif Safi adalah seorang Kristen, anak dari seorang dokter kaya di Palestina. Dia mencintai Salwa, yang juga seorang Kristen. Ketika Palestina dicabik-cabik oleh perang, maka Yousif menghadapi pergolakan batin dan fisik, mempertahankan bumi kelahirannya dan sekaligus Salwa yang sebentar lagi akan bertunangan dengan orang lain.

Novel ini justru secara intens memotret perang di Palestina dari kaca mata kelompok Kristen melawan etnis Yahudi. Diceritakan pula persahabatan lintas agama: Yousif yang Kristen, Amin yang Islam dan Isaac yang Yahudi. Ketiganya sahabat karib yang tak terpisahkan, tapi perang telah merenggut persabatan mereka.

Review oleh Hartono

Potret Pembangunan dalam Puisi

rendraIkut melepas kepergian penyair besar WS Rendra tergerak saya untuk membuka kumpulan puisinya yang terangkum dalam “Potret Pembangunan dalam Puisi” yang diterbitkan Lembaga Studi Pembangunan, 1980. Sesuai judulnya, ini adalah kumpulan puisi Rendra yang paling eksplisit bicara (mengritik) praktek kepemerintahan dalam proses pembangunan.

Misi perjuangan Rendra menurut Prof. A. Teeuw, ahli tentang sastra Indonesia dari Belanda, adalah tegaknya identitas diri manusia Indonesia, dalam kancah arus perubahan yang dibawa oleh ideologi dan gerak pembangunan, pertarungan kapitalis vs komunis, kebobrokan penguasa, sistem pendidikan “membeo” yang mematikan cipta, rasa dan karsa, dan sejenisnya. Juga keberpihakannya kepada mereka yang terpinggirkan, tersuruk dan terpuruk dalam proses pembangunan.

Potret Pembangunan dalam Puisi” ini memuat 24 sajak yang ditulis pada pertengahan dekade 1970an, saat Orde Baru pada puncak kejayaannya. Berkah bonanza minyak bumi sangat terasa melimpah, banyak sarana dibangun di kota-kota besar, berbagai prasarana fisik wilayah juga dibangun. Sebagian kelompok yang menikmati proses pembangunan itu, pejabat dan keluarganya, para kontraktor dan rekanan mendadak kaya raya. Hidup mereka bermewahan secara mencolok dan norak, sementara itu sebagian yang lain justru tertinggal, tergusur dan terpinggirkan. Terjadi penurunan kualitas pendidikan “manusia seutuhnya” dengan cipta rasa dan karsa sesuai kebutuhan linkungannya, digantikan pendidikan yang mengajar anak didik “membeo, menghapal”, mencetak tukang atau kuli pesanan pembangunan semata.

Secara emosional saya seikit-banyak terbawa oleh sajak-sajak ini, karena kurun Rendra menulisnya, adalah masa saya kuliah, pada pertengahan 1970an. Sebagian saya saksikan langsung pembacaannya, termasuk ketemu langsung dengan beliau. Salah satu sajak yang saya hafal adalah “Sajak Seonggok Jagung” (1975), saya saksikan bagaimana Sang Burung Merak membacakannya di Aula Barat ITB. Saya kutip sebagian:

Seonggok jagung di kamar
dan seorang pemuda
yang kurang sekolahan.

Memandang jagung itu,
sang pemuda melihat ladang;
ia melihat petani;
ia melihat panen;
……………….

Tetapi ini:
Seonggok jagung dikamar

dan seorang pemuda tammat SLA
Tak ada uang, tak bisa menjadi mahasiswa.

Hanya ada seonggok jagung di kamarnya.
Ia memandang jagung itu

dan ia melihat dirinya terlunta-lunta.
……
Seonggok jagung di kamar

tak akan menolong seorang pemuda
yang pandangan hidupnya berasal dari buku,
dan tidak dari kehidupan.

Efek sampingan dari pembangunan, yang membuat kelompok tertentu (majikan) makmur berlebihan, hedonis, sementara yang lain jadi korban, bisa dirasakan pada “Sajak Gadis dan Majikan“:

Janganlah tuan seenaknya memelukku. Kemana arahnya, sudah cukup aku tahu. Aku bukan ahli dalam menduga, tetapi jelas sudah ku tahu pelukan ini apa artinya …

Siallah pendidikan yang aku terima.
Diajar aku berhitung, mengetik, bahasa asing, kerapian, dan tata cara.
Tetapi lupa diajarkan: kalau dipeluk majikan dari belakang, lalu sikapku bagaimana! …

Menanggapi pembangunan sektor pariwisata, khususnya di pulau Bali yang dinilai ower exploitative terhadap budaya, ekonomi lokal dan lingkungan hidup, Rendra menulis “Sajak Pulau Bali” (1977), secara dramatis dibacanya di tengah suasana demonstrasi mahasiswa di Lapangan Basket ITB kala itu, sebagian kutipannya:
……….
Dan sementara kita bengong,
pesawat terbang jet yang muncul dari mimpi,
membawa bentuk kekuatan modalnya: lapangan terbang,
“hotel-bistik-dan-coca cola,” jalan raya, dan para pelancong.

“Oh, look, honey – dear! Lihat orang-orang pribumi itu!
Mereka memanjat kelapa seperti kera.
Fantastic! Kita harus memotretnya!…..

Dan kemajuan kita adalah kemajuan budak
atau kemajuan penyalur dan pemakai.
Maka di Bali hotel-hotel pribumi bangkrut ……..

Pada sajak “Orang-orang Miskin” (1978) Rendra mengingatkan bahwa siapapun di negeri ini tidak bisa mengingkari adanya kemiskinan yang jumlahnya banyak.
……………………
Tangan-tangan kotor dari jalanan
meraba-raba kaca jendelamu.
Mereka tak bisa kamu hindarkan.

Jumlah mereka tak bisa kamu mistik jadi nol.
Mereka akan menjadi pertanyaan

yang mencegat ideologimu.
Gigi mereka yang kuning akan meringis di muka agamamu.
Kuman-kuman sipilis dan t.b.c. dari gang-gang gelap

akan hinggap di gorden presidenan
dan buku programma gedung kesenian.
………..

Setelah beberapa tahun bersama para mahasiswa berdemonstrasi, berstrategi mengritik pemerintah dan proses pembangunannya, barangkali Rendra lalu menyaksikan bahwa banyak kawan seperjuangannya (mahasiswa) sebagian lulus sekolah dan menjadi bagian dari kekuasaan yang dikritiknya dulu. Maka “Sajak Kenalan Lamamu” (1977) menohok tajam:
……………….
Kita dulu pernah menyetop lalu lintas,
membakar mobil-mobil,
melambaikan poster-poster,
dan berderap maju, berdemonstrasi.
………………….
Politik adalah cara merampok dunia.
Politik adalah cara menggulingkan kekuasaan,

untuk menikmati giliran berkuasa.
Politik adalah tangga naiknya tingkat kehidupan,

dari becak ke taksi, dari taksi ke sedan pribadi,
lalu ke mobil sport, lalu: helikopter!
Politik adalah festival dan pekan olah raga.
Politik adalah wadah kegiatan kesenian.
………………………

Entah apakah sejarah selalu berulang, atau persoalan lama tak kunjung selesai, tapi ternyata apa yang diteriakkan Rendra pertengahan 70an itu masih terjadi, atau berulang lagi tiga puluh tahun setelah itu ditulis. Kita menyaksikan bagaimana kebijakan pembangunan, bukannya sudah terbang tinggal landas seperti impiah lama. Tetapi masih berkutat dengan soal kemiskinan yang masih 40 jutaan. Ideologi ekonomi harus kembali lagi kepada “kerakyatan”, kata tabu semasa Orde Baru. Tak bisa ditolak, karena kemiskinan telah “menempel di kaca rumah, di gorden presidenan” kata sang penyair.

Rendra diakhir hayatnya masih menyaksikan betapa politik adalah “cara merampok”, “festival kesenian”, atau “pekan olah raga” yang menghamburkan uang rakyat sekedar untuk menaikkan standar hidup para politikus. Apa yang ditulis tahun 1977 masih terjadi di “pesta” Pemilu tahun 2009. Sungguh benar, sungguh tragis.

Untuk mengantarkan Sang Burung Merak berpulang ke rahmatullah, barangkali potongan “Sajak Peperangan Abimanyu” (1977) ini layak direnungkan:

Ketika maut mencegatnya di delapan penjuru,
Sang ksatia berdiri dengan mata bercahaya.
Hatinya damai,

di dalam dadanya yang bedah dan berdarah,
karena ia telah lunas
menjalani kewajiban dan kewajarannya.

Setelah ia wafat –
apakah petani-petani akan tetap menderita,
dan para wanita kampung
tetap membanjiri rumah pelacuran di kota?
Itulah pertanyaan untuk kita yang hidup.

………………………..

Inna lillahi wa inailaihi rojiun. Semuanya dari Allah yang Maha Kuasa dan akan kembali kepadaNya.
Selamat jalan Mas Willy, semoga semua amal kebaikanmu diterima Allah swt, dan segala dosa dan khilaf diampuni-Nya. (rm)

[Risfan Munir, Local Economic Governance & Management Specialist, Research Triangle Institute (RTI), email: risfano@yahoo.com, blog: www.ecoplano.blogspot.com , www.erbaneconomic.blogspot.com ]

Rara Mendut

Rara_MendutSetelah sekian waktu membaca novel-novel luar negeri dengan suasana yang relatif moderen, saatnya kembali ke tanah air, sekalian kilas balik sejarah nusantara. Jadinya terpikat dengan novel Rara Mendut  karya YB Mangun Wijaya, atau lebih akrab dipanggil Romo Mangun (alm).

Ini adalah novel trilogi: Rara  Mendut – Genduk Duku – Lusi Lindri, yang dijadikan satu. Alhasil, novel ini menjadi lumayan tebal, 802 halaman! Tapi dengan kualitas kertas yang prima, novel tabal terbitan Gramedia itu jadi terasa ringan.

Kesan pertama yang tertangkap dari novel ini adalah hawa pemberontakan, atau lebih tepatnya kemandirian dan ketegaran, sosok perempuan atas dominasi kaum laki-laki yang berkuasa. Ketiga tokoh perempuan yang diangkat Romo Mangun seolah memiliki karakter khas yang sama: gadis pantai, berjiwa harimau, cantik, trengginas, cekatan. Mereka seolah dilahirkan untuk menjadi saksi dan sekaligus korban dari dominasi laki-laki ningrat yang segera meningkat syahwatnya ketika melihat perempuan cantik dan sulit ditaklukkan. Dan benar, mereka memang tidak bisa ditaklukkan, meskipun maut adalah  imbalannya. Cinta sejati mereka jauh lebih mulia daripada silau oleh iming-iming derajad bangsawan yang ternyata tak lebih dari hewan yang haus syahwat. Rara Mendut menemukan cinta sejati dengan Pranacitra, Genduk Duku dengan Slamet, lalu Lusi Lindri dengan Hans. Mereka lebih memilih mati atau menjadi pemberontak, daripada menyerahkan cinta dan tubuh lepada laki-laki keparat seperti Tumenggung Wiraguna dan Aria Mataram, yang kelak bergelar Amangkurat I.

Romo Mangun mengupas habis sisi kelam kebesaran kerajaan Mataram dari balik tembok keraton, sekaligus ketegaran perempuan yang bernama Rara Mendut, Genduk Duku, dan Lusi Lindri itu. Hal yang menurut saya unik dari novel ini adalah kehebatan Romo Mangun untuk membangun cerita yang diambil dari Babad Tanah Jawi ini dalam bungkus kisah asmara, karonsih, bagai cerita Kamajaya dan Kamaratih dalam jagad pewayangan, dengan bahasa yang halus dan indah. Padahal senyatanya, Romo Mangun tak pernah merasakan yang namanya jatuh cinta dan menikah – dalam ajaran Katholik Romo memang hidup selibat alias tidak boleh menikah. Penggambaran adegan percintaan sungguh hebat dan mendebarkan dengan di sana sini menyitir berbagai cerita pewayangan dan tembang jawa yang adiluhung. Romo Mangun juga seorang humoris, ada canda dalam setiap getir peristiwa yang disajikan.

Sebagai laki-laki, saya juga ikut tersihir untuk membayangkan kecantikan Rara Mendut, dan gayanya yang menggoda ketika menghisap rokok dan menjual bekas puntung rokok yang telah basah oleh bibir sensualnya, seperti yang tergambarkan dalam cover novel ini. Tapi di balik itu, saya juga segera tersadar bahwa Rara Mendut bukanlah perempuan murahan yang rela menjadi tontonan kalap mata kaum laki-laki dengan menjual puntung rokok. Itu adalah upaya pemberontakannya terhadap Tumenggung Wiraguna tuwir yang sepantasnya menjadi kakeknya.

Resensi ditulis oleh Hartono -  pengasuh www.rumahbaca.wordpress.com

Ritual Gunung Kemukus

gunungNovel “Ritual Gunung Kemukus,” kental dengan bau seks. Tapi kesan yang tertangkap tidaklah sevulgar buku Moamar Emka, “Jakarta Under Cover.” Buku terakhir ini lebih banyak mengeksploitasi seks sebagai bacaan dangkal, hanya mengumbar syahwat semata. Buku pertama mengupasnya dari tinjauan antropologis. Ditulis dengan gaya dialog, dikupas habis dengan sudut pandang wartawan. Kebetulan penulis novel ini memang wartawan yang penyair, F. Rahardi. Cover novel digarap oleh Si Ong, menambah kesan mistis dan sunyi.

Novel ini mampu menghadirkan sisi unik dari ritual orang Jawa mencari srono untuk kaya, dengan ziarah di makam Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan di Gunung Kemukus. Ritual diakhiri dengan berhubungan seks di tempat terbuka dengan pasangan yang didapat di tempat tersebut. Dan itu harus dilakukan selama 7 kali setiap malam Jumat Pon. Untuk menggenapi 7 kali ritual itu diperlukan waktu hampir 8 bulan. Dalam kalender Jawa perputaran bulan terjadi setiap 35 hari. Di mana jumlah hari kalender Masehi yang tujuh hari itu, bertemu dengan jumlah hari Jawa yang hanya terdiri dari lima hari: legi, pahing, pon, wage, kliwon.

Membaca novel ini, serasa menambah miris tentang perilaku masyarakat Jawa yang kebingungan mencari pegangan atas segala derita kemiskinan yang mendera, serta keingingan untuk kaya secara instan. Ritual di atas Gunung Kemukus, seakan menggenapi kebingungan atas praktik keagamaan yang diyakini. Di atas makam Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan, orang sibuk membawa sesaji kembang tujuh rupa, tapi tetap berdoa, berdzikir, bahkan sholat, dan ditutup dengan berhubungan seksual dengan pasangan lawan jenis yang didapat di sana. Lebih kacau lagi, Pemda Sragen menulis legenda tentang Pangeran Samodra sebagai pembawa syiar Islam. Tapi kok mempraktekan perbuatan mesum? Padahal legenda yang berkembang di masyarakat meyakini bahwa Pangeran Samodra dan Nyai Ontrowulan adalah pasangan antara ibu tiri dengan anak tiri Brawijaya VI yang menjalin asmara, melakukan hubungan intim di atas bukit itu, dan dibunuh sebelum selesai melampiaskan hasrat seksual. Keduanya dikubur dalam satu lihat lahat. Dari lobang kubur lalu keluar asap, kukus, dan terdengar kutukan, “barang siapa mampu menyelesaikan hubungan intim di sini, akan terkabul keinginannya.” Entah siapa yang memulai menebarkan legenda itu, nyatanya, kini ritual Gunung Kemukus telah menjadi bisnis seks yang mendatangkan pendapatan baik bagi Pemda maupun masyarakat sekitar.

Cerita dalam novel mengalir dengan gaya dialog apa adanya, dengan beberapa istilah Jawa yang kental. Cerita dibuka dengan ditugaskanya, Meilan, wartawai majalah Fidela, untuk membuat tulisan berseri seputar praktik ritual. Dari sana mengalirlah cerita potret para pelaku ritual, dari penuturan tokoh utama, Mas Sarmin. Dari mulut Sarminlah, mengalir muncul tokoh-tokoh lain: Wati, istrinya yang selalu mengomel karena capek hidup miskin dan meminta Sarmin untuk pergi ke Gunung Kemukus. Sarmin kemudian ketemu Bu Yuyun, pasangan ritualnya, pedangan beras dari Ponorogo. Bu Yuyun adalah wanita cantik, berkulit putih, kaya, dan Sarmin tak pernah menyangka bakal mendapat pasangan seperti itu.

Ada juga tokoh Romo Drajad yang eksentrik, yang menyatakan bahwa ritual Gunung Kemukus justru mengakui eksistensi perempuan untuk punya hak dalam menentukan pasangan seksual. Selama ini, privilege itu hanya dimiliki kaum priyayi, laki-laki, dan kaya. Wanita hanya menerima nasib, tapi tidak di Gunung Kemukus.

Cerita Sarmin mengalir deras, disampaikan di atas gerbong kereta Argo Lawu jurusan Solo Balapan – Gambir, kepada Meilan yang mengoreknya sebagai imbalan telah menyelamatkan Sarmin karena uangnya telah ludes menunggu Ibu Yuyun di Gunung Kemukus yang tak kunjung datang. Padahal itu adalah kunjungan ketujuh, atau kunjungan terakhir untuk menggenapi ritual itu. Artinya Sarmin telah gagal menjalani ritual itu, dan harus mengulanya dari awal lagi sebanyak tujuh kali dengan pasangan yang berbeda. Maukah Sarmin mengulangi kebodohannya? Adakah pelajaran yang ia peroleh dari hasil mencari srono itu?

Review oleh Hartono

Filsafat Dalam Masa Teror

terorPendekatan pragmatis yang selama ini dilakukan oleh beberapa negara terutama Amerika Serikat dalam menyelesaikan masalah terorisme, ternyata mendapat tanggapan yang sangat kritis dari duo filsuf besar abad ini yaitu Jurgen Habermas dan Jacques Derrida. Dengan setting peristiwa 11/9 buku yang berjudul “Filsafat Dalam Masa Teror” disajikan dalam format dialog antara penulis yaitu Giovanna Borradorri dan kedua filsuf Habermas dan Derrida. Meskipun settingnya peristiwa 11/9, dialog tersebut juga menggambarkan beberapa terror di berbagai daerah untuk melihat benang merah dan motif-motif teror yang telah terjadi. Pendekatan-pendekatan teror yang dilihat secara filsafati menjadikan bahasannya luas dan multiprespektif.
Dalam dialog ini Habermas dan Derrida secara jelas menguraikan resiko-resiko yang diakibatkan oleh pendekatan pragmatis yang dengan sengaja tidak menghadapi kompleksitas konseptual yang menggarisbawahi konsep terorisme. Resiko-resiko tersebut tersebut sampai sekarang menunjukkan arah kebenaran dengan adanya resistensi dari pihak yang dianggap penyebar teror dengan banyak munculnya tragedi kemanusiaan di berbagai penjuru dunia. Bagi masyarakat di mana pun berada perasaan aman akan menjadi sebuah kondisi langka jika penanganan teror tetap menggunakan pola-pola yang pragmatis.
Globalisasi pasar, terutama pasar-pasar finansial dan ekspansi investasi asing secara langsung telah menimbulkan masyarakat dunia terbagi-bagi ke dalam negeri-negeri pemenang, negeri-negeri yang diuntungkan dan negeri-negeri pencundang. Bagi negeri-negeri yang dianggap pecundang inilah yang sementara ini dianggap rawan munculnya reaksi defensif (teror) untuk melawan globalisasi pasar. Baginya globalisasi pasar akan dapat mencerabut dan mengganggu gaya-gaya hidup tradisional. Dengan demikian teror dianggap dapat dilakukan untuk melawan musuh yang tak dapat dikalahkan dalam arti pragmatis.
Ketidakseimbangan antar negara dalam mengendalikan akses-akses sumber daya ekonomi ini menyebabkan kekerasan struktural yang pada tingkat tertentu kita menjadi terbiasa dengannya yaitu ketidaksetaraan sosial yang tidak masuk akal, diskriminasi yang merendahkan harkat, pemiskinan dan marginalisasi. Permasalahan menjadi lebih rumit karena budaya-budaya, cara-cara hidup, dan bangsa-bangsa berada dalam jarak yang jauh sehingga menjadi asing antara bangsa yang satu dengan yang lainnya. Mereka tidak saling bertemu sebagaimana para anggota masyarakat yang mungkin saja saling teralienasi hanya melalui komunikasi yang terdistorsi secara sistematis. Namun demikian pertemuan-pertemuan formal antara negara sebagaimana yang telah terjadi tidak dapat dengan sendirinya memotong spiral kebiasaan yang memandang segalanya secara stereotip. Transformasi suatu mentalitas seperti yang diharapkan hanya terjadi, lebih melalui perbaikan-perbaikan kondisi hidup, melalui pembebasan yang masuk akal dari penindasan dan ketakutan. Kepercayaan meski mampu dikembangkan dalam praktik sehari-hari yang komunikatif. Formula inilah yang tampaknya saat ini dikembangkan oleh pemerintahan baru Amerika Serikat di bawah Barack Obama dengan membangun komunikasi intensif dengan berbagai negara yang selama ini dianggap pecundang oleh Amerika Serikat.
Disamping itu Habermas dan Derrida juga mengingatkan kita tentang perlunya mendekontruksi toleransi yang telah berabad-abad dipraktekkan secara paternalistik. Artinya selama ini para penguasa tertinggi atau kultur mayoritas yang memegang difinisi toleransi. Di dalam komunitas demokratis, para warganya secara resiprokal saling memberikan hak-hak yang sama, tak ada ruang untuk suatu otoritas yang diizinkan secara sepihak menentukan batas-batas apa yang harus ditoleransikan. Atas dasar kesetaraan hak para warga dan penghormatan resiprokal, tak seorang pun memiliki previlase untuk menetapkan batas-batas toleransidari sudut pandang preferensi-preferensi serta orientasi nilai-nilai mereka. Pastilah, mentoleransi kepercayaan-kepercayaan orang lain tanpa menerima kebenaran mereka, dan mentoleransi gaya-gaya hidup yang lain tanpa mengapresiasi nilai instriksik mereka seperti yang kita lakukan terhadap yang kita miliki sendiri, menuntut sebuah standar umum. Dengan melihat kompleksitas konseptual yang melatarbelakangi konsep terorisme menjadi tidak masuk akal jika penyelesaiannya dilakukan secara pragmatis.
Buku setebal 299 halaman ini akan mengingatkan banyak hal bagi para pembaca untuk kembali mendekontruksi pola-pola hubungan sosial, politik maupun budaya baik dalam komunitas lokal, regional maupun global. Apalagi dalam konteks Indonesia yang sangat plural dari sisi agama, suku, ras dan antara golongan, sadar atau tidak dalam praksis hidup sehari-hari kita bersama bertumpu pada satu basis kokoh keyakinan-keyakinan yang berbeda-beda kita miliki, “kebenaran-kebenaran” budaya yang beragam telah melekat secara turun temurun, saling berinteraksi dan tak jarang menimbulkan ketegangan dan bahkan konflik terbuka. Untuk hal ini ini Indonesia pantas bersyukur telah memiliki standar umum yang menjadi acuan hidup bersama setiap warga yaitu Pancasila. Namun untuk tingkat global, sebuah tatanan yang resiprokal dan tidak paternalistik belum ada. Habermas dan Derrida mengusulkan perlunya suatu tatanan dunia kosmopolitan baru, tempat institusi-institusi multilateral dan aliansi-aliansi kontinental akan menjadi pelaku politik utama.

Fajar Indah, April 2009-04-23

L. Bayu Setyatmoko
Someone is flying alone in giving trusth and awareness

Samurai Sejati

the_book_of_five_ringsGo Rin No Sho – The Book of Five Rings”

Kisah sukses ekonomi atau industrialisasi Jepang selalu dikaitkan dengan budaya bangsa itu, dimana spirit samurai menjadi salah satu kekuatannya.

Oleh karena itu akan bermanfaat sekali untuk mempelajari spirit samurai itu. Dan, salah satu sumber dan simbol etos samurai adalah Miyamoto Musashi, sang Samurai Sejati. Dialah pendekar samurai tiada tara yang menulis buku The Book of Five Rings (Go Rin No Sho). Ini adalah hasil renungan atau kontemplasinya setelah menjadi samurai tak terkalahkan.

Buku ini oleh Musashi dibagi dalam 5 Bab, yang disebut: Kitab Bumi, Kitab Bumi, Kitab Air, Kitab Api, Kitab Angin, Kitab Kehampaan.

Musashi memberikan penjelasan singkat pemilihan judul itu: BUMI, simbol pandangan dasarnya tentang seni bela diri; AIR, terkait gayanya yang dilandasi sifat mengalir dan kejernihan; API, atau peperangan, dikaitkan dengan energi dan kemampuannya berubah; ANGIN, terkait pengamatan atau kritiknya atas atas macam-macam gaya dari perguruan lain; KEHAMPAAN, ini bagian yang sangat filosofis, bahwa kehampaan justru jalan mendekati kehampaan.

Meski media buku ini adalah panduan teknik samurai, tapi intinya adalah tentang “permainan pikiran” juga. Bagi Musashi, seni bela diri adalah sebuah pendekatan (psikologi) pada Jalan (disiplin, destiny).

Ada beberapa prinsip yang menjadi benang merah kelima Bab, yaitu: Pentingnya timing, yang mesti selalu diserasikan dengan ritme lawan dan situasinya. Pengetahuan yang menyeluruh atas diri sendiri dan lawan, mirip analisis SWOT. Pentingnya permainnan “persepsi”, agar betul-betul bertindak berdasar fakta, bukan persepsi, dugaan, agar tak mudah diprovokasi, dan dikelabuhi. Berikutnya, Sang Samurai Sejati menekankan pentingnya mengendalikan “pikiran lawan“, dengan tipuan, pengecohan, gertak, provokasi dan taktik lainnya. Akhirnya ialah pentingnya praktik, praktik dan praktik, kalau mau mencapai tingkat mahir (maestro). Ukuran keberhasilan belajar bukan lulus ujian oleh guru, tetapi keberhasilan menaklukkan lawan.

Membaca buku ini tentu tidak untuk belajar samurai, karena kalau mau belajar seni bela diri apapun ya lebih praktis ikut kursus. Sekali lagi untuk menggali spirit samurai yang katanya mampu memompakan etos maju bangsa Jepang.

Pada Kitab BUMI, Musashi menganalogikan belajar samurai seperti kerja tukang kayu yang harus menguasai aneka alat (gergaji, palu, penyerut, dst), menguasai banyak teknik (memotong, menyambung, meluruskan), serta memilih kayu yang tepat untuk pilar, palang, kusen, pintu, dst. Di samping mahir secara pribadi juga mahir memimpin pasukan dalam pertempuran. Ini juga seperti tukang kayu yang harus mampu memilih tukang, mengorganisir dan disiplin mengikuti blue-print.

Pada Kitab AIR dia meggaris-bawahi pentingnya mengikuti watak air yang “jernih dan fleksibel.” Jernih menilai lawan, tak tertipu oleh persepsinya sendiri. Dan, fleksibel atau lentur. “Tanaman yang hidup fleksibel, tanaman kaku adalah tanaman mati.”

Kitab API, membahas aspek taktik duel dan strategi pertempuran. Di antaranya ada dua strategi yang menarik bagi saya. Pertama, taktik meminjam tenaga lawan. Seorang samurai tua bisa menghadapi lawan yang muda, dengan taktik gerak tipuan untuk membuat lawan bertindak sia-sia, sibuk kelelahan. Kedua, strategi “menyeberang sungai”, saat kita menjalankan rencana, kadang tak terhindarkan harus menentang arus desar. Pada titik itu tak ada pilihan kecuali kerja keras mendayung untuk sampai ke seberang.

Kitab ANGIN, dalam kitab ini Musashi banyak membandingkan do-jo (perguruan)nya dengan do-jo lain yang dia kritik sebagai mengembangkan seni akrobat, kembangan, daripada seni pedang sesungguhnya yang tujuannya semata mengalahkan lawan.

Musashi juga mengajarkan agar taktik dan serangan yang dilakukan “tidak terbaca”. Karena sering melakukan serangan “di luar pakem”,atau yang konvensional” tujuannya agar lawan tak bisa menebak, atau bisa diprovokasi. Contohnya, saat duel dengan musuh bebuyutannya Sasaki Kojiro, di perahu menuju pantai tempat duel, dia buat pedang kayu dari dayung cadanga. Datangnya pun terlambat , ini pantangan bagi disiplin samurai. Akibatnya Kojiro heran dan tersinggung emosional. Disitu dia terpecah pikirannya dan Musashi pegang kendali dan menang.

Kitab KEHAMPAAN, ini bab paling tipis. Sesuai dengan judulnya, isinya sangat filosofis. Mengingatkan kita untuk melihat “fakta sesungguhnya”, atau hakikat. Karena kita umumnya terbiasa melihat “label” daripada “realita obyektifnya”. Kalau disebut kata “laut”, seketika terbayang “luas dan biru.”

Dalam duel, dalam pengambilan keputusan, subyektivitas, persepsi dini, juga prejudice, stereotyping, bisa mengecoh diri sendiri. Apalagi kalau lawan tahu pikiran, bias dan preferensi kita, mereka bisa sengaja mengecoh kita. Maka Musashi menyarankan “kosongkan pikiran”, hadapi lawan (realita) apa adanya, bebaskan dari asumsi, praduga.

Pahami realita apa adanya. Ini sulit, tapi alangkah indahnya kalau kita bisa selalu berfikiran “jernih”, tak dikacaukan, dipusingkan dan dibikin rancu oleh persepsi dan preferensi, judgement tertentu, yang seringkali tanpa fakta obyektif.

Apalagi di era informasi ini, tiap hari kita dicekoki oleh berita tivi, koran, gosip yang lebih banyak “opini”nya dari pada faktanya. “Bersihkan pikiran dari bias dan ego, bebaskan pandangan dari mode, tekanan teman, pra-konsep, maka Anda akan melihat (fakta atau) kebenaran sejati.”

Membaca The Book of Five Rings (Go Rin No Sho) ini saya merasa bisa belajar dari Bab terakhir, yang mengajari “kehampaan” lalu back-to-basic ke Kitab Bumi. Atau mulai dari depan, dari dasar ke yang lanjut. Meskipun ini kitab kuno, tapi ternyata mengikuti urutan sistematis sebagaimana kita menyusun modul. Dengan urutan OPAKK – orientasi, pengembangan materi, aplikasi, konfirmasi, dan konsolidasi.

(Risfan Munir, Jogja-Jakarta, April 2009)

Data Buku:

Miyamoto Musashi, The Book of Five Rings, terjemahan English oleh William Scott Wilson, edisi Indonesia diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama, 2007.

Peresensi: Risfan Munir, peminat spirit samurai untuk meningkatkan etos kerja. Bekerja sebagai konsultan manajemen dan perencanaan kota/daerah. Penulis buku “Pengembangan Ekonomi Lokal Partisipatif“. Alumnus Institut Teknologi Bandung (ITB). Blog http://ecoplano.blogspot.com dan email: risfano@gmail.com.

The Black Swan

black-swanAda pertanyaan sederhana sebelum orang membaca habis buku karya Nassim Nicholas Taleb, The Black Swan (Gramedia: 2009): percayakah anda bahwa di dunia ini ada angsa berwarna putih? Dapat dipastikan bahwa jawaban yang akan diberikan adalah seragam: tidak percaya! Dari dulu, yang namanya angsa itu berwarna putih, mana ada angsa berwarna hitam? Tapi ketika orang menemukan kenyataan bahwa ada angsa berwarna hitam di Australia, ada kejutan, dan kepercayaan itu runtuh.

Buku ini berbau filosofis, banyak ditemukan istilah dan lintasan pemikir-pemikir besar dunia. Agak kepayahan juga mengunyahnya, apalagi buku ini juga dimasukkan dalam genre bisnis-ekonomi. Tapi penulis buku ini telah berusaha sekerasnya untuk tetap membuat buku ini menjadi bacaan ringan.

Black Swan adalah peristiwa langka yang mustahil dapat terjadi, dan kebanyakan orang alpa dengan kemungkinan ini, hingga peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Ada tiga karakteristik utama dari Black Swan ini: tidak dapat diramalkan, memiliki dampak yang luar biasa, dan sesudah terjadi orang baru sibuk menyusun teori bahwa kejadian itu sebenarnya bisa diramalkan. Contoh terkini dari Black Swan adalah runtuhnya menara kembar WTC yang dihajar teroris. Siapa sangka bahwa gedung megah yang ada di tengah kota peradaban modern dunia roboh oleh pesawat domestik yang dibajak teroris? Mengapa sebelumnya orang tidak ada yang mempunyai pemikiran antisipatif untuk memuat sistem penguncian ruang kokpit, yang dimasuki oleh teroris? Contoh lainnya adalah keruntuhan sistem financial di Amerika akhir-akhir ini. Amerika kurang apa dengan pakar ekonomi, hingga tak ada satupun yang mampu memberi early warning akan hal itu. Menurut Taleb, adalah karena manusia telah dirancang untuk mempelajari hal-hal yang spesifik ketika seharusnya mereka lebih fokus ke hal-hal umum. Kita berkonsentrasi pada hal-hal yang telah kita ketahui dan berulang-ulang gagal memperhitungkan yang tidak kita ketahui.

Buku ini membeberkan kebodohan kita itu, sekaligus menawarkan teknik-tekniknya untuk mampu mengantisipasinya. Buku ini berangkat dengan keyakinan pada diri sendiri untuk selalu skeptik: jangan mudah percaya dengan apa yang ada di sekitar kita. Kalau perlu jadilah seorang empirisme negatif.

Melintas jauh dari pemikir Amerika kelahiran Lebanon ini, saya teringat dengan ilmu dari tanah Jawa yang bernama ilmu Titen. Ilmu ini mengandalkan kepekaan akan tanda-tanda yang mengawali suatu kejadian besar yang akan terjadi. Tidak semua orang mampu meramalkan datangnya persistiwa besar itu, karena menganggap apa yang terjadi dalam drama hidup keseharian adalah peristiwa biasa yang akan berlalu begitu saja. Contoh empiris ilmu titen adalah misalnya, ketika dulu sedang musim ada es jus, beberapa tahun kemudian muncul penembakan misterius yang membabat habis bromocorah yang meresahkan masyarakat. Kata jus, diidentikan dengan suara tembakan senjata. Atau contoh lain, ketika maraknya makanan jagung baker dan lagu “anoman obong”, beberapa tahun kemudian munculnya tragedi 1998, yang diwarnai dengan pembakaran gedung-gedung dan kerusuhan masal pasca kejatuhan regim Soeharto. Persoalnnya, ilmu titen ala jawa ini berbau mistik dan sulit dijelaskan secara ilmiah. Ilmu titen juga cenderung memotret kejadian lampau guna mencoba mencari keajegan yang muncul daripadanya sebagai tanda akan datangnya kejadian berikutnya yang bisa diramalkan. Sementara menurut Black Swan, kegiatan menoleh ke belakang (retrospective) dan keberulangan (repercursive) itu harus dikaji apakah sudah tepat aturannya (metarules-nya). Dalam Black Swan unsur keacakan (randomness) dan ketidakpastian sangat tinggi. Justru di sinilah seninya. Bagaimana kita menyikapi keacakan ini sebagai bagian sikap terbuka dan waspada akan berbagai kemungkinan.

Apa relevansinya dengan hidup kita sehari-hari? Singkatnya, buku ini mengajarkan kepekaan, mempertajam daya kritis, tidak mudah percaya pada sesuatu yang tergambar secara umum, see the other way around! Lalu kita akan dengan enteng menjalani hidup ini yang selalu penuh kejutan, karena hidup memang telah didesain oleh Tuhan secara kreatif seperti itu.

Review oleh Hartono – Pengasuh Rumah Baca

kekuatan Memilih Pikiran

Judul : The 7 Laws of Happiness Tujuh rahasia Hidup Yang Bahagia
Pengarang : Arvan Pradiansyah
Penerbit : Kaifa (Mizan Group)
Halaman : 428 halaman
Cetakan : Kedua (Januari 2009)
the-7-laws-of-happiness-arvan-pradiansyah_cover
Episentrum kehidupan ada di pikiran kita. Semua yang terjadi pada diri kita merupakan buah dari apa yang berulangkali kita pikirkan. Untuk itu sudah sewajarnya, pikiran kita hendaknya diisi dengan hal-hal yang baik. Ibarat makanan, kita pilih makanan bergizi dan hindari makanan sampah (junk food). Apa saja asupan yang sebaiknya mengisi pikiran kita?. Buku ini menawarkan tujuh makanan bergizi yang akan membawa hidup bahagia. Jurus yang diberi nama the 7 Laws of happiness merupakan hasil perjalanan panjang penulis dari perenungan, pembelajaran dan pengalaman hidup. Dengan membangun kekuatan memilih pikiran, kita akan meraih tujuan hidup yaitu mencapai kebahagiaan.
Sepintas apa yang ditawarkan dalam buku ini mirip dengan the 7 Habits of Highly Effective People karya Stephen R. Covey yang sangat terkenal. Persamaannya terletak pada struktur yaitu 3+3+1 dan penerapannya yang musti berjenjang. Namun kalau didalami lebih lanjut ternyata terdapat perbedaan yang mencolok. Covey lebih menekankan pada memilih tindakan untuk meraih sukses. Sementara Arvan Pradiansyah (penulis buku ini) menukik lebih dalam lagi yaitu memilih pikiran agar hidup bahagia. Sebagai ilustrasi menolong merupakan hasil suatu tindakan. Di balik tindakan tersebut terdapat beberapa latar belakang pikiran. Menolong karena kasihan, ingin mendapat pahala dari Tuhan atau ingin memberikan sesuatu pada orang lain. Tindakan sama namun ternyata didasari pikiran yang berbeda-beda. Tentu, pada pilihan terakhir kita akan memperoleh kebahagian tak ternilai.
Kesuksesan itu tidak identik dengan kebahagian. Sebaliknya, kebahagiaan akan berujung kepada kesuksesan. Artinya, kalau kita merasa bahagia, apapun hasil yang kita kerjakan selalu sukses di mata kita. Tidak lagi terbelenggu pada target-target tertentu. Hal tersebut yang menjadi inti dari buku ini. Penulis dengan gamblang menyajikan kiat-kiat meraih kesempurnaan hidup melalui penerapan formula 3+3+1. 3 pertama yaitu sabar (patience), syukur(gratefulness) dan sederhana (simplicity) untuk mencapai kebahagian pribadi. Berikutnya kasih (love), memberi (giving) dan memaafkan (forgiving) dalam rangka mencari kebahagian dari hubungan dengan orang lain. Dan puncaknya adalah pasrah (surrender) yang merupakan pencapaian kebahagiaan hakiki yang merefleksikan hubungan dengan Tuhan. Setelah semua tahapan dilalui tentunya kita pasrahkan kepada Tuhan. Apapun keputusan Tuhan itulah yang terbaik bagi kita.
Membaca buku ini, kita akan memperoleh banyak pelajaran berharga bagaimana sebaiknya mengarungi roda kehidupan ini. Terutama dalam hal memilih pikiran. Kebahagiaan yang kita angan-angankan bukanlah fatamorgana. Hal tersebut dapat diwujudkan kalau kita benar-benar mampu menghayati dan melaksanakan ajaran-ajaran dalam buku ini. Agar mudah dipahami, penulis juga melengkapi dengan contoh-contoh dalam kehidupan sehari-hari.
Walau buku ini cukup tebal, namun pilihan gaya bahasa populer membuat buku ini tidak membosankan dan mudah dipahami oleh siapapun. Latar belakang penulis yang sarat pengalaman di bidang SDM, membuat pemikiran-pemikiran yang disampaikan sangat menarik. Ramuan kemampuan yang dimiliki penulis baik di bidang akademis (Master of Science dalam bidang Industrial Relation and Human resources dari The London School of Economics) dan pengalaman sebagai konsultan SDM (pernah bekerja sebagai konsultan di DDI dan Dunamis yang mempunyai reputasi internasional) tertuang secara apik, runtut dan logis. Pembaca akan memperoleh sajian secara utuh bagaimana penulis sampai kepada formula yang dikenal the 7 Laws of Happiness.
Untuk membumikan pemahaman pembaca, pada setiap Bagian dilengkapi dengan box-box yang berisi kasus-kasus nyata. Hal unik lain yang juga menjadi kekuatan buku ini adalah pencetakan kata atau kalimat yang dianggap penting. Penggunaan huruf yang lebih besar dan dicetak tebal dipilih penulis sebagai sinyal yang harus diperhatikan pada setiap halaman pembahasan. Strategi jitu ini akan menggiring pembaca agar lebih mudah menangkap makna dari pesan yang disampaikan penulis.
Sulit untuk menemukan titik lemah dari buku ini. Kalau pun ada kritik sangat minor. Salah satunya adalah huruf yang dipakai pada box “Cermin Sikap Warga Jakarta” (halaman 271) terlalu kecil. Terlepas dari kekurangan minor tersebut, buku ini sangat layak bagi para pembaca yang menginginkan kebahagiaan. Kehidupan yang kita jalani ini bukan vertikal yang terus naik keatas, namun seperti lingkaran. Dimulai dari suatu titik dan akan kembali ke titik tersebut. Keyakinan inilah yang diusung penulis. Dengan berbagai kelebihan yang ada pada buku ini, tidak berlebihan dalam waktu singkat sudah mengalami pencetakan kedua kali dan meraih best seller.
(Peresensi: Heri Ispriyahadi, penikmat buku tinggal di Jakarta)

The Naked Traveller

thenakedtraveller-1Buku seru bersampul biru itu langsung menohok mata, di antara deretan buku-buku yang lain. The Naked-Traveller, hmm …judul yang provokatif. Ditulis oleh orang yang mengaku sebagai Trinity. Dua hal yang segera mengundang rasa penasaran, sebelum benar-benar membaca isinya.

Buku ini tampaknya lumayan laris, terbukti sampai bulan November 2008 merupakan edisi yang kedelapan. Menurut cerita, buku ini awalnya muncul secara on line di dunia maya dengan judul yang sama. Blog hits yang diraih dari tulisan ini lumayan besar, alias banyak pengunjung yang mengakses dan memberi komentar pada tulisan ini. Dari segi bisnis, itu sudah menjadi pertanda bahwa tulisan itu diminati pembaca. Alhasil, diterbitkan oleh C Publishing, masih satu payung dengan Bentang.

Sebagai sebuah bacaan ringan, buku ini benar-benar menarik dan enak diikuti. Ada kejujuran, kepolosan, dan humor yang segar di sana. Sekaligus orang bisa mendapat sesuatu, berupa tips dan trik untuk bebergian. Trinity sudah menjelajahi 33 negara dan hampir semua tempat di Indonesia. Dia menyebut dirinya bukan orang tajir yang banyak uang untuk keliling dunia. Semua itu dia raih dengan cara menabung dan bepergian dengan cara backpacking.

Cara membaca buku ini tidak harus dari depan. Bisa langsung loncat ke bagian yang kita sukai. Buku ini memang tidak dirancang secara kronologis. Pengelompokkan tulisan bukan didasarkan pada periode waktu, tapi pada kumpulan tema: Airport, Alat transportasi, Life Sucks, Sok Beranalisa, Tips, Sok Beranalisa, Adrenaline, Ups. Tulisan terasa mengalir dan lincah, khas gaya anak muda dan backpacker beneran. Latar belakang penulis yang memang sudah suka menulis sejak kecil, plus kuliah di Jurusan Komunikasi Undip, barangkali menjadi faktor suksesnya dalam menulis dan menjadikan buku itu enak dibaca.

Buku ini sekaligus bisa menjadi penyemangat bagi siapapun untuk segera beranjak mengambil kertas dan pena, atau tuts komputer, untuk menuliskan apapun pengalaman kita yang dianggap menarik dan unik. Biarkan orang lain ikut serta menikmati jelajah pikiran dan kembara hatimu!

Resensi ditulis oleh Hartono

Next Page »